Tamparan itu mendarat begitu keras di pipiku hingga kepalaku menoleh ke samping. Selama beberapa detik aku hanya bisa berdiri membeku. Rasa perih di wajah bahkan kalah menyakitkan dibanding kenyataan bahwa orang yang baru dua hari lalu bersumpah akan mencintaiku seumur hidup kini mengangkat tangan kepadaku hanya karena aku menolak melayani adiknya yang sehat dan mampu mengambil makanannya sendiri.
Ruangan itu mendadak sunyi. Clara berdiri dengan kedua tangan bersedekap sambil menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan. Julian masih menatapku dengan napas memburu, seolah merasa apa yang baru saja dilakukannya adalah sesuatu yang wajar.
“Mulai sekarang, jangan pernah membantah aku lagi,” katanya dingin. “Selama kamu menjadi istriku, kamu harus menghormati keluargaku.”
Aku perlahan mengangkat wajah dan menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak ada air mata. Tidak ada teriakan. Hanya ada rasa kecewa yang begitu dalam hingga aku merasa seluruh mimpiku runtuh dalam hitungan detik.

Aku melepaskan celemek yang masih kupakai lalu meletakkannya di atas meja.
“Makanannya sudah siap,” kataku pelan. “Kalau kalian lapar, ambil sendiri.”
Aku berjalan masuk ke kamar tanpa menoleh lagi. Di belakangku, Clara masih terdengar mengomel.
“Lihat, Kak? Baru juga menikah sudah berani ngambek.”
Julian tidak mengejarku.
Malam itu aku duduk sendirian di tepi tempat tidur sambil memandangi foto pernikahan kami yang masih berdiri di meja samping. Senyum kami di foto itu terlihat begitu bahagia. Sulit dipercaya bahwa foto itu baru diambil dua hari yang lalu.
Aku menyentuh pipiku yang mulai membengkak.
Ibuku pernah berkata, “Kalau seorang laki-laki berani memukulmu sekali, jangan berharap itu akan menjadi yang terakhir.”
Saat itu aku menganggap nasihat itu terlalu berlebihan.
Kini aku mengerti.
Keesokan paginya aku bangun lebih awal. Julian masih tertidur. Aku keluar membeli sarapan hanya untuk diriku sendiri. Ketika kembali, Clara langsung memprotes.
“Makananku mana?”
“Aku tidak membeli untukmu.”
“Wah, pelit banget.”
Aku hanya tersenyum tipis.
“Aku bukan pembantumu.”
Julian yang baru keluar dari kamar langsung memandangku tajam.
“Maya, jangan mulai lagi.”
“Aku tidak mulai apa-apa.”
Sejak saat itu aku berhenti melakukan semua hal yang sebelumnya kulakukan dengan tulus. Aku hanya memasak untuk diriku sendiri. Aku mencuci pakaianku sendiri. Aku membersihkan bagian rumah yang kugunakan. Sisanya kubiarkan.
Dalam tiga hari, apartemen mulai berantakan.
Piring menumpuk di wastafel. Bungkus makanan berserakan di ruang tamu. Clara tetap menghabiskan waktunya menonton drama dan bermain media sosial. Julian pulang kerja lalu langsung bermain gim.
Suatu malam Julian akhirnya kehilangan kesabaran.
“Kenapa rumah jadi sekotor ini?”
Aku menutup buku yang sedang kubaca.
“Karena ada tiga orang dewasa yang tinggal di sini.”
“Maksudmu?”
“Aku membersihkan bagianku. Sisanya milik kalian.”
“Kamu istriku!”
“Benar. Bukan pembantu rumah tangga.”
Perdebatan malam itu berlangsung cukup lama. Namun aku tidak lagi menangis. Semakin Julian meninggikan suara, semakin tenang aku berbicara.
Beberapa hari kemudian aku mulai kembali bekerja dari kantor. Selama ini aku sebenarnya mengambil cuti panjang untuk menikah.
Di kantor, sahabatku, Rina, langsung menyadari bekas samar di pipiku.
“Itu kenapa?”
Aku sempat ingin berbohong.
Namun akhirnya semua cerita keluar begitu saja.
Rina terdiam lama.
“Lapor polisi.”
Aku menggeleng.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Aku ingin melihat seberapa jauh mereka akan menunjukkan wajah aslinya.”
Rina menatapku prihatin.
“Hati-hati, Maya.”
Aku mengangguk.
Malam berikutnya, ketika aku baru selesai mandi, aku tanpa sengaja mendengar percakapan Julian dan Clara dari balkon.
“Akhirnya berhasil juga,” kata Clara sambil tertawa kecil.
“Tenang saja. Setelah nama apartemen ini digabung atas nama kita berdua, semuanya akan lebih mudah.”
“Tapi dia belum mau menandatangani berkas itu.”
“Nanti juga mau. Tinggal ditekan sedikit.”
Dadaku langsung sesak.
Apartemen itu memang kubeli jauh sebelum menikah menggunakan tabunganku sendiri. Julian sempat mengusulkan agar sertifikat kepemilikannya diubah menjadi atas nama bersama sebagai simbol kepercayaan.
Aku meminta waktu untuk berpikir.
Ternyata itulah tujuan mereka.
Aku kembali masuk ke kamar seolah tidak mendengar apa pun.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Keesokan harinya aku diam-diam menemui seorang pengacara.
Setelah mendengar seluruh ceritaku, pengacara itu berkata pelan, “Jangan tanda tangani apa pun. Simpan semua bukti.”
Sejak hari itu aku mulai mendokumentasikan semuanya.
Aku merekam saat Clara memerintahku.
Aku menyimpan pesan-pesan Julian yang berisi ancaman.
Aku memotret kondisi rumah.
Aku bahkan memasang kamera kecil di ruang tamu setelah berkonsultasi mengenai aspek hukumnya.
Dua minggu kemudian, kejadian yang kutunggu akhirnya datang.
Julian pulang membawa beberapa lembar dokumen.
“Ayo tanda tangan.”
“Apa ini?”
“Perubahan administrasi kepemilikan apartemen.”
“Aku belum mau.”
Wajah Julian langsung berubah.
“Kenapa?”
“Aku ingin membacanya dulu.”
“Tidak usah macam-macam.”
“Aku akan membaca.”
Julian membanting map ke meja.
“Selalu keras kepala!”
Clara ikut menyela.
“Kak, percuma baik-baik sama dia.”
Aku tetap duduk tenang.
Julian mendekat lalu mencengkeram lenganku dengan keras.
“Tanda tangan sekarang.”
“Aku tidak akan menandatangani sesuatu yang belum kubaca.”
Tanpa kusangka, ia kembali mengangkat tangan.
Namun kali ini aku sudah siap.
Sebelum tamparannya mengenai wajahku, aku menahan pergelangan tangannya.
“Jangan.”
Julian tampak terkejut.
“Berani kamu melawan?”
“Aku bukan melawan.”
Aku melepaskan tangannya perlahan.
“Aku sedang melindungi diriku.”
Aku mengambil ponselku lalu memutar sebuah rekaman.
Suara mereka dari balkon beberapa hari sebelumnya langsung memenuhi ruangan.
“…Setelah nama apartemen ini digabung atas nama kita berdua…”
Wajah Julian dan Clara seketika pucat.
“Kamu merekam kami?”
Aku tersenyum tipis.
“Belum selesai.”
Aku membuka folder lain.
Terdengar suara tamparan pertama, disusul ancaman-ancaman Julian selama dua minggu terakhir.
Lalu muncul rekaman kamera ruang tamu yang memperlihatkan Clara sengaja mengacak-acak rumah lalu menyalahkanku ketika Julian pulang.
Clara mulai panik.
“Itu… itu tidak bisa dijadikan bukti.”
“Benarkah?”
Bel pintu berbunyi.
Aku berjalan membukanya.
Di luar sudah berdiri kedua orang tuaku, seorang pengacara, dan dua petugas kepolisian yang sebelumnya telah kuhubungi setelah berkonsultasi mengenai langkah hukum.
Julian mundur beberapa langkah.
“Apa ini?”
Aku menatapnya untuk terakhir kalinya sebagai seorang istri.
“Ini akibat dari pilihanmu sendiri.”
Petugas kemudian meminta keterangan mengenai dugaan kekerasan dalam rumah tangga.
Julian mencoba membela diri.
“Itu cuma urusan rumah tangga!”
Salah satu petugas menjawab tegas, “Kekerasan bukan urusan pribadi.”
Sementara itu, Clara terus berusaha menyalahkanku.
“Dia memprovokasi!”
Ibuku yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Anakku kami besarkan dengan kasih sayang. Bukan untuk diperlakukan seperti budak.”
Hari itu Julian dibawa untuk menjalani pemeriksaan. Clara pun harus memberikan keterangan karena keterlibatannya dalam dugaan tekanan dan rencana pengambilalihan aset.
Seminggu kemudian aku resmi mengajukan gugatan cerai.
Banyak orang mencoba membujukku.
“Baru juga menikah.”
“Kasihan keluarganya.”
“Semua rumah tangga pasti ada masalah.”
Aku hanya menjawab singkat.
“Masalah bisa diselesaikan. Kekerasan adalah pilihan.”
Proses perceraian berlangsung beberapa bulan.
Di persidangan, Julian beberapa kali mencoba meminta maaf.
“Aku khilaf.”
“Berikan aku kesempatan.”
Namun permintaan maaf yang datang setelah semua terbongkar tidak lagi memiliki arti bagiku.
Hakim akhirnya mengabulkan gugatan cerai. Karena apartemen itu memang kubeli sebelum menikah dan seluruh bukti kepemilikan lengkap, aset tersebut tetap menjadi milikku sepenuhnya.
Julian keluar dari ruang sidang dengan kepala tertunduk.
Beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa perusahaan tempatnya bekerja mengetahui kasus kekerasan yang dilakukannya. Posisinya diturunkan karena dianggap mencoreng reputasi perusahaan. Clara pun akhirnya harus pindah dari apartemen sewa yang selama ini dibiayai kakaknya dan mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Suatu sore, hampir setahun setelah semua itu berlalu, aku duduk di balkon apartemenku menikmati secangkir kopi.
Apartemen ini kembali tenang.
Tidak ada lagi teriakan.
Tidak ada lagi perintah.
Tidak ada lagi rasa takut.
Rina datang berkunjung sambil tersenyum.
“Kalau mengingat semua itu, apa kamu menyesal pernah menikah dengannya?”
Aku memandang langit Jakarta yang mulai berubah jingga.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang aku tahu satu hal yang sangat penting.”
“Apa?”
“Cinta yang sehat tidak pernah meminta seseorang kehilangan harga dirinya.”
Aku tersenyum, kali ini dengan tulus.
Dua hari setelah pernikahan, Julian merasa telah menghancurkan keberanianku dengan sebuah tamparan.
Yang tidak pernah ia duga adalah bahwa tamparan itulah yang justru membuka mataku, menyelamatkan masa depanku, dan menjadi awal runtuhnya dunia yang ia bangun di atas kebohongan, keserakahan, dan rasa ingin menguasai orang lain.
Sejak hari itu aku tidak lagi takut kehilangan seorang suami.
Karena aku telah berhasil mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga: diriku sendiri.
