“Aku mengatakannya karena aku adalah bagian dari masa lalumu yang mencoba kau kubur dalam-dalam, Gift. Dan bayi itu… bayi itu bukan berasal dari Hezekiah. Bayi itu adalah konsekuensi dari apa yang kau lakukan di malam itu, lima tahun yang lalu, di klinik kesuburan ‘Harapan Baru’.”
Duniaku seakan runtuh. Kakiku lemas, hampir saja aku terjatuh ke aspal yang kotor. Apa yang dia bicarakan? Lima tahun lalu, kami memang menjalani program IVF (bayi tabung) yang gagal total. Kami diberitahu bahwa tidak ada satu pun sel telur yang berhasil dibuahi oleh sperma suamiku. Aku ingat betul rasa hancur itu.
“Jangan mengada-ada!” teriakku, meski suaraku pecah. “Aku ingat semuanya! Prosedur itu gagal! Tidak ada bayi!”

Pria itu mendekat, langkahnya tenang, tidak lagi seperti orang gila. Dia merogoh kantong celananya yang robek dan mengeluarkan selembar kertas lusuh yang sudah menguning. Dia menyodorkannya padaku.
“Dokter Adrian tidak pernah gagal, Gift. Dia hanya korup. Dia mencuri embrio yang berhasil dibuahi—embrio yang menggunakan donor sperma cadangan saat suamimu tidak mampu menghasilkan kualitas yang cukup—dan menjualnya kepada pria kaya yang tidak bisa punya anak. Namun, ada satu kesalahan teknis saat itu. Satu embrio tertukar. Dan embrio itu… dimasukkan ke dalam rahimmu secara ilegal karena mereka pikir itu adalah kegagalan mutlak. Mereka menutup klinik itu dua bulan setelahnya agar jejak mereka hilang.”
Aku gemetar hebat saat membaca isi kertas itu. Itu adalah catatan medis rahasia yang seharusnya sudah dimusnahkan. Nama dokter itu, tanggal prosedurnya… semuanya cocok.
“Lalu… kau siapa?” tanyaku dengan napas tersengal.
Pria itu tersenyum pahit, memperlihatkan deretan giginya yang berantakan. “Aku adalah asisten laboratorium yang saat itu bertugas. Aku yang dipaksa membuang embrio-embrio ‘gagal’ itu. Tapi aku tidak melakukannya. Aku tahu ada sesuatu yang hidup di sana. Ketika aku menyadari bahwa kau hamil sekarang, setelah lima tahun, aku tahu satu-satunya cara untuk memberitahumu adalah dengan cara yang paling ekstrem. Karena jika aku datang sebagai orang normal, Hezekiah pasti sudah membunuhku.”
“Hezekiah… dia tahu?” tanyaku, air mata mulai mengalir deras.
“Hezekiah tidak tahu tentang donor itu. Tapi dia tahu bahwa dia mandul permanen sejak kecelakaan lima tahun lalu. Dia berbohong padamu, Gift. Dia membiarkanmu percaya bahwa kalian bisa punya anak, padahal dia sudah menyuap dokter untuk memalsukan hasil tes DNA NIPP itu. Hezekiah tahu bayi itu bukan darah dagingnya, tapi dia membiarkannya agar kau tidak meninggalkannya.”
Pikiranku berputar hebat. Pengkhianatan ini berlapis-lapis. Aku merasa seperti boneka yang dimainkan oleh nasib. Hezekiah, suami yang kukira pelindungku, hanyalah seorang pembohong yang menggunakan janin ini sebagai jangkar agar aku tetap bersamanya.
“Kenapa kau memberitahuku sekarang?”
“Karena,” suara pria itu merendah, menjadi bisikan maut, “mereka yang membayar untuk embrio itu dulu telah kembali. Mereka tahu kau hamil. Mereka tidak menginginkan bayinya, mereka menginginkan ‘aset’ biologis yang mereka beli lima tahun lalu. Jika kau melahirkan, mereka akan mengambil anak itu dan mungkin menyingkirkanmu.”
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan kami. Dua pria berjas keluar. Pria gila di depanku langsung mendorongku ke balik tumpukan sampah besar.
“Lari, Gift! Masuk ke gang kecil itu!” teriaknya.
Aku berlari sekencang yang aku bisa. Dalam kepanikan, aku tidak pulang ke rumah. Aku berlari menuju kantor polisi, namun di tengah jalan, ponselku berdering. Itu Hezekiah.
“Sayang, di mana kau? Ibu mertuamu sudah sampai di rumah. Dia membawa kejutan untukmu,” suara Hezekiah terdengar aneh—dingin dan tajam.
