Aku pulang dari Negros ke Mindanao untuk merawat Ayah yang kembali dirawat di rumah sakit karena tekanan darahnya melonjak drastis. Kakakku sudah berkeluarga dan tinggal jauh, sementara aku masih sendiri. Jadi, tanpa banyak pertanyaan, semua orang menganggap akulah yang paling tepat menemani Ayah.
Malam itu, ketika cairan infus Ayah hampir habis, aku keluar dari kamar untuk mencari perawat.
Namun baru beberapa langkah menyusuri lorong, kakiku seakan terpaku.
Di ujung koridor berdiri seseorang yang selama ini hanya muncul dalam mimpi-mimpi yang selalu berakhir dengan air mata.
Jacob.

Mantan kekasihku.
Lima tahun berlalu sejak kami berpisah tanpa penjelasan yang benar-benar bisa kuterima. Pria yang pernah berjanji akan membangun rumah sederhana bersamaku, yang pernah berkata bahwa kami akan menua sambil saling menggenggam tangan. Tetapi suatu hari ia menghilang begitu saja, meninggalkan satu pesan singkat yang masih kuingat sampai sekarang.
Maafkan aku. Kita tidak bisa bersama lagi.
Hanya itu.
Nomorku diblokir. Semua media sosialku dihapus. Seolah aku tidak pernah ada dalam hidupnya.
Aku masuk kembali ke kamar Ayah, berharap ia tidak melihatku.
Namun beberapa menit kemudian pintu terbuka.
Jacob masuk mengenakan seragam putih seorang perawat.
“Ini anak saya, Janine,” kata Ayah sambil tersenyum.
Jacob menatapku beberapa detik.
“Lama tidak bertemu.”
Aku hanya mengangguk.
“Selamat malam.”
Suasana menjadi canggung.
Jacob memeriksa tekanan darah Ayah dengan profesional, mencatat hasilnya, lalu berkata bahwa kondisi Ayah mulai stabil.
Sebelum keluar, ia sempat menoleh.
“Kalau ada apa-apa, panggil saya.”
Aku tidak menjawab.
Begitu pintu tertutup, napasku baru terasa kembali.
Ayah memperhatikanku.
“Kamu kenal perawat itu?”
Aku tersenyum tipis.
“Dulu kami teman.”
Aku tidak sanggup mengatakan lebih dari itu.
Hari-hari berikutnya menjadi ujian kesabaranku.
Setiap pergantian shift, Jacob hampir selalu muncul.
Ia bersikap sopan, menjaga jarak, bahkan tidak pernah mencoba membahas masa lalu.
Justru sikap itulah yang membuatku semakin kesal.
Bagaimana mungkin seseorang bisa setenang itu setelah menghancurkan hidup orang lain?
Suatu malam, ketika Ayah sudah tidur, aku membeli kopi di kantin rumah sakit.
Saat berbalik, Jacob berdiri beberapa meter di depanku.
“Janine.”
Aku menghela napas.
“Ada apa?”
“Boleh kita bicara sebentar?”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Aku hendak pergi.
Namun ia berkata pelan.
“Aku minta maaf.”
Aku berhenti.
Kalimat itu terlambat lima tahun.
“Kata maafmu sudah tidak ada harganya.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa sekarang?”
Jacob menunduk.
“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak pernah meninggalkanmu karena berhenti mencintaimu.”
Aku tertawa sinis.
“Kalimat klasik.”
Ia tidak membalas.
Aku pergi meninggalkannya.
Kupikir semuanya akan selesai di situ.
Namun dua hari kemudian keadaan Ayah tiba-tiba memburuk.
Tekanan darahnya melonjak tinggi dan ia mengalami sesak napas.
Jacob menjadi orang pertama yang datang bersama dokter.
Ia bergerak cepat, memasang oksigen, membantu proses penanganan darurat, lalu terus berada di sisi Ayah hingga kondisinya stabil.
Melihatnya bekerja membuatku bingung.
Tatapannya penuh ketulusan.
Tangannya begitu tenang.
Sulit mempercayai bahwa pria sebaik itu pernah begitu kejam kepadaku.
Keesokan paginya, seorang perawat senior menghampiriku.
“Kamu keluarganya Pak Ramon?”
“Iya.”
“Jacob hampir semalaman tidak pulang. Dia terus memastikan ayahmu baik-baik saja.”
Aku terdiam.
“Dia memang begitu. Selalu mengutamakan pasien.”
Aku hanya mengangguk.
Malam berikutnya hujan turun deras.
Listrik sempat padam beberapa detik sebelum genset menyala.
Aku berdiri di balkon rumah sakit.
Jacob datang membawa dua gelas teh hangat.
“Kamu pasti belum makan.”
“Aku tidak lapar.”
Ia meletakkan gelas di sampingku.
“Aku tidak memintamu memaafkanku.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin menjelaskan.”
Aku tetap diam.
“Lima tahun lalu, ibuku didiagnosis gagal ginjal stadium akhir.”
Aku menoleh.
Ia melanjutkan.
“Biaya cuci darah sangat mahal. Aku berhenti kuliah selama setahun untuk bekerja.”
Aku mengernyit.
“Tapi itu bukan alasan menghilang.”
“Bukan.”
Ia menarik napas panjang.
“Beberapa bulan kemudian aku diperiksa. Dokter menemukan kelainan pada jantungku.”
Aku membeku.
“Aku harus menjalani operasi.”
Aku tidak mengatakan apa pun.
“Dokter bilang risikonya besar.”
“Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Aku tidak ingin kau menunggu seseorang yang mungkin tidak akan hidup.”
Air mataku mulai menggenang.
“Itu bukan keputusanmu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa memblokirku?”
“Ayahmu datang menemuiku.”
Aku terkejut.
“Apa?”
“Ia memintaku pergi.”
Aku langsung menggeleng.
“Itu tidak mungkin.”
Jacob tersenyum pahit.
“Beliau berkata kamu sudah terlalu banyak berkorban untukku. Beliau ingin kamu memiliki masa depan yang lebih baik.”
Dadaku sesak.
“Itu bohong.”
“Aku tidak marah pada beliau.”
Aku berlari kembali ke kamar.
Ayah masih terjaga.
“Ayah…”
“Iya?”
“Dulu… apakah Ayah pernah menemui Jacob?”
Wajah Ayah berubah.
Beberapa detik ia hanya memandang langit-langit.
Lalu mengangguk perlahan.
“Ayah memang menemuinya.”
Air mataku jatuh.
“Kenapa?”
“Ayah takut.”
“Takut apa?”
“Ayah melihat hidup kalian terlalu berat.”
Beliau menarik napas.
“Waktu itu ibunya sakit keras. Dia juga berhenti kuliah. Ayah tahu kalian akan sama-sama menderita.”
“Tapi Ayah tidak berhak memisahkan kami.”
“Ayah tahu.”
Suara beliau bergetar.
“Itulah penyesalan terbesar Ayah.”
Aku menangis tanpa suara.
Selama lima tahun aku membenci Jacob.
Padahal ia memikul semuanya sendirian.
Keesokan harinya aku mencari Jacob.
Namun ia sedang tidak bertugas.
Perawat lain mengatakan ia mengambil cuti sehari.
Aku merasa kehilangan.
Perasaan yang kukira sudah mati ternyata masih hidup.
Dua hari kemudian aku menemukannya sedang membantu seorang anak kecil belajar berjalan setelah operasi.
Ia tersenyum begitu hangat.
Anak itu tertawa bahagia.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat Jacob yang dulu kucintai.
Aku menghampirinya.
“Boleh bicara?”
Ia mengangguk.
Kami duduk di taman rumah sakit.
“Aku sudah bicara dengan Ayah.”
Jacob diam.
“Kenapa kau tidak pernah mencoba menjelaskan setelah semuanya selesai?”
Ia tersenyum tipis.
“Karena aku mendengar kamu pindah ke Negros.”
“Aku memang pindah.”
“Kemudian kudengar kamu bertunangan.”
Aku langsung menggeleng.
“Itu hanya rumor.”
Ia tertawa pelan.
“Ternyata kita sama-sama percaya kabar yang salah.”
Aku ikut tersenyum.
Sunyi terasa lebih nyaman daripada sebelumnya.
“Operasi jantungmu?”
“Berhasil.”
“Ibumu?”
Jacob menatap langit.
“Beliau meninggal dua tahun lalu.”
Aku menggenggam tangannya untuk pertama kali setelah lima tahun.
“Aku turut berduka.”
Ia menatapku.
Matanya masih sama.
Hangat.
Jujur.
Dan penuh luka.
Selama Ayah menjalani pemulihan, hubungan kami perlahan membaik.
Kami belum kembali sebagai pasangan.
Kami hanya dua orang yang akhirnya belajar berbicara dengan jujur.
Setelah Ayah diperbolehkan pulang, beliau memanggil Jacob.
“Terima kasih sudah merawat saya.”
Jacob tersenyum.
“Itu memang tugas saya, Pak.”
Ayah menggeleng.
“Bukan hanya sebagai pasien.”
Beliau memandang kami bergantian.
“Terima kasih karena masih memberi kesempatan pada orang tua yang pernah membuat kesalahan.”
Jacob menggenggam tangan Ayah.
“Saya sudah memaafkan Bapak sejak lama.”
Sebulan kemudian aku kembali ke Negros untuk menyelesaikan pekerjaanku.
Aku dan Jacob tetap berkomunikasi.
Bukan setiap jam.
Bukan juga setiap hari.
Namun cukup untuk saling mengetahui bahwa kami sama-sama sedang memperbaiki hidup.
Enam bulan kemudian aku menerima telepon dari rumah sakit.
Awalnya aku panik, mengira Ayah kambuh lagi.
Ternyata bukan.
Suara di seberang berkata, “Bisakah Ibu Janine datang? Ada seseorang yang ingin bertemu.”
Sesampainya di rumah sakit, aku melihat hampir semua staf berkumpul di aula kecil.
Jacob berdiri di depan mengenakan jas sederhana.
Di sampingnya ada direktur rumah sakit.
Direktur mulai berbicara.
“Hari ini kami meresmikan program beasiswa untuk mahasiswa keperawatan yang berasal dari keluarga kurang mampu.”
Aku tersenyum bangga.
Program itu menggunakan nama mendiang ibu Jacob.
Kemudian direktur berkata, “Orang yang mengusulkan program ini adalah Perawat Jacob. Namun masih ada satu hal yang ingin ia lakukan.”
Jacob berjalan ke arahku.
Semua orang memperhatikan.
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Bukan cincin mewah.
Melainkan cincin perak sederhana.
“Lima tahun lalu aku pergi tanpa memberimu kesempatan memilih.”
Suaranya bergetar.
“Hari ini aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.”
Ia berlutut.
“Janine, kali ini keputusan ada di tanganmu. Maukah kau berjalan bersamaku, bukan untuk menghapus masa lalu, tetapi untuk membangun masa depan yang lebih jujur?”
Aku menatap wajahnya.
Lalu teringat satu hal.
Yang sebenarnya menghancurkan hubungan kami bukanlah kemiskinan, penyakit, atau jarak.
Melainkan diam.
Diam yang lahir dari niat melindungi.
Diam yang akhirnya melukai semua orang.
Aku tersenyum sambil mengangguk.
“Iya.”
Ruangan dipenuhi tepuk tangan.
Di antara keramaian itu, aku melihat Ayah mengusap air matanya sambil tersenyum.
Saat itulah aku menyadari bahwa kesempatan kedua bukanlah hadiah yang datang kepada semua orang.
Kesempatan kedua hanya datang kepada mereka yang berani mengatakan kebenaran, meski terlambat, dan memilih untuk tidak lagi menyembunyikan cinta di balik pengorbanan yang salah.
