Ayahku menolak membiayai operasi ibuku yang seka-rat, tapi merayakan pertunangan putri kesayangannya dengan pesta mewah.

Ayahnya menatapnya tajam, gurat kekecewaan yang tertahan terlihat jelas di pelipisnya yang mengeras. “Rafka, apa yang kau lakukan? Kamu membawa… dia ke sini? Di malam pertunanganmu dengan Nadira?”

Rafka tidak gentar. Ia menggenggam tanganku, genggaman yang terasa seperti jangkar di tengah badai yang mulai berkecamuk. “Ayah, Ibu. Ini bukan sekadar kunjungan. Ini adalah pengumuman. Aku telah membatalkan pertunangan ini.”

Suasana ruangan yang tadinya tenang, seketika berubah menjadi sunyi mencekam. Nadira memekik tertahan, wajahnya yang tadi berseri-seri kini sepucat kertas. Di sudut ruangan, ayahku—pria yang membiarkan ibuku meregang nyawa di tempat tidur reyot sementara ia sibuk dengan gengsi—bangkit berdiri dengan wajah merah padam.

“Rafka! Jangan bercanda!” bentak ayahku. “Nadira adalah calon istri yang sudah disepakati. Jangan karena perempuan rendahan ini—”

Aku memotong kalimatnya dengan tawa dingin yang membuat semua mata tertuju padaku. “Perempuan rendahan? Menarik sekali mendengar itu dari seseorang yang bahkan tidak sudi mengeluarkan uang untuk operasi istrinya sendiri agar bisa membiayai pesta mewah putri kesayangannya.”

Semua orang terperangah. Ibuku… dia meninggal dalam kesendirian karena pria yang berdiri di depanku ini lebih memilih prestise daripada nyawa. Nadira menatapku dengan mata melotot, namun aku menatapnya balik dengan tatapan yang jauh lebih tajam.

“Apa maksudmu?” tanya Nyonya Dirgantara dengan suara bergetar karena marah.

“Tanyakan pada calon menantu kesayangan Anda, Nyonya,” ucapku tenang sambil melangkah maju ke tengah ruangan. “Tanyakan pada keluarga Dirgantara ini, apakah mereka tahu bahwa dana yang digunakan untuk pesta pertunangan mewah ini berasal dari aset yang seharusnya digunakan untuk biaya pengobatan nyawa yang hilang?”

Aku tidak peduli lagi pada konsekuensi. Rafka menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan—ada kekaguman, ada rasa bersalah, dan yang terpenting: ada dukungan penuh.

“Rafka, jelaskan ini!” desak Tuan Dirgantara.

“Semuanya benar, Yah,” suara Rafka tenang namun menghantam seperti petir. “Dan bukan hanya itu. Aku telah melakukan penyelidikan. Perusahaan ayah Nadira sedang berada di ambang kebangkrutan, dan mereka berusaha menutupi itu dengan menikahkan Nadira dengan keluarga kita untuk mendapatkan suntikan dana.”

Nadira gemetar hebat. Ia mencoba memegang lengan Rafka, namun Rafka menghindar seolah sentuhan itu adalah racun. “Rafka, jangan percaya padanya! Dia hanya ingin membalas dendam karena dia iri padaku! Dia anak dari istri pertama yang tidak diinginkan!”

Aku mendekati Nadira, tepat ke depan wajahnya. “Aku memang anak yang tidak diinginkan. Tapi setidaknya, aku tidak berlumuran darah ibuku sendiri demi sebuah cincin berlian.”

Tuan Dirgantara menghela napas panjang, auranya yang tadi penuh wibawa kini berubah menjadi aura seorang penguasa yang dikhianati. Ia menatap ayahku dengan tatapan mematikan. “Jadi, Anda berusaha menipu keluarga kami? Menggunakan uang yang seharusnya untuk nyawa orang demi menyelamatkan bisnis Anda yang bobrok?”

Ayahku mencoba membela diri, kata-katanya terbata-bata, namun tidak ada yang mendengarkan. Kehancuran mereka dimulai detik itu juga. Aku melihat semuanya: ketakutan di mata mereka, kepanikan yang mulai menyeruak.

Rafka menarik pinggangku, mendekat ke sisinya. “Sekarang, karena pertunangan ini resmi batal, dan aku memiliki bukti atas penggelapan dana serta penipuan yang kalian lakukan… silakan keluar dari rumah ini. Sebelum aku menghubungi kepolisian.”

Malam itu, aku berdiri di antara puing-puing harga diri mereka. Ayahku diseret keluar dengan kepala tertunduk, Nadira menangis histeris, dan keluarga Dirgantara terdiam dalam penyesalan karena nyaris terjebak dalam kelicikan itu.

Saat pintu besar itu tertutup rapat, menyisakan kami berdua di ruang yang kini terasa luas dan sunyi, Rafka menatapku. “Apakah ini cukup untuk membalas mereka?”

Aku menatap cermin besar di dinding ruang tamu. Aku melihat diriku sendiri. Bukan lagi buruh kebun yang kusam, melainkan seorang wanita yang baru saja memenangkan perang pertamanya.

“Ini baru permulaan, Rafka,” bisikku. “Mereka harus merasakan apa yang dirasakan ibuku. Kehilangan segalanya, dalam kondisi yang paling tidak berdaya.”

Rafka mengangguk. Ia tidak memintaku untuk berhenti. Sebaliknya, ia menuntunku menuju kursi di tengah ruangan. “Kalau begitu, mari kita buat mereka kehilangan lebih banyak lagi. Bukan hanya uang, tapi juga nama baik yang mereka agungkan selama ini.”

Malam itu, di bawah lampu kristal yang megah, aku tidak lagi merasa seperti orang asing. Aku merasa seperti pemilik takdirku sendiri. Aku telah memenangkan posisi ini, bukan dengan cara yang manis, tapi dengan cara yang adil—sesuai dengan cara mereka memperlakukanku.

Perjalananku belum selesai. Masih ada banyak hal yang harus kubereskan, banyak kebohongan yang harus kubuka, dan banyak air mata yang harus mereka tumpahkan. Namun satu hal yang pasti: aku tidak akan pernah lagi membiarkan diriku diremehkan. Dendam ini adalah bahan bakarku, dan kini, dengan Rafka di sampingku, aku akan memastikan bahwa setiap detik kehidupan mereka mulai saat ini, akan menjadi neraka yang pantas bagi perbuatan mereka di masa lalu.

“Apa rencana kita selanjutnya?” tanyaku, suaraku terdengar dingin namun penuh percaya diri.

Rafka tersenyum tipis, sebuah senyum yang kini aku tahu, hanya diperuntukkan bagiku. “Kita akan memastikan bahwa bisnis mereka jatuh ke tangan yang tepat. Dan tangan itu… adalah tanganmu.”

Aku tersenyum. Akhirnya, keadilan yang kuminta kini berada dalam jangkauanku, dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang