Pak Badong tidak langsung menjawab.
Wajahnya yang tadi penuh amarah kini berubah kaku. Tangan yang masih memegang pelampung perlahan turun. Ombak terus bergulung seolah ikut menunggu jawabannya.
Jepoy menyilangkan tangan.
“Nah, Pak… sekarang giliran saya yang bertanya.”
Pak Badong berdeham.
“Ehem… saya… sedang…”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara seorang wanita dari dalam cottage.
“Sayang, sunscreen-nya mana? Punggungku belum selesai diolesin!”
Jepoy membelalak.
“Sayang?”
Pak Badong langsung panik.
“Bukan! Jangan salah paham!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Seorang wanita cantik keluar dari cottage sambil mengenakan topi pantai lebar. Di belakangnya muncul dua anak kecil berlari membawa ember pasir.

“Yah! Ayo bikin istana pasir!” teriak salah satu anak.
Jepoy mengernyit.
“Pak… itu keluarga Bapak?”
Pak Badong mengangguk pelan.
“Iya.”
“Lho… bukannya Bapak selalu bilang kerja nomor satu? Bahkan waktu Lebaran Bapak masih kirim revisi PowerPoint jam dua pagi.”
Pak Badong menghela napas panjang.
“Karena memang begitu.”
“Tapi…”
“Kali ini berbeda.”
Untuk pertama kalinya sejak Jepoy mengenalnya, suara Pak Badong terdengar pelan.
“Istriku sudah memesan liburan ini sejak enam bulan lalu.”
“Lalu kenapa tetap masuk kerja?”
“Saya sebenarnya tidak masuk.”
Jepoy semakin bingung.
“Maksudnya?”
Pak Badong mengeluarkan ponsel dari tas.
Di layar terlihat puluhan panggilan tidak terjawab dan ratusan pesan dari kantor.
“Saya juga bohong.”
“Hah?”
“Saya bilang ke Direktur kalau sedang menghadiri seminar marketing di Tagaytay.”
Kini justru Jepoy yang kehilangan kata-kata.
Mereka saling menatap.
Lalu…
“Jadi…”
“Kita sama-sama kabur?” tanya Jepoy.
Pak Badong mengangguk malu.
Beberapa detik kemudian…
Mereka berdua malah tertawa.
Awalnya pelan.
Lalu semakin keras.
Sampai istri Pak Badong keluar lagi karena mengira suaminya kesurupan.
“Pak, berarti laporan Dewan Direksi itu?”
“Belum selesai.”
“Yang Bapak suruh saya kerjakan?”
“Belum saya baca.”
“Jadi selama ini saya begadang…”
“…dan saya juga begadang berpura-pura membacanya.”
Jepoy memegang dadanya.
“Pak… saya merasa hubungan kita selama ini dibangun di atas kebohongan.”
Pak Badong mengangguk serius.
“Saya juga.”
Belum selesai mereka berbicara…
Tiba-tiba ponsel Pak Badong berdering.
Nama di layarnya membuat wajahnya langsung pucat.
“DIREKTUR UTAMA.”
Pak Badong menelan ludah.
“Celaka…”
Ia mengangkat telepon sambil menjauh beberapa langkah.
“Iya, Pak Direktur.”
Suasana mendadak sunyi.
“Iya, saya sedang… seminar.”
Mata Jepoy membesar.
Pak Badong masih nekat berbohong.
“Iya, materinya sangat bermanfaat…”
Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.
“AYAH! CEPAT SINI! OMBAKNYA BESAR!”
Suara anak Pak Badong terdengar sangat jelas.
Pak Badong menutup mulut.
Terlambat.
Dari speaker ponsel terdengar suara Direktur.
“Seminarnya di pantai?”
Pak Badong memejamkan mata.
“Pak… saya bisa jelaskan.”
Belum sempat menjelaskan…
Telepon langsung diputus.
Pak Badong mematung.
“Pak?”
“Selesai sudah.”
“Dipecat?”
“Entahlah.”
Jepoy ikut panik.
“Kalau Bapak dipecat… saya bagaimana?”
“Kamu?”
“Iya.”
“Bisa jadi ikut.”
“Kok saya ikut?”
“Kamu saksi hidup.”
Jepoy hampir pingsan.
Dua jam kemudian…
Sebuah mobil hitam berhenti di depan resort.
Empat orang turun.
Salah satunya mengenakan jas hitam.
Jepoy berbisik.
“Pak… jangan bilang…”
Pak Badong mengangguk pelan.
“Itu Direktur.”
Jepoy merasa pasir di bawah kakinya tiba-tiba berubah menjadi lumpur.
Direktur berjalan mendekat tanpa senyum.
Seluruh pengunjung pantai mulai memperhatikan.
Pak Badong berdiri tegak.
Jepoy sudah siap mental kehilangan pekerjaan.
Direktur berhenti tepat di depan mereka.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Tak ada yang berbicara.
Lalu…
“Hahaha!”
Direktur tertawa keras.
Semua orang bengong.
Termasuk Pak Badong.
“Apa… apa yang lucu, Pak?”
Direktur menepuk bahu Pak Badong.
“Badong…”
“Iya, Pak?”
“Kamu tahu kenapa saya datang?”
“Untuk memecat saya?”
“Bukan.”
