Ibu mertuaku menyewa orang untuk membuntutiku selama

Julian menyodorkan ponsel itu ke hadapanku. Layarnya menyala, menampilkan sebuah foto yang diambil dari jarak jauh, namun dengan lensa yang cukup tajam.

Di sana, di bawah lampu jalan yang temaram di depan sebuah hotel butik di pinggiran kota, seorang wanita berpakaian blus krem dan rok plisket hitam—pakaian yang sangat mirip dengan seragam kantorku—sedang memeluk seorang pria asing dari belakang. Pria itu tinggi, berambut ikal, dan mengenakan jaket kulit hitam. Wajah sang wanita menghadap ke samping, tertutup sebagian oleh rambutnya yang digerai, namun siluet tubuh dan pakaiannya… itu mutlak terlihat seperti aku.

“Mama mendapatkan ini dari orang yang dia sewa,” suara Julian bergetar. Ada luka, kemarahan, dan kebingungan di matanya. “Dia bilang kamu check-in di sana hari Kamis lalu. Jam tujuh malam. Saat kamu bilang kamu ada lembur laporan audit.”

Aku menatap foto itu. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut tertangkap, melainkan karena sebuah kesadaran yang mendadak menghantam kepalaku bagai palu godam.

Aku memang memakai baju itu hari Kamis lalu. Tapi hari Kamis lalu, aku tidak lembur di kantor. Aku pulang cepat karena kepalaku pusing berat, dan aku menghabiskan malam dengan tidur di kamar belakang rumah kami—kamar kosong yang jarang dipakai—agar tidak menulari Julian yang sedang flu. Julian sendiri malam itu baru pulang jam sebelas malam setelah rapat luar kota.

Lalu, siapa wanita di foto ini? Baju itu…

“Julian,” kataku, suaraku terdengar sangat tenang, bahkan mengejutkan diriku sendiri. “Perhatikan baik-baik anting-anting wanita di foto ini.”

Julian mengernyitkan dahi, mendekatkan ponsel ke wajahnya dan memperbesar gambar tersebut. Di daun telinga wanita itu, ada kilauan kecil. Sebuah anting-anting berlian berbentuk pita.

“Itu… bukan anting murahmu,” bisik Julian, suaranya mendadak tercekat.

“Bukan,” jawabku lurus. “Itu anting-anting emas putih kustom. Hadiah ulang tahun dari Mama Remedios bulan lalu. Untuk menantunya yang paling dia banggakan.”

Mata Julian melebar. Ponsel di tangannya hampir saja terjatuh.

Di rumah besar ini, hanya ada tiga wanita. Aku, Mama Remedios, dan Patricia.

Ya, Patricia. Dua tahun lalu, setelah gagal menjodohkannya dengan Julian, Mama Remedios akhirnya berhasil menikahkan Patricia dengan Adrian—adik kandung Julian. Adrian adalah anak bungsu kesayangan Mama, seorang pria lembut yang penurut, namun sering sakit-sakitan. Karena Adrian sering keluar masuk rumah sakit, Mama Remedios bersikeras agar Adrian dan Patricia tinggal bersama kami di rumah utama ini.

Bagi Mama Remedios, Patricia adalah malaikat tanpa cela. Dia anggun, berbicara dengan nada lembut yang dibuat-buat, selalu bangun pagi untuk menemani Mama minum teh, dan yang paling penting: dia kaya.

Sedangkan aku? Aku hanyalah tikus kotor yang menyelinap ke dalam istana mereka.

Malam itu juga, keheningan di rumah kami pecah. Namun bukan aku yang menjadi terdakwa, melainkan sebuah konspirasi yang perlahan mulai terkelupas kulitnya.

Aku dan Julian tidak langsung mengonfrontasi Mama Remedios. Aku menyuruh Julian berpura-pura percaya pada foto itu, demi melihat seberapa jauh sandiwara ini akan berjalan.

Keesokan harinya, hari Minggu, suasana meja makan terasa mencekam. Mama Remedios duduk di kepala meja dengan dagu terangkat tinggi, tatapannya padaku penuh dengan kemenangan yang terselubung. Di sebelahnya, Patricia duduk dengan anggun, menyendokkan bubur untuk Adrian yang tampak pucat.

“Althea,” Mama Remedios membuka suara, memotong keheningan dengan denting sendoknya yang sengaja didentamkan ke piring porselen. “Kudengar akuntan di perusahaanmu sering pulang malam ya akhir-akhir ini? Kasihan Julian, sering ditinggal sendiri.”

Aku tersenyum tipis, tetap menunduk dan mengoleskan selai ke rotiku. “Iya, Ma. Pekerjaan memang sedang banyak.”

“Oh ya?” Mama Remedios mendengus, melirik Julian yang hanya diam menatap piringnya. “Julian, sebagai suami, kamu harus lebih tegas. Jangan sampai kesibukan istrimu di luar sana… ternyata untuk mengurus ‘pria lain’.”

Patricia langsung menimpali dengan suara lembutnya yang menenangkan, “Mama, sudahlah. Jangan menuduh Mbak Althea begitu. Mbak Althea kan orangnya polos dan setia. Tidak mungkin dia melakukan hal serendah itu.”

Mendengar ucapan Patricia, aku hampir saja tertawa terbahak-bahak. Akting yang luar biasa.

“Kamu itu terlalu baik, Patricia,” kata Mama Remedios sambil mengelus tangan Patricia dengan penuh kasih sayang. “Tidak semua perempuan punya latar belakang keluarga yang terhormat dan dididik dengan moral seperti kamu. Ada orang yang dari luarnya diam, tapi di dalamnya busuk.”

Aku meletakkan pisau rotiku. “Ma, kalau Mama punya bukti bahwa aku busuk, kenapa tidak langsung dikeluarkan saja? Kenapa harus menyindir di depan meja makan?”

Mama Remedios terkejut dengan keberanianku. Wajahnya memerah karena geram. “Kamu menantangku, Althea? Baik!” Dia menggebrak meja, membuat Adrian tersedak. “Julian! Tunjukkan pada perempuan lancang ini apa yang sudah dia lakukan di belakangmu!”

Julian menarik napas dalam-dalam. Dia mengeluarkan ponselnya—bukan ponsel Mamanya, melainkan ponselnya sendiri—dan meletakkannya di tengah meja. Namun, yang diputarnya bukan foto yang tadi malam.

Itu adalah sebuah rekaman video berdurasi tiga menit.

Dua jam sebelum sarapan, aku telah meminta bantuan seorang teman lamaku yang bekerja di bidang IT untuk melacak plat nomor sepeda motor hitam yang membuntutiku. Dan tebak apa? Pengendara motor itu bukan hanya disewa oleh Mama Remedios. Dia adalah seorang detektif swasta amatir yang ternyata… menerima bayaran ganda.

Dia dibayar oleh Mama Remedios untuk mengintai aku, tetapi di saat yang sama, dia juga didekati oleh Patricia yang memberinya uang tutup mulut lebih besar agar mengalihkan sudut pandang kamera setiap kali Patricia berada di tempat yang sama denganku.

Hari Kamis itu, Patricia tahu bahwa aku pulang cepat dan berada di rumah. Dia dengan sengaja mencuri salah satu blus kantorku yang sedang dijemur, memakainya, dan pergi ke hotel butik itu untuk menemui selingkuhannya. Dia tahu mata-mata Mama Remedios sedang mengawasi jalanan. Dia sengaja membiarkan dirinya difoto dari belakang, memastikan pakaiannya identik denganku, agar jika Mama Remedios melihatnya, akulah yang akan didepak dari rumah ini.

Namun, Patricia melakukan satu kecerobohan fatal yang tidak disadari oleh mata tua Mama Remedios.

Dalam video yang diputar Julian di meja makan—sebuah rekaman CCTV berkualitas HD yang berhasil diretas temanku dari area parkir hotel butik tersebut—terlihat jelas dari arah depan.

Wanita berbaju krem itu turun dari taksi. Wajahnya menghadap kamera dengan sangat jelas. Itu Patricia.

Dia berjalan menghampiri pria berjaket kulit hitam itu. Mereka berpelukan, berciuman panas tepat di bawah lampu jalan, sebelum akhirnya masuk ke dalam hotel dengan bergandengan tangan.

Dan kejutan sesungguhnya belum selesai di sana.

Saat pria berjaket kulit itu berbalik untuk mengambil kunci kamar di resepsionis—yang terekam oleh kamera dalam hotel—wajahnya terlihat sangat jelas.

Adrian, yang sejak tadi diam, mendadak bangkit dari kursinya. Wajahnya yang pucat kini berubah menjadi seputih kertas. Napasnya memburu, matanya melotot menatap layar ponsel Julian.

“I-Itu…” Adrian terbata-bata, jarinya menunjuk ke arah pria di video itu. “Itu dokter Bram…”

Mama Remedios mengerutkan kening, kebingungan mulai mengikis kemarahannya. “Dokter Bram? Dokter spesialis jantung yang mengobati kamu, Adrian?”

“Bukan cuma itu, Adrian,” aku akhirnya membuka suara, memecah kepanikan yang mulai merayap di ruangan tersebut. Aku mengeluarkan selembar dokumen dari tas kerjaku dan melemparkannya ke atas meja. Dokumen itu mendarat tepat di depan Mama Remedios.

“Itu adalah laporan mutasi rekening dari perusahaan konstruksi tempatku bekerja. Tiga bulan lalu, Patricia memintaku secara pribadi untuk membantunya mencairkan dana taktis dari rekening bisnis keluarga Mama, katanya untuk biaya pengobatan tambahan Adrian ke luar negeri. Karena dia menantangku bahwa aku tidak becus mengurus keuangan, aku menyelidikinya sendiri.”

Aku menatap Patricia, yang kini wajahnya sudah kehilangan seluruh rona merahnya. Tubuhnya gemetar hebat.

“Dana sebesar dua miliar rupiah itu tidak pernah masuk ke rumah sakit di Singapura, Ma,” kataku dengan nada dingin. “Dana itu ditransfer ke sebuah rekening penampung atas nama Bramantyo. Dan seminggu setelah transferan itu selesai, dokter Bram merekomendasikan obat-obatan baru yang dosisnya… membuat kondisi Adrian semakin hari semakin drop dan melemah.”

Ruang makan itu seketika menjadi sehening kuburan.

Plot twist yang sebenarnya bukanlah perselingkuhan Patricia.

Melainkan fakta bahwa Patricia dan Dokter Bram telah merencanakan ini sejak awal. Adrian yang sakit-sakitan sengaja dibuat semakin lemah agar harta warisan Mama Remedios jatuh sepenuhnya ke tangan Patricia sebagai janda tunggal nantinya. Dan untuk memastikan tidak ada gangguan dari Julian atau aku, Patricia memanfaatkan obsesi Mama Remedios yang membenciku untuk menjebakku, sehingga fokus perhatian semua orang teralih padaku sementara mereka perlahan-lahan meracuni Adrian.

Mama Remedios menatap Patricia dengan pandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Rasa percaya, kebanggaan, dan cinta yang selama ini dia agung-agungkan, hancur berkeping-keping menjadi histeria yang mengerikan.

“Kamu…” Mama Remedios berbisik, suaranya melengking tinggi sebelum akhirnya dia menjerit histeris dan menyerang Patricia. “KAMU MAU MEMBUNUH ANAKKU?!”

Suasana menjadi chaos. Adrian menangis histeris, menyadari bahwa istri yang dipujanya adalah malaikat maut yang mengintai nyawanya. Patricia berteriak, mencoba membela diri namun semuanya sudah terlambat. Julian dengan cepat menelepon polisi yang ternyata sudah menunggu di luar pagar rumah atas instruksiku sejak setengah jam yang lalu.

Aku berdiri dari kursi meja makan, merapikan rokku, dan mengambil tas kerjaku.

Mama Remedios memandangku di tengah kekacauan itu. Air matanya bercucuran, matanya menyiratkan permohonan maaf, penyesalan, dan kehancuran yang amat dalam. Dia menyadari bahwa menantu yang paling dia benci, yang dia sebut ‘si pendiam yang menakutkan’, adalah satu-satunya orang yang menyelamatkan nyawa anak bungsunya dari kehancuran.

“Julian,” kataku sambil menatap suamiku yang masih syok. “Aku berangkat kerja dulu. Hari ini aku benar-benar ada lembur laporan bulanan.”

Aku membalikkan badan dan berjalan keluar dari rumah besar itu tanpa menoleh lagi.

Saat aku melewati pojok jalan, sepeda motor hitam itu sudah tidak ada di sana. Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pagi yang segar. Keheningan yang selama ini mereka anggap sebagai tanda kelemahan, ternyata adalah senjata paling mematikan yang pernah mereka hadapi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang