Setiap Hari Minggu Mereka Menguras Kulkasku, Lalu Malah Aku yang Dituduh Egois—Aku Hanya Tersenyum dan Berkata, “Aku Pulang Saja ke Rumah Ibuku.” Sepuluh Hari Kemudian, Mereka Sendiri yang Kalang Kabut

Aku melepaskan cengkeraman dari ritsleting koper, mengambil napas dalam-dalam, lalu mulai memasukkan pakaianku satu per satu. Tidak ada air mata. Rasa sedihku sudah lama menguap, digantikan oleh sebentuk ketenangan yang dingin. Aku melipat gaun, kemeja kerja, dan beberapa helai pakaian santai dengan sangat rapi, seolah-olah aku hanya bersiap untuk liburan akhir pekan yang menyenangkan.

Sebelum menutup koper, aku berjalan ke lemari kaca di ruang tamu. Di sana, di bawah tatapan tajam Ibu Cora yang pura-pura sibuk dengan televisi, aku mengambil set cangkir teh pemberian ibuku. Aku membungkusnya satu per satu dengan kain beludru, lalu meletakkannya di bagian paling atas koper.

“Kamu mau ke mana membawa koper besar begitu?” suara Ibu Cora meninggi saat aku menyeret koper keluar ke ruang tamu. Matanya menyipit penuh selidik.

Aku berhenti, menatapnya lurus, lalu tersenyum sangat manis—senyum paling tulus yang pernah kuberikan padanya selama dua tahun terakhir.

“Aku pulang saja ke rumah ibuku, Bu,” kataku lembut.

“Pulang? Paolo kan baru pulang dinas tiga hari lagi! Jangan kekanak-kanakan, Nina. Hanya karena masalah kulkas dan cangkir, kamu mau mogok jadi istri? Egois sekali kamu! Ingat ya, kalau Paolo tahu kamu pergi tanpa izin, jangan salahkan Ibu kalau dia marah!” cerocosnya panjang lebar, nadanya penuh ancaman yang biasanya membuatku menciut.

Namun kali ini, ancaman itu terdengar seperti desis angin lalu. “Sampaikan salamku pada Paolo,” ujarku tenang, lalu melangkah keluar, menutup pintu rumah itu tanpa menoleh ke belakang.

Malam itu, Paolo meneleponku berulang kali. Aku sengaja membiarkan ponselku menyala, tetapi mematikan suaranya. Aku membalas pesannya dengan singkat: “Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku ada di rumah Ibu. Jangan mencariku dulu.”

Paolo, dengan sifatnya yang selalu menghindari konflik, mengira ini hanyalah aksi “merajuk” biasa. Dia membalas: “Ya sudah, kamu tenangkan diri dulu di sana. Nanti kalau aku sudah pulang, aku jemput.” Dia pikir segalanya bisa selesai dengan segelas bensin gratis dan janji palsu tentang “kulkas yang lebih besar”.

Dia tidak tahu bahwa aku tidak sedang merajuk. Aku sedang melakukan kalkulasi akhir.

Sebenarnya, ada satu rahasia besar yang tidak pernah diketahui oleh Paolo, Ibu Cora, maupun Karen. Selama ini, mereka mengira rumah mewah dua lantai yang kami tinggali adalah hasil jerih payah Paolo sepenuhnya, dan aku hanya “menumpang” sebagai istri yang beruntung. Mereka tidak tahu bahwa akun rekening pembayaran otomatis untuk seluruh biaya operasional rumah—mulai dari cicilan KPR, tagihan listrik yang membengkak karena AC yang menyala 24 jam untuk Ibu Cora, pasokan air, wifi premium, hingga langganan pembersihan rumah—semuanya didebit langsung dari rekening pribadiku.

Mengapa? Karena tiga tahun lalu, saat kami membelinya, skor kredit Paolo tidak cukup, dan akulah yang memiliki penghasilan lebih stabil sebagai manajer keuangan di perusahaan multinasional. Kami sepakat menggunakan sistem potong otomatis dari rekeningku, sementara uang Paolo digunakan untuk investasi masa depan kami. Investasi yang ternyata sering dia “pinjamkan” diam-diam kepada Karen dan Dennis.

Hari Senin pagi, hal pertama yang kulakukan adalah mendatangi bank. Aku mencabut semua surat kuasa pendebitan otomatis (auto-debit) atas seluruh tagihan rumah tersebut. Aku juga menelepon perusahaan penyedia layanan asisten rumah tangga harian yang biasa membersihkan rumah setiap hari Selasa dan Kamis, membatalkan kontrak mereka secara sepihak.

Permainan baru saja dimulai.

Sepuluh Hari Kemudian.

Hari kesepuluh sejak kepergianku. Ponselku yang biasanya tenang, tiba-tiba meledak oleh panggilan telepon dan pesan beruntun. Nama Paolo, Ibu Cora, dan Karen bergantian muncul di layar.

Aku sengaja membiarkannya sampai jam makan siang, sebelum akhirnya mengangkat telepon dari Paolo.

“Nina! Kamu di mana?! Kenapa kamu tega melakukan ini?!” Suara Paolo tidak lagi terdengar tenang atau lelah seperti biasanya. Suaranya melengking, panik, dan penuh tekanan. Di latar belakang, aku bisa mendengar suara Ibu Cora yang sedang menangis histeris.

“Melakukan apa, Paolo?” tanyaku, menyeruput kopi hangat di teras rumah ibuku dengan santai.

“Rumah mati total, Nin! Listrik diputus sejak kemarin sore! Semua makanan di kulkas baru—yang kubeli dengan kartu kreditku untuk menyenangkan Mama—semuanya membusuk dan baunya busuk sekali! Air juga mati pagi ini! Dan tadi… tadi orang dari bank datang membawa surat peringatan penyitaan karena cicilan bulan ini gagal didebit!” Paolo berteriak frustrasi. “Apa yang kamu lakukan pada rekening kita?!”

“Bukan rekening kita, Paolo. Itu rekeningku,” kataku datar. “Aku hanya menghentikan pembayaran untuk rumah yang bukan milikku lagi secara mental. Bukankah ibumu bilang aku egois dan perhitungan? Jadi, aku memutuskan untuk menjadi benar-benar perhitungan.”

“Tapi ini keterlaluan, Nina! Mama sampai pingsan karena kepanasan semalam! Dan hari ini Karen datang mau mencuci baju karena mesin cucinya rusak, tapi rumah kita malah kacau begini!”

Aku tertawa. Suara tawa yang belum pernah mereka dengar dariku—tawa yang dingin dan penuh kemenangan. “Oh, Karen ada di sana? Kebetulan sekali. Sampaikan padanya, kejutan yang sebenarnya baru saja dimulai.”

“Maksudmu apa?!”

Klik. Aku mematikan telepon.

Satu jam kemudian, sebuah taksi online berhenti di depan rumah dinas yang mati listrik itu. Namun, yang turun bukanlah aku. Melainkan dua orang pria berbadan tegap dengan seragam pengacara, didampingi oleh seorang petugas dari kantor pertanahan dan dua orang polisi pamong praja.

Ibuku adalah seorang pensiunan jaksa, dan dia mengajari anak perempuannya dengan sangat baik tentang bagaimana cara mengesekusi hak milik tanpa perlu mengotori tangan dengan adu mulut.

Melalui pesan video yang dikirimkan pengacaraku, aku bisa melihat pemandangan yang sangat memuaskan di ruang tamu rumah itu. Ibu Cora duduk lemas di sofa sambil mengipasi diri dengan majalah bekas, wajahnya pucat karena kepanasan dan syok. Karen berdiri di sampingnya dengan wajah merah padam, sementara tiga eco bag kosong yang biasa dia bawa kini tergeletak mengenaskan di lantai yang mulai berdebu karena tidak ada yang menyapu selama sepuluh hari.

Paolo berdiri di tengah ruangan, memegang selembar surat berkop resmi yang baru saja diserahkan oleh pengacaraku.

Surat itu bukan surat gugatan cerai biasa. Itu adalah Surat Perjanjian Pengalihan Aset dan Pengosongan Rumah.

“Pak Paolo de Leon,” ujar pengacaraku dengan suara bariton yang tegas, terdengar jelas dalam rekaman video. “Klien kami, Ibu Nina Reyes, telah mengajukan gugatan cerai resmi ke pengadilan pagi ini. Bersamaan dengan itu, perlu kami sampaikan bahwa sertifikat tanah dan bangunan rumah ini secara hukum terdaftar atas nama Ibu Nina Reyes dan ibundanya sebagai penjamin utama. Karena Anda telah gagal membayar bagian kompensasi yang disepakati secara internal selama dua tahun terakhir, klien kami telah menjual rumah ini kepada pihak ketiga minggu lalu.”

“A-Apa?! Dijual?!” teriak Karen, suaranya melengking tinggi hingga memotong penjelasan pengacara. “Tidak bisa begitu! Ini rumah kakakku! Rumah keluarga kami! Di mana kami mau berkumpul setiap hari Minggu?!”

Pengacara itu bahkan tidak melirik Karen. Dia terus menatap Paolo yang kini lututnya tampak gemetar.

“Pembeli baru telah melunasi seluruh sisa KPR ke bank pagi ini. Dan sesuai dengan klausul kontrak jual beli, rumah ini harus dikosongkan dalam waktu 24 jam. Jika sampai besok siang jam dua seluruh barang pribadi Anda dan keluarga belum dikeluarkan, petugas keamanan akan mengosongkannya secara paksa.”

“Paolo! Apa-apaan ini?!” Ibu Cora berteriak histeris, bangkit dari sofa lalu memukul-mukul lengan anaknya. “Kamu bilang rumah ini atas namamu! Kamu bilang istrimu itu cuma menumpang! Kenapa sekarang kita diusir?!”

Paolo tidak bisa menjawab. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, perlahan terduduk di lantai ruang tamu yang panas dan pengap. Dia tahu persis bahwa selama ini dia telah berbohong kepada keluarganya demi harga diri yang semu, membiarkan mereka memperlakukanku seperti pelayan, sementara dialah yang sebenarnya menumpang pada kemampuanku.

Sore harinya, Karen mengirimkan pesan singkat kepadaku. Tidak ada lagi kata “Kak Nina” yang manis tapi palsu.

“Kamu wanita iblis! Kamu tega menghancurkan keluarga kami! Mama sampai masuk angin dan harus diinfus karena stres! Kamu akan kualat karena pelit dengan keluarga sendiri!”

Aku melihat pesan itu, lalu mengetik balasan terakhirku sebelum memblokir nomornya untuk selamanya.

“Karen, bukankah kamu suka sekali menguras habis isi kulkasku setiap hari Minggu? Sekarang, rumah itu sudah kosong melongpong. Tidak ada kulkas, tidak ada listrik, tidak ada makanan gratis. Kamu bisa membawa pulang kulkas besarnya sekalian, anggap saja itu hadiah perpisahan dariku. Nikmatilah waktu berkumpul keluarga kalian di rumah baru kalian nanti—di mana pun itu, asal bukan di atas keringatku.”

Aku meletakkan ponselku di meja teras. Angin sore berembus sejuk di rumah ibuku, membawa aroma masakan sup ayam yang hangat dan menenangkan. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, hari Minggu besok aku tidak perlu menyeka tangan pada celemek dengan perasaan cemas menunggu bel pintu berbunyi tepat jam tiga sore.

Mereka menginginkan segalanya dariku, jadi aku memberikan mereka pilihan terbaik: aku pergi, dan membiarkan mereka saling menguras habis satu sama lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang