SEMUA ORANG MENGIRA SANG TAIPAN BISNIS INDONESIA TELAH HILANG SELAMANYA

“…telah meninggal dunia. Namun, sebuah pengumuman mengejutkan muncul hari ini: Santoso Group akan segera dipimpin oleh sang adik, Bramasta Santoso, setelah bukti-bukti kecelakaan yang disengaja mulai terungkap.”

Radio itu berdengung, suaranya terputus oleh deru angin yang semakin brutal. Arga Santoso terduduk kaku di tengah lumpur, napasnya memburu. Pikirannya seperti proyektor film yang rusak, memutar kembali adegan di mobil SUV itu. Bukan rem yang blong karena teknis, tapi suara tawa sinis Bramasta yang menggema di pikirannya. Adiknya itu sengaja memutus kabel rem sebelum ia berangkat ke pertemuan pemegang saham.

Sinta terpaku. Ia tidak mengerti sepenuhnya tentang “Santoso Group”, tapi ia tahu satu hal: pria yang ia beri nama Bimo ini adalah orang besar yang sedang diburu oleh kematian.

“Bimo… atau Arga,” Sinta berbisik, menyentuh bahu pria itu. “Kamu harus pergi. Mereka… mereka akan mencarimu jika mereka tahu kamu masih hidup.”

Arga menatap tangan Sinta yang kasar karena kerja keras. Ia menatap Rafi yang masih gemetar dalam pelukannya, dan Dewi yang berlari keluar rumah dengan tangisan ketakutan. Dalam sekejap, ia melihat kontras yang menyakitkan: kehidupan penuh intrik, darah, dan ambisi di Jakarta, berbanding terbalik dengan kehangatan tulus di gubuk kayu ini.

“Sinta,” suara Arga kini berat dan berwibawa, aura taipan yang selama ini tersembunyi kini terpancar kuat. “Bramasta bukan hanya ingin membunuhku. Dia ingin menghancurkan segala sesuatu yang pernah kusentuh. Jika dia tahu aku ada di sini, desa ini… kalian… akan menjadi targetnya.”

Tepat saat itu, cahaya lampu sorot yang kuat menembus tirai hujan. Dua mobil jip hitam berhenti di depan jalan tanah yang berlumpur. Pintu terbuka, beberapa pria berjas hitam turun dengan senjata tersembunyi di balik jas mereka. Mereka tidak terlihat seperti penduduk desa; mereka adalah pembersih, tentara bayaran yang disewa untuk memastikan tidak ada saksi hidup.

Arga berdiri. Ia menatap Sinta dengan pandangan yang dalam. “Masuk ke dalam. Jangan keluar apa pun yang terjadi.”

“Jangan, Arga!” Sinta menarik tangannya. “Kamu akan mati!”

Arga tersenyum tipis, senyum yang sama yang pernah ia berikan kepada musuh bisnisnya sebelum ia melumpuhkan mereka. “Aku sudah mati bagi dunia selama enam bulan, Sinta. Sekarang, saatnya mereka menyadari bahwa hantu tidak bisa dibunuh dua kali.”

Arga berjalan menuju jip itu, bukannya bersembunyi. Ia sengaja membiarkan dirinya terlihat oleh lampu sorot. Para pria berjas itu berhenti, terkejut melihat target mereka berjalan dengan tenang menembus hujan.

“Arga Santoso?” salah satu pria bertanya, tangannya meraih senjata di pinggang.

Arga berhenti tepat di depan mereka. Ia tidak takut. Ia justru tertawa kecil. “Katakan pada Bramasta, dia terlalu terburu-buru merayakan kematianku. Dia lupa satu hal: dia tidak pernah belajar cara memeriksa denyut nadi seseorang di lokasi kecelakaan.”

Dalam satu gerakan yang sangat cepat—kemampuan bela diri yang ingatannya pulih secara sempurna—Arga melumpuhkan pria terdekat, merebut senjatanya, dan menendang pria lain ke dalam lumpur. Namun, ini bukanlah adegan film aksi biasa. Arga tidak berniat membunuh. Ia hanya ingin mereka pergi.

“Pergilah,” teriak Arga, menodongkan senjata ke langit. “Katakan padanya, Arga Santoso sudah kembali dari neraka. Dan aku datang untuk menagih semuanya.”

Pria-pria itu, yang sadar bahwa mereka berhadapan dengan macan yang terluka, segera mundur dan melarikan diri dengan jip mereka.

Sinta dan anak-anaknya keluar dari rumah, melihat Arga berdiri sendirian di bawah hujan yang perlahan reda. Arga berbalik. Ia kini bukan lagi Bimo yang lugu. Matanya tajam, penuh rencana.

“Aku harus pergi, Sinta,” ucapnya parau.

“Apakah kamu akan melupakan kami?” tanya Sinta, suaranya serak karena tangis.

Arga berjalan mendekat. Ia mengambil tangan Sinta dan meletakkan sebuah cincin berlian besar—yang entah bagaimana tersangkut di saku celana batiknya yang robek selama ini tanpa ia sadari—ke tangan Sinta.

“Ini bukan untuk dijual. Ini adalah janjiku,” kata Arga. “Tunggu aku. Setelah aku membersihkan nama dan keluargaku dari iblis itu, aku akan kembali bukan sebagai Bimo, tapi sebagai Arga yang telah menemukan apa arti kehidupan sebenarnya.”

Tiga bulan kemudian.

Kantor pusat Santoso Group di Jakarta gempar. Bramasta Santoso sedang duduk di kursi kebesarannya saat pintu ruangan didobrak oleh kepolisian dan badan pengawas keuangan. Namun, yang paling mengejutkan bukanlah polisi.

Di depan pintu, berdiri seorang pria dengan setelan jas hitam yang sempurna, wajahnya tampak segar, dengan sorot mata yang dingin namun tenang. Arga Santoso.

Bramasta berdiri, wajahnya pucat pasi, mulutnya terbuka tak percaya. “Kau… kau sudah mati!”

Arga berjalan mendekat, meletakkan dokumen-dokumen bukti pengalihan aset ilegal yang dilakukan Bramasta di atas meja. “Aku mati untukmu, Bram. Tapi aku hidup untuk keadilan.”

Namun, di balik punggung Arga, seorang pengacara melangkah maju dengan sebuah berkas tambahan. Itu bukan berkas hukum biasa. Itu adalah surat wasiat baru.

“Bram,” kata Arga dengan nada yang sangat tenang, “Kau pikir kau menang karena kau menguasai perusahaan ini? Kau salah. Seluruh aset pribadi dan saham pengendali sudah kualihkan ke sebuah yayasan sosial yang dikelola oleh seseorang yang bahkan tidak kau kenal.”

Bramasta gemetar. “Siapa?!”

Arga tersenyum untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke Jakarta. “Seorang wanita di sebuah desa terpencil yang telah mengajariku bahwa kekuasaan tidak ada artinya jika tidak digunakan untuk melindungi yang lemah.”

Saat Bramasta digiring keluar dengan tangan terborgol, Arga menatap ke luar jendela gedung pencakar langit itu, menatap langit Jakarta yang mendung. Ia tahu, di sebuah desa di Jawa Tengah, ada seseorang yang sedang menatap langit yang sama. Permainan telah berakhir, namun kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai. Arga Santoso tidak lagi sekadar taipan; ia telah menjadi pria yang memiliki rumah untuk pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang