Jantung Celina berdegup kencang, suaranya teredam oleh detak nadi di telinganya sendiri. Ia menempelkan telinganya ke pintu kayu mahoni kamar bayi yang sedikit terbuka. Cahaya lampu tidur yang temaram membiaskan bayangan di lantai—bayangan Mercy, pengasuh itu, yang berdiri tegak seperti algojo.
“Lucas, berhenti menangis,” suara Mercy dingin, tidak ada kehangatan seorang ibu. “Kalau kamu terus menangis, Ayahmu tidak akan bisa bekerja dengan tenang. Dan kau tahu apa yang terjadi kalau Ayahmu marah, bukan?”
Darah Celina seolah membeku. Ayahmu?

Celina menahan napas saat mendengar suara langkah kaki berat lainnya mendekat. Langkah kaki yang sangat dikenalnya. Adrian. Suaminya melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
“Dia masih menangis?” suara Adrian terdengar frustrasi. “Mercy, sudah kubilang lakukan apa pun agar dia diam. Kita tidak punya banyak waktu sebelum ritual ini selesai.”
Ritual?
Celina hampir menjerit, namun ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata mulai menggenang. Apa yang sedang terjadi di rumahnya sendiri? Apa yang sebenarnya dilakukan suaminya bersama pengasuh itu di tengah malam buta?
Celina perlahan mendorong pintu sedikit lebih lebar. Pemandangan di dalam ruangan itu meruntuhkan dunianya dalam satu detik.
Di tengah kamar, di atas permadani mahal mereka, terdapat lingkaran aneh yang digambar dengan serbuk berwarna perak. Lucas, putranya yang berusia tiga tahun, duduk di tengah lingkaran itu, tubuhnya menggigil hebat. Namun, yang membuat Celina hampir kehilangan kesadaran bukanlah lingkaran itu, melainkan sosok yang berdiri di sudut ruangan.
Bukan Adrian. Maksudnya, pria itu memiliki wajah Adrian, tubuh Adrian, pakaian Adrian… tapi matanya. Mata itu tidak memiliki pupil. Itu adalah lubang hitam legam yang seolah menghisap cahaya lampu di kamar tersebut.
“Adrian?” bisik Celina, suaranya tercekat.
Pria yang tampak seperti suaminya itu menoleh. Senyumnya melebar—terlalu lebar, hingga sudut bibirnya seolah merobek kulit pipinya. Mercy, pengasuh itu, segera berlutut di samping Lucas, memegang sebuah belati kecil perak di atas kepala sang bocah.
“Oh, Celina,” suara itu bukan milik suaminya. Suaranya terdengar seperti gesekan logam berkarat. “Kau seharusnya tetap di Singapura. Keingintahuanmu akan menghancurkan segalanya.”
“Di mana suamiku?!” teriak Celina, kini kehilangan kendali. Ia menyerbu masuk, mengabaikan ketakutan yang mencekik tenggorokannya. “Siapa kalian?!”
Mercy tertawa—sebuah tawa yang terdengar seperti jeritan ribuan serangga. “Suamimu? Adrian sudah lama pergi, Celina. Sejak dia menandatangani kontrak itu lima tahun lalu—tepat sebelum kau mengandung anak ini. Dia menukar kesuburanmu, kekayaanmu, dan kebahagiaanmu dengan sesuatu yang lebih besar. Lucas bukan sekadar anakmu. Lucas adalah wadah.”
Celina tertegun. Ingatannya berputar kembali ke lima tahun lalu. Masa-masa sulit saat mereka tidak bisa memiliki anak. Adrian yang putus asa, yang membawanya ke sebuah desa terpencil di pedalaman untuk “berdoa”.
“Wadah untuk apa?” jerit Celina, merangkul Lucas yang kini menangis memanggil namanya.
“Wadah untuk keabadian,” jawab sosok yang menyerupai Adrian. Ia melangkah mendekat. “Setiap dini hari, kami mengumpulkan energi ketakutan anak ini. Ketakutan adalah emosi paling murni untuk membangkitkan entitas yang kami layani. Dan malam ini… malam ini adalah malam terakhir. Lucas akan ‘pergi’, dan dia akan digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat.”
Celina memeluk Lucas erat. “Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu!”
“Celina, kau tidak mengerti,” Mercy mendekat, belatinya berkilau terkena cahaya lampu. “Kami bukan penculik. Kami adalah pelayan keluarga ini. Keluarga Montero tidak pernah kaya karena kerja keras. Keluarga Montero kaya karena pengorbanan darah. Dan kali ini, giliran anakmu.”
