Saya sengaja membawa wanita yang akan segera menjadi istri saya ke rumah tua kami yang hampir hancur di kampung, demi menguji kepribadian aslinya.

Dunia saya seolah berhenti berputar. Bau kayu lapuk dan tanah basah yang tadi terasa mencekik, kini berubah menjadi aroma kematian yang menyesakkan.

Saya mematung di ambang pintu. Di atas lantai papan yang berderit, tergeletak sebuah map dokumen yang selama ini saya kira adalah catatan kesehatan rutin ibu. Namun, saat saya melihat nama “Penerima Donor” di sana, jantung saya berdegup kencang hingga menyakitkan dada. Nama itu adalah nama ibu. Dan di baris berikutnya, di bawah kolom “Donor yang Paling Sesuai”, tertulis nama tunangan saya: Saraswati.

Saya menoleh ke arah Saras yang berdiri tepat di belakang saya. Wajahnya pucat pasi, namun matanya tetap tenang, seolah ia telah memikul beban ini sendirian selama bertahun-tahun.

“Apa ini, Saras?” suara saya bergetar, nyaris berupa bisikan. “Kau… kau adalah anak dari konglomerat pemilik grup properti terbesar di negeri ini. Kau wanita yang dicintai dunia. Mengapa kau melakukan ini? Mengapa kau mengirimkan uang atas namaku selama tiga tahun, dan mengapa… mengapa kau merencanakan donor ini?”

Saras tidak menjawab seketika. Ia masuk ke dalam, mendekati ibu yang sedang terengah-engah di atas dipan, lalu memegang tangan ibu dengan lembut. Ibu, yang tidak mengerti apa pun yang terjadi, hanya tersenyum lemah, menganggap Saras adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk anaknya.

Saras memberi isyarat agar saya keluar ke teras belakang. Udara malam terasa dingin, menusuk kulit, tapi saya tidak merasakannya.

“Aku tidak mencintaimu karena kau kaya,” Saras membuka percakapan dengan suara yang tenang namun dingin. “Aku mencintaimu karena sepuluh tahun lalu, saat aku hanyalah gadis kecil yang tersesat di tengah badai di pasar kota, seorang anak laki-laki miskin memberiku roti terakhirnya dan jaket kumalnya agar aku tidak kedinginan. Dia tidak tahu siapa aku, dia tidak mengharap balasan. Dia hanya seorang anak yang tulus.”

Saya ternganga. Sepuluh tahun lalu? Saya hampir tidak ingat. Itu adalah hari di mana saya juga kelaparan, tapi saya melihat seorang anak kecil yang jauh lebih malang dari saya.

“Anak laki-laki itu adalah kau,” lanjut Saras. “Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun mencari siapa kau. Saat aku menemukanmu, kau sudah berubah. Kau memakai topeng kesuksesan yang sangat tebal. Kau begitu takut dianggap miskin, sehingga kau membuang identitasmu, membuang asal-usulmu, bahkan membuang ibumu sendiri ke dalam kesendirian.”

“Lalu… uang itu? Dan donor ini?” saya bertanya, dengan rasa malu yang membakar jiwa saya.

Saras tertawa getir. “Uang itu adalah cara agar ibumu tetap hidup karena kau terlalu sibuk dengan reputasimu untuk memastikan apakah dia cukup makan atau tidak. Dan donor ini? Ibu kandungku meninggal karena penyakit yang sama dengan yang diderita ibumu. Aku punya uang untuk membeli rumah sakit, tapi aku tidak bisa membeli waktu untuk ibu kandungku. Saat aku tahu ibumu sakit, aku tidak akan membiarkanmu menyesal selamanya seperti yang aku alami.”

Dunia saya hancur. Bukan karena rumah ini, bukan karena kemiskinan ini, tapi karena betapa kecilnya saya di mata wanita ini. Saya selama ini merasa sedang “menguji” dia, padahal dialah yang selama ini sedang “menyelamatkan” saya dari kehancuran moral saya sendiri.

Namun, di saat itulah sebuah kenyataan yang lebih mengerikan terungkap.

Ibu saya tiba-tiba terbatuk hebat. Kali ini ada bercak darah di sapu tangannya. Ia memanggil nama saya. Saat saya berlari masuk, saya melihat ibu berusaha duduk dengan sisa tenaga terakhirnya. Ia tidak memandang saya, melainkan memandang Saras dengan tatapan yang sangat dalam.

“Saraswati,” bisik ibu dengan suara parau. “Terima kasih telah mencintai anakku. Tapi jangan lakukan donor itu. Jangan korbankan dirimu untuk wanita tua ini.”

Saras menggeleng. “Tidak, Bu. Ini adalah satu-satunya cara.”

“Bukan!” teriak ibu, membuat saya tersentak. Ibu menatap saya, matanya berkaca-kaca. “Dia tidak bisa mendonorkan organnya, Nak. Karena dia tidak akan bisa melakukannya.”

Saya bingung. “Apa maksud Ibu?”

