Aku Membawa Tunanganku Menemui Ayahku yang Duduk di Kursi Roda, Tapi Baru Masuk ke Rumah, Dia Langsung Menutup Hidungnya

Aku menatap cincin kecil yang tergantung di leher Siska.

Dadaku terasa sesak.

Itu bukan cincin yang mirip.

Aku mengenal setiap lekuknya. Batu kecil berwarna putih di bagian tengahnya memiliki goresan halus yang terjadi ketika Arga tanpa sengaja menjatuhkannya di lantai toko perhiasan beberapa bulan lalu. Dia bahkan sempat bercanda bahwa goresan itu akan menjadi “tanda keberuntungan” hubungan kami.

Kini cincin itu menggantung di leher gadis lain.

Siska buru-buru memasukkan cincin itu kembali ke balik blusnya ketika menyadari aku melihatnya.

“Ada apa, Kak?” tanyanya dengan senyum polos.

Aku tidak menjawab.

Aku menoleh kepada Arga.

“Itu cincinku.”

Arga tampak terkejut sesaat, lalu wajahnya kembali datar.

“Bukan.”

“Itu cincin pertunanganku.”

Dia mengembuskan napas panjang.

“Siska hanya meminjamnya.”

“Meminjam?”

“Iya. Dia bilang desainnya cantik. Hanya untuk dipakai sementara.”

Aku tertawa lirih.

“Cincin pertunangan dipinjam?”

Siska buru-buru menyela.

“Maaf, Kak. Aku cuma suka bentuknya. Kak Arga bilang nanti akan dibuatkan yang baru untuk Kakak.”

Kalimat itu seperti tamparan.

Bukan karena cincinnya.

Melainkan karena keputusan untuk menggantinya bahkan tidak pernah dibicarakan denganku.

Aku menutup pintu mobil tanpa berkata apa-apa.

“Rani!” panggil Arga.

Aku melangkah menjauh.

“Besok kita bicara.”

“Tidak,” jawabku pelan. “Kita sudah terlalu sering bicara. Yang tidak pernah ada adalah perubahan.”

Aku berjalan pulang dengan langkah pelan.

Di sepanjang jalan, pikiranku kembali ke tiga tahun yang lalu.

Hari kecelakaan itu.

Ayah bersikeras mengantar Siska pulang dari acara kampus karena hujan deras. Mobil yang mereka tumpangi ditabrak truk yang kehilangan kendali di jalan menurun.

Saksi mata mengatakan Ayah sempat mendorong tubuh Siska keluar dari pintu yang rusak beberapa detik sebelum mobil itu terguling ke parit.

Siska hanya mengalami luka ringan.

Ayah kehilangan kemampuan berjalan.

Sejak saat itu, Arga membiayai sebagian terapi Ayah.

Semua orang memujinya.

Mereka menyebutnya calon menantu yang bertanggung jawab.

Hanya aku yang perlahan menyadari bahwa setiap rupiah yang dia keluarkan selalu diiringi rasa keberatan yang semakin besar.

Semakin lama, setiap bantuan terasa seperti utang yang harus kubayar dengan diam.

Malam itu aku duduk di samping tempat tidur Ayah.

Beliau belum tidur.

“Sudah pulang?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Ada yang mengganggu pikiranmu.”

Aku tersenyum tipis.

“Ayah masih bisa membaca wajah Rani.”

Beliau mengusap tanganku.

“Karena Ayah yang membesarkanmu.”

Air mataku hampir jatuh.

“Ayah… kalau Rani membatalkan pernikahan ini, Ayah kecewa?”

Beliau menggeleng pelan.

“Ayah hanya kecewa kalau kamu menikah dengan orang yang membuatmu merasa sendirian.”

Kalimat sederhana itu menghancurkan benteng terakhir di hatiku.

Pagi berikutnya, aku menghubungi rumah sakit rehabilitasi di Jakarta.

Semua berkas sudah siap.

Kami akan berangkat lusa.

Sementara itu, ponselku terus berdering.

Lebih dari tiga puluh panggilan dari Arga.

Aku tidak mengangkat satu pun.

Menjelang siang, dia datang ke rumah.

