PUTRAKU YANG BERUSIA 8 TAHUN MENUNJUK SEORANG PENGEMIS DAN BERBISIK: “PAPA… ITU MAMA”

“Papa… itu Mama.”

Suara Leo seperti belati yang menghujam jantungku. Aku menatapnya, lalu menatap sosok di gang itu. Wanita itu tampak seperti gumpalan kain kusam yang bernapas. Tidak mungkin. Elena tewas tiga tahun lalu. Aku sendiri yang mengidentifikasi cincin perak miliknya dari puing-puing mobil yang menghitam.

“Leo, dengar Papa,” suaraku serak, berusaha menenangkan diri sekaligus menenangkan anakku. “Mungkin dia hanya mirip. Kamu lelah, ayo kita pulang.”

Namun, Leo tidak bergeming. Dia melepaskan genggamanku dan melangkah maju. “Bukan mirip, Pa. Aku tahu cara dia memegang kalung itu. Itu kalung yang Papa belikan untuk ulang tahunnya.”

Jantungku berdegup kencang. Aku menoleh ke wanita itu. Benar saja, jemari kotornya yang kurus sedang memilin sesuatu di balik kain selimutnya. Sebuah liontin kecil berbentuk kunci—hadiah ulang tahun kelima pernikahan kami.

Aku mendekat, lututku gemetar. Bau apek dan debu menyengat indra penciumanku. Saat aku berada beberapa langkah darinya, wanita itu mendongak.

Wajahnya penuh noda jelaga dan luka parut yang aneh, seolah kulitnya pernah terbakar. Namun, mata itu… mata cokelat yang dalam itu. Itu adalah mata Elena.

“Elena?” bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.

Wanita itu membeku. Dia menatapku kosong, lalu menatap Leo. Tiba-tiba, dia tertawa—bukan tawa bahagia, melainkan tawa parau yang menyayat hati. Dia mencoba merangkak mundur ke sudut gelap gang.

“Jangan mendekat,” ucapnya dengan suara serak yang hampir tak kukenali. “Dia sudah mati. Kalian berdua harus pergi sebelum ‘mereka’ melihat kalian.”

Rahasia di Balik Abu

Aku tidak membiarkannya pergi. Aku membawanya pulang, meskipun dia berontak dengan tenaga yang tidak wajar bagi seorang pengemis. Selama beberapa hari berikutnya, dia tetap diam, menatap dinding dengan tatapan kosong, menolak bicara sampai Leo masuk ke kamar dan memegang tangannya.

“Mama, aku rindu,” bisik Leo.

Malam itu, Elena akhirnya pecah. Dia menarik napas panjang, dan dengan tangan gemetar, dia menyentuh luka bakar di wajahnya.

“David, aku tidak mati karena kecelakaan itu,” katanya, suaranya kini lebih stabil namun dingin. “Aku dijebak. Mobil itu… diretas. Seseorang ingin aku mati karena aku menemukan dokumen tentang proyek ilegal perusahaan tempatku bekerja.”

Aku tercengang. Elena adalah akuntan forensik. “Tapi, mayatnya… abu itu…”

“Mereka yang menaruhnya di sana untuk mengakhiri pengejaran mereka,” potongnya. “Mereka tidak tahu aku berhasil melompat sebelum mobil itu meledak. Tapi aku takut. Jika aku muncul, mereka akan membunuh kalian berdua. Aku hidup dalam bayang-bayang, memantau kalian dari kejauhan, memastikan kalian aman.”

Aku merasa marah, bingung, dan lega secara bersamaan. “Kita lapor polisi! Kita akan buat mereka membayar!”

Elena menggelengkan kepala, tatapannya tiba-tiba berubah tajam, bukan tatapan ketakutan, melainkan tatapan seseorang yang memegang kendali. “Sudah terlambat, David. Mereka sudah ada di sini.”

Twist yang Mematikan

Tepat saat dia mengucap kalimat itu, suara dentuman keras terdengar dari pintu depan. Pintu kayu rumah kami didobrak paksa. Tiga pria berpakaian hitam masuk dengan senjata terhunus.

Aku berdiri di depan Leo, mencoba melindunginya. Namun, yang terjadi selanjutnya membuat duniaku benar-benar runtuh.

Pria-pria itu tidak menembak kami. Mereka membungkuk hormat kepada Elena.

“Nyonya, tim sudah siap. Target sudah ada di dalam rumah,” ucap salah satu pria itu dengan dingin.

Aku menatap Elena dengan horor. “Elena? Apa ini?”

Elena berdiri tegak. Dia tidak lagi terlihat seperti pengemis yang ketakutan. Dia mengusap wajahnya, dan secara mengejutkan, dia mengupas lapisan prostetik (kulit palsu) dari wajahnya. Wajahnya yang cantik—tanpa luka parut—terlihat sempurna.

“David,” katanya dengan senyum yang paling asing yang pernah kulihat. “Aku tidak pernah bekerja untuk perusahaan itu. Aku adalah pemiliknya. Dan kecelakaan itu? Itu adalah cara sempurna untuk memalsukan kematianku agar aku bisa membersihkan organisasi dari tikus-tikus yang berkhianat tanpa dicurigai.”

Duniaku berhenti berputar. Istriku yang lembut, yang aku tangisi selama tiga tahun, adalah dalang di balik sindikat kriminal internasional yang paling dicari.

“Lalu kenapa kembali?” tanyaku dengan suara bergetar, memeluk Leo yang kini menangis ketakutan.

Elena berjalan mendekat, menyentuh pipiku dengan jemari yang dingin. Dia berbisik, satu kalimat yang membuat darahku membeku:

“Aku tidak kembali untukmu, David. Aku kembali untuk menjemput Leo—karena dia adalah satu-satunya anak di dunia ini yang memiliki kode genetika untuk membuka brankas aset terbesar yang kusembunyikan di pusat data bawah tanah.”

Dia menatap putranya, bukan dengan cinta seorang ibu, melainkan dengan ketamakan seorang ilmuwan gila yang baru saja menemukan kunci keberhasilannya.

“Maafkan Papa,” bisiknya pada Leo, lalu memberi isyarat pada anak buahnya. “Ambil anak itu. Habisi pria ini.”

Saat pria bersenjata itu mendekat, aku menyadari satu hal terakhir sebelum kegelapan menelan kesadaranku: Elena tidak pernah mencintaiku. Aku hanyalah bidak catur yang dia gunakan untuk menjaga ‘investasi’ berharganya tetap hidup sampai dia siap untuk mengambilnya kembali.

Dunia mungkin bisa menyembuhkan luka, tapi tidak ada obat untuk kenyataan bahwa monster yang paling kucintai adalah orang yang sama dengan yang merancang akhir hidupku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang