PERJAMUAN TERAKHIR: NASI YANG DIMAKAN BERSAMA PENYESALAN

Aroma debu dan kayu kering langsung menyambut Mateo saat ia melangkah masuk ke rumah tua di Bulacan. Hari itu adalah hari ke-100 sejak pemakaman Ibunya, Elena, dan tujuannya datang sangat sederhana: menandatangani dokumen untuk menjual tanah ini kepada para pengembang properti. Dengan membawa sebuah attaché case mahal dan mengenakan setelan jas Italia, ia merasa dirinya begitu tidak cocok berada di rumah yang gelap dan nyaris roboh itu.

Saat menepis jaring laba-laba tebal di bawah meja makan, sebuah buku harian tua terjatuh dari celah lantai. Ketika ia membukanya, selembar kertas lusuh meluncur keluar—tulisan tangan Ibunya yang tampak bergetar.

“Mateo, Nak, jika kamu membaca ini pada hari ke-100 setelah kepergianku, pergilah ke dapur. Aku sudah menyiapkan jamuan terakhir untukmu.”

Mateo tertawa pahit. “Apa ini, semacam lelucon?” gumamnya.

Namun napasnya seketika tertahan saat ia mencium aroma yang sangat dikenalnya. Harumnya adobo dengan perpaduan kecap asin, cuka, dan daun salam yang pas—persis seperti aroma dapur masa kecilnya. Perlahan ia melangkah menuju dapur. Di sana, di atas meja makan, tersaji sepiring adobo yang masih hangat, seolah baru saja dimasak, dengan uap tipis yang perlahan menyatu dengan udara sore yang dingin.

Sebagai seorang pengusaha sukses yang selalu mengandalkan logika, mengapa setiap langkahnya justru membuatnya merasa seakan-akan dinding-dinding rumah tua itu berdenyut hidup?

Ia menyentuh pinggir piring itu. Hangat.

Mustahil.

Listrik di rumah sudah diputus berbulan-bulan. Tidak ada siapa pun yang tinggal di sana sejak ibunya meninggal. Bahkan pintu depan tadi masih terkunci rapat dengan gembok yang hanya ia miliki kuncinya.

Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan. Sejak pagi ia belum sempat makan. Ia menatap adobo itu beberapa saat, lalu menggeleng.

“Aku mulai berhalusinasi.”

Namun saat ia hendak membalikkan badan, matanya menangkap sebuah mangkuk nasi putih di sisi piring. Di bawah mangkuk itu terselip secarik kertas kecil.

“Makanlah selagi masih hangat. Setelah itu, bacalah halaman terakhir di buku harianku.”

Tangan Mateo mulai gemetar.

Ia akhirnya duduk di kursi kayu yang sudah usang. Kursi yang dulu selalu ditempati ayahnya sebelum meninggal dua puluh tahun lalu. Dengan ragu ia menyuapkan sesendok nasi dan adobo ke mulutnya.

Rasa itu.

Persis.

Tidak ada restoran mana pun yang pernah mampu meniru rasa masakan ibunya. Rasa asam yang lembut, gurih yang pas, sedikit manis di ujung lidah. Seketika matanya memanas.

Tanpa sadar ia menghabiskan seluruh isi piring.

Begitu suapan terakhir masuk ke mulutnya, rumah itu mendadak sunyi.

Sangat sunyi.

Kemudian terdengar suara jam dinding tua berdentang enam kali, padahal jam itu sudah rusak bertahun-tahun.

Mateo buru-buru membuka halaman terakhir buku harian itu.

Di sana tertulis,

“Kalau kamu sudah menghabiskan makanan ini, berarti akhirnya kamu mau duduk bersamaku lagi, meski aku sudah tiada.”

Air mata pertama jatuh ke halaman buku.

Selama sebelas tahun terakhir, ia tidak pernah lagi makan di rumah itu.

Setelah menjadi direktur perusahaan investasi di Jakarta, hidupnya berubah total. Pertemuan bisnis, penerbangan luar negeri, proyek miliaran rupiah. Setiap kali ibunya menelepon, jawabannya selalu sama.

“Nanti saja, Ma. Aku sibuk.”

Ketika ibunya mengirim pesan bahwa ia sakit, Mateo hanya mentransfer uang.

Ketika ibunya meminta ia pulang saat Natal, ia mengirim hadiah mahal.

Ketika ibunya menjalani operasi kecil, ia menyuruh asistennya mengirim bunga.

Ia selalu berpikir uang bisa menggantikan kehadiran.

Di halaman berikutnya, Elena menulis,

“Aku tahu kamu marah karena merasa aku lebih menyayangi panti asuhan daripada dirimu. Padahal setiap peso yang kusumbangkan berasal dari uang hasil menjahit malam-malam agar tabungan kuliahmu tidak pernah berkurang.”

Mateo mengerutkan kening.

Panti asuhan?

Ia teringat pertengkaran terakhir mereka.

Ia pernah melihat ibunya memberikan sejumlah uang kepada sebuah panti. Saat itu kondisi bisnisnya sedang sulit. Ia merasa ibunya tidak peduli pada dirinya.