Aku berhenti, jantungku berdegup kencang. “Hezekiah… apa kau tahu tentang klinik ‘Harapan Baru’?”
Hening. Sangat lama. Kemudian, Hezekiah tertawa. Itu bukan tawa hangat yang biasa kukenal, melainkan tawa yang mengerikan.
“Sepertinya si ‘gila’ itu sudah bicara, ya? Sayang, jangan percaya padanya. Aku mencintaimu. Anak itu adalah milik kita, terlepas dari siapa pemilik benihnya. Sekarang, cepat pulang. Kita harus merayakan… kelahiran bayimu yang dipercepat.”
“Dipercepat?” tanyaku ngeri.
“Ya. Dokter sudah dalam perjalanan ke rumah. Kita akan melakukan operasi caesar sekarang. Aku tidak bisa membiarkan orang lain mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Bahkan jika aku harus membunuhmu di meja operasi itu, anak itu akan tetap menjadi milik Hezekiah.”
Kakiku lemas. Ternyata, pria gila itu bukanlah orang gila. Dia adalah satu-satunya orang yang mencoba menyelamatkanku dari suamiku sendiri. Pria yang kusangka ‘gila’ itu sebenarnya adalah satu-satunya saksi mata yang tersisa.
Aku tidak pulang. Aku terus berlari menuju kantor polisi, namun aku menyadari sesuatu yang lebih mengerikan saat melihat ke arah kaca etalase toko. Pria gila itu tidak mengikuti, tapi mobil hitam mewah itu masih membuntutiku. Bukan untuk menculikku, tapi untuk melindungiku?
Aku sadar, kehamilan ini bukan sekadar berkah dari Tuhan. Ini adalah pusat dari perang antara sindikat perdagangan manusia, suamiku yang psikopat, dan seorang asisten laboratorium yang diburu karena nurani.
Saat aku sampai di depan kantor polisi, aku melihat Hezekiah berdiri di sana, menunggu dengan senyum manisnya. Dia tidak membawa dokter, dia membawa bunga. Dia tampak seperti suami yang sempurna di mata orang-orang yang lewat.
“Sudah selesai main-mainnya, sayang?” ucapnya sambil merangkul pundakku, tangannya mencengkeram erat, seolah memberi peringatan bahwa jika aku berteriak, dia akan menyakitiku.
Di seberang jalan, pria gila itu berdiri menatapku dari kejauhan. Dia tidak lagi compang-camping. Dia mengenakan jas rapi, menatapku dengan mata yang penuh penyesalan. Dia memberi isyarat dengan jarinya: ‘Jangan masuk’.
Ternyata, polisi di kota ini sudah disuap oleh Hezekiah. Jika aku masuk ke sana, aku akan menyerahkan diriku ke dalam sarang serigala.
Hezekiah membawaku masuk ke mobil. Di kursi belakang, ada ibu mertuaku. Dia menatap perutku dengan tatapan lapar, bukan tatapan kasih sayang seorang nenek.
“Anak ini akan lahir malam ini, Gift,” ucap ibu mertuaku dengan suara dingin. “Dan setelah itu, kau tidak akan lagi diperlukan.”
Saat mobil melaju kencang meninggalkan pusat kota menuju pinggiran hutan, aku menyadari satu hal yang paling mengejutkan: Pria gila itu bukanlah orang lain. Dia adalah anak pertama dari pasangan yang sebenarnya membeli embrio itu. Dia bukan asisten laboratorium. Dia adalah subjek eksperimen pertama yang gagal, yang berhasil melarikan diri dari klinik itu lima tahun lalu. Dia tahu segalanya karena dia adalah saudara kandung dari bayi yang ada di dalam perutku.
Dia tidak mencoba mengklaim bayinya karena dia adalah ayahnya. Dia mengklaimnya karena dia ingin menyelamatkan saudaranya dari nasib yang sama yang dia alami: menjadi aset biologis yang tidak dianggap sebagai manusia.
Dan sekarang, di dalam mobil yang melaju menuju kematian, aku tidak lagi merasa takut. Aku menatap Hezekiah yang sedang menyetir, lalu menatap perutku. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku merogoh tas tanganku, mengambil gunting kecil yang biasa kugunakan untuk menjahit, dan bersiap untuk melakukan satu-satunya hal yang bisa menjamin keselamatan anakku—meskipun itu berarti aku harus menghancurkan mobil ini dan membawa kami semua ke dalam jurang yang terpampang di depan sana.
Karena terkadang, satu-satunya cara untuk memberikan kehidupan adalah dengan mengakhiri kepalsuan yang membusuk.
