“Helikopter sudah siap di atap, Nyonya. Jet pribadi menuju London juga sudah dalam posisi standby di landasan pacu. Sesuai instruksi Anda, seluruh aset likuid telah dipindahkan ke rekening pribadi Anda di Swiss,” suara asistenku terdengar tenang di seberang telepon.
Aku menutup ponsel tepat saat Carlos dan ibunya keluar dari kantor pengacara, masih dengan wajah penuh kemenangan yang menjijikkan. Mereka tampak seperti anjing pemburu yang baru saja mendapatkan mangsanya.
“Apa? Masih belum bisa mencari taksi untuk pulang ke rumah ibumu yang sempit itu?” Carlos menyindirku, tertawa sinis saat melihatku berdiri di depan pintu lobi. “Jangan khawatir, aku cukup murah hati untuk tidak menagih biaya sewa untuk hari ini.”

Aku berbalik, menatapnya dengan tatapan yang membuat senyum di wajahnya perlahan memudar. “Carlos, nikmatilah ‘harta’ yang kamu dapatkan. Rumah tua itu, bisnis kecil yang merugi itu, dan beban utang yang selama ini kusembunyikan dari neraca pajak perusahaan. Kamu sangat ingin menjadi kepala keluarga, bukan? Sekarang, beban itu sepenuhnya milikmu.”
“Apa maksudmu?” Carlos tertegun.
“Oh, satu hal lagi,” kataku, sambil memanggil taksi mewah yang sudah menungguku. Sebelum masuk, aku menatapnya sekali lagi. “Veronica tidak hamil anak laki-laki. Dia hanya menggunakan bantalan perut untuk menjebakmu, agar kamu segera menceraikanku. Periksalah rekening banknya jika kamu tidak percaya. Dia sudah menguras sisa tabunganmu sejak tiga hari lalu.”
Wajah Carlos memucat seketika. “Kamu bohong! Dasar wanita licik!” teriaknya.
Aku tidak menoleh lagi. Sofia dan Mia masuk ke dalam mobil. Dalam perjalanan menuju bandara, aku melihat notifikasi di ponselku—laporan tentang akuisisi perusahaan teknologi milik mendiang kakekku yang kini secara resmi di bawah kendaliku. Nilai perusahaan itu bukan lagi $12 juta, melainkan telah melonjak menjadi $50 juta berkat strategi yang kuatur secara diam-diam selama enam bulan terakhir.
Tiga Tahun Kemudian: London
Aku duduk di teras penthouse yang menghadap ke Sungai Thames. Sofia kini berusia sembilan tahun dan Mia tujuh tahun, mereka tumbuh menjadi gadis-gadis cerdas yang bersekolah di akademi bergengsi.
Aku telah membangun kerajaan bisnis sendiri. Di bawah kepemimpinanku, perusahaan kakekku menjadi raksasa teknologi yang disegani. Namun, hidup tidak selalu tentang kesuksesan finansial.
Tiba-tiba, asistenku datang membawa amplop cokelat. “Nyonya, ada kiriman dari seseorang yang mengaku mantan suami Anda. Dia sudah berada di pos keamanan bawah.”
Aku mengernyitkan dahi. Carlos? Setelah tiga tahun?
Aku meminta mereka membawanya masuk ke ruang tamu. Saat dia masuk, aku hampir tidak mengenalinya. Pakaiannya lusuh, wajahnya kuyu, dan dia tampak jauh lebih tua dari usianya. Dia tidak lagi mengenakan jas mewah, melainkan jaket murah yang sudah sobek di bagian siku.
“Elena…” suaranya bergetar. “Tolong aku. Veronica benar-benar menguras hartaku dan kabur dengan pria lain. Bisnis yang kamu tinggalkan… ternyata penuh dengan tuntutan hukum. Aku bangkrut. Aku tidak punya tempat tinggal.”
Dia menatapku, matanya memohon. “Aku menyesal. Aku salah. Aku merindukan putri-putriku. Berikan aku kesempatan kedua.”
Aku berdiri, berjalan mendekatinya, lalu memberikan dokumen yang dikirimkannya tadi. Isinya adalah surat permohonan hak asuh yang diajukan oleh pengacaranya—sebuah usaha terakhir untuk memeras uangku melalui anak-anak.
“Carlos,” suaraku tenang namun sedingin es. “Dulu kamu membuangku karena aku tidak memberimu anak laki-laki. Kamu bilang anak perempuan tidak ada gunanya.”
“Aku sadar aku salah! Aku ingin keluarga kita kembali!”
Aku tersenyum, sebuah senyuman yang tidak menyentuh mataku. Aku memberi isyarat kepada asistenku. Layar besar di dinding ruang tamu menyala, menampilkan rekaman CCTV dari bank dan catatan transaksi.
“Ingat hari kita bercerai?” tanyaku. “Aku tahu tentang tipu muslihat Veronica jauh sebelum kamu melamarnya. Aku yang membayar Veronica untuk mendekatimu, berpura-pura hamil, dan menguras hartamu. Aku yang memastikan bisnismu jatuh ke tanganmu agar kamu merasakan sendiri betapa sulitnya membangun sesuatu dari nol tanpa bantuan orang lain.”
Carlos terbelalak. Dunianya benar-benar runtuh. “Kamu… kamu merencanakan semuanya?”
“Aku tidak membuangmu, Carlos. Aku hanya menyingkirkan sampah dari hidupku dan anak-anakku,” jawabku tegas.
“Dan tentang anak laki-laki?” tanyaku sambil melangkah mendekatinya hingga dia terpojok ke dinding. “Aku memang tidak memberimu anak laki-laki. Tapi, aku baru saja mengadopsi seorang putra dari panti asuhan tempat kakekku dulu tumbuh. Dia sekarang adalah pewaris sah dari seluruh kekayaanku.”
Aku menunjuk ke arah pintu di mana seorang bocah laki-laki berusia lima tahun berlari masuk dan memeluk kakiku dengan riang. “Dia adalah segalanya yang kamu inginkan, tapi dia tidak akan pernah memiliki nama belakangmu. Namanya adalah Leo Elena-Sujatmiko. Nama belakangku.”
Carlos jatuh terduduk di lantai, hancur oleh keangkuhannya sendiri.
“Keamanan!” panggilku. “Bawa dia keluar. Dan pastikan dia tidak pernah mendekati properti ini lagi.”
Saat mereka menyeret Carlos keluar, aku menatap ke luar jendela. Langit London tampak cerah. Aku tidak lagi memikirkan dendam. Bagiku, balas dendam terbaik adalah hidup dengan sangat baik dan memastikan orang yang meremehkanku menyaksikan keberhasilanku dari kejauhan—tanpa pernah bisa menyentuhnya lagi.
Aku berlutut, memeluk Sofia, Mia, dan Leo. “Kalian adalah segalanya bagiku,” bisikku.
Tiba-tiba, ponselku bergetar lagi. Sebuah email dari pengacara kakekku: “Nyonya, proyeksi dividen tahun ini telah melampaui target. Perusahaan kita baru saja resmi membeli gedung tempat Carlos dulu bekerja. Sekarang, dia adalah mantan karyawan di perusahaan yang dulunya milik istrinya, yang kini menjadi miliknya lagi.”
Aku tertawa kecil. Hidup memang memiliki cara yang sangat lucu dalam memutar roda takdir. Carlos ingin memiliki anak laki-laki untuk meneruskan namanya, namun ironisnya, dia justru menjadi orang asing yang terlupakan di dunia yang kini sepenuhnya dikuasai oleh wanita yang pernah dia anggap “tidak ada gunanya.”
Kini, aku bukan lagi sekadar seorang mantan istri yang terbuang. Aku adalah arsitek dari nasibku sendiri, dan Carlos hanyalah catatan kaki yang memalukan dalam bab pembuka buku kehidupanku yang luar biasa.
