Langit Jakarta pagi itu cerah, tetapi udara di depan sebuah gedung pernikahan mewah terasa begitu dingin. Karpet merah membentang dari pintu masuk hingga ke jalan utama. Deretan mobil mewah berhenti silih berganti, menurunkan tamu-tamu penting yang mengenakan pakaian mahal dan senyum penuh wibawa. Kamera wartawan berkedip tanpa henti karena hari itu seluruh media sedang meliput pernikahan Arga Mahendra, pendiri perusahaan teknologi terbesar di Indonesia, dengan Keisha, putri seorang konglomerat ternama.
Semua tampak sempurna.
Hingga seorang perempuan tua mendorong gerobak reyot melewati trotoar.
Namanya Sulastri. Tubuhnya kurus, wajahnya dipenuhi keriput, dan kedua tangannya menghitam karena bertahun-tahun memungut botol plastik serta kardus bekas. Ia sebenarnya tidak berniat mendekat. Ia hanya ingin melihat dari kejauhan karena sejak semalam ia mendengar orang-orang membicarakan nama mempelai pria.
Arga.
Nama itu terus berputar di kepalanya.

Nama yang sama dengan anak laki-lakinya yang hilang lebih dari dua puluh tahun lalu.
Ia tahu kemungkinan itu sangat kecil. Indonesia memiliki jutaan orang. Nama Arga bukanlah nama yang langka. Namun, sesuatu di dalam hatinya mendorong langkahnya semakin dekat.
Di dekat pintu masuk terpampang layar LED raksasa yang menampilkan foto prewedding pasangan pengantin.
Ketika wajah Arga muncul memenuhi layar, napas Sulastri seolah berhenti.
Tatapan mata itu.
Lesung pipi di pipi kiri.
Bekas luka kecil di alis kanan.
Semuanya sama.
Air mata langsung mengalir tanpa mampu ia tahan.
“Itu… anakku…”
Suara lirihnya tenggelam oleh alunan musik orkestra.
Ia melangkah beberapa langkah lagi, berharap bisa melihat lebih jelas.
Belum sempat mendekat, seorang perempuan paruh baya dengan gaun mahal menghentikannya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Perempuan itu adalah Helena Wijaya, ibu Keisha. Wajahnya langsung berubah masam ketika melihat pakaian lusuh Sulastri.
“Maaf, Bu… saya hanya ingin melihat sebentar…”
“Melihat apa? Ini acara pribadi.”
“Saya… saya hanya ingin memastikan seseorang.”
Helena mengerutkan dahi.
“Kamu pengemis?”
“Bukan, Bu. Saya pemulung.”
Jawaban itu justru membuat Helena mundur selangkah.
“Satpam!”
Beberapa petugas keamanan segera datang.
“Usir perempuan ini.”
Sulastri panik.
“Tolong… saya tidak akan mengganggu. Saya hanya ingin melihat mempelai pria sebentar.”
Helena tertawa kecil.
“Semua orang juga ingin melihatnya. Bedanya mereka diundang.”
Para tamu mulai memperhatikan keributan itu.
Beberapa bahkan mengeluarkan ponsel untuk merekam.
Sulastri semakin gugup.
Ia memegang sebuah sapu tangan kecil yang sudah usang.
“Itu untuk anak saya…”
Helena melihat sapu tangan itu lalu mencibir.
“Anakmu?”
“Ya.”
“Lucu sekali.”
Seorang pelayan baru saja membawa ember berisi air bekas mengepel lantai.
Tanpa berpikir panjang, Helena mengambil ember itu.
“Kalau memang ingin bersih-bersih, sekalian saja.”
Byur!
Air kotor mengguyur tubuh Sulastri.
Gaun lusuhnya basah kuyup.
Rambut putihnya menempel di wajah.
Semua tamu terdiam.
Tidak ada yang menyangka seorang perempuan terpandang berani melakukan hal seperti itu di depan umum.
Sulastri hanya menunduk.
Ia tidak marah.
Ia tidak membalas.
Ia hanya memungut sapu tangan yang jatuh ke tanah, membersihkannya perlahan dengan tangan gemetar.
Pada saat yang sama, pintu utama gedung terbuka.
Arga keluar bersama beberapa panitia karena mendengar keributan.
Ia awalnya hanya ingin memastikan apa yang terjadi sebelum acara akad dimulai.
Namun langkahnya mendadak berhenti.
Matanya terpaku kepada perempuan tua yang berdiri beberapa meter darinya.
Entah mengapa dadanya terasa sesak.
Ada sesuatu yang sangat dikenalnya.
Sulastri perlahan mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Waktu seakan berhenti.
Sapu tangan tua itu terlepas lagi dari tangannya.
Arga menatap benda itu.
Sudut kainnya memiliki sulaman kecil berbentuk bunga melati.
Mendadak sebuah kenangan masa kecil muncul begitu jelas.
Ibunya pernah menjahit sapu tangan yang sama sambil berkata, “Kalau suatu hari kamu takut, pegang ini. Ibu pasti akan menemukanmu.”
Tubuh Arga bergetar.
“Ibu…”
Suaranya nyaris tak terdengar.
Kemudian ia berlari.
Semua orang terkejut melihat mempelai pria berlari menembus kerumunan tamu.
Ia berhenti tepat di depan Sulastri.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Ibu…”
Sulastri menutup mulutnya.
“Arga?”
Pria itu langsung berlutut.
Memeluk perempuan tua itu seerat mungkin.
“Ibu… maafkan Arga…”
Tangis mereka pecah bersamaan.
Suasana yang semula dipenuhi musik mewah berubah menjadi keheningan yang menyayat hati.
Banyak tamu ikut menangis tanpa mengetahui seluruh kisahnya.
Helena memucat.
“Apa… apa maksud semua ini?”
Arga berdiri perlahan.
Suaranya tenang, tetapi penuh luka.
“Inilah ibu saya.”
Semua kamera langsung mengarah kepada mereka.
Helena mencoba tersenyum canggung.
“Pasti ada salah paham…”
“Tidak.”
Arga menggeleng.
“Perempuan yang baru saja Ibu hina adalah orang yang mempertaruhkan seluruh hidupnya agar saya bisa sekolah.”
Ia lalu menceritakan masa kecilnya.
Ayahnya meninggal ketika ia berusia tujuh tahun.
Ibunya bekerja apa saja.
Mencuci pakaian tetangga.
Menjual gorengan.
Memulung setiap malam.
Semua dilakukan agar ia tetap bisa bersekolah.
Ketika Arga memperoleh beasiswa ke luar kota, mereka terpisah.
Beberapa bulan kemudian terjadi kebakaran besar yang menghanguskan permukiman tempat ibunya tinggal.
Semua orang mengira Sulastri meninggal.
Sementara Sulastri kehilangan seluruh dokumen dan tidak tahu ke mana harus mencari putranya.
Mereka sama-sama mencari.
Tetapi tak pernah bertemu.
Helena mulai gemetar.
Ia baru sadar telah mempermalukan ibu kandung calon menantunya di depan ratusan orang.
“Aku… aku tidak tahu…”
Arga menatapnya.
“Itulah masalahnya.”
“Kita terlalu cepat menilai seseorang dari pakaiannya.”
“Terlalu mudah mengukur harga manusia dari isi dompetnya.”
Suasana kembali sunyi.
Keisha berjalan mendekati Sulastri.
Tanpa ragu, ia berlutut.
“Mama… izinkan saya memanggil Ibu seperti itu.”
Sulastri kebingungan.
Keisha memegang tangannya dengan lembut.
“Saya minta maaf atas semua yang terjadi.”
Tangisan Sulastri semakin menjadi.
Ia tak pernah membayangkan akan diterima seperti itu.
Beberapa menit kemudian, Arga meminta seluruh acara dihentikan sementara.
Ia membawa ibunya masuk ke ruang khusus.
Tim tata rias yang semula bersiap merias pengantin kini sibuk membersihkan tubuh Sulastri.
Mereka meminjamkan kebaya sederhana berwarna krem.
Seorang penata rambut merapikan rambut putihnya.
Ketika Sulastri keluar dari ruangan, semua orang berdiri.
Bukan karena pakaiannya.
Melainkan karena sorot wajahnya yang penuh ketulusan.
Arga menggandeng tangan ibunya menuju pelaminan.
“Orang pertama yang akan mengantar saya hari ini bukan siapa pun selain ibu saya.”
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan.
Helena berdiri paling belakang.
Wajahnya dipenuhi penyesalan.
Setelah akad selesai, ia menghampiri Sulastri.
Tanpa memedulikan riasan dan gaunnya yang mahal, Helena berlutut.
“Saya sudah memperlakukan Ibu dengan sangat buruk.”
“Saya tidak pantas meminta maaf.”
“Tapi izinkan saya mencoba menjadi orang yang lebih baik.”
Sulastri memandangnya cukup lama.
Lalu ia mengangkat Helena agar berdiri.
“Kesalahan terbesar bukan saat kita menghina orang.”
“Tetapi ketika kita tidak mau berubah.”
“Saya memaafkan Ibu.”
Jawaban sederhana itu membuat Helena menangis lebih keras daripada siapa pun hari itu.
Beberapa bulan setelah pernikahan, Arga mendirikan sebuah yayasan yang membantu para pemulung, buruh harian, dan lansia terlantar memperoleh tempat tinggal, layanan kesehatan, serta pelatihan kerja.
Namun ada satu aturan yang selalu ia tekankan kepada seluruh karyawannya.
Setiap orang yang datang, siapa pun mereka, harus disambut dengan hormat.
Karena ia tidak pernah lupa bahwa perempuan yang dulu dianggap paling rendah oleh banyak orang adalah sosok yang telah membesarkan seorang anak hingga mampu mengubah kehidupan jutaan orang.
Dan sejak hari itu, setiap kali Sulastri melewati gerbang gedung yang sama, para petugas keamanan selalu membuka pintu lebar-lebar, bukan karena ia adalah ibu seorang miliarder, melainkan karena mereka akhirnya mengerti bahwa martabat seseorang tidak pernah ditentukan oleh pakaian yang dikenakannya, melainkan oleh kasih sayang, pengorbanan, dan hati yang tetap mulia bahkan setelah berkali-kali diperlakukan dengan hina.
