Riko berlari sekuat tenaga, napasnya memburu di tenggorokan yang terasa kering. Maya, dengan kaki telanjang yang mulai lecet terkena aspal panas, terus mengejar sambil tetap menggenggam ponselnya yang masih tersambung. Di layar, Bu Ratna sudah tidak lagi menangis, ia justru menatap kamera dengan pandangan yang kosong, seperti seseorang yang sudah pasrah menunggu ajal.
“Truk itu belok ke arah TPA (Tempat Pembuangan Akhir), Riko! Kejar!” teriak Maya frustrasi.
Mereka memacu langkah, melewati rumah-rumah warga yang tenang, mengabaikan tatapan heran para tetangga. Bagi mereka, dunia seolah runtuh. Bukan karena kehilangan uang, tapi karena mereka sadar telah membuang “nyawa” ibu mereka sendiri.
Tiba-tiba, sebuah motor ojek online lewat. Riko langsung menghentikannya secara paksa. “Pak, tolong! Ke TPA sekarang! Ini uangnya!” Riko menyodorkan semua uang di dompetnya—uang hasil pinjaman yang seharusnya ia pakai untuk nongkrong malam ini.

Sepanjang perjalanan, Maya tidak berhenti memandangi layar. “Ma, apa maksudnya ‘masalah yang lebih besar’? Apa yang Mama sembunyikan di jaket itu?”
Bu Ratna memejamkan mata sejenak, lalu berbisik, “Majikanku di Jeddah bukan sekadar orang kaya biasa. Mereka adalah bagian dari sindikat perdagangan gelap dokumen imigrasi dan pencucian uang. Selama sebelas tahun, mereka memaksa Mama menjadi direktur boneka di atas kertas untuk perusahaan fiktif. Jika polisi internasional tahu, Mama akan dipenjara seumur hidup, atau lebih buruk lagi… orang-orang itu akan menghabisi kalian karena dianggap tahu terlalu banyak.”
Maya merinding. Selama ini, kemewahan yang ia pamerkan di media sosial ternyata dibayar dengan nyawa ibunya yang menjadi tumbal sindikat kriminal.
Sesampainya di gerbang TPA yang bau busuknya menyengat hingga ke otak, mereka melihat truk sampah nomor lambung 04 sedang menuangkan muatan ke gunungan sampah raksasa.
“Tunggu! Berhenti!” Riko berteriak sambil melompat dari motor.
Pak Beni, petugas sampah tadi, tampak terkejut melihat dua anak muda itu. “Kalian lagi? Kenapa?”
“Kotak kargo tadi! Kami harus mengambilnya kembali!” Riko berlari menaiki gunungan sampah, mengabaikan lalat dan belatung. Maya mengikutinya, terisak hebat.
Mereka membongkar tumpukan kantong hitam dengan tangan kosong. Di bawah gunungan sampah yang membusuk, mereka menemukan kardus itu. Sudah hancur, basah oleh air sampah, dan hampir tertimbun. Maya segera merobek kardus itu dengan tangan yang gemetar.
Jaket hijau tua itu muncul.
Maya segera menyobek bagian dalamnya. Benar, ada jahitan tersembunyi yang kasar. Ia merobeknya dengan kunci motor hingga tangannya terluka. Di dalamnya, ia menemukan flashdisk kecil dan segepok dokumen tebal.
Namun, saat Maya mengeluarkan dokumen itu, sebuah bayangan muncul di balik gunungan sampah.
“Bagus sekali. Kalian memang anak yang patuh, sudah mengambilkan barang itu untuk kami.”
Seorang pria berjas hitam, yang tampak sangat mencolok di tengah TPA yang kumuh, berdiri di sana bersama dua orang bertubuh kekar. Mereka bukan petugas sampah. Mereka adalah orang suruhan majikan Bu Ratna di Indonesia.
Riko membeku. “Siapa kalian?”
“Kami orang yang menunggu ‘kado’ dari Jeddah itu selama bertahun-tahun,” jawab pria itu dingin sambil mengeluarkan sebuah pistol kecil yang disembunyikan di balik jasnya. “Serahkan dokumen itu, dan kalian bisa pergi. Jika tidak…”
Maya menatap flashdisk dan dokumen di tangannya. Ia tahu, jika ia menyerahkannya, mereka akan mati. Jika ia tidak menyerahkannya, mereka pun akan mati.
Tiba-tiba, Maya teringat sesuatu. Ia melihat sekeliling. Di sudut TPA, ada area pembakaran sampah yang apinya berkobar besar.
“Riko, lari ke sana!” bisik Maya.
Maya tidak menyerahkan dokumen itu. Ia justru melemparkannya tepat ke tengah api yang berkobar.
“TIDAK!” teriak pria berjas hitam itu.
Dalam hitungan detik, api menyambar dokumen-dokumen itu, mengubah rahasia kelam majikan Bu Ratna menjadi abu. Pria itu melepaskan tembakan ke udara, membuat orang-orang di sekitar TPA berhamburan lari.
“Bunuh mereka!” perintah pria itu.
Namun, Maya lebih cepat. Ia mengambil ponsel yang masih tersambung dengan ibunya dan berteriak, “Ma! Kami sudah membakarnya! Semuanya sudah hancur!”
Tiba-tiba, suara sirine polisi menderu dari kejauhan. Bu Ratna ternyata telah menghubungi kedutaan besar dan kepolisian internasional jauh sebelum ia menelepon Maya. Ia tahu risikonya. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan sindikat itu adalah dengan membakar bukti di tempat yang paling tidak terduga, dan polisi sudah mengepung area TPA.
Pria berjas hitam itu panik, ia berusaha melarikan diri, namun polisi sudah menangkapnya tepat di depan gerbang.
Malam itu, di bawah langit Bekasi yang mendung, Maya dan Riko terduduk lemas di atas sampah. Mereka kotor, bau, dan kehilangan semua uang yang pernah mereka banggakan. Namun untuk pertama kalinya, mereka merasa bersih.
Ponsel Maya kembali berdering. Wajah Bu Ratna muncul, kali ini ia tidak menangis lagi. Ia tersenyum lega.
“Terima kasih, anak-anakku. Kalian sudah membakar masa lalu kita yang kelam. Sekarang, Mama sudah bebas. Mama akan pulang besok.”
Maya menatap adiknya, Riko yang kini menangis tersedu-sedu sambil memeluknya. Tidak ada lagi sepatu kets mahal, tidak ada lagi kafe mewah. Hanya mereka berdua, yang kini sadar bahwa kenyamanan sejati bukanlah apa yang dibeli dengan uang haram, melainkan keberanian untuk tetap hidup setelah membakar semua kepalsuan.
Mereka pulang bukan sebagai anak yang menunggu kiriman uang, melainkan sebagai manusia yang baru saja lahir kembali dari gundukan sampah, siap menyambut ibu mereka dengan tangan kosong namun dengan hati yang akhirnya terisi penuh.
Tamat.
