Suasana di dapur itu mendadak beku. Bau logam dari setrika yang jatuh menyengat, bercampur dengan aroma parfum maskulin Andres yang sudah setahun hilang dari indra penciumanku. Namun, ketenangan yang dibawa Andres bukanlah ketenangan seorang suami yang rindu; itu adalah ketenangan seorang predator yang telah memetakan medan perang.
Andres tidak memelukku dengan tangisan. Ia berdiri tegak, membelakangiku, menatap ibunya dengan tatapan yang membuat wanita tua itu mundur selangkah hingga menabrak lemari piring.
“Ibu,” suara Andres rendah, namun bergetar dengan otoritas yang membuat bulu kudukku berdiri. “Selama di lapangan, aku belajar satu hal: musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang membawa senjata, melainkan mereka yang mengenakan topeng orang tercinta.”

Aling Mercedes mencoba tertawa, sebuah tawa kering yang rapuh. “Andres, jangan dengarkan dia! Dia stres, dia delusi! Dia mencoba memanipulasi situasimu agar terlihat seperti korban!”
“Ibu,” Andres memotong dengan satu langkah maju. “Aku tidak pernah mengirim surat bahwa aku terluka. Aku juga tidak pernah meminta Ibu pindah ke sini. Yang aku lakukan setiap malam adalah menulis surat untuk Maria, menceritakan rahasia tentang unit intelijenku—unit yang secara khusus menangani kasus pencucian otak dan eksploitasi domestik.”
Aku terpaku. Apa maksudnya?
Andres mengeluarkan sebuah alat perekam kecil dari saku seragamnya. Dia menekannya. Suara Aling Mercedes memenuhi ruangan itu, rekaman percakapan saat dia menelepon seseorang—seorang pengacara—dua hari lalu.
“…ya, saat dia melahirkan, pastikan surat hak asuh itu sudah disahkan. Begitu Maria dinyatakan tidak stabil secara mental, aset Andres akan jatuh ke bawah pengawasanku. Dia tidak akan pernah tahu anak itu bukan cucu kandungnya. Dia hanya alat untuk mendapatkan kekayaan itu.”
Duniaku berhenti berputar. Bukan cucu kandungnya?
“Apa maksudnya, Ibu?” suaraku serak, air mata yang tadi mengering kini mengalir deras.
Aling Mercedes yang tadinya ketakutan, tiba-tiba tertawa lepas. Wajahnya yang tua berubah menjadi topeng kebencian yang murni. “Oh, kau sudah dengar? Ya, kau benar, Maria. Kau hanyalah rahim sewaan yang murah. Andres tidak pernah mencintaimu. Dia hanya butuh seseorang untuk menjaga rumah ini agar terlihat ‘normal’ saat dia naik pangkat menjadi jenderal. Dia butuh citra keluarga yang sempurna.”
Aku menatap Andres, menunggu bantahan. Menunggu dia mengatakan bahwa itu bohong. Namun, Andres hanya diam. Wajahnya datar, seolah dia baru saja menyelesaikan misi yang membosankan.
“Andres?” bisikku.
Andres menoleh padaku. Matanya tidak menunjukkan cinta yang selama ini aku yakini. “Maria, kau adalah aset yang berguna. Kehamilanmu adalah cover sempurna untuk misi penyamaranku. Kau memang tidak pernah direncanakan untuk tetap ada setelah Elena lahir.”
Jantungku serasa berhenti. Semuanya—cinta, pernikahan, penantian selama setahun—hanya sebuah skenario?
“Tapi…” suaraku bergetar, “tapi aku mencintaimu.”
“Itu kesalahan fatalmu,” jawab Andres dingin.
Polisi tiba saat itu juga. Namun, bukan untuk menangkap Aling Mercedes saja. Andres memberikan berkas-berkas di atas meja kepada petugas. “Keduanya,” kata Andres. “Keduanya terlibat dalam konspirasi pemalsuan dokumen militer dan penyekapan.”
Aku tercengang. “Andres? Apa yang kau lakukan?”
Andres berbisik di telingaku saat dia berpura-pura membimbingku keluar, sementara petugas memborgol ibunya. “Aku berbohong pada Ibu. Aku tidak butuh citra. Aku hanya butuh dia mengaku di depan kamera pengintai yang kupasang di seluruh sudut rumah ini sejak bulan lalu. Aku tahu dia merencanakan sesuatu, tapi aku tidak menyangka dia akan sekejam ini pada anaknya sendiri.”
Dia menatapku, dan kali ini, tatapannya melembut—bukan tatapan seorang tentara, melainkan tatapan pria yang pertama kali kukenal di Manila.
“Maria, aku mencintaimu lebih dari apa pun. Itu sebabnya aku harus menghancurkan semua orang yang mencoba menyakitimu, termasuk ibuku sendiri yang telah terobsesi dengan kekuasaan. Kita akan pergi sekarang. Bukan ke rumah sakit, bukan ke rumah ini, tapi ke tempat di mana mereka tidak akan pernah bisa menemukan kita.”
Tiba-tiba, suara sirene polisi memecah kesunyian Manila. Saat mereka digiring keluar, Aling Mercedes berteriak histeris, “Kau pikir kau menang, Andres? Kau sudah membawa Maria ke dalam neraka yang sebenarnya!”
Aku tidak mengerti apa maksudnya, sampai Andres membukakan pintu mobil hitam yang sudah menunggu di depan. Di dalam mobil itu, terdapat dokumen lain yang membuatku merinding. Sebuah surat wasiat yang menyatakan bahwa aku, Maria Reyes, adalah satu-satunya pemilik aset militer Andres yang sangat besar—aset yang sebenarnya ilegal.
Andres tersenyum tipis, sebuah senyum yang kini terlihat asing bagiku. “Sekarang, sayangku, kau bukan lagi sekadar istri seorang tentara. Kau adalah pemegang rahasia terbesar negara ini. Tidak ada jalan kembali.”
Saat mobil melaju kencang meninggalkan rumah itu, aku menyadari satu hal yang mengerikan: aku telah lepas dari penjara seorang wanita tua, namun aku baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan yang jauh lebih dalam, dan aku membawa Elena bersamaku ke dalam permainan kekuasaan yang tidak pernah kupahami.
Andres menggenggam tanganku. “Jangan takut, Maria. Sekarang, hanya kita berdua yang memegang kendali.”
Di tengah malam Manila yang gelap, aku sadar: musuh terbesarku bukanlah ibu mertuaku, melainkan pria yang kini duduk di sampingku, pria yang baru saja menyelamatkanku untuk menjadikanku tawanan seumur hidupnya.