Ibu merogoh bawah bantalnya dan mengeluarkan sebuah amplop tua yang sudah menguning. “Saraswati bukan hanya ingin menyelamatkan Ibu. Dia ingin menebus hutang keluarganya. Tahukah kau, mengapa keluargamu dulu jatuh miskin? Tahukah kau mengapa ayahmu meninggal dengan cara yang tidak wajar?”

Saya membeku. Ayah saya meninggal dalam kecelakaan kerja saat saya masih kecil. Perusahaan memberikan sedikit santunan, dan setelah itu, kami kehilangan segalanya.

Saras terdiam, wajahnya menunduk dalam.

“Ayah Saraswati,” lanjut ibu dengan napas terengah, “adalah pemilik perusahaan konstruksi tempat ayahmu bekerja. Ayahmu tahu bahwa gedung itu tidak aman, dia melaporkannya, dan untuk menutupi kesalahan konstruksi yang memakan biaya miliaran, mereka membuat skenario kecelakaan agar ayahmu tidak bisa bersaksi.”

Ruangan itu hening. Hanya ada suara jangkrik di luar dan detak jam yang seolah menghitung sisa waktu kami.

Saras jatuh terduduk. Ia tidak menyangkal. “Itulah alasan aku mencarimu,” isak Saras. “Ayahku meninggal dua tahun lalu. Dia meninggalkan warisan yang penuh dengan darah. Aku ingin menebus dosa-dosanya dengan memberikan hidupku untuk ibumu, dan memberikan seluruh hidupku untukmu. Aku ingin menikahimu agar aku bisa menyerahkan seluruh hartaku kepadamu, karena itu semua adalah milik keluarga kalian yang dirampas.”

Saya menatap Saras dengan perasaan campur aduk yang tak terlukiskan. Wanita yang ingin saya nikahi, yang saya anggap sebagai “piala” untuk menaikkan derajat saya, ternyata adalah putri dari orang yang menghancurkan hidup keluarga saya.

Namun, saat saya melihat tangannya yang gemetar menutupi wajahnya, saat saya melihat ibu saya yang justru mencoba menenangkan Saras, saya sadar akan satu hal.

Saya bukan lagi pria yang peduli pada setelan jas, mobil mewah, atau kondominium di kota. Di rumah reot ini, di tengah kemiskinan yang selama ini saya sembunyikan, saya justru menemukan kebenaran yang paling murni.

Saya mendekati Saras, menariknya ke dalam pelukan saya. Untuk pertama kalinya, saya tidak peduli lagi dengan citra diri. Saya menangis sejadi-jadinya di bahunya.

“Jangan lakukan donor itu,” kata saya tegas. “Jika kau ingin menebus dosa ayahmu, lakukan dengan cara hidup bersamaku, bukan dengan mati untukku. Aku tidak butuh hartamu. Aku hanya butuh kau untuk tetap hidup agar aku bisa memperbaiki diriku sendiri.”

Saras mendongak, matanya yang sembab menatap saya. “Tapi ibumu…”

“Kita akan mencari cara lain,” potong saya. “Kita akan menghabiskan setiap sen yang kau miliki—bukan untuk harta, tapi untuk mencari pengobatan terbaik di dunia bagi Ibu, dengan dokter-dokter terbaik, bukan dengan organnya. Kita akan menebus dosa itu dengan jalan yang benar.”

Di luar, hujan mulai turun. Air menetes dari celah-celah atap, tepat ke dalam ember yang sudah saya siapkan. Namun, malam ini, suara tetesan air itu tidak lagi terasa seperti tanda kemiskinan. Bagi saya, itu adalah suara pembersihan.

Kami bertiga duduk di sana, di rumah tua yang hampir roboh itu. Tidak ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi setelan jas mahal. Tidak ada lagi rahasia.

Tiba-tiba, ponsel saya berdering. Itu adalah asisten saya di kantor pusat. “Pak, direksi perusahaan memutuskan untuk melakukan audit besar-besaran terkait kecelakaan konstruksi sepuluh tahun lalu setelah adanya bukti baru yang masuk ke meja kami hari ini.”

Saya menatap Saras. Ia tersenyum getir, namun ada kelegaan di sana.

“Sepertinya,” bisik Saras, “perjalanan penebusan dosa kita baru saja dimulai.”

Saya memegang tangan ibu dan tangan Saras. Kami berada di rumah tua ini, tempat di mana saya dilahirkan, dan tempat di mana saya akhirnya belajar untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Kebohongan yang saya bangun bertahun-tahun runtuh, tapi di atas puing-puing itu, saya membangun sesuatu yang jauh lebih kuat: kejujuran, pengampunan, dan masa depan yang tidak lagi ditentukan oleh uang, melainkan oleh keberanian untuk mengakui siapa diri kita yang sebenarnya.

Malam itu, di kampung yang jauh dari gemerlap kota, saya bukan lagi pria kaya yang pengecut. Saya hanyalah seorang anak yang pulang ke rumah, untuk menjaga ibunya, dan untuk mencintai wanita yang telah menyelamatkan jiwanya, terlepas dari dosa masa lalu yang mengikat kami.

Dan entah bagaimana, di tengah reruntuhan rumah tua ini, saya merasa lebih kaya daripada siapapun di dunia ini.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang