Kumatikan gawai agar Mas Mande tak lagi bisa menelepon. Biarkan saja mereka merasakan penasaran.

Jantungku berdegup kencang. Menatap wajah renta Ayah yang menatapku seolah aku adalah orang asing, ada rasa pedih yang menghujam ulu hati. Namun, di tanganku, tas hitam itu seakan menjadi jangkar—sebuah petunjuk yang mungkin bisa mengubah nasib kami yang selama ini hidup dalam jeratan kemiskinan dan hinaan keluarga Mas Mande.

Aku membiarkan Ayah kembali terlelap. Keputusanku sudah bulat. Aku harus mencari Paman Hamsar. Jika benar ada kebun kelapa warisan, maka itulah satu-satunya jalan bagiku untuk keluar dari rumah kontrakan pengap ini, membawa Khalila menjauh dari kejaran Mas Mande yang hanya tahu menuntut, dan memberikan kehidupan yang layak bagi Ayah.

Malam itu, aku menyalakan gawai tua yang kutemukan di dalam tas. Ajaib, setelah mengisi daya dengan kabel universal yang kupunya, gawai itu menyala. Layarnya buram, namun di dalamnya terdapat pesan-pesan singkat dari tahun-tahun silam yang dikirim ke nomor Paman Hamsar. Aku mencatat alamat yang tertera di sana: Desa Sukamaju, sebuah daerah pesisir yang cukup jauh.

Keesokan paginya, aku berpamitan pada tetangga untuk menitipkan Ayah dan Khalila. Aku berbohong, mengatakan akan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan tambahan. Namun, tujuanku adalah stasiun, menuju Desa Sukamaju dengan uang simpanan dari tas itu yang masih sangat cukup untuk ongkos perjalanan.

Perjalanan itu memakan waktu dua hari. Sesampainya di Desa Sukamaju, suasana terasa hening. Kebun kelapa terbentang luas, hijau dan menyejukkan mata. Dengan berbekal secarik surat dari Ayah, aku berhasil menemukan rumah Paman Hamsar.

Paman Hamsar adalah pria tua bertubuh tegap dengan sorot mata yang tajam. Saat aku menunjukkan surat itu dan buku tabungan lama milik Ayah, tangannya sedikit gemetar.

“Jadi, akhirnya kau datang, Rani,” ucapnya pelan. Suaranya tidak terdengar terkejut, melainkan seperti seseorang yang memang sudah menunggu takdir ini terjadi.

Paman Hamsar membawaku masuk ke rumahnya yang besar. Namun, keanehan mulai kurasakan. Di dinding rumahnya, aku melihat foto-foto yang dipajang. Ada foto Ayah, ada foto seorang wanita yang wajahnya sangat mirip denganku—Ibuku—dan di sampingnya, ada foto Paman Hamsar yang jauh lebih muda sedang menggandeng seorang pria yang kukenal sangat baik.

Itu Mas Mande.

Darahku mendesir. “Paman… kenapa ada foto Mas Mande di sini?”

Paman Hamsar menghela napas panjang. Ia mengambil secangkir teh dan menyodorkannya padaku. “Rani, dunia ini jauh lebih sempit dari yang kau kira. Ayahmu tidak hanya mewariskan kebun. Dia mewariskan beban yang seharusnya tidak kau tanggung.”

Ia mulai bercerita tentang rahasia yang terkubur selama belasan tahun. Ternyata, kebun kelapa itu adalah milik bersama antara Ayah dan kakek Mas Mande. Namun, karena suatu kesepakatan yang salah di masa lalu—kesepakatan yang melibatkan utang budi dan pernikahan—Ayahku terikat dalam perjanjian yang kejam. Mas Mande menikahiku bukan karena cinta, melainkan karena keluarga besarnya tahu bahwa aku adalah kunci untuk mendapatkan kembali hak atas kebun tersebut yang secara hukum tertulis atas nama Ayahku.

“Tas hitam itu,” lanjut Paman Hamsar, “adalah jebakan yang mereka siapkan. Mereka tahu Ayahmu sudah pikun, dan mereka sengaja menaruhnya di bawah kolong tempat tidur, menunggu seseorang—kau atau Ibumu—menemukannya agar hak milik itu bisa mereka ‘ambil alih’ melalui tanganmu sendiri.”

Duniaku serasa runtuh. Jadi, selama ini penderitaanku? Pernikahan yang penuh tekanan itu? Ternyata aku hanyalah pion dalam permainan kekuasaan mereka.

“Tapi sekarang kau sudah di sini,” ujar Paman Hamsar dengan senyum tipis yang mengerikan. “Dan Mas Mande baru saja meneleponku. Dia sudah dalam perjalanan menuju sini, membawa surat kuasa yang dipalsukan dengan cap jempol Ayahmu yang mereka curi saat Ayahmu tertidur.”

Aku merasa dikepung. Tiba-tiba, suara deru mesin mobil memecah keheningan desa. Itu mobil Mas Mande.

Aku bergegas lari ke arah pintu belakang, namun Paman Hamsar menarik lenganku dengan sangat kuat. Kekuatannya tak seperti pria tua biasa.

“Kau tidak bisa pergi, Rani. Kamu adalah satu-satunya saksi hidup yang bisa mengesahkan surat warisan itu di depan notaris besok. Jika kau mati, surat itu tidak berguna. Dan jika kau hidup, kau harus menyerahkan segalanya pada mereka.”

Di tengah kepanikan, aku teringat sesuatu. Saat tadi di perjalanan, aku sempat mampir ke sebuah kedai dan bertemu seorang pria yang mengaku sebagai pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum. Aku sempat memberikan salinan surat dari tas ayahku padanya, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang buruk.

“Paman,” kataku dengan suara yang kubuat setenang mungkin. “Mas Mande bukan orang pintar. Dia hanya serakah. Apakah Paman yakin dia akan membiarkan Paman hidup jika dia tahu Paman juga tahu kebenaran ini?”

Paman Hamsar terdiam. Keraguan muncul di matanya.

“Aku sudah memanggil pihak berwajib dan pengacara independen ke sini. Mereka akan tiba lima menit lagi,” bohongku. Padahal, aku hanya mengirimkan lokasi terkini dari gawai ayah yang kubawa ke nomor yang kuberikan pada pengacara tadi.

Saat mobil Mas Mande berhenti di depan halaman, pintu mobil terbuka. Mas Mande turun dengan wajah angkuh, diikuti dua pria berbadan besar. Namun, tepat di saat mereka melangkah masuk ke pekarangan, dua mobil patroli polisi muncul dari balik pohon kelapa, mengepung mereka.

Ternyata, gawai tua milik Ayah itu memiliki pelacak GPS yang terhubung dengan akun keamanan bank yang dulu Ayah buat. Ayah—meskipun pikirannya sering melantur—ternyata jauh lebih cerdik daripada yang kami duga. Dia sengaja meninggalkan “umpan” itu.

Mas Mande terbelalak melihat polisi. Namun yang paling mengejutkan, Paman Hamsar tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

“Kau pikir aku di pihak mereka, Rani?” Paman Hamsar membuang muka dari Mas Mande. “Aku adalah orang yang diam-diam mengirimkan bukti-bukti transaksi gelap keluarga mereka ke polisi selama bertahun-tahun. Kebun ini memang warisan untukmu, tapi aku juga yang harus memastikan mereka masuk penjara agar kau aman.”

Ternyata, Paman Hamsar adalah agen yang menyamar demi melindungi Ayah dari jauh.

Malam itu berakhir dengan penangkapan Mas Mande dan keluarganya atas tuduhan penipuan, penggelapan, dan upaya manipulasi dokumen. Aku duduk di beranda rumah Paman Hamsar, memandangi langit malam yang tenang.

Sebuah pesan masuk ke gawai yang kupakai. Itu dari nomor Ayah—sebuah pesan yang terjadwal.

Rani, jika kau membaca ini, berarti kau sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa dunia ini tidak selalu apa yang terlihat. Jangan pernah takut untuk membuka rahasia yang terkubur, karena terkadang, kebenaran adalah satu-satunya warisan yang tak bisa dicuri oleh siapa pun.

Aku menarik napas panjang. Khalila akan bangun besok pagi di rumah baru, di tempat yang tenang, tanpa bayang-bayang Mas Mande. Ayah, di rumah aman di kota, akhirnya bisa beristirahat tanpa harus merasa ketakutan lagi. Aku tidak lagi mematikan gawai itu. Aku membiarkannya menyala, siap menyambut lembaran hidup yang benar-benar baru.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang