Selingkuhan Tanpa Takut, Mencoba Mencabut Selang Pernapasan Istri Agar Bisa Segera Bersama Sang Pria — Tapi Apa yang Terjadi Selanjutnya Sungguh Mengerikan…

Tuan terpaku, lidahnya kelu, seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu telah disedot habis oleh keberanian Thao yang mengerikan. Thao, dengan gerakan yang begitu tenang, hampir anggun, melangkah mendekati tempat tidur. Sarung tangan lateksnya berderit pelan, suara yang terdengar seperti lonceng kematian di telinga Tuan.

Hue, wanita yang dulu pernah menjadi cinta pertama Tuan, terbaring di sana. Matanya tertutup rapat, namun di balik kelopak mata yang tipis itu, seolah ada kehampaan yang menelan segalanya. Thao sudah berdiri tepat di samping mesin ventilator. Tangannya yang lentik merayap ke arah selang transparan yang menyalurkan napas buatan bagi Hue.

“Thao, jangan! Ini pembunuhan!” bisik Tuan, suaranya parau, namun kakinya tetap terpaku ke lantai marmer yang dingin.

Thao menoleh, menatap Tuan dengan seringai yang tak sampai ke matanya. “Bukan pembunuhan, sayang. Ini adalah proses administrasi untuk masa depan kita. Kamu tidak mau selamanya hidup dalam bayang-bayang rumah sakit ini, kan?”

Tiba-tiba, sebuah suara parau, tipis seperti gesekan daun kering, memecah keheningan ruangan.

“Tuan…”

Tuan tersentak. Itu suara Hue. Namun, Hue tidak membuka mata. Monitor jantung di samping tempat tidur mulai berbunyi lebih cepat, grafiknya melompat-lompat liar.

Thao tertegun sejenak, namun ia tidak berhenti. Dengan satu hentakan cepat, ia menarik selang pernapasan itu.

Hening.

Mesin itu langsung berbunyi nyaring, tanda peringatan bahaya, diikuti oleh deru alarm yang memecah keheningan lantai 8. Thao tertawa kecil, sebuah tawa kemenangan yang angkuh. Namun, tawa itu mendadak tercekat di tenggorokannya.

Hue, yang seharusnya tak berdaya, tiba-tiba membuka matanya. Tidak ada kepucatan atau kelemahan di sana. Mata itu berkilat tajam, hitam pekat, menatap langsung ke arah Thao dengan tatapan yang membuat darah Thao membeku. Hue bangkit duduk dengan kecepatan yang tidak manusiawi untuk seseorang yang telah terbaring selama setengah tahun.

“Kamu… kamu seharusnya mati!” teriak Thao, mundur hingga punggungnya membentur dinding.

Hue tidak bicara. Ia hanya menunjuk ke arah cermin besar yang tergantung di lemari pakaian di sudut ruangan. Thao, karena ketakutan yang luar biasa, mengikuti arah tunjukkan tangan Hue.

Di dalam cermin, bayangan Hue tidak terlihat sendirian. Di belakang tubuh Hue, berdiri sesosok bayangan kelabu yang sangat tinggi, dengan jemari panjang yang mencengkeram bahu Hue. Dan yang lebih mengerikan, bayangan itu memiliki wajah yang persis sama dengan Thao.

“Apa itu? Apa itu?!” Thao berteriak histeris, menunjuk cermin.

Tuan menoleh ke cermin, namun wajahnya berubah pias. Di cermin, ia tidak melihat bayangan Thao. Ia hanya melihat dirinya sendiri, namun wajahnya mulai membusuk, kulitnya mengelupas, dan matanya meluruh ke pipi. Ia melihat dirinya di cermin perlahan berubah menjadi mayat.

“Tuan,” suara Hue kini bergema, bukan dari mulutnya, melainkan dari seluruh penjuru ruangan. “Kamu berpikir aku yang sakit? Kamu berpikir kamu yang menunggu di sini? Lihatlah sekelilingmu dengan benar.”

Tuan melihat ke sekeliling. Tiba-tiba, pemandangan ruangan rumah sakit yang putih bersih itu mulai retak. Dinding-dindingnya mengelupas, memperlihatkan batu bata yang menghitam dan lumut yang menjalar. Bau obat-obatan lenyap, digantikan dengan aroma busuk tanah kuburan yang menyengat.

Ternyata, mereka bukan berada di lantai 8 gedung swasta. Mereka berada di ruang bawah tanah sebuah bangunan yang sudah lama ditinggalkan. Tempat di mana Tuan dan Thao bersembunyi selama pelarian mereka setelah melakukan kejahatan besar enam bulan lalu—kejahatan yang mereka coba tutupi dengan berpura-pura bahwa Hue masih hidup dan dirawat di rumah sakit.

Hue yang berbaring di tempat tidur itu bukanlah manusia. Itu adalah boneka dari pakaian bekas yang disusun rapi untuk memuaskan delusi Tuan.

“Kalian membunuhku enam bulan lalu karena harta, Tuan,” bisik Hue, yang kini berdiri tepat di depan Tuan. Wajahnya tidak lagi pucat, melainkan tampak utuh kembali, namun dengan luka bekas jeratan di lehernya. “Kalian menguburku di bawah lantai ini. Dan setiap malam, kalian datang ke sini untuk ‘menjenguk’ karena kalian tidak sanggup menanggung rasa bersalah.”

Thao jatuh tersungkur, menjambak rambutnya sendiri. “Tidak! Kita sudah membuang mayat itu! Kita sudah membersihkan segalanya!”

“Kalian memang membuang fisiku,” Hue mendekat ke telinga Thao, suaranya sedingin es. “Tapi rasa bersalah adalah parasit yang tidak bisa dikubur. Thao, kamu ingin aku mati agar bisa bersama Tuan? Sekarang, kalian bisa bersama selamanya… di tempat ini.”

Tiba-tiba, lantai di bawah kaki Tuan dan Thao mulai melunak seperti rawa. Tanah hitam mulai merayap naik, melilit kaki mereka seperti tentakel yang haus. Mereka berteriak, namun tidak ada suara yang keluar. Thao berusaha memanjat keluar, namun tangannya justru mencengkeram tangan Tuan, menariknya jatuh lebih dalam ke dalam kegelapan.

Di dalam ruangan yang sunyi itu, hanya terdengar suara mesin detak jantung yang masih berbunyi—tik… tik… tik…—padahal tidak ada siapa-siapa lagi di sana.

Keesokan paginya, petugas kebersihan gedung tua itu datang untuk memeriksa bangunan. Ia menemukan sebuah ruangan yang tertutup rapat. Saat pintu dibuka, tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada dua pasang sepatu yang tertata rapi di lantai yang retak, dan sebuah ventilator tua yang sudah berkarat namun entah mengapa, masih berbunyi tik… tik… tik… dengan ritme yang teratur.

Di dinding ruangan, terukir sebuah kalimat dengan goresan kuku yang dalam: “Terima kasih telah menemaniku, sayang.”

Thao dan Tuan tidak pernah ditemukan lagi. Polisi hanya menemukan bukti-bukti kejahatan mereka di balik dinding, namun bagi mereka yang sering melewati gedung itu di malam hari, mereka masih bisa mendengar suara wanita yang berbisik manja, memanggil nama Tuan, diikuti oleh suara tawa yang dingin dan menyayat hati, sebuah peringatan bagi siapa pun yang berani mengkhianati cinta dengan darah.

Apakah menurutmu, penyesalan adalah hukuman yang cukup bagi mereka yang menjual jiwa demi nafsu?

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang