AKU KELAPARAN, PADAHAL KAKEK MENGIRIM Rp75 JUTA SETIAP BULAN — DAN AKU TERKEJUT SAAT MENGETAHUI BAHWA AYAH DAN IBU SELAMA INI HIDUP DARI HASIL KERJA KERASKU

Namaku Arga. Sejak kecil aku percaya bahwa kemiskinan adalah takdir yang harus diterima dengan kepala tegak. Ibuku selalu berkata bahwa kami hanyalah keluarga sederhana yang bertahan hidup dari pekerjaan serabutan ayah. Kami tinggal di rumah kayu yang hampir roboh di pinggiran Surabaya. Atapnya bocor setiap musim hujan, dindingnya dipenuhi retakan, dan lantainya begitu dingin hingga aku terbiasa tidur dengan jaket meski cuaca panas.

Setiap pagi aku berangkat bekerja sebelum matahari terbit. Apa saja kulakukan demi mendapatkan uang. Kadang menjadi kuli bangunan, kadang mengangkat barang di pasar, kadang mengantar paket dengan motor pinjaman tetangga. Semua penghasilanku kuserahkan kepada ibu karena beliau selalu berkata, “Kalau kita ingin bertahan, kita harus saling mengorbankan.”

Aku tidak pernah membantah.

Aku hanya makan dua kali sehari. Bahkan sering kali hanya sekali. Kalau bertanya mengapa lauk selalu sedikit, ibu akan tersenyum pahit.

“Kita harus hemat, Nak. Ayahmu juga sedang susah.”

Ayah memang jarang di rumah. Katanya, beliau bekerja sebagai sopir di luar kota. Anehnya, setiap pulang beliau selalu memakai pakaian baru, parfum mahal, dan sesekali membawa telepon genggam keluaran terbaru. Ketika kutanya dari mana semua itu berasal, jawabannya selalu sama.

“Itu hadiah dari bos.”

Aku ingin percaya. Karena lebih mudah mempercayai orang tua daripada mengakui bahwa mereka mungkin sedang menyembunyikan sesuatu.

Suatu siang tubuhku menyerah.

Saat sedang mengangkat tumpukan keramik di proyek bangunan, pandanganku mengabur. Kakiku lemas. Dunia berputar sebelum akhirnya gelap.

Aku terbangun di rumah sakit pemerintah. Dokter mengatakan aku mengalami kekurangan gizi, kelelahan berat, dan infeksi paru-paru ringan akibat daya tahan tubuh yang sangat rendah.

“Kalau dia terus hidup seperti ini, organ tubuhnya bisa rusak permanen,” kata dokter.

Ibu menangis di samping tempat tidurku.

“Kami tidak punya uang, Dok.”

Namun hanya satu jam kemudian ayah datang membawa uang tunai belasan juta rupiah untuk membayar seluruh biaya rumah sakit.

Aku melihat sendiri beliau menghitung lembaran uang baru tanpa ragu sedikit pun.

Aku bingung.

Kalau memang kami semiskin itu, dari mana uang sebanyak itu datang begitu cepat?

Pertanyaan itu terus menggangguku bahkan setelah aku pulang.

Seminggu kemudian aku memutuskan mencari jawabannya sendiri.

Suatu malam aku berpura-pura tidur. Setelah rumah sepi, aku melihat ayah dan ibu keluar dengan pakaian rapi. Mereka mengendarai mobil hitam yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Mobil.

Kami bahkan selalu bilang tidak mampu membeli beras.

Aku mengikuti mereka menggunakan motor tua milik temanku.

Mereka berhenti di sebuah rumah besar di kawasan elite. Lampunya terang, tamannya luas, dan beberapa mobil mewah terparkir di halaman.

Aku melihat ayah masuk begitu saja seperti pemilik rumah.

Jantungku berdetak keras.

Aku menunggu hampir satu jam sebelum memberanikan diri mendekat.

Pintu gerbang sedikit terbuka. Dari balik jendela, aku mendengar percakapan yang membuat darahku membeku.

“Untung anak itu masih percaya kalau kita miskin,” kata suara ibu sambil tertawa pelan.

“Kalau Arga tahu semuanya, kiriman dari Pak Hasan pasti berhenti,” jawab ayah.

Pak Hasan?

Nama itu tidak asing.

Aku pernah melihatnya tertulis di sebuah kartu ucapan bertahun-tahun lalu.

“Selama dia merasa kasihan pada kita, dia akan terus bekerja mati-matian. Lagipula, setiap bulan Pak Hasan juga masih mengirim uang. Lumayan buat investasi.”

Aku hampir kehilangan keseimbangan.

Kiriman uang?

Investasi?

Aku menahan napas.

Saat mereka masuk ke ruangan lain, aku menyelinap ke teras belakang.

Jendela sebuah ruang kerja terbuka sedikit.

Di atas meja terdapat beberapa map.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Di dalamnya ada bukti transfer rutin setiap bulan.

Nominalnya mencapai seratus lima puluh juta rupiah.

Pengirimnya adalah Hasan Pratama.

Penerimanya adalah ayahku.

Aku juga menemukan surat.

“Untuk kebutuhan pendidikan dan masa depan Arga. Tolong pastikan dia hidup layak dan bisa kuliah. Jangan pernah biarkan dia tahu aku mengirim bantuan sebelum waktunya.”

Tanganku langsung lemas.

Selama ini ada seseorang yang mengirim uang untukku.

Jumlahnya sangat besar.

Tetapi aku hidup kelaparan.

Aku pulang malam itu tanpa mampu berpikir jernih.

Seluruh hidupku terasa seperti sandiwara.

Keesokan paginya aku diam-diam mencari nama Hasan Pratama di internet.

Beliau adalah seorang pengusaha sukses di bidang logistik.

Usianya hampir tujuh puluh tahun.

Alamat kantornya tidak terlalu jauh.

Aku memberanikan diri datang.

Tentu saja satpam menolakku.

Namun ketika aku menyebut namaku, suasana berubah.

“Sebentar.”

Beberapa menit kemudian seorang pria tua berambut putih keluar dengan langkah tergesa.

Begitu melihat wajahku, matanya langsung berkaca-kaca.

“Arga…”

Beliau memelukku erat seolah sudah lama menunggu momen itu.

Aku tidak mengerti.

Beliau mengajakku masuk ke ruang kerja.

Di sana beliau menunjukkan sebuah album foto.

Aku melihat seorang perempuan muda yang wajahnya sangat mirip denganku.

“Itu ibumu yang melahirkanmu.”

Aku terdiam.

“Lalu… siapa wanita yang membesarkanku?”

“Bibimu.”

Duniaku runtuh sekali lagi.

Hasan menjelaskan bahwa ibu kandungku meninggal saat melahirkanku. Ayah kandungku meninggal beberapa tahun kemudian karena kecelakaan.

Bibiku dan suaminya bersedia merawatku.

Sebagai rasa terima kasih, Hasan mengirim uang setiap bulan agar aku mendapatkan kehidupan yang baik.

“Tapi aku meminta mereka merahasiakan identitasku sampai kamu cukup dewasa.”

Aku menahan air mata.

“Mereka bilang kami miskin.”

Wajah Hasan berubah pucat.

“Miskin?”

Aku menceritakan semuanya.

Tentang kelaparan.

Tentang bekerja sejak kecil.

Tentang rumah reyot.

Tentang uang yang tak pernah sampai kepadaku.

Beliau langsung berdiri.

“Kita selesaikan hari ini.”

Sore itu kami mendatangi rumah besar yang diam-diam dimiliki bibiku.

Saat pintu terbuka, wajah mereka langsung kehilangan warna.

“Pak Hasan…”

Beliau melemparkan seluruh bukti transfer ke meja.

“Selama dua puluh tahun saya mempercayai kalian.”

Tak ada yang mampu menjawab.

Bibiku menangis.

Pamanku mencoba membela diri.

“Kami hanya meminjam sedikit.”

“Sampai ratusan juta setiap bulan?”

Suasana menjadi kacau.

Ternyata uang yang seharusnya dipakai untuk membiayaiku telah digunakan membeli rumah, mobil, tanah, dan berbagai investasi atas nama mereka.

Sementara aku dipaksa percaya bahwa kami hidup dalam kemiskinan.

Yang paling menyakitkan bukanlah uangnya.

Melainkan kenyataan bahwa rasa lapar yang kurasakan selama bertahun-tahun sebenarnya tidak pernah perlu terjadi.

Beberapa minggu kemudian proses hukum dimulai.

Semua aset yang dibeli menggunakan dana amanah disita sebagai barang bukti.

Sebagian besar akhirnya dikembalikan kepada yayasan keluarga milik Hasan untuk membiayai pendidikan anak-anak yatim.

Aku sempat ditanya apakah membenci bibiku.

Aku diam cukup lama.

“Aku kecewa. Sangat kecewa. Tapi kebencian tidak akan mengembalikan masa kecilku.”

Aku memilih memulai hidup baru.

Hasan memintaku tinggal bersamanya.

Beliau juga menawarkan posisi di salah satu perusahaannya setelah aku melanjutkan kuliah.

Namun aku punya permintaan.

“Aku ingin tetap bekerja. Aku ingin tahu rasanya memperoleh sesuatu dengan usahaku sendiri.”

Beliau tersenyum bangga.

Beberapa tahun berlalu.

Aku berhasil menyelesaikan pendidikan dan kemudian memimpin sebuah program sosial yang menyediakan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Setiap kali melihat seorang anak makan dengan lahap di kantin sekolah, aku selalu teringat diriku sendiri yang pernah menghitung butir nasi agar cukup sampai malam.

Suatu hari aku menerima sepucuk surat dari lembaga pemasyarakatan.

Surat itu dari bibiku.

Isinya hanya satu kalimat.

“Maaf karena kami mengajarkanmu bahwa kemiskinan adalah nasib, padahal yang sebenarnya miskin adalah hati kami.”

Aku melipat surat itu perlahan.

Aku tidak membalasnya.

Bukan karena dendam.

Melainkan karena aku akhirnya mengerti bahwa pengampunan tidak selalu membutuhkan kata-kata.

Kadang, pengampunan adalah keputusan untuk menghentikan warisan kebohongan dan memastikan tidak ada lagi anak yang harus tidur dalam keadaan lapar sementara haknya dinikmati oleh orang lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang