Hujan di luar semakin menjadi-jadi, seolah langit Pampanga sedang menertawakan ironi yang terjadi di dalam toko 7-Eleven itu. Di balik jendela yang berembun, Sophia dan Liam—dua jiwa yang seharusnya mengikat janji suci di depan altar beberapa jam lalu—kini justru terjebak dalam percakapan paling jujur yang pernah mereka miliki seumur hidup.
“Siapa namamu?” tanya Sophia, menyeka sisa saus sisig di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
“Liam. Dan aku yakin, jika bukan karena hujan ini, aku mungkin sudah berada di suatu tempat di pelosok utara, berganti identitas menjadi penjual suvenir.”

“Aku Sophia. Dan aku tadi sudah siap hidup sebagai pemetik stroberi di Baguio,” Sophia mendengus, lalu matanya menyipit. “Tunggu, kamu tadi bilang, kamu dipaksa menikah dengan anak mitra bisnis Ayahmu? Siapa nama wanita itu?”
Liam terdiam sejenak, wajahnya mengeras. “Namanya… Sophia Victoria del Rosario. Nama yang terdengar sangat elegan, tapi aku yakin pemiliknya adalah wanita yang membosankan dan mungkin memakai kacamata setebal pantat botol yang obsesif pada laporan keuangan.”
Sophia hampir tersedak birnya sendiri. Ia mematung. “Apa… apa tadi kamu bilang?”
“Sophia Victoria del Rosario. Mengapa? Apa kamu mengenalnya?” Liam bertanya dengan nada sinis.
Sophia perlahan meletakkan botol birnya. Dunianya mendadak berputar. “Liam… nama belakangku adalah Del Rosario.”
Suasana di meja itu membeku. Suara deru hujan di atap logam rest area seolah menjadi latar musik untuk sebuah lelucon takdir yang paling kejam. Liam menatap Sophia, lalu menatap gaun Vera Wang yang kini sudah berubah warna menjadi abu-abu karena debu jalanan. Ia teringat foto yang diberikan Ayahnya di atas meja makan semalam: seorang wanita cantik dalam balutan gaun putih, dengan tatapan tajam dan dagu yang terangkat angkuh.
“Kau…” Liam tertawa hambar, sebuah tawa yang pecah karena keputusasaan. “Kau adalah wanita yang seharusnya aku nikahi di gereja Santo Sebastian tiga jam lalu?”
“Dan kau,” Sophia membalas dengan suara bergetar, “adalah pria yang Ayahku sebut sebagai ‘pangeran penyelamat bisnis keluarga’? Pria yang katanya akan membuatku bahagia hanya dengan melihat wajahnya?”
Mereka berdua terdiam. Keheningan itu sangat menyesakkan, jauh lebih menyesakkan daripada sumpah pernikahan yang mereka hindari. Takdir telah mempermainkan mereka dengan cara yang paling tidak masuk akal. Mereka melarikan diri dari orang yang sama, namun justru bertemu di tempat yang tidak mereka duga.
“Ini konyol,” gumam Liam sambil mengacak rambutnya yang basah. “Kita adalah dua orang asing yang saling membenci sebelum bertemu, yang kemudian menjadi rekan pelarian tanpa mengetahui identitas satu sama lain, lalu akhirnya mengetahui bahwa kita adalah objek dari perjodohan yang kita benci.”
Sophia menatap Liam. Tanpa riasan yang sempurna dan tanpa tekanan dari orang tua, pria di depannya ini terlihat… berbeda. Bukan lagi sosok pria kaya raya yang kaku, melainkan seseorang yang tampak kelelahan, takut, dan mencari kebebasan—sama persis seperti dirinya.
“Jadi,” Sophia memulai, suaranya kini lebih lembut. “Apakah kamu masih ingin pergi ke Baguio?”
Liam menatap mata Sophia dalam-dalam. “Jujur saja, Sophia. Aku hanya ingin pergi jauh dari ‘perintah’. Tapi sekarang, setelah melihatmu—maksudku, setelah melihat betapa gilanya situasi ini—aku rasa rencana pelarianku butuh sedikit revisi.”
Tiba-tiba, ponsel Liam berbunyi. Ia mengeluarkan ponsel yang untungnya masih berfungsi meskipun sempat terkena air hujan. Layar itu menunjukkan nama “Ayah”. Begitu juga ponsel Sophia, yang terus bergetar dengan panggilan dari “Ibu”.
Sophia menatap ponselnya, lalu menatap Liam. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. Sesuatu yang akan mengubah seluruh hidup mereka selamanya.
“Liam,” bisik Sophia. “Bagaimana kalau kita tidak benar-benar kabur?”
“Maksudmu?”
“Kita kabur dari pernikahan itu. Tapi kita tidak perlu kabur dari satu sama lain.” Sophia tersenyum licik, sebuah senyum yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Jika kita kembali ke kota, kita akan dikurung dalam pernikahan yang diatur. Jika kita tidak pernah kembali, kita akan terus dicari seperti buronan.”
“Lalu?”
“Kita biarkan mereka berpikir kita hilang. Kita biarkan mereka panik. Dan selama itu, kita… kita akan menjalani hidup kita sendiri. Bukan sebagai pengantin, tapi sebagai orang asing yang kebetulan berada di bus yang sama ke Utara.”
Liam tertegun. Ide itu gila, berbahaya, dan sepenuhnya melanggar etika keluarga. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sangat bebas.
“Aku punya mobil di sana,” Liam menunjuk ke luar, ke arah area parkir yang remang. “Mobil itu tidak terdeteksi oleh supir pribadi. Kita bisa membuang kartu identitas, ponsel, dan semua jejak kita.”
Sophia berdiri, ia menyampirkan gaun pengantinnya yang koyak hingga ke lutut. Ia tampak seperti seorang pejuang yang siap memenangkan perang. “Apakah kamu berani, Liam? Apakah kamu berani melepaskan warisan hotelmu untuk sebuah petualangan tanpa arah?”
Liam berdiri dan menyodorkan tangannya. “Aku sudah melompati pagar resepsi, Sophia. Tidak ada jalan kembali.”
Mereka berjalan keluar dari 7-Eleven, meninggalkan botol bir dan Gatorade yang belum habis. Saat mereka melangkah ke tengah hujan, Sophia melepas sisa-sisa bunga di rambutnya dan melemparkannya ke tong sampah.
Namun, saat mereka hampir mencapai mobil Liam, sebuah sedan hitam besar berhenti tepat di depan mereka. Pintu terbuka. Pria-pria berjas hitam keluar—pengawal dari keluarga Del Rosario dan keluarga Liam. Mereka menemukan anak-anak mereka.
Sophia memejamkan mata, mengira semuanya berakhir. Tapi Liam menarik tangannya dengan kuat. “Lari, Sophia!”
Mereka berlari bukan menuju kebebasan, melainkan ke arah jalan tol yang padat. Namun, alih-alih menyerah saat terpojok di tepi jembatan penyeberangan, Sophia menarik tangan Liam dan menunjuk ke bawah—ke arah truk pengangkut jerami yang sedang melambat karena kemacetan.
“Lompat!” teriak Sophia.
Dengan satu lompatan nekat, mereka mendarat di atas tumpukan jerami yang empuk. Truk itu terus melaju, membawa mereka jauh meninggalkan NLEX, jauh meninggalkan pernikahan, dan jauh meninggalkan identitas mereka sebagai pewaris tahta bisnis.
Di atas truk yang bergerak pelan menuju Utara, di bawah guyuran hujan yang mulai mereda, Sophia menatap Liam. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang penuh dengan adrenalin dan kebahagiaan yang murni.
“Kamu tahu apa yang lucu?” teriak Sophia di tengah deru mesin truk.
“Apa?” sahut Liam.
“Kita akhirnya menikah,” Sophia tersenyum lebar. “Menikah dengan pelarian kita sendiri!”
Liam memeluk Sophia, dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak keberatan dengan perjodohan ini. Ternyata, dia tidak dijodohkan dengan wanita membosankan, melainkan dengan satu-satunya orang di dunia yang memiliki kegilaan yang sama dengannya.
Malam itu, di sebuah kota kecil yang jauh dari Manila, dua orang pengantin yang hilang dari peradaban memulai hidup mereka dari nol. Dan bagi dunia, Sophia dan Liam telah lenyap ditelan hujan. Tapi bagi mereka, hidup baru saja dimulai dengan cara yang paling tidak terduga: menjadi pasangan pelarian yang paling bahagia di dunia.