“Kalau begitu?”
Direktur menunjuk cottage paling ujung.
“Itu cottage saya.”
“Hah?”
Jepoy dan Pak Badong serempak berteriak.
Direktur membuka kacamata hitamnya.
“Saya juga kabur dari kantor.”
“…”
“Saya bilang ke Komisaris sedang menghadiri forum investasi.”
“…”
“Padahal saya mau mancing.”
Jepoy merasa otaknya berhenti bekerja.
Satu bos kabur.
Ternyata bos yang lebih tinggi juga kabur.
Direktur tersenyum.
“Kalian kira cuma bawahan yang suka cari alasan?”
Pak Badong menatap kosong.
Direktur lalu berkata pelan.
“Tapi ada masalah.”
“Apa, Pak?”
“Komisaris ternyata mengikuti saya.”
Mereka langsung menoleh ke belakang.
Di kejauhan…
Seorang pria tua turun dari mobil mewah.
Seluruh wajah Pak Badong berubah putih.
“Itu…”
“Komisaris.”
Kini ketiganya panik bersamaan.
Direktur, Pak Badong, dan Jepoy langsung berlari ke arah pantai.
“Mau ke mana?” teriak Komisaris.
“Tunggu!”
Mereka semakin kencang berlari.
Karena panik, Direktur terpeleset kulit kelapa.
Pak Badong menabrak pohon kelapa.
Jepoy tercebur ke pasir basah.
Seluruh pengunjung tertawa melihat kekacauan itu.
Namun Komisaris tidak marah.
Ia justru menghampiri mereka sambil membawa kotak pendingin.
“Kalian ini…”
Ketiganya menunduk.
“…kenapa tidak mengajak saya?”
Mereka bertiga mengangkat kepala bersamaan.
“Pak?”
Komisaris membuka kotak pendingin.
Isinya penuh es krim.
“Saya juga sedang cuti.”
“…”
“Saya bilang ke pemegang saham sedang medical check-up.”
“…”
“Padahal saya mau liburan.”
Keempatnya saling memandang.
Lalu…
Mereka tertawa sampai air mata keluar.
Ternyata seluruh rantai pimpinan perusahaan sama-sama berbohong demi mengambil cuti.
Ironis.
Lucu.
Dan sangat memalukan.
Malam harinya mereka duduk di tepi pantai.
Untuk pertama kalinya, tidak ada pembicaraan soal target penjualan.
Tidak ada laporan.
Tidak ada presentasi.
Hanya suara ombak.
Pak Badong akhirnya berkata,
“Jepoy.”
“Iya, Pak?”
“Besok kita kembali ke kantor.”
“Iya.”
“Saya tidak akan memecatmu.”
Jepoy tersenyum lega.
“Tapi…”
“Kenapa, Pak?”
“Kita akan mengaku.”
“Mengaku?”
“Kepada semua orang.”
“Kalau begitu kita habis.”
Pak Badong menggeleng.
“Mungkin.”
“Tapi perusahaan yang membuat semua orang takut mengambil cuti bukan perusahaan yang sehat.”
Direktur mengangguk.
Komisaris juga ikut mengangguk.
Seminggu kemudian…
Seluruh karyawan dikumpulkan di aula.
Semua mengira akan ada pengumuman pemecatan.
Namun yang terjadi benar-benar di luar dugaan.
Pak Badong naik ke panggung.
“Saya ingin meminta maaf.”
Semua karyawan saling berpandangan.
“Saya terlalu keras.”
Direktur ikut maju.
“Saya juga.”
Komisaris mengambil mikrofon.
“Saya lebih parah.”
Lalu mereka menceritakan seluruh kejadian di Pantai Laiya.
Mulai dari izin sakit palsu Jepoy.
Seminar palsu Pak Badong.
Forum investasi palsu Direktur.
Medical check-up palsu Komisaris.
Ruangan hening.
Beberapa detik kemudian…
Seluruh karyawan tertawa terbahak-bahak.
Hari itu perusahaan mengubah kebijakan cuti.
Tidak ada lagi budaya merasa bersalah saat mengambil waktu istirahat.
Tidak ada lagi atasan yang menganggap bekerja tanpa libur adalah tanda loyalitas.
Dan yang paling mengejutkan…
Pak Badong kini selalu mengingatkan bawahannya,
“Kalau memang capek, ambil cuti saja. Jangan sampai pura-pura sakit lalu ketahuan lagi di pantai.”
Seluruh ruangan kembali tertawa.
Enam bulan kemudian, Jepoy menerima promosi jabatan.
Bukan karena laporan marketing.
Bukan karena target penjualan.
Melainkan karena sebuah foto.
Foto yang diam-diam diambil seorang turis saat Jepoy dan Pak Badong saling menatap kaget di pantai.
Foto itu viral dengan judul:
“Dua orang yang sama-sama berbohong, lalu saling menangkap basah.”
Ribuan orang menganggapnya sekadar meme lucu.
Tak seorang pun tahu bahwa satu foto itu telah mengubah budaya sebuah perusahaan.
Dan setiap kali Jepoy melihat foto tersebut, ia selalu tertawa sendiri.
Karena ia sadar, hari ketika ia berniat membolos kerja ternyata justru menjadi hari paling jujur dalam hidup semua orang di perusahaan itu.