Tiba-tiba, Lucas berhenti menangis. Ia berhenti gemetar. Anak itu perlahan mengangkat kepalanya, dan matanya—mata yang biasanya berwarna cokelat hangat—kini bersinar dengan cahaya keemasan yang menyilaukan.
“Ibu,” suara Lucas terdengar dewasa, berat, dan kuno. “Tinggalkan tempat ini. Sekarang.”
Ruangan itu mendadak bergetar. Kaca jendela pecah berhamburan. Sosok yang menyerupai Adrian mundur, wajahnya tampak ngeri. “Ini tidak mungkin! Dia belum cukup umur!”
“Kalian salah,” ujar suara yang keluar dari mulut Lucas. Itu bukan suara anaknya, melainkan suara entitas yang jauh lebih kuat daripada makhluk-makhluk yang ada di ruangan itu. “Kalian mengira dia adalah wadah yang lemah? Kalian adalah mangsa yang datang sendiri.”
Lantai di bawah Mercy dan sosok Adrian retak. Cahaya dari mata Lucas memancar ke seluruh ruangan, membakar segalanya yang bersentuhan dengannya. Celina merasa seolah ditarik oleh kekuatan gaib keluar dari kamar itu, pintu tertutup rapat di belakangnya, menguncinya di luar.
Ia mendengar jeritan—bukan jeritan kesakitan manusia, melainkan jeritan sesuatu yang disiksa oleh dimensi lain. Suara perabotan yang hancur, suara benda-benda pecah, dan kemudian… keheningan yang absolut.
Pagi harinya, Celina terbangun di lorong depan kamar bayi. Ia merasa seperti baru saja bermimpi buruk yang sangat panjang. Namun, saat ia menatap tangannya, ada sisa debu perak di sana.
Ia bangkit dengan gemetar dan membuka pintu kamar bayi.
Kamar itu kosong. Bersih. Tidak ada lingkaran perak. Tidak ada belati. Adrian sedang duduk di tepi ranjang, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Mercy tidak ditemukan di mana pun—bahkan tidak ada catatan bahwa dia pernah bekerja di sana.
“Adrian?” panggil Celina.
Adrian menoleh. Matanya kembali normal. Ia tampak bingung. “Celina? Kenapa kau menangis? Dan kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau masih di Singapura?”
Celina menatap suaminya. Apakah pria ini benar-benar suaminya? Atau hanya sisa-sisa dari sesuatu yang tersisa setelah malam itu? Ia beralih ke ranjang bayi. Lucas tertidur dengan damai, memeluk kelinci mainannya.
Celina mendekat, menyentuh kening putranya. Lucas membuka matanya perlahan. Tidak ada cahaya emas. Hanya mata cokelat kecil putranya yang lucu. Namun, saat Lucas menatapnya, ia berbisik dengan suara yang sangat pelan, yang membuat darah Celina membeku:
“Jangan khawatir, Ibu. Mereka tidak akan pernah bisa kembali lagi. Aku sudah memakan mereka.”
Celina mundur selangkah, napasnya tertahan. Ia menyadari satu kebenaran yang mengerikan: ia mungkin telah menyelamatkan Lucas dari penyihir atau iblis, namun entitas yang kini berada di dalam tubuh anaknya jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah dibayangkan oleh akal sehat manusia.
Keluarga mereka selamat, ya. Tapi Celina tahu, setiap kali ia menatap mata putranya, ia tidak lagi melihat seorang anak kecil. Ia melihat sesuatu yang sedang menunggu, sesuatu yang sedang tumbuh, sesuatu yang kini memegang kendali penuh atas rumah, nyawa, dan jiwanya.
“Apakah kau ingin sarapan, sayang?” tanya Celina dengan tangan gemetar, berpura-pura semuanya normal.
Lucas tersenyum manis—terlalu manis untuk seorang anak berusia tiga tahun. “Tentu, Ibu. Aku lapar sekali.”
Dan saat itu Celina sadar, rahasia kotor keluarga mereka bukanlah tentang apa yang terjadi di dini hari. Rahasianya adalah bahwa mereka tidak pernah memiliki anak; mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berkuasa yang kini menyebut mereka sebagai orang tuanya. Dan dia harus hidup dengan itu, selamanya, dalam mansion yang indah namun terkutuk ini.
