Bagian II: Malam yang Merayap di Griya Valderama
Langkah kaki saya terasa asing di atas aspal jalanan Manila. Udara kota yang pekat oleh polusi dan bau kemiskinan terasa mencekik, namun di dalam dada saya, seekor serigala yang telah tertidur selama delapan tahun kini meregangkan otot-ototnya. Saya meraba tas kain murah milik Althea, menemukan sebuah kunci rumah dan selembar tiket bus menuju sebuah kompleks perumahan kumuh di pinggiran Cavite.
Rumah nomor 44. Dindingnya retak-retak, dengan cat hijau lumut yang terkelupas seperti kulit mati.
Saat saya memutar kunci dan mendorong pintu, bau alkohol murah dan sisa makanan basi menyengat hidung. Di ruang tengah yang remang-remang, seorang pria bertubuh gempal dengan tato ular di lengannya sedang tertidur telungkup di sofa. Rafael. Di sudut ruangan, seorang wanita tua dengan wajah ketus—ibunya—sedang menghitung lembaran uang kumal di meja makan, ditemani seorang pria muda berambut gondrong yang tak lain adalah adik Rafael, Gardo.

“Oh, pelacur tidak berguna itu sudah pulang,” desis wanita tua itu tanpa menoleh. “Di mana uang bulanan dari rumah sakit? Jangan bilang kau menghabiskannya untuk ongkos bus!”
Saya tidak menjawab. Saya berjalan lurus menuju kamar tidur kecil di bagian belakang. Di sana, di atas kasur tipis tanpa seprei, seorang anak perempuan berusia empat tahun meringkuk memeluk lututnya. Luna. Matanya yang bulat besar menatap saya dengan ketakutan yang begitu murni hingga membuat jantung saya berdenyut perih.
“Ibu…?” bisiknya lirih, suaranya bergetar.
Saya berlutut, merengkuh tubuh kecilnya yang gemetar. Saat jemari saya menyentuh pundaknya, dia tersentak. Ada bekas sulutan rokok di balik kaos oblongnya yang kebesaran. Detik itu juga, impulse control disorder yang bertahun-tahun saya jinakkan di San Isidro mendidih, mendobrak dinding pertahanan mental saya. Namun, saya tidak berteriak. Saya tersenyum—sebuah senyuman yang belum pernah Althea tunjukkan.
“Ini Ibu, Sayang. Mulai malam ini, tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu,” bisik saya, mengecup keningnya.
Bagian III: Pembalasan yang Dingin
Pukul sebelas malam. Hujan deras mengguyur Cavite, menyamarkan suara-suara dari dalam rumah nomor 44.
Rafael terbangun dengan rasa haus dan amarah yang biasa. Dia menendang pintu kamar, berteriak memanggil nama Althea. Namun, yang dia temukan di dapur bukanlah wanita lemah yang gemetar ketakutan, melainkan saya, berdiri tegak memandangi rintik hujan di balik jendela.
“Hei! Tuli ya? Mana makanan?!” bentak Rafael, melangkah tegap ke arah saya dan mencengkeram bahu saya dengan kasar.
Saya berbalik. Kecepatan tubuh yang saya latih dengan ribuan push-up di lantai semen San Isidro bekerja dalam hitungan milidetik. Sebelum Rafael sempat menyadari perubahan pada tatapan mata “istrinya”, saya menangkap pergelangan tangannya, memutarnya dengan sudut yang tidak alami hingga terdengar bunyi krek yang memuaskan.
“AAAKHHH!” Rafael melengking, tubuhnya ambruk ke lantai dapur yang dingin.
Gardo dan ibunya yang mendengarkan keributan itu langsung berlari ke dapur. Gardo membawa sebilah pisau dapur, wajahnya beringas. Namun, delapan tahun terkunci bersama orang-orang paling tidak dapat diprediksi di Filipina telah mengajari saya satu hal: monster sejati tidak menggonggong sebelum menggigit.
Saat Gardo menerjang, saya menghindar dengan sapuan kaki yang menjatuhkannya ke sudut meja makan. Pisau di tangannya terlepas. Saya memungut pisau itu, memegangnya dengan santai.
“Siapa… siapa kau?!” tanya wanita tua itu dengan suara bergetar hebat, melihat kedua putranya mengerang kesakitan di lantai. Wajah saya mirip dengan Althea, tetapi aura di sekeliling saya adalah maut hitam.
“Aku adalah doa Althea yang dikabulkan,” jawab saya dingin.
Malam itu, tidak ada darah yang tertumpah berlebihan. Saya tidak membunuh mereka—kematian terlalu instan untuk sebuah penebusan. Selama tiga jam berikutnya, di bawah tatapan ketakutan dari tiga manusia jahanam itu, saya mematahkan jari-jari tangan Rafael satu per satu—persis seperti apa yang dia lakukan pada buku-buku jari Althea. Saya memaksa Gardo memakan puntung rokok yang menyala, dan saya mengunci wanita tua itu di dalam kamar mandi yang gelap gulita, membiarkannya merasakan keputusasaan yang sama seperti yang dialami Althea.
Sebelum fajar menyingsing, saya mengemas pakaian Luna. Saya mengambil seluruh uang hasil judi sabung ayam milik Rafael yang disembunyikan di bawah kasur.
“Jika kalian mencari Althea Valderama,” kata saya pada Rafael yang sekarat di lantai dengan wajah babak belur, “dia berada di San Isidro. Dan jika kalian berani mendekatinya, atau mendekatiku… aku tidak akan menggunakan pisau. Aku akan menggunakan tanganku sendiri untuk mencabut tenggorokanmu.”
Bagian IV: Plot Twist — Alur yang Memutar
Dua minggu berlalu. Saya membawa Luna pindah ke sebuah apartemen kecil yang aman di Davao, wilayah selatan yang jauh dari jangkauan keluarga Rafael. Dengan uang yang saya rampas, saya memulai hidup baru sebagai “Althea”. Luna mulai bisa tertawa. Kulitnya yang penuh memar mulai membaik. Saya merasa telah memenangkan pertempuran ini. Penebusan dosa telah selesai.
Hingga suatu sore, sebuah surat tanpa nama pengirim tiba di kotak pos saya.
Di dalamnya hanya ada selembar foto dan sepucuk surat pendek. Foto itu memperlihatkan Althea—saudara kembar saya—sedang duduk di taman San Isidro, mengenakan seragam abu-abu, namun dia tidak tampak sedih atau gila. Dia sedang tersenyum sinis ke arah kamera, memegang sebuah telepon genggam mewah yang seharusnya dilarang di rumah sakit jiwa.
Saya membuka surat itu dengan tangan gemetar. Tulisan tangan yang sangat saya kenal.
“Mihan yang bodoh,
Terima kasih telah bersikap sangat protektif, persis seperti saat kita berusia tujuh belas tahun. Kau selalu berpikir bahwa kau adalah si kuat dan aku adalah si lemah yang butuh diselamatkan.
Apakah kau benar-benar berpikir seorang pria seperti Rafael bisa membuatku hancur? Memar-memar di tubuhku? Sebagian besar kulakukan sendiri, Mihan. Dan luka di tubuh Luna? Itu adalah harga kecil yang harus dibayar agar sandiwara ini terlihat sempurna di matamu.
Aku berutang budi pada Rafael dan lintah darat di Manila sebesar lima juta peso karena kalah judi online. Mereka mengancam akan memotong kepalaku dan kepala Luna. Aku butuh menghilang, tetapi aku tidak bisa lari karena pasporku ditahan. Aku butuh seseorang yang memiliki wajah yang sama, seseorang dengan catatan kriminal dan gangguan jiwa, untuk menerima peluru atau siksaan itu menggantikanku sementara aku menyusun rencana.
Kau tahu? San Isidro adalah tempat persembunyian terbaik di dunia. Di sini sangat aman, makanan terjamin, dan tidak ada penagih utang yang bisa menyentuhku karena secara hukum, ‘Amihan Valderama’ adalah pasien gangguan jiwa yang tidak punya aset apa pun.
Nikmatilah hidupmu sebagai Althea Valderama yang dikejar-kejar oleh para pembunuh bayaran mafioso Manila. Mereka sudah tahu ‘Althea’ ada di Davao sekarang. Selamat bertahan hidup, Kakakku sayang. Jaga Luna untukku—atau untukmu, terserah saja.”
Bagian V: Akhir yang Tak Terduga
Darah saya terasa membeku. Kamar apartemen yang hangat tiba-tiba terasa lebih dingin daripada sel isolasi San Isidro.
Saya memandang ke luar jendela. Di seberang jalan, sebuah mobil van hitam dengan kaca gelap baru saja berhenti. Dua pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam turun, mata mereka mengawasi jendela kamar saya. Para penagih utang mafia. Mereka tidak datang untuk membalas dendam demi Rafael; mereka datang untuk menagih nyawa Althea atas utang lima juta peso.
Althea tidak pernah menjadi korban. Dia adalah dalang yang mengorbankan saudara kembarnya sendiri demi menyelamatkan kulitnya sendiri. Delapan tahun lalu, saat saya memukuli pria di belakang sekolah, itu juga karena Althea yang menjebak saya agar terlihat seperti monster di depan semua orang, sehingga dia bisa menyingkirkan saya.
Saya menoleh ke arah Luna yang sedang menggambar di meja kecil. Anak itu menatap saya, lalu tersenyum—sebuah senyuman tipis yang aneh, yang entah mengapa, sangat mirip dengan senyuman Althea di foto San Isidro.
“Ibu,” kata Luna lirih, “Bibi Mihan di dalam televisi rumah sakit bilang, Ibu akan selalu kalah bertaruh.”
Detik itu juga, saya menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Luna bukan korban yang tidak tahu apa-apa. Anak berusia empat tahun ini telah dilatih oleh ibunya untuk menjadi umpan yang sempurna.
Pintu apartemen saya mulai digedor dari luar. Suara benturan keras menggema.
Saya menarik napas dalam-dalam. Kebencian, kemarahan, dan kegilaan yang selama ini saya tekan kini meluap, namun kali ini, bercampur dengan tawa yang tak tertahankan. Althea mengira dia telah menjebak saya di neraka yang baru. Dia lupa satu hal: saya tidak pernah takut pada neraka. Saya berkembang di dalamnya.
Saya berjalan ke arah pintu, menguncinya dari dalam agar tidak ada yang bisa lari keluar. Saya tidak mengambil pisau atau senjata apa pun. Saya hanya mengepalkan tangan saya, merasakan kekuatan otot yang telah saya latih selama delapan tahun di San Isidro.
“Althea,” bisik saya pada diri sendiri, menatap bayangan wajah saya di cermin yang kini sepenuhnya menjadi milik ‘Althea’. “Kau ingin aku menjadi dirimu? Baik. Mari kita lihat seberapa lama namamu bisa bertahan di dunia bawah Manila… sebelum aku datang kembali ke San Isidro untuk menjemput nyawamu.”
Dengan senyuman yang mengerikan, saya membuka pintu dan menyambut para pembunuh bayaran itu masuk ke dalam ruang jagal mereka yang baru.
