Aku menatap Bea tanpa berkedip.
“Menang? Maksudmu apa?”
Senyumnya langsung membeku.
Hanya sepersekian detik, tetapi aku melihatnya. Kepanikan kecil yang tidak sempat dia sembunyikan.
“Ah, nggak apa-apa,” katanya cepat. “Cuma bercanda.”

“Tadi di videonya kamu bilang, ‘Dia masih belum marah. Kamu menang ya, Miguel.’ Menang apa?”
Bea tertawa kaku.
“Kamu terlalu serius, Lara.”
Dia segera mengganti topik dan memesan minuman. Tapi untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku tidak berusaha mengikutinya.
Aku hanya memperhatikannya.
Cara dia menghindari tatapanku.
Cara tangannya sedikit gemetar saat mengambil dompet.
Dan untuk pertama kalinya, ada suara kecil dalam diriku yang berkata bahwa selama ini aku mungkin bukan sekadar diabaikan.
Aku sedang dipermainkan.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku membuka kembali semua foto, chat, dan kenangan selama dua tahun terakhir bersama Miguel.
Awalnya aku hanya ingin mencari alasan untuk mempertahankan hubungan kami.
Tapi semakin lama aku melihat, semakin banyak hal yang terasa aneh.
Miguel selalu punya waktu untuk Bea.
Saat Bea sakit, dia mengantarnya ke klinik.
Saat Bea stres karena ujian, dia membelikannya makanan.
Saat Bea pindahan kos, dia membantu membawa barang sampai tengah malam.
Sedangkan saat aku demam tinggi tahun lalu?
Dia hanya mengirim pesan singkat.
“Minum obat ya.”
Aku menggenggam ponsel erat-erat.
Dulu aku menganggap semua itu kebetulan.
Sekarang aku tidak yakin lagi.
Keesokan harinya, saat istirahat kerja, aku menerima telepon dari nomor yang tidak kukenal.
“Apakah ini Lara?”
“Iya.”
“Saya Rina dari bagian administrasi Universitas Nusantara.”
Aku terdiam.
“Ada apa ya, Mbak?”
“Kami hanya ingin memastikan apakah Anda masih menerima penawaran beasiswa penuh yang dikirim dua minggu lalu.”
Aku membeku.
“Maaf?”
“Email sudah kami kirim. Karena belum ada konfirmasi, kami mencoba menghubungi langsung.”
Tanganku mulai dingin.
“Beasiswa?”
“Iya. Program persiapan internasional. Anda termasuk salah satu kandidat terbaik.”
Jantungku berdegup keras.
“Apa emailnya dikirim ke alamat yang benar?”
Perempuan itu menyebut alamat emailku.
Benar.
Persis.
Setelah telepon berakhir, aku langsung membuka kotak masuk.
Tidak ada.
Aku mencari semua folder.
Tidak ada.
Lalu aku membuka folder sampah.
Dan di sanalah aku menemukannya.
Email beasiswa itu.
Sudah dihapus.
Dua minggu lalu.
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
Tidak mungkin.
Tidak ada orang lain yang tahu kata sandi emailku.
Kecuali satu orang.
Miguel.
Dulu dia pernah membantuku mengatur laptop saat aku lupa kata sandi.
Dia tahu semuanya.
Tanganku gemetar saat memeriksa riwayat login.
Ada akses dari perangkat lain.
Perangkat yang tidak kukenal.
Tepat pada hari email itu masuk.
Aku duduk lama di ruang istirahat.
Kepalaku kosong.
Jika aku tidak menerima telepon hari ini, kesempatan itu mungkin hilang selamanya.
Dan hanya ada satu alasan seseorang menghapus email itu.
Karena mereka tidak ingin aku pergi.
Atau lebih tepatnya…
Karena mereka tidak ingin aku berkembang.
Malam itu aku menghubungi pihak universitas dan mengonfirmasi penerimaan beasiswa.
Seminggu kemudian aku diterima secara resmi.
Program dimulai dalam dua bulan.
Aku tidak memberi tahu Miguel.
Aku juga tidak memberi tahu Bea.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyimpan sesuatu hanya untuk diriku sendiri.
Sementara itu hubungan mereka semakin sulit disembunyikan.
Mereka terus menghabiskan waktu bersama.
Mereka tertawa dalam bahasa yang tidak lagi kupahami.
Dan yang paling menyakitkan adalah Miguel masih memperlakukanku seperti pacarnya setiap kali ada orang lain melihat.
Seolah aku hanya properti yang disimpan di rak.
Suatu malam dia datang ke apartemenku lagi.
“Ada apa dengan kamu akhir-akhir ini?”
“Apa maksudmu?”
“Kamu berubah.”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin aku cuma capek.”
Dia menghela napas.
“Kamu tahu nggak? Kadang aku merasa kamu terlalu sensitif.”
Aku tertawa pelan.
Anehnya, kali ini aku tidak terluka.
Karena untuk pertama kalinya aku melihatnya apa adanya.
Bukan sebagai pria yang kucintai.
Tapi sebagai seseorang yang selalu membuatku merasa kurang.
“Aku mau tanya sesuatu,” kataku.
“Tanya apa?”
“Kalau aku dapat kesempatan kuliah di luar kota, kamu bakal senang?”
Dia terlihat terkejut.
“Hah? Buat apa?”
“Jawab saja.”
Miguel berpikir beberapa detik.
Lalu berkata,
“Jujur? Kayaknya nggak perlu deh. Kamu kan sudah punya kerjaan. Nggak semua orang harus kuliah tinggi.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi cukup untuk menghancurkan sisa harapanku.
Dia tidak pernah benar-benar percaya padaku.
Tidak pernah.
Dua minggu kemudian, aku mendapat telepon lain.
Kali ini dari nomor Bea.
Aku hampir tidak mengangkat.
“Lara!”
Suaranya panik.
“Kenapa?”
“Miguel kecelakaan.”
Aku langsung berdiri.
“Apa?”
“Dia di rumah sakit.”
Dalam waktu tiga puluh menit aku sudah sampai.
Bea ada di sana.
Menangis.
Miguel hanya mengalami cedera ringan, tetapi wajahnya pucat.
Begitu melihatku, dia terlihat lega.
“Lara.”
Aku mendekat.
Lalu sesuatu menarik perhatianku.
Ponselnya terjatuh dari tempat tidur saat dia bergerak.
Layar menyala.
Sebuah notifikasi muncul.
Grup chat.
Namanya membuatku membeku.
Mission Lara.
Aku tidak sengaja membacanya.
Tapi itu cukup.
Karena tepat di bawah nama grup ada foto profil.
Foto Miguel dan Bea.
Berdua.
Tanpa aku.
Miguel buru-buru mengambil ponselnya.
Terlambat.
Aku sudah melihat.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, wajahnya kehilangan warna.
“Lara…”
Aku tersenyum.
Senyum yang bahkan terasa asing bagiku sendiri.
“Aku mengerti sekarang.”
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Kalau begitu tunjukkan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Bea mulai menangis.
Miguel menunduk.
Dan dalam keheningan itu, aku mendapatkan jawabannya.
Karena orang yang tidak bersalah akan membela diri.
Mereka tidak melakukannya.
Akhirnya Bea berbicara.
“Awalnya cuma bercanda.”
Aku tertawa kecil.
“Bercanda?”
Dia menangis lebih keras.
“Kami cuma ingin melihat sampai kapan kamu bertahan.”
Aku menatapnya.
Tidak percaya.
“Tunggu… apa?”
Miguel memejamkan mata.
Dan kebenaran yang selama ini tersembunyi akhirnya keluar.
Semuanya bermula setahun lalu.
Saat aku gagal masuk universitas impianku.
Bea mengatakan bahwa aku terlalu bergantung pada Miguel.
Miguel mengatakan aku terlalu penurut.
Lalu mereka membuat permainan bodoh.
Mereka menyebutnya eksperimen.
Melihat seberapa jauh seseorang bisa terus bertahan meski terus diabaikan.
Awalnya hanya hal kecil.
Membatalkan janji.
Mengabaikan pesan.
Membuatku merasa tidak penting.
Lalu semakin jauh.
Semakin kejam.
Sampai akhirnya menjadi kebiasaan.
“Dan video itu?” tanyaku.
Bea menangis.
“Itu taruhan.”
“Apa hadiahnya?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku tersenyum pahit.
“Jadi aku ini permainan?”
Miguel langsung berdiri meski kesakitan.
“Tidak! Awalnya mungkin iya, tapi lama-lama tidak.”
“Lalu apa?”
Dia menatapku.
Matanya merah.
“Aku takut kehilangan kamu.”
Aku tertawa.
Benar-benar tertawa.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan.
“Lucu sekali.”
“Lara…”
“Orang yang takut kehilangan tidak menghapus email beasiswa pacarnya.”
Wajahnya langsung pucat.
Bea menoleh kaget.
“Apa?”
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan bukti login.
Miguel tidak bisa berkata apa-apa.
Dan saat itulah Bea sadar.
“Kamukah yang menghapusnya?”
Miguel diam.
Diam yang berarti pengakuan.
Bea mundur beberapa langkah.
Seolah baru melihat siapa dia sebenarnya.
“Aku pikir kita cuma bercanda,” bisiknya.
Miguel menunduk.
“Aku nggak mau dia pergi.”
“Aku nggak mau dia lebih sukses dari kita.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Jujur.
Mentah.
Dan menghancurkan segalanya.
Ruangan menjadi sunyi.
Aku memandang pria yang selama ini kucintai.
Dan akhirnya melihat kenyataan.
Dia tidak mencintaiku.
Dia hanya menikmati keberadaanku selama aku berada di bawahnya.
Selama aku menjadi orang yang selalu mengejar.
Selama aku tidak tumbuh.
Aku menarik napas panjang.
Lalu tersenyum.
“Terima kasih.”
Miguel mengangkat kepala.
“Apa?”
“Karena kalau kalian tidak meninggalkanku di mall hari itu, mungkin aku tidak akan pernah sadar.”
Aku berbalik.
“Lara!”
Aku berhenti di depan pintu.
“Aku diterima beasiswa.”
Wajah mereka berdua langsung berubah.
“Aku berangkat dua bulan lagi.”
Tak ada yang bicara.
“Aku harap suatu hari nanti kalian mengerti bahwa mencintai seseorang bukan berarti membuatnya kecil agar kalian merasa besar.”
Lalu aku pergi.
Tanpa menoleh.
Dua bulan kemudian aku berdiri di bandara.
Ibuku memelukku erat.
Matanya berkaca-kaca.
“Kamu siap?”
Aku mengangguk.
Ponselku bergetar.
Satu pesan terakhir dari Miguel.
“Aku menyesal.”
Aku membaca pesan itu lama.
Lalu menghapusnya.
Bukan karena marah.
Bukan karena benci.
Tapi karena akhirnya aku tidak membutuhkannya lagi.
Pesawat mulai dipanggil.
Aku melangkah menuju gerbang keberangkatan.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak sedang mengejar siapa pun.
Aku sedang berjalan menuju diriku sendiri.
Terkadang telepon yang menghancurkan rencana orang lain bukanlah telepon yang penuh ancaman atau rahasia besar.
Kadang itu hanya satu panggilan sederhana yang mengingatkanmu bahwa hidupmu masih berharga.
Bahwa masa depanmu masih menunggu.
Dan bahwa orang yang tepat tidak akan pernah memintamu mengecil agar mereka bisa merasa lebih tinggi.
