“Kamu benar-benar menyedihkan, Lina,” timpal Vera dengan senyum sinis yang dipaksakan, meski matanya tak bisa menyembunyikan rasa iri melihat penampilanku dan si kembar. “Pernikahan ini hanya untuk kalangan atas. Pengawal, usir wanita penipu ini dan anak-anaknya keluar!”
Namun, tak ada satu pun pengawal hotel yang bergerak. Sebaliknya, mereka semua menundukkan kepala dengan hormat ke arahku.

Mark melangkah maju, wajahnya memerah karena amarah. “Kalian tuli?! Usir dia! Aku sudah membayar mahal untuk menyewa ballroom hotel ini!”
Aku hanya tersenyum tenang, menatapnya dengan pandangan dingin seolah dia hanyalah sebutir debu. Mika dan Mira menggenggam tanganku, sama sekali tidak takut dengan bentakan pria yang seharusnya menjadi ayah mereka itu. Bagi mereka, pria ini hanyalah orang asing yang berisik.
“Membayar mahal, Mark?” tanyaku dengan nada suara yang tenang namun menggema di seluruh ruangan. “Dengan uang apa? Uang dari perusahaan keluarga Vera yang bahkan bulan ini tidak bisa membayar gaji karyawannya?”
Wajah Vera seketika berubah pucat pasi. “K-kamu… tahu dari mana?!”
“Lina! Jaga bicaramu! Jangan mengada-ada di hari bahagiaku!” bentak Mark, mencoba menutupi kepanikannya karena para tamu undangan kini mulai berbisik-bisik riuh.
Aku tidak membalas ucapannya. Aku hanya mengangkat satu tangan, memberi isyarat kecil kepada asisten pribasiku, David, yang berdiri di belakangku. David segera melangkah maju dan menyerahkan sebuah mikrofon berlapis emas kepadaku.
Aku menatap tepat ke mata Mark dan Vera, lalu berbicara ke mikrofon sehingga seluruh hadirin di grand ballroom bisa mendengarnya dengan jelas.
“Hanya dengan satu kata dari saya…” ucapku, menjeda kalimatku demi memberikan efek dramatis.
Suasana ballroom menjadi begitu hening, bahkan suara detak jarum jam pun seolah bisa terdengar. Mark dan Vera menahan napas, entah mengapa aura kekuasaan yang kupancarkan membuat lutut mereka gemetar.
“…Batalkan.”
Satu kata itu meluncur dengan begitu tenang dari bibirku.
“Hahaha! Batalkan?!” Mark tertawa histeris, mencoba mencairkan suasana yang mencekam. “Kamu pikir kamu siapa, Lina? Mengatur-atur pernikahan kami? Pemilik hotel ini adalah Aura Global Empire, konglomerat raksasa dari Eropa! Kamu tidak punya hak—”
Sebelum Mark menyelesaikan kalimatnya, pintu besar ballroom terbuka lebar. Manajer Umum hotel, diikuti oleh seluruh jajaran direksi tertinggi hotel, berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan. Mereka tidak menghampiri Mark atau Vera. Mereka langsung berlutut satu kaki di hadapanku.
“Selamat sore, Ibu Lina Al-Maktoum, CEO Utama Aura Global Empire,” ucap sang Manajer Umum dengan suara gemetar penuh hormat. “Sesuai perintah Anda, seluruh acara pernikahan atas nama Mark dan Vera resmi dibatalkan detik ini juga. Seluruh fasilitas hotel untuk mereka telah kami cabut.”
Mendengar hal itu, Vera hampir saja pingsan jika tidak ditahan oleh ibunya. “T-tidak mungkin… Kamu… Kamu pemilik hotel ini?!”
“Bukan hanya hotel ini, Vera,” sahutku sambil melangkah maju, membuat Mark mundur selangkah karena ketakutan. “Perusahaan kosmetik milik keluargamu yang hampir bangkrut itu? Aura Global adalah investor tunggal yang menyuntikkan dana minggu lalu. Dan baru saja, saya juga membatalkan investasi itu.”
Tepat setelah aku berbicara, ponsel ayah Vera yang duduk di kursi VIP berdering keras. Pria tua itu mengangkatnya, dan sedetik kemudian wajahnya merona biru. Beliau jatuh terduduk di lantai sambil berteriak histeris, “Kita bangkrut! Semua aset kita disita! Aura Global menarik seluruh saham mereka!”
Gedung pernikahan yang megah itu langsung berubah menjadi kekacauan total. Para tamu undangan mulai berhamburan keluar, sadar bahwa tinggal di sana hanya akan membuat mereka terlibat dalam kehancuran keluarga Vera.
Mark bersimpuh di lantai, merangkak mendekati kakiku dengan air mata yang mulai mengalir. Pria yang lima tahun lalu memaki dan membuangku seperti sampah itu kini memohon seperti pengemis.
“Lina… maafkan aku… aku khilaf lima tahun lalu! Tolong kasihanilah aku… demi anak-anak kita, Lina! Mika, Mira, ini Papa…” ucap Mark mencoba meraih gaun si kembar.
Mika, putri kecilku yang cerdas, langsung menarik gaun Chanel-nya menjauh. “Om bohong. Kata Kakek, Papa kami sudah lama ‘meninggal’ karena tidak punya hati. Kakek kami adalah orang paling hebat, bukan Om penipu seperti ini.”
Mendengar perkataan putrinya sendiri, mental Mark benar-benar runtuh.
Aku menatap Mark dari atas dengan tatapan jijik. “Lima tahun lalu kamu bilang aku beban dan miskin. Hari ini, aku tunjukkan padamu apa artinya miskin yang sesungguhnya. Nikmatilah sisa hidupmu di jalanan, Mark.”
Aku membalikkan badan, menggandeng kedua putri kembarku yang tersenyum manis. Diiringi oleh puluhan pengawal dan jajaran direksi yang membungkuk hormat, kami berjalan keluar dari hotel menuju Rolls-Royce yang sudah menunggu.
Pernikahan yang direncanakan untuk mempermalukanku, justru menjadi panggung kehancuran abadi bagi mereka yang pernah meremehkanku.
