SUAMIKU KOMA SETELAH KECELAKAAN — BISIKAN ANAKKU: “PAPA CUMA PURA-PURA…”SEBUAH VIDEO DI PONSEL MENGHANCURKAN HIDUPKU

Dunia seakan runtuh di bawah kakiku. Di tempat parkir yang dingin dan remang-remang itu, aku menyadari bahwa aku tidak sedang berhadapan dengan suamiku, melainkan dengan seorang asing yang selama bertahun-tahun tidur di ranjang yang sama denganku. Pria di telepon itu bukan Daniel-ku yang lembut; dia adalah predator.

“Masuk ke mobil, Lila,” bisikku kaku. Suaraku hampir tidak terdengar, namun kepatuhan Lila membantuku tetap terjaga. Saat kami terkunci di dalam, aku menatap kaca spion. Dua pria berbadan besar itu berhenti sepuluh langkah dari mobilku. Mereka tidak menyerang, mereka hanya berdiri, mematung seperti tiang penyangga nasib burukku.

Ponselku masih menempel di telinga.

“Kau bicara tentang uang, Daniel?” tanyaku, kali ini dengan nada yang aku sendiri tidak mengenali—dingin dan tajam. “Apakah semua ini hanya untuk uang asuransi itu?”

Tawa Daniel terdengar lagi di seberang sana, kali ini lebih gelap. “Uang asuransi? Ana, kau selalu naif. Uang itu cuma uang receh untuk jajan. Aku sedang membangun masa depan. Dan kau, sayang, kau adalah bagian dari pengorbanan yang diperlukan.”

Klik. Telepon mati.

Pesan masuk. Sebuah tautan lokasi. Sebuah alamat gudang tua di pelabuhan Manila. Pesan itu berbunyi: Datanglah sendiri malam ini pukul sepuluh. Jangan melibatkan polisi, atau Lila tidak akan pernah melihatmu lagi.

Aku menatap kursi belakang. Lila tertidur kelelahan, memeluk boneka beruang lusuh milik ayahnya. Hatiku teriris. Apakah ini Daniel yang asli? Apakah dia pernah mencintaiku? Atau apakah sejak awal, pertemuan kami di Bulacan hanyalah sebuah skenario yang dirancang dengan sempurna?

Aku melajukan mobil keluar dari rumah sakit, bukan menuju rumah, melainkan ke kantor polisi. Namun, di tengah jalan, sebuah pikiran melintas. Daniel selalu selangkah di depanku. Dia tahu kebiasaanku, dia tahu ketakutanku. Jika aku melibatkan polisi sekarang, dia pasti sudah tahu sebelum aku melangkah ke dalam kantor.

Malam itu, pukul sepuluh.

Aku meninggalkan Lila di rumah kerabat yang tepercaya, berbohong bahwa aku ada urusan mendesak. Dengan pisau dapur terselip di balik jaket, aku menuju gudang itu. Suasana pelabuhan sangat mencekam, hanya suara ombak yang menghantam dinding beton dan lampu jalan yang berkedip-kedip.

Di dalam gudang, aku melihatnya. Daniel duduk di atas kursi kayu, kakinya disilangkan dengan santai. Marissa ada di sampingnya, bukan lagi sebagai perawat, melainkan sebagai partner yang setara.

“Kau datang,” kata Daniel tanpa menoleh. “Aku selalu menyukai ketepatan waktumu, Ana.”

“Siapa kau sebenarnya?” teriakku, air mata akhirnya tumpah. “Daniel-ku tidak mungkin sekejam ini!”

Daniel berdiri. Dia berjalan mendekat. Wajahnya yang dulunya kukenal penuh kasih kini terlihat asing. “Daniel yang kau cintai itu memang ada, Ana. Dan dia mati dalam kecelakaan itu.”

Duniaku berhenti berputar.

“Apa maksudmu?”

“Daniel Ramirez asli tewas seketika saat mobil itu menabrak pembatas jalan. Aku hanya… mengambil alih perannya,” ucapnya datar. Dia menunjuk ke arah Marissa. “Kami adalah agen. Daniel asli adalah target kami karena keterlibatannya dengan sindikat pencucian uang. Namun, sebelum kami bisa mengamankannya, dia mengalami kecelakaan.”

Otakku mencoba memproses informasi yang gila ini. “Jadi, kau… kau menyamar sebagai suamiku?”

“Selama tiga minggu, aku mempelajari segalanya. Kehidupanmu, kebiasaanmu, bahkan cara Daniel menatapmu. Aku harus memastikan bahwa uang hasil korupsinya tersimpan di tempat yang hanya diketahui olehnya. Dan ternyata, kau menyimpannya di brankas tersembunyi di balik lukisan di ruang tamu kita, bukan?”

Aku terdiam. Ya, itu benar. Warisan dari orang tuaku yang Daniel minta simpan di sana.

“Kau membunuhnya? Atau kau membiarkannya mati?” tanyaku dengan suara bergetar.

“Itu tidak relevan,” jawabnya dingin.

Tiba-tiba, suara sirine polisi memecah kesunyian malam. Daniel terkejut. Marissa dengan panik meraih tasnya.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Daniel marah kepadaku.

Aku tersenyum, meski air mataku mengalir. “Aku memang tidak melapor, tapi Lila… dia jauh lebih cerdas dari yang kau kira.”

Ternyata, selama di rumah sakit, Lila bukan hanya mengamati Daniel. Dia telah memasang alat pelacak GPS milik mainan robotnya ke dalam saku jaket Daniel saat pria itu tidak sadar. Lila sudah tahu sejak awal bahwa pria itu bukan Papanya. Dia hanya menunggu waktu yang tepat. Saat kami di mobil, Lila diam-diam mengirim koordinat itu ke telepon temannya, yang ternyata ayahnya adalah seorang perwira polisi tinggi.

Daniel berbalik untuk lari, namun pintu gudang sudah didobrak oleh tim SWAT. Dalam kekacauan itu, Daniel mencoba menodongkan senjata ke arahku.

“Jangan bergerak!” teriak polisi.

Daniel menatapku satu terakhir kali. Bukan dengan kebencian, melainkan dengan kekecewaan yang aneh. “Kau tahu, Ana? Meskipun ini hanyalah misi, menjadi suamimu… itu adalah bagian yang paling sulit dari pekerjaan ini.”

Suara tembakan terdengar.

Daniel jatuh tersungkur. Marissa menyerah.

Satu minggu kemudian, di pemakaman Daniel yang sebenarnya, aku berdiri di depan nisan. Aku tidak menangis lagi. Aku menyadari satu hal yang menghantui pikiranku hingga detik ini.

Saat aku sedang merapikan bunga di atas makam, ponselku berbunyi. Nomor yang sama. Nomor yang seharusnya sudah tidak aktif.

“Kau pikir kau memenangkannya, Ana? Ingat, Daniel yang asli tidak pernah memiliki luka di bahu kiri. Tapi pria yang ditembak polisi itu… dia memilikinya. Apakah kau yakin, siapa yang sebenarnya ada di dalam peti itu?”

Aku menatap nisan itu dengan ngeri. Jika pria itu bukan Daniel, lalu di mana suamiku yang asli? Dan siapa sebenarnya orang yang selama tiga minggu ini memelukku di rumah sakit?

Di belakangku, Lila menarik ujung bajuku.

“Mama, ayo pulang. Papa sudah menunggu di mobil.”

Aku membeku. Aku menoleh ke arah parkiran. Di sana, seorang pria melambai padaku dari balik kemudi. Wajahnya… wajahnya adalah wajah Daniel yang asli. Wajah yang sudah sangat lama tidak kulihat sebelum kecelakaan itu.

Dia tersenyum, senyum yang sama yang dulu membuatku jatuh cinta. Namun, di matanya, aku melihat kilatan dingin yang membuat darahku membeku.

Sandiwara ini belum berakhir. Ini baru saja dimulai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang