Malam itu, aku tersungkur di atas karpet beludru ruang tengahku. Riasan wajah yang kubuat dengan harga jutaan rupiah kini luntur, menghitam di bawah kelopak mata, persis seperti reruntuhan harga diriku sendiri. Aku merasa bodoh. Aku merasa sangat kecil.
Ponselku berdenting. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal. Isinya singkat, namun membuat jantungku berhenti berdetak:
“Terima kasih sudah datang, Laras. Gaun merahmu sangat cantik, tapi hatimu jauh lebih indah jika kau mau melepaskannya. Datanglah besok ke rumah sakit tempat Sinta dirawat. Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang mengapa Dimas memilihnya.”
Keesokan harinya, dengan sisa keberanian yang kupaksakan, aku melangkah menuju sebuah rumah sakit swasta yang tenang. Aku menemukan kamar Sinta di bangsal rehabilitasi. Pintu sedikit terbuka. Aku berniat berbalik, namun sebuah suara lembut menahanku.
“Masuklah, Laras. Aku sudah menunggumu.”
Itu Sinta. Ia duduk di kursi rodanya, membelakangi jendela besar yang diterpa cahaya matahari pagi. Ia tidak memakai riasan tebal seperti kemarin, hanya wajah polos yang pucat namun tetap memancarkan ketenangan yang aneh. Dimas tidak ada di sana.
“Kenapa aku?” tanyaku, suaraku parau.
Sinta memberikan sebuah berkas tua kepadaku. “Bacalah. Ini bukan tentang cinta yang menang atau kalah. Ini tentang sebuah janji yang harus diselesaikan.”
Saat aku membuka berkas itu, duniaku tidak lagi runtuh—duniaku meledak.
Itu adalah catatan medis tahun-tahun terakhir pernikahan kami. Aku tertegun. Di sana tertulis bahwa sejak tiga tahun lalu, Dimas bukan pergi meninggalkanku karena ia menemukan wanita lain. Ia meninggalkan rumah karena ia didiagnosis menderita penyakit degeneratif saraf yang perlahan akan mematikan fungsi motoriknya. Ia akan berakhir di kursi roda, sama seperti Sinta.
Aku menatap Sinta dengan ngeri. “Lalu, Dimas…?”
“Dimas tidak ingin kau melihatnya hancur, Laras. Dia mencintaimu terlalu dalam hingga ia lebih memilih menjadi ‘pria jahat’ yang mencampakkanmu agar kau bisa mencari pria lain yang sempurna,” ucap Sinta perlahan.
“Lalu kau?”
Sinta tersenyum, kali ini senyumnya penuh kepedihan. “Aku adalah dokter spesialis yang menangani kasusnya saat itu. Kami berdua adalah pasien yang memiliki diagnosis serupa. Kami saling menemukan di ruang terapi. Dia tidak menikahiku karena dia mencintaiku seperti dia mencintaimu, Laras. Dia menikahiku karena dalam sisa waktu yang kami miliki, kami adalah satu-satunya orang yang benar-benar mengerti arti ‘kehilangan diri sendiri’ di depan orang lain.”
Lututku lemas. Aku jatuh terduduk. Selama ini, aku hidup dalam dendam, membenci pria yang justru mengorbankan kebahagiaannya agar aku tidak perlu menanggung beban merawatnya di masa depan.
“Dia ada di mana sekarang?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Di ruangan sebelah. Dia sedang menjalani prosedur yang… mungkin tidak akan membuatnya bangun lagi,” jawab Sinta.
Aku berlari. Aku menerobos pintu ruangan sebelah dengan napas tersengal. Di sana, Dimas terbaring lemah, tubuhnya yang dulu gagah kini terlihat rapuh di balik selimut putih. Monitor detak jantung berbunyi ritmis, lambat dan menyayat hati.
Ia membuka matanya perlahan. Saat melihatku, matanya yang redup tiba-tiba berbinar. “Laras…?” bisiknya lemah.
“Bodoh! Kamu benar-benar bodoh, Dimas!” teriakku sambil menggenggam tangannya. Air mataku jatuh di punggung tangannya yang dingin. “Kenapa kau tidak pernah memberitahuku? Kenapa aku harus membencimu selama ini?”
Dimas tersenyum, senyum yang sama yang kulihat di resepsi—penuh kekaguman. “Karena melihatmu hidup dengan sukses, dengan gaun mewah itu, jauh lebih baik daripada melihatmu menangis di samping tempat tidur rumah sakit selama tiga tahun ke depan. Aku ingin kau terus menjadi Laras yang angkuh dan cantik, bukan Laras yang merawat orang sekarat.”

“Aku tidak peduli!” isakku.
Dimas menggeleng pelan. Ia menatap ke arah pintu, di mana Sinta duduk di kursi rodanya, memperhatikan kami dengan pandangan penuh pengertian.
“Sinta adalah orang yang memintaku untuk menghubungimu. Dia tahu, akhir perjalananku tidak akan ada di rumah, tapi di sini. Dan dia ingin aku menutup mata dengan tahu bahwa orang yang paling kucintai tidak lagi membenciku.”
Tepat saat itu, alarm monitor jantung berbunyi panjang. Garis di layar menjadi lurus.
Aku berteriak, memanggil namanya, namun genggaman tangannya di tanganku perlahan melonggar. Dimas pergi. Dia pergi dengan kebohongan yang ia anggap sebagai bentuk kasih sayang tertinggi.
Satu bulan berlalu. Aku tidak lagi menjadi wanita yang angkuh. Aku menjual apartemen mewalku dan berhenti dari pekerjaan di multinasional. Aku mendirikan yayasan untuk membantu para penyandang disabilitas—sebuah penghormatan kecil untuk Dimas dan Sinta.
Aku sering mengunjungi Sinta di rumah sakit. Kami tidak lagi menjadi rival. Kami menjadi dua wanita yang dipersatukan oleh satu pria yang mengorbankan segalanya demi satu alasan: agar orang yang dicintainya bisa terus melangkah maju tanpa beban.
Suatu sore, Sinta menyerahkan sebuah amplop padaku. Itu adalah surat yang ditulis Dimas tepat seminggu sebelum pernikahan kami.
“Laras, maafkan aku. Jika kau membaca ini, artinya aku sudah tiada. Aku tidak pernah benar-benar meninggalkanmu. Aku hanya mencoba memberikanmu waktu untuk jatuh cinta pada dirimu sendiri sebelum kau harus melihat diriku yang hancur. Terima kasih telah datang ke resepsiku. Melihatmu cantik di gaun merah itu adalah kenangan terakhir yang kubawa ke alam baka.”
Aku menatap langit Jakarta yang sore itu berwarna jingga. Ternyata, kemenangan yang selama ini kucari—menjadi lebih baik, menjadi lebih unggul—tidak ada artinya dibandingkan dengan kasih sayang yang tidak perlu diumbar.
Aku memeluk amplop itu erat-erat. Akhirnya, aku mengerti. Cinta bukan tentang siapa yang berdiri tegak dan siapa yang duduk di kursi roda. Cinta adalah tentang bagaimana kita membiarkan orang lain tetap bersinar, bahkan saat cahaya kita sendiri sudah padam.
Dan di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, aku akhirnya menemukan kedamaian yang selama tiga tahun ini lari dariku. Aku tidak kalah. Aku hanya belajar arti mencintai yang sesungguhnya: melepaskan, agar dia bisa bebas dari rasa sakit yang tak sanggup kubayangkan.
