Suasana di kamar terasa mencekam, seolah oksigen di ruangan itu ikut terkuras habis bersamaan dengan hilangnya kendali finansial Santoso Nusantara Group. Aku menarik napas dalam, membiarkan aroma sup jahe yang menempel di sisa rambutku memudar, digantikan oleh kesunyian yang mematikan.
Tepat pukul 02.00 pagi, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi singkat dari pengacaraku: “Dana telah ditarik. Semua aset likuid sudah dialihkan ke entitas baru yang kamu dirikan. Mereka tidak akan bisa melacak jejaknya dalam waktu dekat.”
Aku tersenyum tipis. Ternyata, membalas dendam tidak perlu dengan teriakan. Cukup dengan menekan tombol ‘Enter’.

Pintu kamar terbuka dengan kasar. Raka masuk, wajahnya pucat pasi, matanya sembab karena panik. Ia memegang ponselnya dengan tangan gemetar. “Alya… apa yang kamu lakukan? Sistem keuangan perusahaan membeku. Investor dari Jepang membatalkan kontrak mereka pagi ini karena mendeteksi anomali likuiditas. Ibu… Ibu histeris di ruang tengah.”
Aku tetap duduk di kursi, menatap bayanganku sendiri di layar laptop yang gelap. “Aku hanya mengambil kembali apa yang memang milikku, Raka. Bukankah Ibu bilang aku hanyalah orang luar? Sekarang, aku akan berhenti menjadi orang luar itu.”
Raka mendekat, suaranya parau. “Kamu menghancurkan segalanya. Semua kerja keras keluarga ini selama puluhan tahun…”
“Bukan aku yang menghancurkannya, Raka,” potongku dingin. Aku berdiri, menatapnya tajam. “Ibumu yang menabur badai malam ini. Dia pikir dia bisa membuangku seperti sampah setelah aku memberikan segalanya untuk perusahaan ini. Dia lupa satu hal: dalam bisnis, tidak ada yang namanya ‘keluarga’ jika salah satu pihak terus-menerus mencoba membunuh pihak lainnya.”
Pagi hari datang dengan kekacauan total. Berita tentang kolapsnya Santoso Nusantara Group menyebar luas di portal bisnis. Saham perusahaan anjlok hingga mencapai level terendah dalam dekade terakhir. Rumah mewah di Pondok Indah itu kini berubah menjadi pusat krisis. Para investor, kreditor, dan media sudah berkumpul di depan pagar besi yang megah.
Bu Ratna, yang biasanya tampak angkuh dengan perhiasan berliannya, kini terduduk lesu di sofa ruang tamu dengan pakaian yang masih sama seperti semalam. Rambutnya berantakan. Paman Hendra dan Bibi Lanny berteriak-teriak di telepon, mencoba mencari jalan keluar yang sudah tidak ada.
Aku turun ke lantai bawah dengan gaun baru—kali ini berwarna putih, bersih dan elegan. Aku tidak lagi tampak seperti menantu yang takut. Aku berjalan bak pemilik sah bangunan itu.
“Siapa yang mengizinkanmu turun?” teriak Bu Ratna dengan sisa tenaga. Matanya yang merah menatapku dengan kebencian yang belum surut. “Kamu! Pasti kamu dalang di balik semua ini!”
Aku berhenti tepat di depannya. Semua orang terdiam. Raka berdiri di samping ibunya, tampak terjepit di antara dua api.
“Iya, aku dalangnya,” jawabku datar. “Dan aku datang untuk menawarkan satu-satunya jalan keluar.”
Aku mengeluarkan sebuah dokumen dari tas kerjaku. “Aku akan menyuntikkan kembali dana tersebut, dengan satu syarat.”
“Syarat apa?” tanya Paman Hendra dengan suara penuh harapan.
Aku menoleh ke arah Bu Ratna. “Ibu harus menandatangani surat pengunduran diri dari posisi Komisaris Utama, menyerahkan seluruh saham mayoritas kepada Raka, dan Ibu harus meninggalkan rumah ini hari ini juga. Ibu akan pindah ke rumah peristirahatan di Puncak dan tidak diizinkan ikut campur dalam keputusan perusahaan seumur hidup.”
“Gila! Kamu memeras kami!” teriak Bu Ratna.
“Memeras?” aku terkekeh. “Ini adalah negosiasi bisnis, Bu. Ibu yang mengajarkan bahwa di dunia ini, siapa yang punya modal, dia yang punya kuasa. Dan sekarang, akulah pemegang kendali itu.”
Ketegangan mencapai puncaknya. Semua orang di ruangan itu menatap Bu Ratna, menunggu keputusannya. Mereka tahu, jika tidak setuju, kekaisaran bisnis ini akan tamat dalam waktu kurang dari 24 jam.
Raka menunduk, lalu menatap ibunya. “Ma, lakukanlah. Alya benar. Kita tidak punya pilihan lagi.”
Dengan tangan gemetar, Bu Ratna menandatangani dokumen itu. Saat tinta hitam menyentuh kertas, aku tahu permainanku berakhir dengan kemenangan mutlak. Tapi, saat aku hendak mengambil dokumen itu, sebuah rahasia yang selama ini tersimpan rapat akhirnya pecah.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Seorang wanita muda yang tidak kukenal—namun wajahnya tampak familiar—masuk dengan dikawal dua orang pengacara. Ia membawa seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun.
“Raka!” panggil wanita itu.
Suasana menjadi lebih mencekam dari sebelumnya. Raka membeku. Wajahnya berubah pucat pasi, jauh lebih pucat daripada saat perusahaan kolaps.
Wanita itu melangkah maju. “Aku tidak peduli dengan uang kalian yang hilang. Aku hanya ingin Raka bertanggung jawab atas anak ini. Hasil tes DNA sudah keluar minggu lalu.”
Duniaku berhenti berputar. Aku menatap Raka, yang kini tidak berani menatap mataku. Aku menatap anak kecil itu, yang memiliki fitur wajah sangat mirip dengan Raka.
Bu Ratna tertawa. Tawa yang parau, getir, dan penuh kemenangan meski dalam kekalahan. “Lihat, Alya? Kamu pikir kamu sudah menang? Kamu menghancurkan perusahaan ini untuk suamimu yang bahkan tidak setia?”
Aku menatap mereka semua—keluarga yang penuh kebencian, suami yang berkhianat, dan masa depan yang tiba-tiba terasa hancur. Aku memegang perutku. Janin yang kukandung, satu-satunya alasan aku bertahan selama ini, terasa seperti sebuah ironi yang kejam.
Aku meletakkan dokumen itu di meja. Aku tidak butuh perusahaan ini lagi. Aku tidak butuh Raka.
“Ambil semuanya,” kataku sambil berbalik arah. “Perusahaan ini, rumah ini, dan laki-laki ini. Semuanya milik kalian.”
Aku berjalan keluar menuju pintu utama. Di halaman, aku berhenti sejenak, menghirup udara pagi yang terasa sangat bebas. Aku menyadari satu hal yang tidak mereka ketahui: dana 800 miliar itu sebenarnya bukanlah milik Santoso Group. Itu adalah dana laundering yang dilakukan keluarga Santoso secara ilegal selama bertahun-tahun, yang diam-diam aku kumpulkan buktinya sebagai asuransi-ku.
Saat aku melangkah menuju taksi yang sudah menunggu, aku mendengar sirine polisi mendekat. Aku tidak menoleh ke belakang saat mereka menyerbu rumah besar itu untuk menangkap seluruh keluarga Santoso atas tuduhan pencucian uang berskala besar.
Aku tersenyum tipis, mengelus perutku. Aku mungkin kehilangan segalanya hari ini, tapi aku baru saja memenangkan kebebasan yang tidak bisa dibeli dengan miliaran rupiah.
Permainan ini baru saja dimulai, dan kali ini, aku tidak lagi bermain untuk mereka.
