Langkah kakiku yang mengenakan sepatu stiletto berbunyi nyaring di lantai bandara, berirama seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuran mereka. Rama dan Lina masih asyik dengan ponsel mereka, merencanakan surga palsu di Paris, tidak menyadari bahwa maut karier mereka tengah mendekat.
Tepat lima langkah di depan mereka, aku berhenti. Aku melepas kacamata hitamku perlahan.
“Paris adalah kota yang indah, Rama. Tapi sayangnya, kalian tidak akan pernah sampai ke sana,” ucapku dengan nada datar namun tajam seperti silet.
Rama tersentak hebat, hampir menjatuhkan kopernya. Wajahnya yang semula angkuh berubah pucat pasi, seperti melihat hantu di siang bolong. Lina di sampingnya ternganga, tangannya gemetar hebat. “Ma… Maya? Ka-kau harusnya di kantor!” gagap Rama, keringat dingin mulai membanjiri dahinya.
“Kantor? Oh, aku sudah menyelesaikan semua urusanku di sana, termasuk memberikan surat pemecatan untuk ‘rekan kerja kompeten’ ini,” kataku sambil menatap Lina dengan pandangan menghina. “Dan untukmu, Rama, terima kasih sudah mengingatkanku tentang hari jadi kita yang ketujuh. Karena itulah, aku sudah menyiapkan ‘hadiah’ spesial.”

Tepat saat itu, empat pria berseragam kepolisian bandara yang dipimpin oleh Pak Surya muncul dari balik kerumunan. Mereka tidak bersuara, namun kehadiran mereka sangat mengintimidasi. Rama mencoba berdiri, mencoba memasang wajah berwibawa, namun kakinya lemas.
“Ada apa ini? Maya, ini salah paham!” Rama mencoba berteriak, menarik perhatian orang-orang sekitar.
“Salah paham? Rekening offshore di Cayman Islands? Pemindahan aset perusahaan secara ilegal?” Aku mendekat ke telinganya, berbisik cukup keras agar Lina juga mendengarnya. “Aku sudah memindahkan seluruh dana itu ke rekening pribadi yang sudah dibekukan secara hukum oleh bank sentral pagi ini. Uang itu tidak lagi berada di rekening bersama, Rama. Uang itu sekarang menjadi bukti kuat dalam laporan tindak pidana penggelapan aset perusahaan dan pencucian uang.”
Rama terbelalak. Dia mencoba merogoh tas kerjanya, namun Pak Surya sudah lebih dulu menahan tangannya. “Bapak Rama, Anda ditahan atas tuduhan percobaan pencurian aset negara dan penggelapan dana perusahaan senilai lima puluh miliar rupiah. Mohon ikut kami ke ruang pemeriksaan.”
“Tidak! Ini fitnah! Maya, jangan lakukan ini padaku!” teriak Rama histeris, sementara Lina mulai menangis tersedu-sedu, wajahnya yang penuh makeup mahal kini berantakan.
Aku hanya berdiri mematung, menatap mereka dibawa pergi. Namun, drama ini belum berakhir. Saat Rama diseret menjauh, dia menoleh ke arahku dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam. “Kau pikir kau menang, Maya? Lihat apa yang akan terjadi pada Wijaya Capital besok pagi! Aku sudah menjual akses data perusahaan kepada kompetitor kita. Kamu akan bangkrut bahkan sebelum sidang pertama dimulai!”
Rama tertawa jahat, sebuah tawa putus asa. Namun, aku justru tersenyum. Senyum yang membuat nyali Rama menciut seketika.
“Data itu?” aku bertanya tenang. “Data yang kau jual ke kompetitor? Oh, Rama, kamu benar-benar pria yang ceroboh. Data yang kau ambil dari server utama itu adalah dummy files—data palsu yang sudah aku siapkan selama dua minggu terakhir untuk menjebak siapa pun yang mencoba menyusup ke sistem. Kompetitor kita sekarang justru sedang terjebak dalam tuntutan hukum karena mencoba menggunakan data ilegal yang berisi malware pelacak dari tim IT-ku.”
Dunia Rama seolah runtuh. Wajahnya yang semula memerah karena amarah kini membiru karena ketakutan yang luar biasa. Dia baru saja menyadari bahwa dia bukan hanya kehilangan harta, tapi juga kehilangan harga diri dan masa depannya secara total.
Saat mereka benar-benar hilang dari pandangan, aku menarik napas panjang. Beban berat yang kurasakan di pundakku selama tujuh tahun ini seolah menguap begitu saja. Namun, tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk:
“Permainan yang cantik, Maya. Tapi apakah kamu benar-benar berpikir hanya Rama yang menginginkan hartamu? Selamat menikmati kehancuran perusahaanmu dari dalam. – S.”
Darahku mendesir. Aku segera menghubungi Pak Hendra, namun panggilannya dialihkan. Aku membalikkan badan, bermaksud meninggalkan bandara dengan cepat, namun langkahku terhenti saat melihat seseorang yang sangat tidak terduga berdiri di pintu keluar.
Itu Sari. Sahabatku.
Sari tidak jadi terbang ke Kanada. Dia berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang sama dengan yang dikenakan oleh orang-orang di tim keamanan internal perusahaan. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat dingin, sangat berbeda dengan tatapan hangat yang selalu dia berikan selama bertahun-tahun.
“Sari? Kenapa kamu masih di sini? Penerbanganmu…” suaraku tertahan.
Sari berjalan mendekat, setiap langkahnya penuh dengan ancaman. “Aku tidak pernah berniat pergi ke Kanada, Maya. Aku ditugaskan untuk memastikan kamu tetap berada di puncak agar ketika waktu yang tepat tiba, aku bisa meruntuhkan semuanya sekaligus. Rama hanyalah pion bodoh yang membuat segalanya menjadi lebih mudah.”
Aku terperangah. “Kau? Selama ini kamu?”
“Kamu terlalu sibuk mengawasi suamimu yang bodoh, sampai kamu lupa siapa yang sebenarnya memegang kunci akses cadangan server Wijaya Capital sejak tiga tahun lalu,” bisik Sari di depan wajahku.
Tiba-tiba, lampu di area terminal itu berkedip dan padam sesaat. Saat lampu kembali menyala, tim keamanan yang tadinya membantuku menangkap Rama kini justru mengelilingiku, menghalangi jalan keluar. Aku terjebak. Bukan di tangan suamiku, tapi di tangan sahabat yang paling kupercaya.
Aku menyadari satu hal krusial: ini bukan jebakan yang kubuat untuk Rama. Ini adalah perangkap raksasa yang sudah disiapkan oleh seseorang yang lebih jenius dari aku—dan Sari adalah eksekutornya. Saat aku mengeluarkan ponselku untuk menghubungi bantuan, layarnya mati total. Sistem keamanan bandara dan sistem komunikasiku telah dikuasai sepenuhnya.
“Selamat datang di babak baru, Maya,” kata Sari sambil tersenyum sinis. “Di mana kamu bukan lagi CEO, melainkan tersangka utama dalam kasus yang kamu sendiri tidak tahu kapan dimulai.”
Aku berdiri tegak di tengah kepungan itu, menantang takdir yang baru saja berputar 180 derajat. Aku mungkin kehilangan segalanya hari ini, tapi satu hal yang mereka lupa: aku adalah Maya Prameswari. Dan jika mereka ingin bermain, aku akan memastikan permainan ini akan berakhir dengan api yang membakar semua orang.
Aku tersenyum balik pada Sari, sebuah senyum yang membuat sahabatnya itu sedikit mundur. “Mainkan babaknya, Sari. Tapi ingat, setiap pemain yang merasa sudah menang, biasanya adalah yang paling pertama jatuh.”
Di kejauhan, sirine polisi semakin mendekat, bukan untuk menolongku, melainkan untuk menjemputku. Namun, di tanganku, aku masih menggenggam alat perekam kecil yang merekam pengakuan Sari barusan. Pertarungan yang sebenarnya, baru saja dimulai.
