BAGIAN 2
Pemandangan di depan mataku, meski terbatas oleh kegelapan dan sudut kolong ranjang yang sempit, mulai menyingkap tabir yang selama ini sengaja ditutup rapat oleh Indah. Aku melihat tangannya yang gemetar hebat. Bukan memegang foto kenangan atau surat cinta lama seperti yang kubayangkan, ia memegang sesuatu yang tampak seperti lembaran kertas kuno yang menguning, berbau apak dan menusuk hidung—aroma kemenyan dan tanah lembap yang bercampur menjadi satu.
Di sela isak tangis yang kian menjadi-jadi, Indah mulai meracau. Suaranya bukan lagi suara istriku yang lembut. Itu adalah gumaman dalam bahasa yang asing, tajam, dan penuh penekanan, seolah ia sedang berbicara dengan seseorang—atau sesuatu—yang berada tepat di depannya.

“Maafkan aku… aku belum bisa membawanya,” bisik Indah dengan suara yang parau. “Dia sangat teliti, dia tidak curiga, tapi dia mulai mendekat ke arah kebenaran.”
Jantungku serasa berhenti berdetak. Siapa yang dia maksud? Apakah aku? Tiba-tiba, Indah meletakkan benda di tangannya ke atas lantai. Cahaya matahari sore yang menerobos masuk melalui celah gorden sedikit menyinari benda itu. Itu adalah sebuah cermin kecil dengan bingkai kayu hitam legam yang tampak tidak wajar. Begitu ia menghadap ke cermin tersebut, pantulan di dalamnya membuat bulu kudukku berdiri tegak.
Pantulan di cermin itu bukanlah wajah Indah yang menangis. Di sana, di dalam cermin, tampak sosok wanita lain—sosok dengan mata yang berlubang kosong dan mulut yang terbuka lebar dalam jeritan bisu yang mengerikan. Indah terus menangis histeris, sementara bayangan di cermin itu justru terlihat tersenyum dingin.
Aku hampir berteriak, namun aku menutup mulutku sendiri dengan tangan hingga buku jariku memutih. Aku menyadari satu hal yang mengerikan: Indah tidak sedang menangis karena kesedihan manusiawi. Ia sedang melakukan sebuah ritual.
Sesaat kemudian, Indah mulai menggeser kotak kayu itu lebih dalam ke bawah ranjang—tepat ke arah tempatku bersembunyi. Aku mundur merayap dengan panik di atas lantai yang dingin, berusaha menjaga jarak agar tidak tertangkap basah. Indah mendekatkan wajahnya ke lantai, tepat di bibir kolong ranjang. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah kegelapan tempatku berada.
“Kau bisa menciumnya, bukan?” bisik Indah dengan nada yang sangat mengerikan, seolah dia tahu aku ada di sana. “Bau keringat suamiku. Bau rasa takutnya. Mereka lapar, dan dia adalah tumbal yang paling sempurna untuk memuaskan kesepakatan ini.”
Dunia seolah runtuh. Istriku, wanita yang kucintai selama lima tahun, sedang menawarkan nyawaku? Untuk apa? Kekayaan? Jabatan? Atau kutukan keluarga yang selama ini disembunyikannya dengan kedok tradisi Mudik ke Yogyakarta?
BAGIAN 3
Aku merayap mundur sejauh mungkin hingga punggungku membentur dinding kayu di sudut kolong ranjang. Kepalaku pening luar biasa. Informasi ini terlalu besar untuk dicerna oleh akal sehatku. Indah bangkit berdiri, suaranya yang tadinya penuh ratapan kini berubah menjadi dingin dan datar. Ia mulai berjalan mondar-mandir di kamar, namun langkahnya tidak lagi terdengar manusiawi—langkahnya berat, menyeret, seolah ada beban tak terlihat yang menempel di punggungnya.
Tiba-tiba, ponsel di sakuku bergetar hebat. Sebuah pesan masuk. Drrtt… drrtt…
Suara itu terdengar sangat keras di tengah kesunyian kamar yang mencekam. Aku memejamkan mata, memohon agar Indah tidak mendengarnya. Namun langkah kaki itu terhenti. Hening. Begitu hening hingga aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri yang memburu.
“Budi?” suara Indah memanggil namaku. Nadanya tidak lagi lembut, melainkan penuh dengan nada ancaman. “Aku tahu kau di sana. Kau pikir kau bisa bermain detektif dengan suamimu sendiri?”
Keheningan kembali menyergap. Indah tidak mencoba menarikku keluar. Dia justru berjalan menuju pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Klik. Bunyi kunci itu adalah vonis mati bagiku.
Aku memberanikan diri. Aku merangkak keluar dari bawah ranjang dengan napas terengah-engah. Begitu tubuhku sepenuhnya keluar, aku melihat Indah berdiri membelakangiku. Rambut panjangnya terurai berantakan, dan ruangan kamar kami mendadak terasa sedingin es. Di atas tempat tidur, lembaran-lembaran kertas yang tadi ia baca kini tampak terbakar dengan sendirinya, mengeluarkan asap berwarna biru yang berputar-putar di udara.
“Indah…” panggilku, suaraku bergetar.
Ia berbalik perlahan. Wajahnya yang cantik kini tampak pucat pasi, dengan urat-urat kehitaman yang menjalar dari leher hingga ke bawah matanya. “Budi, sayang. Kau seharusnya tetap di kantor. Kau seharusnya tidak perlu tahu tentang ‘Perjanjian Sego Liwet’ ini.”
“Apa yang kau lakukan, Indah? Siapa mereka?” teriakku frustrasi.
Indah tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan logam. “Keluargaku sudah miskin selama tujuh turunan. Kami hidup dalam kelaparan dan penghinaan. Ketika aku bertemu dengan ‘mereka’ di hutan jati belakang rumah kakek di Jogja, mereka menjanjikan segalanya. Kecantikan, kehidupan mewah, dan suami yang sukses seperti dirimu. Tapi, setiap lima tahun sekali, kontrak itu harus diperbarui. Dan bayarannya adalah jiwa orang yang paling mencintai pemilik kontrak ini.”
Aku terhuyung mundur. Jadi selama ini, kebahagiaan kami adalah bohong? Pernikahan kami hanyalah bagian dari syarat tumbal untuk menjaga kekayaan dan kesuksesan yang ia dapatkan?
BAGIAN 4
Konspirasi ini jauh lebih dalam dari sekadar ilmu hitam. Saat aku menatap matanya, aku melihat kilasan ingatan yang bukan milikku. Aku melihat foto-foto di lemari, dokumen perusahaan kontraktor tempatku bekerja—semuanya ada hubungannya dengan keluarga Indah. Ternyata, proyek-proyek besar yang aku kerjakan selama ini bukanlah hasil jerih payahku sendiri. Semuanya sudah diatur, disetir, dan disiapkan oleh pihak-pihak yang telah membuat perjanjian dengan Indah.
Aku bukan seorang insinyur berprestasi di mata mereka; aku hanyalah seorang pion yang dipersiapkan untuk menjadi puncak dari upacara persembahan ini.
“Kau pikir kenaikan jabatanmu bulan lalu adalah keberuntungan?” Indah berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat lampu kamar berkedip-kedip. “Itu adalah pemberian ‘mereka’ agar kau memiliki nilai lebih saat nanti ditumbalkan. Kau harus memiliki karier yang cemerlang sebelum nyawamu diambil, agar pengorbanan itu terasa lebih ‘berharga’ bagi mereka.”
Aku merasa muak. Kebencian, rasa dikhianati, dan ketakutan bercampur menjadi satu. Aku segera melompat ke arah pintu, mencoba mendobraknya, namun pintu itu seolah terbuat dari baja yang tak tergoyahkan.
“Tidak ada gunanya, Budi. Pintu ini sudah disegel dengan darah nenek moyangku,” ucapnya sinis.
Aku harus berfikir cepat. Jika aku tidak bisa keluar, aku harus menghancurkan sumber kekuatannya. Mataku tertuju pada kotak kayu yang tadi sempat ia geser ke bawah ranjang. Jika itu adalah pusat dari segalanya, maka itulah kuncinya.
Dengan gerakan kilat, aku menerjang ke arah ranjang, menendang kotak itu hingga terpental ke tengah ruangan. Indah berteriak histeris, sebuah jeritan yang memecahkan kaca jendela kamar. Sosok bayangan di cermin tadi tiba-tiba keluar, memanjang di dinding seperti jelmaan iblis.
“Jangan sentuh itu!” teriaknya.
Aku tidak peduli. Aku meraih kotak itu, mengambil barang pecah belah yang ada di atas meja nakas, dan menghantamkannya ke kotak tersebut hingga hancur berkeping-keping. Begitu kotak itu hancur, sebuah ledakan energi panas meledak di dalam kamar. Cahaya putih menyilaukan membutakan mataku sejenak, diikuti oleh suara geraman yang sangat keras—suara ribuan makhluk yang sedang tersiksa.
BAGIAN 5
Ketika cahaya itu memudar, suasana kamar kembali normal. Indah tergeletak di lantai, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya yang tadi pucat dan mengerikan kini kembali normal, meski ia tampak sangat tua secara mendadak. Rambutnya memutih, dan kulitnya tampak layu.
Aku berdiri di depannya dengan napas yang memburu. Aku tahu bahwa apa yang kuhancurkan bukan sekadar kotak, melainkan segel hidupnya. Namun, aku tidak merasakan penyesalan. Aku merasakan sebuah kemarahan yang membara.
“Kita sudah selesai, Indah,” kataku dengan suara yang dingin.
Aku berjalan keluar kamar, meninggalkan Indah yang menangis tersedu-sedu, bukan lagi tangisan iblis, melainkan tangisan seorang wanita yang baru saja kehilangan segalanya—kecantikan, harta, dan mungkin nyawanya sendiri karena kutukan itu berbalik menyerang dirinya sendiri.
Aku keluar dari rumah itu tanpa membawa apa pun. Aku meninggalkan mobilku, meninggalkan uangku, dan meninggalkan identitas lamaku. Di luar, hujan deras mengguyur Jakarta, seolah membersihkan noda-noda yang menempel di jiwaku.
Ibu Ningsih masih berdiri di sana, di balik pagarnya, menatapku dengan mata yang seolah mengerti segalanya. Dia tidak terkejut. Dia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh arti seolah dia sudah lama menunggu momen ini terjadi.
“Bapak sudah bebas,” bisik Ibu Ningsih saat aku melewatinya.
Aku tidak menjawab. Aku terus berjalan menembus hujan, menuju jalan raya yang tidak pasti. Aku tahu hidupku telah hancur. Karierku, pernikahanku, dan masa depanku telah lenyap. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, aku bisa bernapas dengan paru-paruku sendiri.
Di kejauhan, aku mendengar suara sirine ambulans yang menuju ke arah rumahku. Entah apa yang terjadi pada Indah, dan entah apakah aku masih akan diburu oleh entitas-entitas yang dulu mengatur hidupku, aku tidak peduli lagi.
Kehidupan baru dimulai hari ini, di atas reruntuhan sebuah pernikahan yang ternyata hanyalah sebuah sandiwara berdarah. Aku berjalan menjauh, meninggalkan semua konspirasi busuk itu di belakang, menuju kegelapan malam yang—meskipun menakutkan—terasa jauh lebih jujur daripada cahaya palsu di dalam rumah itu.
Bagaimana menurutmu tentang keputusan Budi untuk meninggalkan segalanya? Apakah dia benar-benar sudah bebas, atau mungkin ada ancaman lain yang menunggunya di luar sana?