Kali ini dia membawa bunga.

Dan buah-buahan.

“Aku mau minta maaf.”

Aku berdiri di teras tanpa mempersilahkannya masuk.

“Untuk yang mana?”

Dia tampak bingung.

“Soal semalam.”

“Hanya semalam?”

Dia diam.

Aku melanjutkan.

“Maaf karena jijik melihat Ayah?”

“Maaf karena tidak membantu saat Ayah jatuh?”

“Maaf karena memberikan cincin pertunanganku kepada perempuan lain?”

“Atau maaf karena selama tiga tahun terakhir aku selalu berada di urutan kedua?”

Arga mengusap wajahnya.

“Kamu membesar-besarkan semuanya.”

Aku mengangguk pelan.

“Itu jawabanmu?”

“Kamu terlalu sensitif.”

Aku tersenyum.

Aneh.

Untuk pertama kalinya, senyum itu terasa tulus.

Karena akhirnya aku tidak lagi ragu.

“Aku membatalkan pernikahan kita.”

Wajah Arga langsung berubah.

“Jangan bercanda.”

“Aku serius.”

“Kamu tahu berapa banyak yang sudah kupersiapkan?”

“Aku tahu.”

“Kamu mempermalukan keluargaku.”

“Dan kamu sudah lama mempermalukan perasaanku.”

Dia mulai meninggikan suara.

“Hanya karena hal-hal kecil seperti ini?”

Aku menatapnya lurus.

“Masalahnya bukan besar atau kecil.”

“Masalahnya, kamu selalu memilih orang lain ketika aku membutuhkanmu.”

Dia tertawa sinis.

“Orang lain? Maksudmu Siska?”

Aku tidak menjawab.

Karena jawabannya sudah terlihat jelas.

Saat itulah terdengar suara langkah kaki.

Siska datang tergesa-gesa.

Matanya sembab.

“Kak Arga…”

Dia langsung berdiri di samping Arga.

“Aku dengar Kak Rani mau membatalkan pernikahan.”

Aku mengangguk.

“Benar.”

Air mata Siska mengalir.

“Kalau karena aku, aku minta maaf.”

Aku menatapnya lama.

“Aku tidak marah kepadamu.”

Dia terlihat lega.

“Tapi aku juga tidak akan terus berpura-pura.”

Arga memotong.

“Sudahlah. Jangan libatkan dia.”

Aku menarik sebuah kotak kecil dari dalam tas.

Kotak cincin pertunangan.

Masih kosong.

Aku menyerahkannya kepada Arga.

“Kalau memang cincin itu lebih pantas bersamanya, simpan saja.”

Wajah Siska langsung pucat.

“Aku tidak pernah…”

Namun ucapannya terhenti.

Karena Arga tidak menyangkal.

Sedikit pun.

Keheningan itu jauh lebih jujur daripada ribuan kata.

Siska perlahan menoleh kepada Arga.

“Kak…”

Arga tetap diam.

Air mata Siska semakin deras.

“Apa benar… Kak menyukai aku?”

Aku melihat wajah Arga berubah.

Untuk pertama kalinya dia kehilangan kata-kata.

Beberapa detik kemudian dia berkata pelan.

“Aku…”

Siska mundur selangkah.

“Kak serius?”

“Aku memang mulai menyayangimu.”

Dunia seolah berhenti.

Namun bukan aku yang paling hancur.

Melainkan Siska.

Dia menutup mulutnya sambil menangis.

“Bukan seperti itu maksudku selama ini.”

“Aku menganggap Kakak sebagai keluarga.”

“Aku tidak pernah ingin merebut siapa pun.”

Dia melepas kalung dari lehernya.

Cincin itu jatuh ke telapak tangannya.

Lalu diserahkannya kepadaku.

“Aku tidak tahu ini cincin pertunangan Kakak.”

“Dia bilang ini hadiah supaya aku selalu ingat bahwa aku tidak sendirian.”

Siska menangis tersedu-sedu.

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Aku menerima cincin itu.

Tidak ada lagi kemarahan.

Yang tersisa hanya rasa kasihan.

Ternyata bukan hanya aku yang ditipu.

Hari itu juga Arga pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Tidak ada permintaan maaf.

Tidak ada penjelasan.

Hanya keheningan.

Dua hari kemudian, aku dan Ayah berangkat ke Jakarta.

Perjalanan itu melelahkan.

Namun setiap sesi terapi membawa sedikit harapan.

Ayah berlatih menggerakkan kaki.

Belajar duduk sendiri.

Belajar berdiri.

Bahkan belajar tersenyum lagi.

Enam bulan berlalu.

Suatu pagi, dokter memintaku masuk ke ruang terapi.

“Ayo, Pak Hendra.”

Ayah menggenggam alat bantu jalan.

Satu langkah.

Lalu langkah kedua.

Tubuhnya gemetar.

Keringat membasahi dahinya.

Namun beliau tidak jatuh.

Aku menangis tanpa suara.

Ayah benar-benar berjalan.

Memang masih pelan.

Masih harus dibantu.

Tetapi beliau berjalan.

Ketika berhasil mencapai ujung ruangan, Ayah menoleh kepadaku.

“Lihat, Nak.”

“Janji Ayah.”

“Kalau masih diberi kesempatan hidup, Ayah akan terus berusaha.”

Aku memeluknya erat.

Hari itu terasa seperti kelahiran kami yang kedua.

Setahun setelah pembatalan pernikahan, hidupku berubah.

Aku membuka usaha kecil menjual makanan rumahan secara daring.

Tetangga membantu.

Pak Yusuf menjadi orang pertama yang menawarkan modal.

Usaha itu berkembang.

Tidak besar.

Namun cukup untuk hidup kami.

Suatu sore, saat sedang menutup warung kecil kami, seseorang berdiri di depan pagar.

Arga.

Wajahnya jauh lebih kurus.

Matanya tampak lelah.

“Aku dengar Pak Hendra sudah bisa berjalan.”

Aku mengangguk.

“Syukurlah.”

Dia tersenyum pahit.

“Siska sudah menikah.”

Aku hanya diam.

“Dengan teman kantornya.”

“Dia bahagia.”

Aku ikut tersenyum.

“Itu kabar baik.”

Dia menatapku cukup lama.

“Aku menyesal.”

Aku percaya dia tulus.

Namun penyesalan bukan mesin waktu.

“Aku juga pernah menyesal,” kataku pelan.

“Menyesal terlalu lama berharap seseorang akan berubah.”

Dia menundukkan kepala.

“Apa masih ada kesempatan?”

Aku menggeleng perlahan.

“Bukan karena aku membencimu.”

“Tetapi karena aku akhirnya belajar mencintai diriku sendiri.”

Untuk pertama kalinya, Arga tidak membantah.

Dia hanya mengangguk.

Lalu pergi.

Aku memperhatikannya sampai menghilang di ujung jalan.

Di belakangku terdengar suara Ayah.

“Nak.”

Aku menoleh.

Beliau berdiri di teras rumah dengan tongkat di tangan.

Masih belum sempurna.

Namun berdiri dengan usahanya sendiri.

Aku menghampirinya.

Beliau tersenyum.

“Kamu tidak kehilangan calon suami.”

“Kamu hanya terlambat menyadari bahwa rumah yang penuh kasih jauh lebih berharga daripada pernikahan yang kosong.”

Aku menggenggam tangan Ayah.

Rumah kami masih sederhana.

Dindingnya masih kusam.

Halaman belakang masih menjadi tempatku mencuci seprai setiap hari.

Tetapi tidak ada lagi rasa malu.

Karena aku akhirnya mengerti bahwa cinta sejati tidak pernah diukur dari seberapa besar seseorang mampu membayar pengobatan, melainkan dari kesediaannya tetap tinggal ketika hidup sedang berada dalam keadaan paling sulit.

Dan hari ketika Arga menutup hidungnya saat pertama kali masuk ke rumah kami ternyata bukanlah hari ketika aku kehilangan masa depanku.

Itu adalah hari ketika aku menemukan keberanian untuk meninggalkan seseorang yang tidak pernah benar-benar memahami arti menjadi keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang