“Adrian… cepat pergi…”
Suara Liza nyaris tak terdengar, tetapi cukup untuk membuat darahku membeku.
“Jangan sampai kamu mengetahui rahasia mereka…”
Belum sempat aku bertanya apa maksudnya, Victor sudah melangkah cepat menghampiriku dengan senyum yang dipaksakan.
“Adrian! Astaga! Kenapa tidak bilang kalau pulang?” katanya sambil merangkul bahuku.
Aku menepis tangannya.

Tatapanku tidak pernah lepas dari Liza dan Nathan yang masih duduk di tanah.
“Apa yang terjadi?” tanyaku pelan.
Victor tertawa kecil.
“Kamu salah paham. Mereka hanya sedang membantu membersihkan sisa pesta.”
Aku memandang piring plastik yang berisi nasi dan ayam bekas.
Nathan yang kelaparan langsung memungut kembali sepotong ayam yang terjatuh ke tanah.
Tanganku mengepal begitu kuat sampai buku-bukuku memutih.
“Itu bukan orang yang sedang membersihkan,” kataku lirih.
“Itu keluargaku yang sedang kelaparan.”
Clarissa segera menyela.
“Liza memang keras kepala. Kami sudah berkali-kali menyuruh mereka makan di dalam, tapi dia lebih suka drama supaya dikasihani.”
Liza hanya menunduk.
Aku mengenal istriku lebih dari siapa pun.
Dia bukan tipe wanita yang akan mengemis belas kasihan.
Aku berjalan menghampirinya.
“Liza.”
Dia menggenggam tanganku erat.
Tangannya dingin.
Sangat kurus.
“Maaf…” bisiknya.
Air mataku hampir jatuh.
“Bukan kamu yang harus minta maaf.”
Aku mengangkat Nathan ke pelukanku.
Anakku memandang wajahku lama.
Lalu perlahan menyentuh pipiku.
“Papa?”
Suara kecil itu menghancurkan seluruh pertahananku.
“Iya, Nak. Papa pulang.”
Nathan langsung memeluk leherku sambil menangis sejadi-jadinya.
“Papa… Nathan lapar…”
Kalimat sesederhana itu terasa seperti ribuan pisau menusuk dadaku.
Aku menoleh kepada Victor.
“Mas, masuk ke dalam. Sekarang.”
Kami duduk di ruang tamu vila mewah itu.
Di meja masih berserakan botol minuman mahal, makanan berlimpah, dan tamu-tamu yang mulai membubarkan diri karena suasana berubah tegang.
Aku duduk tepat di depan Victor.
“Jelaskan.”
Victor menarik napas panjang.
“Kamu terlalu emosional.”
“Aku minta penjelasan.”
“Aku sudah mengurus semua uangmu dengan baik.”
“Kalau begitu kenapa istriku makan dari tempat sampah?”
Victor terdiam beberapa detik.
Lalu dia berkata pelan.
“Karena dia memilih hidup seperti itu.”
Aku berdiri begitu cepat hingga kursi terjatuh.
“Jangan bohong!”
Suasana langsung sunyi.
Liza menggigit bibirnya.
“Adrian…” katanya pelan.
“Aku akan jelaskan.”
Victor langsung memotong.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan!”
Untuk pertama kalinya selama hidupku, aku melihat ketakutan di wajah kakakku sendiri.
Dan saat itulah aku sadar.
Dia sedang menyembunyikan sesuatu.
Liza menarik napas panjang.
“Tiga bulan setelah kamu berangkat… Victor datang membawa beberapa dokumen.”
Aku menoleh.
“Dokumen apa?”
“Dia bilang semua itu diperlukan untuk pembangunan rumah.”
Victor langsung membentak.
“Diam!”
Liza gemetar, tetapi akhirnya tetap melanjutkan.
“Aku percaya karena dia kakakmu.”
“Lalu?”
“Aku menandatangani semuanya.”
“Tanpa membaca?”
“Aku memang membaca sekilas… tapi dia terus mendesakku.”
Victor mulai berkeringat.
“Omong kosong!”
Liza menggeleng.
“Beberapa minggu kemudian aku baru tahu kalau rumah dan seluruh aset ternyata didaftarkan atas nama Victor.”
Aku memandang kakakku.
Dia tidak membantah.
Dadaku semakin sesak.
“Lalu uang yang kukirim?”
Liza menutup wajahnya.
“Tidak pernah kami lihat.”
“Sedikit pun?”
“Hanya uang belanja sekitar lima juta setiap bulan.”
Aku membeku.
Lima juta.
Dari hampir dua ratus juta yang kukirim setiap bulan.
“Ke mana sisanya?”
Victor akhirnya berdiri.
“Aku yang mengelolanya.”
“Ke mana?”
“Aku investasi.”
“Mana hasilnya?”
Victor tidak menjawab.
Aku melihat dua SUV baru di garasi.
Jam tangan mewah di pergelangan tangannya.
Rumah tiga lantai.
Liburan ke luar negeri yang sering dia unggah di media sosial, tetapi selama ini kuanggap hasil bisnisnya sendiri.
Tiba-tiba semuanya menjadi jelas.
Selama tiga tahun…
Aku membiayai kehidupan mewah kakakku sendiri.
Bukan keluargaku.
Aku tertawa.
Tawa yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.
Victor mengerutkan dahi.
“Apa yang lucu?”
“Aku.”
“Maksudmu?”
“Aku yang paling bodoh.”
Victor mendekat.
“Sudahlah. Uang bisa dicari lagi.”
Kalimat itu membuat emosiku meledak.
Aku menarik kerah bajunya.
“Bukan soal uang!”
Aku berteriak sekeras mungkin.
“Kamu membiarkan istri dan anakku kelaparan!”
Nathan yang berada di pelukan Liza langsung menangis ketakutan.
Aku melepaskan Victor.
Aku tidak ingin anakku melihat ayahnya menjadi orang yang penuh amarah.
Victor merapikan bajunya.
“Kalau mereka hidup susah, itu karena mereka malas.”
Liza akhirnya berdiri.
Untuk pertama kalinya sejak aku datang, dia menatap Victor tanpa rasa takut.
“Aku bekerja.”
Victor tersenyum sinis.
“Sebagai apa?”
“Aku mencuci pakaian orang.”
“Lalu?”
“Aku juga membersihkan rumah-rumah tetangga.”
“Masih kurang.”
“Aku jual gorengan.”
Victor tertawa.
“Tetap miskin, kan?”
Air mata Liza jatuh.
“Karena setiap kali aku mulai punya tabungan… kamu datang mengambilnya.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku menatap Victor.
“Benarkah?”
Dia tetap diam.
Liza melanjutkan.
“Dia selalu mengancam.”
“Mengancam apa?”
“Kalau aku melapor ke polisi, dia akan membuatmu kehilangan pekerjaan di luar negeri.”
Aku mengerutkan dahi.
“Bagaimana caranya?”
“Dia bilang dia akan melaporkan bahwa kamu menggelapkan mesin kapal.”
Aku langsung menggeleng.
“Itu fitnah.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku takut.”
“Kenapa tidak menghubungiku?”
Liza menangis semakin keras.
“Semua nomor teleponmu diganti.”
“Apa?”
“Victor bilang nomor lamamu sudah tidak aktif.”
Aku segera membuka ponsel.
Benar.
Puluhan pesan dari nomor yang tidak kukenal tidak pernah sampai karena Victor ternyata mengganti nomor kontak daruratku di perusahaan menggunakan surat kuasa yang dulu pernah kutandatangani.
Selama ini…
Aku hidup dalam kebohongan yang dirancang sangat rapi.
Malam itu juga aku menghubungi perusahaan tempatku bekerja.
Pihak manajemen terkejut mengetahui semua yang terjadi.
Mereka langsung mengirimkan salinan seluruh bukti transfer selama tiga tahun.
Totalnya hampir tujuh miliar rupiah.
Seluruh uang itu masuk ke rekening Victor.
Bukan rekening bersama.
Bukan rekening pembangunan rumah.
Rekening pribadinya.
Esok paginya aku mendatangi bank bersama pengacara yang direkomendasikan perusahaan.
Tidak butuh waktu lama.
Jejak transaksi mulai terbuka.
Transfer ke dealer mobil.
Pembelian vila.
Investasi.
Perjalanan ke luar negeri.
Semuanya menggunakan uangku.
Bahkan lebih mengejutkan lagi…
Victor ternyata juga memiliki utang miliaran rupiah akibat berjudi secara diam-diam.
Sebagian besar uang yang kukirim habis untuk menutup kekalahannya.
Sore harinya polisi datang ke vila.
Victor masih berusaha menyangkal.
“Itu uang hadiah!”
“Itu uang investasi!”
“Itu uang yang dia berikan secara sukarela!”
Namun semua kebohongan itu runtuh ketika polisi menunjukkan bukti percakapan, transfer, dan surat kuasa palsu yang ia gunakan untuk mengubah data kontakku.
Clarissa langsung menangis.
“Aku tidak tahu kalau semua uang itu milik Adrian.”
Victor menoleh marah.
“Diam!”
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Saat polisi memborgol tangannya, Victor menatapku lama.
“Aku kakakmu.”
Aku mengangguk.
“Dulu.”
Dia menunduk.
Tidak ada lagi yang bisa dikatakannya.
Beberapa bulan kemudian proses hukum selesai.
Sebagian aset berhasil disita dan dikembalikan.
Vila itu dilelang.
Mobil-mobil mewah dijual.
Sisanya digunakan untuk mengganti kerugianku.
Tetapi ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kembali.
Tiga tahun kehidupan Nathan.
Tiga tahun penderitaan Liza.
Suatu sore kami duduk di taman kecil dekat rumah baru kami.
Rumah itu jauh lebih sederhana daripada vila mewah milik Victor dulu.
Hanya dua lantai.
Tidak terlalu besar.
Tetapi setiap sudutnya dipenuhi tawa.
Nathan berlari mengejar layang-layang sambil tertawa lepas.
Liza duduk di sampingku.
“Maaf karena dulu aku tidak lebih berani.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bukan salahmu.”
“Kalau saja aku melawan sejak awal…”
“Kita sama-sama ditipu.”
Dia tersenyum tipis.
“Aku sempat membencimu.”
Aku menoleh.
“Karena kupikir kamu melupakan kami.”
Hatiku kembali terasa perih.
“Aku juga membenci diriku sendiri.”
“Kenapa?”
“Karena aku terlalu percaya pada orang lain sampai lupa menjaga keluargaku sendiri.”
Liza menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Kamu sudah pulang.”
“Iya.”
“Dan itu sudah cukup.”
Nathan berlari menghampiri kami.
“Papa!”
“Iya?”
“Besok jangan kerja jauh lagi ya.”
Aku memeluknya erat.
“Tidak akan.”
“Janji?”
“Janji.”
Beberapa minggu kemudian aku menerima tawaran menjadi kepala teknisi di sebuah perusahaan pelayaran domestik.
Gajinya memang jauh lebih kecil dibandingkan bekerja di kapal internasional.
Tetapi setiap malam aku bisa pulang.
Bisa makan malam bersama keluargaku.
Bisa mendengar tawa Nathan sebelum tidur.
Suatu hari, saat sedang merapikan gudang rumah, aku menemukan kantong plastik tua yang pernah kubawa saat pulang dulu.
Di dalamnya masih ada parfum, cincin, dan mainan yang belum sempat kuberikan.
Aku membawa cincin itu keluar.
Liza sedang menyiram bunga.
Aku berlutut di depannya.
Dia tertawa.
“Ngapain?”
“Ada yang tertunda tiga tahun.”
Aku membuka kotak kecil itu.
“Maukah kamu menikah denganku… sekali lagi?”
Air mata mengalir di pipinya.
“Kali ini tanpa kebohongan.”
Dia mengangguk sambil menangis.
“Iya.”
Nathan bertepuk tangan.
“Ternyata Papa nikah sama Mama lagi!”
Kami semua tertawa.
Saat matahari mulai terbenam, aku memandang langit yang perlahan berubah jingga.
Aku akhirnya mengerti bahwa rumah tidak pernah ditentukan oleh seberapa megah bangunannya.
Rumah adalah tempat di mana tidak ada seorang pun yang harus berpura-pura kenyang, tidak ada air mata yang disembunyikan di balik senyum, dan tidak ada kepercayaan yang diperdagangkan demi keserakahan.
Aku memang kehilangan miliaran rupiah.
Tetapi aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.
Keluargaku.
Dan sejak hari itu aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan pernah lagi menyerahkan tanggung jawab menjaga mereka kepada siapa pun, sekalipun kepada orang yang paling dekat sekalipun. Karena pengkhianatan yang paling menyakitkan sering kali datang bukan dari orang asing, melainkan dari mereka yang pernah kita percaya sepenuh hati.
