Rasti menyetujui rencana suaminya untuk membawanya pergi berlibur

Hening menyelimuti rumah itu. Setelah deru mesin mobil Raihan menghilang di balik tikungan jalan, yang tersisa hanyalah aroma parfum maskulin yang tertinggal di udara—sebuah aroma yang kini terasa seperti racun bagi Rasti.

Rasti bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Ia melangkah menuju kamar sang ibu. Pintu itu terbuka sedikit, memperlihatkan Bu Mayang yang sedang duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah cermin. Tidak ada penyesalan di matanya, yang ada hanyalah kilatan posesif yang membuat bulu kuduk Rasti berdiri.

“Dia sudah pergi?” tanya Bu Mayang dingin, tanpa menoleh.

“Ibu puas?” suara Rasti bergetar, namun penuh penekanan.

Bu Mayang menoleh perlahan. Senyum tipis, tipis sekali, tersungging di bibirnya. “Aku hanya mengembalikan semuanya ke posisi semula, Rasti. Kamu tidak pernah mengerti. Pria itu… dia tidak pernah pantas untukmu. Dia pantasnya untuk seseorang yang tahu cara menghargai laki-laki sepertinya.”

Rasti tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah pergi menuju ruang tengah, berniat menenangkan diri dengan segelas air. Namun, matanya tertuju pada tas kerja Raihan yang tertinggal di sudut ruangan. Mungkin Raihan terburu-buru hingga lupa membawanya.

Rasti mendekat, hendak memindahkan tas itu ke meja. Namun, sebuah amplop cokelat tebal yang menyembul dari saku depan tas itu menarik perhatiannya. Amplop itu terbuka sedikit. Dengan tangan gemetar, Rasti menarik isinya.

Itu bukan dokumen perceraian. Itu adalah tumpukan foto—foto dirinya sendiri, yang diambil dari sudut-sudut tersembunyi di dalam rumah. Ada foto saat Rasti sedang tidur, saat sedang mandi, bahkan saat Rasti sedang menangis di kamarnya malam itu. Di balik salah satu foto, tertulis catatan tangan yang rapi: “Tinggal menghitung hari. Ibu sudah mulai terjerat. Rencana berjalan sempurna.”

Dunia Rasti seolah runtuh untuk kedua kalinya. Ia membalik foto-foto itu dengan panik. Di bagian bawah tumpukan, terdapat sebuah buku catatan kecil. Rasti membukanya. Halaman-halaman itu berisi detail rencana yang mengerikan. Raihan bukan sekadar ingin liburan; dia sedang melakukan eksperimen psikologis. Dia sengaja memicu obsesi Bu Mayang agar Rasti merasa tertekan, lalu menanamkan lensa kamera itu agar Rasti menemukannya dan menuduh Raihan.

Raihan ingin Rasti mengusirnya. Raihan ingin Rasti merasa bersalah seumur hidup karena telah membuang suaminya demi seorang ibu yang “gila”. Raihan ingin menghancurkan mental Rasti dari dalam, membuat Rasti merasa bahwa dialah penyebab kehancuran rumah tangganya sendiri.

Rasti terduduk lemas di lantai. Ia memegang ponselnya dengan tangan dingin. Ia tidak menangis lagi; air matanya sudah habis. Ia menyadari satu kebenaran yang jauh lebih menakutkan: Raihan tidak pernah mencintainya. Dia hanya seorang sosiopat yang menjadikan pernikahannya sebagai panggung sandiwara.

Tiba-tiba, ponsel di tangannya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Rasti tahu siapa pengirimnya.

[Aku tahu kamu sudah menemukan tas itu. Terima kasih sudah mengusirku, Rasti. Sekarang, kamu punya waktu seumur hidup untuk berpikir mengapa ibumu begitu mudah menjadi pion dalam permainanku. Selamat menikmati kesendirianmu dengan wanita yang sudah kehilangan kewarasannya itu.]

Rasti menatap ke arah pintu kamar ibunya. Bu Mayang kini berdiri di ambang pintu, menatap Rasti dengan tatapan yang kosong, seolah jiwanya sudah dicuri sepenuhnya. Ibunya kini bukan lagi pelindung, melainkan cangkang kosong yang ditinggalkan Raihan setelah berhasil merusak segalanya.

Rasti memejamkan mata. Ia baru menyadari bahwa permainan ini belum berakhir. Raihan tidak benar-benar pergi; dia hanya pindah ke kursi penonton untuk melihat Rasti perlahan-lahan hancur dalam penyesalan yang ia rekayasa sendiri.

Dalam keheningan rumah itu, Rasti mengambil sebuah keputusan. Ia tidak akan hancur seperti yang diinginkan Raihan. Jika suaminya adalah seorang manipulator ulung, maka Rasti akan menjadi pemain yang jauh lebih berbahaya. Ia menghapus pesan itu, membakar foto-foto tersebut di dalam asbak, dan menatap cermin dengan tatapan yang kini sedingin es.

Permainan ini baru saja dimulai, dan Rasti tidak lagi bermain sebagai korban.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang