SETELAH BERCERAI DENGAN ARGA, AKU TIBA-TIBA MENERIMA TRANSFER 10 MILIAR RUPIAH DARI KAKAKNYA YANG DIKABARKAN HILANG SETELAH INSIDEN KECELAKAAN

Suara di seberang telepon itu tidak sekadar tenang; ia memiliki frekuensi rendah yang membuat bulu kudukku berdiri, seolah-olah Bima sedang berbisik tepat di belakang telingaku, bukan di seberang sambungan seluler.

“Bima? Bagaimana bisa? Semua orang mengira kamu sudah tiada,” suaraku tercekat, nyaris seperti bisikan.

“Dunia ini panggung sandiwara, Rina,” jawabnya dingin. “Dan Arga adalah sutradara yang paling buruk. Aku tidak mati, aku hanya sedang mengawasi dari bayang-bayang. Uang itu milikmu—bagian dari warisan perusahaan yang Arga coba singkirkan dariku. Jangan khawatir soal legalitasnya. Semuanya bersih.”

Sambungan terputus. Aku duduk membeku. Apartemen yang tadinya terasa sebagai tempat perlindungan, kini mendadak terasa seperti akuarium. Aku merasa diawasi dari celah ventilasi, dari balik tirai, dari setiap sudut ruangan.

Malam itu, aku tidak tidur. Aku menghabiskan waktu dengan meriset Bima di internet, mencari berita kecelakaan itu lagi. Sebuah artikel arsip lama muncul. “Kapal pesiar pribadi Bima Pratama ditemukan kosong di perairan Halmahera. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, hanya sebuah kamera digital yang tertinggal di dek.”

Besok malamnya, aku pergi ke kafe di Senopati. Tempat itu sepi, hanya ada satu pria duduk di pojok, mengenakan topi fedora dan mantel panjang meski udara Jakarta cukup hangat. Saat aku mendekat, dia berbalik. Wajahnya… itu benar-benar Bima. Tapi lebih tua, dengan bekas luka samar di pelipisnya.

“Duduklah,” katanya tanpa basa-basi.

Aku duduk dengan jantung berdegup kencang. “Kenapa aku? Kenapa mengawasiku? Dan kenapa uang itu?”

Bima mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari balik mantelnya. “Arga tidak pernah mencintaimu, Rina. Dia menikahimu karena kamu adalah kunci dari akses brankas digital ayah kami yang menyimpan bukti kejahatan pencucian uang yang dia lakukan selama lima tahun terakhir. Dia memanipulasimu untuk mendapatkan sidik jari dan retina matamu melalui alat ‘keamanan’ yang dia pasang di rumah kalian dulu.”

Aku ternganga. “Alat pemindai sidik jari di pintu rumah?”

“Tepat,” jawab Bima. “Dia gagal membobol sistem itu sendiri. Dia butuh aksesmu. Foto-foto itu? Itu bukan sekadar pengawasan. Itu adalah perlindungan. Aku harus memastikan dia tidak menyakitimu begitu dia sadar kamu sudah tidak bisa digunakan lagi untuk mengakses brankas itu.”

Tiba-tiba, kaca jendela kafe pecah berhamburan. Suara tembakan meredam seisi ruangan. Bima menarikku jatuh ke bawah meja. Pintu kafe terbuka kasar, dan di sana berdiri Arga, memegang pistol dengan tangan gemetar.

“Aku tahu kamu masih hidup, Kakak sialan!” teriak Arga. Matanya merah, tampak kehilangan akal sehat. “Serahkan kodenya, Rina! Aku tahu dia memberikan kodenya padamu!”

Aku menatap Bima, lalu menatap Arga. Dalam momen krusial itu, sebuah ingatan muncul. Saat aku sedang beres-beres apartemen tadi pagi, aku menemukan sebuah flashdisk kecil yang terselip di balik bingkai salah satu foto Bima. Aku pikir itu hanya bagian dari koleksi, tapi kini aku sadar.

Aku meraih tas kecilku, mengeluarkan flashdisk itu, dan menatap Arga dengan keberanian yang tidak tahu datang dari mana. “Arga, uang itu bukan milik Bima. Uang itu milikmu, hasil curianmu. Dan flashdisk ini… berisi semua rekaman percakapanmu dengan para koruptor itu.”

Arga tertawa histeris. “Kau pikir kau bisa mengancamku dengan itu? Aku yang membayar polisi!”

Namun, Bima tiba-tiba bangkit berdiri, tidak takut pada moncong pistol itu. “Lihat sekelilingmu, Arga.”

Aku menoleh. Ternyata kafe itu bukan kosong. Di setiap sudut, dari balik meja kasir hingga bar, orang-orang yang berpura-pura menjadi pengunjung perlahan berdiri. Mereka bukan pelanggan. Mereka adalah detektif polisi dengan senjata terhunus.

Arga terdiam, wajahnya pucat pasi. Dia dikepung. Namun, sebelum polisi bisa menangkapnya, Arga tersenyum aneh. “Kalian pikir kalian menang? Rina, kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Arga menekan sebuah tombol di jam tangannya. Seketika, layar besar di kafe itu menyala, menampilkan rekaman CCTV yang menayangkan diriku di apartemen tadi malam. Namun, rekaman itu menunjukkan sesuatu yang tidak kuingat.

Di layar, aku terlihat berbicara sendiri, tertawa, dan menyusun foto-foto itu bukan dengan wajah ketakutan, melainkan dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Aku melihat diriku sendiri di layar memegang pisau dapur dan bergumam, “Satu langkah lagi, Rina. Arga akan datang ke sini, dan kita akan mengakhiri sandiwara ini.”

Aku tertegun. Aku tidak pernah melakukan itu.

Arga menatapku dengan kasihan yang dibuat-buat. “Rina, kau tidak bercerai karena pertengkaran biasa. Kau bercerai karena kau mengalami gangguan identitas disosiatif akibat tekanan hidup. Bima? Bima sudah mati lima tahun lalu, Rina. Orang yang duduk di depanmu sekarang… itu adalah bayanganmu sendiri. Kau yang menyewa orang untuk berperan sebagai Bima. Kau yang mentransfer uang itu ke rekeningmu sendiri melalui peretasan yang kau lakukan saat fase ‘kepribadian’ lainmu muncul.”

Dunia seolah runtuh. Aku menatap pria di depanku. Bima—atau siapa pun dia—perlahan memudar, wajahnya berubah, bukan lagi Bima, melainkan seorang aktor yang disewa.

“Kau menghabiskan uang tabungan hidupmu sendiri untuk skenario ini, Rina,” bisik aktor itu sambil memegang bahuku. “Aku hanya menjalankan peran yang kau tulis di buku harianmu sendiri.”

Arga menatapku dengan kebencian yang murni. “Kau sakit, Rina. Dan sekarang, seluruh dunia tahu.”

Aku melihat ke arah polisi, ke arah kamera, dan akhirnya ke arah cermin di dinding kafe. Bayanganku di cermin tidak menatapku balik dengan ketakutan. Dia tersenyum—senyum yang sangat jahat dan sangat sadar.

Aku menyadari satu hal terakhir: Aku memang sengaja merancang ini semua. Aku sengaja memicu skenario ini agar Arga datang ke sini, agar dia terekspos oleh polisi yang kupanggil sendiri, meskipun aku harus mengorbankan kewarasanku di mata dunia.

“Ya,” bisikku pada bayanganku sendiri di cermin, saat polisi memborgolku bersama Arga. “Ini baru permulaan.”

Ternyata, dialah yang selama ini menjadi dalang, dan dia baru saja memenangkan permainan catur yang paling gila dalam hidupnya. Dan di balik semua itu, 10 miliar tersebut? Itu hanyalah uang yang ia curi dari rekening Arga melalui teknik phishing tingkat tinggi yang ia pelajari selama masa pernikahan mereka yang beracun.

Permainan belum berakhir. Ia hanya baru saja memulai babak kedua dari dalam penjara.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang