Dua jam berlalu dengan begitu cepat. Tertawa bersama sahabat-sahabat saya di sebuah bar kelas atas di pusat kota, menyesap martini, dan merasakan kembali rasa kebebasan yang telah lama terkubur. Tidak ada pesan yang masuk. Tidak ada panggilan tidak terjawab. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, dunia terasa milik saya sendiri.
Namun, saat saya memutar kunci pintu depan rumah kami yang megah, firasat buruk mulai merayap di tengkuk saya.
Rumah itu gelap. Terlalu gelap. Biasanya, jika suami saya ada di rumah, lampu ruang tengah akan menyala benderang. Saya melangkah masuk, suara hak sepatu saya bergema di lantai marmer dengan irama yang menakutkan.

“Sayang?” panggil saya, setengah bercanda, setengah waspada. “Apa kamu sudah selesai dengan ‘kolaborasi’ daruratmu di toilet?”
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan.
Saya berjalan menuju kamar mandi di lantai bawah. Pintu itu terbuka sedikit. Bau yang tercium bukan lagi parfum mahal atau bau obat pencahar. Itu adalah bau… amis. Bau logam. Bau besi.
Jantung saya berdegup kencang, menghantam tulang rusuk saya seperti burung yang terperangkap. Saya mendorong pintu itu lebih lebar.
Suami saya tidak ada di sana. Kamar mandi kosong. Namun, ada bercak darah di lantai, mengarah ke arah ruang kerja di lantai bawah—sebuah ruangan yang jarang dia izinkan untuk saya masuki.
Dengan tangan gemetar, saya mengikuti jejak itu. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Ketika saya sampai di depan pintu ruang kerja, saya menemukannya sedikit terbuka. Cahaya lampu meja yang redup menembus celah pintu, menerangi siluet seseorang yang sedang duduk di kursi kebesaran suaminya.
Itu bukan suami saya.
Itu adalah seorang wanita. Mengenakan gaun sutra hitam yang sangat elegan. Dia sedang memegang sebuah pistol dengan peredam suara, jemarinya yang lentik dengan kuku berwarna merah darah mengetuk-ngetuk meja.
“Kamu terlambat sepuluh menit, Elena,” suara wanita itu dingin, halus, dan mematikan.
Saya membeku. “Siapa kamu? Di mana suamiku?”
Wanita itu tertawa kecil, suara yang tidak lebih ramah daripada gesekan pisau. Dia memutar kursi itu.
Camille.
Tapi bukan sekretaris culun yang saya bayangkan. Dia mengenakan kacamata hitam, rambutnya diikat ekor kuda dengan sangat rapi, dan matanya… matanya memiliki tatapan kosong yang hanya dimiliki oleh pembunuh bayaran atau tentara yang terlalu banyak melihat kematian.
“Suamimu?” Camille menunjuk ke sudut ruangan dengan dagunya.
Saya menahan napas. Di sana, di pojok, suami saya terikat di kursi. Mulutnya disumbat dengan sapu tangan sutra. Matanya melotot, basah oleh air mata dan ketakutan yang murni. Celananya berantakan. Dia tampak seperti pria yang baru saja melewati neraka, baik secara fisik maupun mental.
“Obat pencaharmu itu…” Camille menggelengkan kepala, seolah sedang membahas proyek kantor yang membosankan. “Itu membuat dia sangat rentan. Sangat lemah. Dia tidak bisa melawan ketika aku datang untuk menagih hutangnya.”
“Hutang?” bisik saya.
“Dia bukan hanya berselingkuh, Elena. Dia mencuri data dari kartel tempat dia bekerja sebagai ‘konsultan keuangan’ untuk membiayai gaya hidup mewah kalian. Parfum mahal, liburan ke Bali, bahkan apartemen tempat kita biasa ‘bertemu’—semuanya dibayar dengan uang darah.”
Dunia saya seolah berputar. Suami saya bukan hanya seorang peselingkuh; dia adalah penjahat yang lebih besar dari yang pernah saya bayangkan.
