Semua perawat yang ditugaskan merawat pasien koma itu…

Malam itu, di dalam ruang monitor pribadinya yang gelap, Dr. Adrian Mendoza tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk terpaku di depan layar laptop, menunggu matahari terbit. Ia merasa seperti sedang menunggu hukuman mati, atau mungkin, penyingkapan tabir realitas yang selama ini ia jaga dengan begitu ketat.

Pukul 07.00 pagi. Waktu yang dijanjikan.

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mencabut kartu memori dari monitor kecil yang ia bawa, lalu memasukkannya ke komputer. Ia menahan napas, menekan tombol play.

Rekaman itu menampilkan Kamar 412-C yang temaram dalam mode inframerah. Gabriel Reyes terbaring tak berdaya. Jarum infus di tangannya tampak pucat di bawah cahaya hijau redup.

Satu jam pertama tidak ada yang terjadi. Hanya detak jantung di monitor yang terdengar ritmis.

Namun, tepat pada pukul 03.14 pagi, sesuatu yang mustahil terjadi.

Dr. Mendoza memajukan tubuhnya hingga wajahnya hampir menyentuh layar. Matanya melebar, urat-urat di dahinya menegang.

Gabriel… tidak bergerak. Tubuhnya tetap kaku.

Namun, bayangannya di dinding tidak.

Bayangan Gabriel di dinding tampak perlahan terangkat, memisahkan diri dari tubuh aslinya yang terbaring di ranjang. Sosok bayangan itu tampak berdiri, berjalan di sekitar ruangan dengan gerak-gerik yang tidak wajar—seperti asap yang memadat menjadi bentuk manusia.

Bayangan itu melayang mendekati pintu, seolah-olah mengawasi perawat yang sedang berjaga di luar. Lalu, bayangan itu kembali ke samping tempat tidur.

Tiba-tiba, monitor detak jantung mulai berbunyi aneh. Gelombang otaknya di layar monitor rumah sakit yang tersambung ke komputer menunjukkan lonjakan drastis, membentuk pola yang tidak pernah ada dalam buku teks kedokteran mana pun. Pola itu terlihat seperti gelombang suara… atau mungkin, sebuah frekuensi.

Dr. Mendoza memutar volume suaranya ke tingkat maksimal.

Di tengah desis statis, ia mendengar suara. Bukan suara manusia. Itu adalah suara bisikan yang ribuan jumlahnya, tumpang tindih, seperti ribuan orang yang berbicara dalam bahasa yang tak dikenal.

Dan kemudian, sosok bayangan itu—yang masih terhubung dengan tubuh Gabriel melalui semacam benang cahaya yang samar—tampak “menyentuh” area perut Gabriel. Tepat saat itu, terjadi kilatan cahaya putih yang menyilaukan di dalam rekaman.

Seketika, monitor detak jantung kembali normal. Bayangan itu menyatu kembali dengan tubuh Gabriel.

Dr. Mendoza jatuh terduduk di kursinya. Wajahnya pucat pasi. Ia menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan dari sekadar “kehamilan misterius”.

Ia kembali memutar rekaman itu, kali ini dalam gerakan lambat.

Ia menyadari bahwa setiap kali perawat masuk ke ruangan itu, mereka selalu melewati “zona” di mana bayangan Gabriel tadi berinteraksi. Perawat-perawat itu tidak hamil oleh Gabriel Reyes. Mereka “diisi” oleh sesuatu yang lain.

Gabriel Reyes bukan sedang koma. Ia adalah wadah.

St. Raphael Medical Center telah menjadi tempat inkubasi bagi sesuatu yang datang dari dimensi lain—atau mungkin, sesuatu yang sudah ada di sana sejak gedung itu dibangun di atas tanah yang menurut legenda kuno, adalah gerbang bagi mereka yang “tidak pernah mati”.

Tiba-tiba, suara ketukan halus terdengar di pintu ruang kerjanya.

Tok. Tok. Tok.

Dr. Mendoza membeku. Pintu ruang kerjanya terbuka perlahan. Di sana, berdiri Isabel Flores. Perawat kelima.

Namun, cara Isabel berdiri berbeda. Kepalanya miring ke samping dengan sudut yang tidak alami. Matanya tidak lagi menatap ke arah Dr. Mendoza, melainkan ke arah layar komputer yang masih menampilkan bayangan Gabriel.

Isabel tersenyum—sebuah senyuman yang terlalu lebar, terlalu dingin, dan tidak memiliki sisa kemanusiaan di dalamnya.

“Dokter,” bisik Isabel dengan suara yang terdengar seperti ribuan suara yang tumpang tindih. “Terima kasih sudah merekamnya. Tapi kau seharusnya tidak melihat apa yang terjadi di balik tirai itu.”

Dr. Mendoza mencoba meraih ponselnya untuk menelepon keamanan, namun ia mendapati dirinya tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya terasa terkunci. Frekuensi yang sama dengan yang ia dengar di rekaman tadi, kini mulai bergetar di dalam tulang-tulangnya.

Lampu di ruang kerjanya pecah satu per satu.

Di tengah kegelapan, ia hanya bisa mendengar suara langkah kaki Isabel yang mendekat, diikuti oleh suara detak jantung yang bukan miliknya, melainkan detak jantung dari kamar 412-C yang kini memenuhi seluruh ruangan.

Dr. Mendoza akhirnya menyadari bahwa di rumah sakit itu, kematian tidak pernah menjadi akhir. Ia adalah awal dari sesuatu yang tidak pernah sanggup dipahami oleh sains.

Dan ia adalah saksi terakhir yang tidak akan pernah diizinkan untuk menceritakan apa yang ia lihat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang