“Sudahlah, Mas Raka. Jangan dipikirkan ucapan perempuan kampung itu. Dia cuma gengsi saja,” bisik Sintia dengan suara manja yang dibuat-buat.
Raka berdehem, berusaha mengusir rasa tidak nyaman yang mendadak menyergap dadanya. Ia menepuk tangan Sintia lembut. “Kamu benar. Dia hanya benalu yang menghambat karierku. Mari masuk.”

Sementara itu, di luar gerbang asrama, Anindya terus melangkah tanpa beban. Di bawah langit sore yang mulai menggelap, ia merogoh kantong gamis sederhananya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar yang layarnya sudah retak di sudut kiri. Ia menekan satu tombol panggilan cepat.
Hanya dalam dua kali nada sambung, suara berat dan berwibawa di seberang sana langsung menyahut.
“Halo, Nindy? Kamu di mana? Sopir Papa sudah jalan ke asrama suamimu.”
Anindya terkekeh pelan. “Tidak usah ke asrama, Pa. Nindy sudah di depan gerbang luar. Oh ya, ralat… mantan suami. Dia baru saja mengusir Nindy dan melempar koper Nindy ke tanah.”
Keheningan mencekam langsung tercipta di seberang telepon. Detik berikutnya, suara sang ayah—Marsekal Madya (Purn) Baskoro, mantan petinggi militer yang sangat disegani—terdengar bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.
“Dia… apa?! Sersan keparat itu berani melempar barang-barang putri tunggal Papa?!”
“Tenang, Pa. Jantung Papa dijaga,” ucap Anindya santai, seolah yang dibicarakan adalah menu makan malam. “Nindy sengaja membiarkannya. Nindy cuma mau menguji sejauh mana kesombongannya setelah naik pangkat. Ternyata, baru jadi Sersan Dua saja sudah merasa menguasai dunia. Sekarang, Nindy mau pulang. Nindy lelah menyamar jadi istri prihatin.”
“Pulang sekarang juga! Papa akan pastikan karier ‘Sersan berprestasi’ kebanggaannya itu tamat sebelum besok pagi!”
Sebuah mobil sedan mewah hitam dengan pelat nomor khusus dinas meluncur mulus dan berhenti tepat di depan Anindya. Seorang pria berjas rapi bergegas turun, membungkuk hormat dengan sangat takzim, lalu mengambil alih koper buluk Anindya seolah itu adalah kotak emas batangan.
Anindya masuk ke dalam mobil, menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk. “Selamat tinggal kehidupan pura-pura miskin,” batinnya sambil tersenyum puas.
Tiga Hari Kemudian: Ruang Komandan Batalyon
Sersan Raka berdiri tegap dengan seragam dinasnya yang rapi. Wajahnya berseri-seri. Hari ini adalah hari pengumuman mutasi dan promosi untuk tugas khusus ke luar negeri—sebuah peluang emas yang sudah ia incar demi mempercepat kenaikan pangkatnya menjadi Sersan Satu. Di sampingnya, beberapa rekan sejawat juga berdiri memberikan penghormatan kepada Letnan Kolonel (Letkol) yang duduk di balik meja kerja.
Namun, suasana di dalam ruangan terasa sangat dingin. Letkol Ahmad tidak menatap Raka dengan pandangan bangga seperti biasanya. Ia justru menatap Raka dengan tatapan tajam, dingin, dan… penuh rasa muak.
“Sersan Dua Raka Wibowo,” panggil Letkol Ahmad, suaranya berat dan menekan.
“Siap, Komandan!” jawab Raka lantang.
Letkol Ahmad melemparkan sebuah map merah ke atas meja. “Rencana promosimu dibatalkan. Dan ini adalah surat perintah mutasi barumu. Kamu dipindahkan ke pos perbatasan paling terpencil di ujung Papua. Efektif mulai besok pagi.”
Deg.
Jantung Raka serasa copot. Wajahnya mendadak pias, kehilangan seluruh rona darahnya. “Si… Siap? Maaf, Komandan, apakah tidak ada kesalahan? Bukankah nama saya yang direkomendasikan untuk tugas ke luar negeri?”
Letkol Ahmad berdiri, berjalan mendekati Raka, lalu berbisik dengan nada yang sangat mengintimidasi. “Kamu tahu apa kesalahan terbesar seorang prajurit, Raka? Bukan gagal di medan perang, tapi menjadi bodoh dan buta di kehidupan sehari-hari.”
“Saya tidak mengerti, Komandan…”
“Kamu mengusir istrimu demi wanita simpanan, bukan? Kamu mempermalukannya di depan umum?” Letkol Ahmad tersenyum sinis. “Kamu tahu siapa Anindya Baskoro? Dia adalah putri tunggal dari Marsekal Madya Baskoro, mantan atasan tertinggi saya, sekaligus penyokong dana utama yayasan kesejahteraan prajurit di angkatan kita.”
Mendengar nama itu, lutut Raka langsung lemas. Dunia di sekitarnya seolah berputar hebat. Marsekal Madya Baskoro? Petinggi militer bintang tiga yang fotonya sering dipajang di aula utama?
“Anindya… dia… dia cuma anak perempuan kampung, Komandan! Pakaiannya lusuh, dia bahkan tidak punya perhiasan!” bantah Raka terbata-bata, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
“Itu karena dia sedang melakukan tugas pengabdian sosial dan ingin mencari suami yang tulus menerima dia apa adanya, bukan karena jabatannya! Dan kamu… kamu membuang berlian demi sebongkah batu kali, Raka,” ucap Letkol Ahmad sambil menggelengkan kepala. “Bukan hanya kariermu yang hancur. Ibu kandungmu juga baru saja dilaporkan ke polisi atas tuduhan penggelapan barang karena belum melunasi belasan cicilan perabotan yang jaminannya menggunakan nama keluarga Baskoro.”
Raka terhuyung ke belakang. Seluruh dunianya runtuh dalam sekejap mata.
Sore yang Sama: Penyesalan yang Terlambat
Raka berlari kencang menuju rumah dinasnya dengan napas terengah-engah. Di halaman rumah, ia melihat pemandangan yang kacau. Beberapa petugas debt collector sedang mengangkut televisi, kulkas, hingga panci-panci anti lengket dari dalam rumahnya. Ibu Raka menangis histeris di lantai, sementara Sintia sedang sibuk mengemas pakaiannya sendiri ke dalam koper mahal yang dibelikan Raka.
“Mas! Apa-apaan ini?! Kenapa barang-barang di rumah ini disita?! Dan kenapa aku dengar kamu dimutasi ke Papua?!” teriak Sintia histeris begitu melihat Raka datang.
“Diam kamu!” bentak Raka, frustrasi memuncak. “Ini semua karena kamu! Kalau bukan karena kamu merayuku, aku tidak akan mengusir Anindya!”
“Oh, jadi sekarang kamu menyalahkan aku? Hah?! Dasar sersan miskin! Aku mau sama kamu karena kamu bilang kariermu mau melesat! Kalau kamu dipindahkan ke hutan Papua, aku tidak mau ikut! Kita putus!” Sintia berteriak egois, lalu menyeret kopernya pergi begitu saja, meninggalkan Raka yang terpaku.
Raka terduduk di halaman berumput yang basah—tepat di titik di mana tiga hari lalu ia melempar koper buluk Anindya dengan penuh kesombongan.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berpelat hitam melintas pelan di depan pagar rumah dinasnya. Kaca mobil bagian belakang perlahan turun.
Di dalam sana, duduk Anindya. Ia tidak lagi mengenakan gamis pudar. Ia memakai gaun desainer yang sangat anggun, dengan riasan wajah minimalis namun memancarkan aura kelas atas yang tak terbantahkan. Di lehernya melingkar kalung mutiara yang harganya setara dengan gaji Raka selama sepuluh tahun.
Anindya menatap Raka yang terduduk mengenaskan di tanah. Tidak ada rasa benci di matanya, hanya ada tatapan datar penuh rasa kasihan.
Raka merangkak mendekati pagar, air matanya menetes deras. “Nindy… Anindya! Maafkan aku! Aku khilaf, Nindy! Tolong jangan hancurkan karierku… Aku mencintaimu, Nindy!”
Anindya hanya tersenyum tipis—senyuman manis dengan lesung pipi yang sama seperti sore itu. Namun kali ini, senyuman itu terasa seperti belati yang menusuk langsung ke harga diri Raka.
“Kan sudah saya ingatkan sore itu, Pak Sersan…” ucap Anindya dengan nada santai yang anggun. “Awas menyesal nanti. Dan seperti yang saya katakan… yang pergi duluan, memang tidak akan pernah kembali.”
Kaca mobil kembali naik secara otomatis, menutup wajah Anindya dari pandangan Raka. Mobil mewah itu kemudian melaju perlahan, meninggalkan Raka yang menangis meraung-raung di tanah, meratapi kesombongannya yang telah menghancurkan masa depannya sendiri untuk selamanya.