“Kenapa kamu memberitahuku?” tanya saya, mencoba menjaga suara saya tetap stabil meski kaki saya terasa lumpuh.
Camille berdiri. Dia berjalan mendekati saya, langkahnya ringan seperti kucing. Dia berhenti tepat di depan saya, menyentuh dagu saya dengan laras pistol yang dingin.
“Karena aku bukan sekretaris, Elena. Aku adalah pembersih. Dan kamu… kamu adalah saksi yang tidak sengaja merusak jadwal eksekusiku.”
Dia menjeda, lalu tersenyum manis. Sebuah senyum yang membuat darah saya membeku.
“Tapi, aku punya tawaran. Suamimu ini telah mencuri sepuluh juta dolar dari orang yang sangat berbahaya. Jika kamu membantuku menemukan di mana dia menyembunyikan hard drive enkripsinya sebelum polisi datang, aku akan membiarkanmu hidup. Kamu bisa mengambil uangnya, meninggalkan pria sampah ini, dan menghilang. Bukankah itu yang kamu inginkan sepanjang malam ini?”
Suami saya meronta-ronta di sudut, suaranya teredam, matanya memohon kepada saya. Dia menatap saya—bukan dengan kemarahan, tapi dengan pengakuan yang menyakitkan. Dia tahu saya tahu segalanya sekarang.
Saya menatap Camille, lalu menatap pria yang pernah saya cintai, pria yang telah menghancurkan hidup saya dengan kebohongan. Di kepala saya, ingatan tentang janji setia yang hancur, penghinaan, dan kesepian selama bertahun-tahun berputar seperti pusaran air.
“Di mana dia menyembunyikannya?” tanya Camille tidak sabar.
Saya menarik napas panjang. Saya menoleh ke suami saya, tersenyum dengan cara yang mungkin paling menakutkan yang pernah dia lihat.
“Dia menyembunyikannya di brankas di balik lukisan di kamar tidur utama,” kata saya dengan suara yang tenang.
Wajah suami saya berubah pucat pasi. Dia tahu saya berbohong. Tidak ada brankas di sana. Itu adalah tempat saya menyimpan surat cerai yang belum saya berikan.
Camille menyeringai. “Bagus. Mari kita lihat.”
Saat Camille berbalik untuk melangkah menuju tangga, saya tidak berlari. Saya tidak berteriak. Saya mengambil vas bunga berat dari meja di dekat saya dan menghantamkannya ke kepala Camille sekuat tenaga.
Camille roboh. Pistolnya terlepas dan meluncur ke lantai.
Ruangan itu sunyi kembali. Saya berdiri di sana, terengah-engah, menatap tubuh Camille yang tidak bergerak, lalu menatap suami saya yang masih terikat.
Saya tidak melepaskan ikatannya. Saya malah mengambil ponsel saya dan menelepon polisi.
“Halo, polisi? Ada penyusup bersenjata di rumah saya. Dan… suami saya. Tolong bawa mereka berdua. Mereka berdua terlibat dalam pencucian uang.”
Saya menutup telepon. Saya mengambil tas saya, menyalakan sebatang rokok—sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya—dan berjalan keluar dari rumah itu.
Saat saya melangkah ke jalan raya, sirene polisi mulai meraung di kejauhan, membelah kesunyian malam. Saya tidak menoleh ke belakang. Saya tidak perlu tahu apa yang terjadi setelah pintu itu tertutup. Karena malam ini, saya tidak hanya membalas dendam pada seorang suami yang selingkuh. Saya telah membebaskan diri dari seluruh kehidupan yang membusuk.
Dan yang terbaik? Saya tidak perlu melakukan apa pun selain duduk di sana, membiarkan semuanya runtuh dengan sendirinya. Kadang-kadang, kopi yang dicampur obat pencahar adalah awal dari pembersihan yang jauh lebih besar dari sekadar perut yang sakit.
Saya berjalan menjauh, menuju kehidupan baru yang belum saya rencanakan, dengan senyuman kemenangan di bibir saya.
