Pria yang memimpin rombongan itu melangkah maju. Wajahnya tegas, tanpa senyum, dan matanya menyapu lokasi konstruksi yang tampak seperti zona perang tersebut sebelum berhenti tepat di depan wajah Dante yang memerah karena marah.
“Saya adalah Hakim Agung Arisandi, perwakilan dari Mahkamah Agung,” suaranya tenang namun memiliki otoritas yang mampu membungkam deru mesin buldozer yang masih menyala. “Tuan Toribio, Anda baru saja melakukan tindakan ilegal yang melanggar konstitusi tingkat tertinggi. Anda tidak sedang menggusur sebuah gubuk, Anda sedang menghancurkan sebuah situs yang dilindungi oleh keputusan negara.”
Dante tertawa sinis, meski tangannya sedikit bergetar. “Keputusan negara? Saya sudah membayar pajak, menyuap pejabat lokal, dan memiliki tanda tangan Wali Kota untuk pengosongan lahan ini! Jangan coba-coba menakuti saya dengan embel-embel hukum yang ketinggalan zaman!”

Hakim Agung Arisandi tidak terpancing. Ia membuka koper hitam di tangannya, mengeluarkan segel resmi dan sebuah dokumen tebal dengan pita emas yang berkilau di tengah hujan. “Izin dari Wali Kota Anda tidak berarti apa-apa saat berhadapan dengan Dekrit Warisan Kehormatan Nasional. Lahan ini, tepat di mana gubuk ini berdiri, adalah titik nol di mana sejarah kemerdekaan negara ini disahkan seratus tahun lalu secara rahasia. Dan pemilik sah dari tanah ini bukanlah warga biasa.”
Dante mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata itu. “Apa maksud Anda? Ini tanah kosong yang saya beli dari perantara!”
“Nenek Selya,” Hakim Agung berbalik ke arah wanita tua yang masih bersimpuh di lumpur, “Mohon maafkan keterlambatan kami. Protokol pengamanan sempat terhambat karena badai besar ini.”
Nenek Selya berdiri dengan susah payah. Anehnya, getaran ketakutan di tubuhnya menghilang. Ia menepis lumpur dari pakaiannya dengan gerakan yang sangat elegan—gerakan yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang wanita tua miskin dari dusun terpencil. Ia menatap Dante bukan dengan tatapan memohon, melainkan dengan tatapan dingin yang membuat nyali Dante menciut seketika.
“Tuan Toribio,” suara Nenek Selya kini terdengar jernih, tegas, dan berwibawa. “Anda bilang saya tikus? Anda bilang saya tidak berkontribusi pada masyarakat? Mari kita bicara tentang kontribusi.”
Salah seorang pria berjas menyerahkan sebuah tablet kepada Dante. Layar itu menampilkan data real-time dari seluruh jaringan perusahaan Toribio Land Developers. Dante membelalak. Semua rekeningnya terlihat kosong, semua proyeknya disita dalam hitungan detik, dan yang lebih mengerikan, daftar transaksi suap yang ia lakukan kepada pejabat-pejabat tinggi negara selama sepuluh tahun terakhir kini terpampang jelas di situs berita nasional dan internasional.
“Bagaimana… bagaimana Anda melakukan ini?” bisik Dante, suaranya parau.
“Peti yang Anda tendang tadi bukan berisi barang rongsokan,” Nenek Selya melangkah maju, setiap langkahnya diiringi oleh penjagaan ketat para aparat. “Itu adalah kotak hitam sejarah keluarga saya. Suami saya bukan petani biasa. Dia adalah pengawal pribadi sang pendiri negara. Dan saya? Saya adalah satu-satunya pewaris tunggal yang memegang hak veto atas seluruh lahan di distrik ini. Saya tidak tinggal di sini karena miskin, Tuan Toribio. Saya tinggal di sini untuk menjaga agar orang-orang serakah seperti Anda tidak menemukan apa yang terkubur di bawah rumah ini.”
“Apa yang terkubur?” tanya Dante, gemetar hebat.
Nenek Selya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya. “Tepat di bawah fondasi gubuk ini, terdapat cadangan mineral langka yang nilainya tiga kali lipat dari seluruh total kekayaan yang Anda miliki saat ini. Dan karena Anda telah mencoba menghancurkan situs sejarah nasional serta melakukan intimidasi fisik, seluruh aset Anda kini disita oleh Mahkamah Agung sebagai denda atas kerusakan lingkungan dan pelanggaran hukum.”
Dante jatuh terduduk di lumpur. Buldozer yang tadi ia banggakan kini dikelilingi oleh polisi. Petugas mulai memasang garis polisi mengelilingi seluruh area.
“Tunggu!” teriak Dante. “Saya punya koneksi! Saya bisa bicara dengan menteri!”
Hakim Agung Arisandi menutup koper. “Menteri Anda sudah menunggu di sel sebelah Anda, Tuan Toribio. Mereka ditangkap satu jam yang lalu berdasarkan bukti yang kami kumpulkan dari ‘gubuk reot’ ini.”
Dante hanya bisa ternganga saat tangannya diborgol. Langit Rizal yang gelap seolah runtuh menimpanya. Ia datang ke sana untuk membangun mahkota kemegahan, namun ia justru membangun lubang kuburannya sendiri.
Nenek Selya berbalik memunggungi Dante, berjalan menuju mobil dinas hitam yang telah menunggu. Sebelum masuk, ia sempat melirik gubuk reotnya yang kini justru terlihat seperti sebuah benteng yang tak tergoyahkan. Ia tahu, mulai besok, tempat itu akan menjadi museum nasional, dan setiap batu di sana akan menjadi pengingat bagi setiap orang yang sombong akan hartanya bahwa ada kekuatan hukum dan sejarah yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Di tengah badai yang perlahan mereda, suara sirine polisi menggema di seluruh dusun, mengantarkan Dante menuju akhir dari kehidupannya sebagai penguasa properti. Dunia kini tahu: si miskin yang mereka tindas adalah penjaga rahasia yang memegang kunci kehidupan dan kematian bagi orang-orang seperti Dante. Tidak ada lagi kondo mewah. Yang ada hanyalah keadilan yang turun dengan cara yang paling tidak terduga.