Dengan emosi, ia berkata,

“Kalau Ibu lebih memilih anak-anak lain, anggap saja Ibu tidak punya anak lagi.”

Itulah kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum pergi.

Ia tidak pernah meminta maaf.

Halaman berikutnya membuat napasnya tercekat.

Di sana terselip fotokopi rekening bank.

Saldo tabungan pendidikan atas nama Mateo.

Jumlahnya sama persis dengan seluruh biaya kuliahnya dulu.

Di bawahnya ada catatan kecil.

“Aku tidak pernah mengambil uangmu. Aku hanya tidak ingin kamu tahu bahwa aku bekerja sampai kedua tanganku sering berdarah.”

Mateo menutup wajahnya.

Tangis yang selama bertahun-tahun ia tahan akhirnya pecah.

Saat itulah terdengar suara langkah kaki dari ruang tamu.

Pelan.

Teratur.

Ia mengangkat kepala.

“Siapa di sana?”

Tak ada jawaban.

Suara itu terus mendekat.

Jantungnya berdegup keras.

Ketika ia berdiri dan mengintip ke arah ruang tamu, tak ada seorang pun.

Namun di atas meja tamu kini terletak sebuah kotak kayu yang sebelumnya tidak ada.

Kotak itu tidak terkunci.

Di dalamnya terdapat puluhan amplop.

Semuanya bertuliskan nama Mateo.

Amplop pertama bertanggal sebelas tahun lalu.

“Untuk ulang tahunmu.”

Amplop kedua.

“Untuk saat kamu mendapat promosi.”

Amplop ketiga.

“Untuk saat kamu menikah nanti.”

Amplop keempat.

“Kalau suatu hari kamu merasa sendirian.”

Satu demi satu ia membuka semuanya.

Setiap amplop berisi surat pendek yang ditulis ibunya pada berbagai kesempatan.

Tidak ada satu pun yang berisi keluhan.

Tidak ada kemarahan.

Hanya doa.

Doa agar anaknya sehat.

Doa agar anaknya bahagia.

Doa agar anaknya tidak kesepian.

Surat terakhir bertanggal seminggu sebelum Elena meninggal.

“Tubuhku semakin lemah. Dokter bilang waktuku mungkin tidak lama lagi. Aku tidak takut mati. Aku hanya takut kamu pulang ketika semuanya sudah terlambat.”

Mateo menangis sesengguk-sengguk.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, semua penghargaan, jabatan, mobil mewah, dan rekening miliaran rupiah terasa tidak berarti.

Matahari mulai tenggelam.

Ia memutuskan berjalan ke halaman belakang.

Di sana masih berdiri pohon mangga yang dulu ia tanam bersama ayahnya.

Di bawah pohon itu terdapat bangku kayu.

Saat ia duduk, seorang pria tua menghampiri dari rumah sebelah.

“Kamu akhirnya pulang juga.”

Mateo mengenali wajah itu.

Pak Ruben, tetangga mereka.

“Pak… apakah tadi Bapak masuk ke rumah saya?”

Pria tua itu menggeleng.

“Tidak. Rumah itu bahkan belum pernah kubuka sejak ibumu meninggal.”

“Lalu… makanan di dapur?”

Pak Ruben terdiam beberapa saat.

“Ibumu memasak adobo itu sehari sebelum meninggal.”

Mateo membeku.

“Tidak mungkin.”

“Ia bilang, ‘Kalau Mateo pulang pada hari ke-100, dia pasti lapar.’ Aku bilang makanan itu pasti basi. Tapi ibumu hanya tersenyum.”

Mateo langsung berlari kembali ke dapur.

Piring itu.

Kosong.

Tetapi ketika ia menyentuh permukaannya lagi, piring itu kini dingin seperti batu.

Seolah-olah memang sudah berbulan-bulan tidak disentuh.

Ia memeriksa panci.

Kosong dan berdebu.

Kompor dipenuhi sarang laba-laba.

Tak ada tanda-tanda seseorang pernah memasak.

Ia terduduk lemas.

Malam itu ia memutuskan menginap di rumah.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Sekitar pukul dua dini hari, ia terbangun karena mendengar suara pelan dari dapur.

Bukan suara langkah kaki.

Melainkan suara sendok yang mengaduk panci.

Persis seperti suara ibunya setiap subuh.

Ia bangkit perlahan.

Saat sampai di ambang pintu dapur, suara itu berhenti.

Di atas meja hanya ada satu mangkuk kosong.

Namun aroma adobo kembali memenuhi ruangan.

Mateo tersenyum sambil menangis.

“Aku pulang, Ma.”

Angin malam berembus lembut melewati jendela yang terbuka sendiri.

Untuk sesaat ia merasa ada tangan hangat mengusap kepalanya, seperti saat masih kecil setiap kali ia demam.

Keesokan paginya, pengembang properti datang membawa kontrak penjualan.

Mateo membaca setiap halaman tanpa berkata apa-apa.

Lalu ia mengambil pulpen.

Semua orang mengira ia akan menandatangani.

Sebaliknya, ia merobek kontrak itu menjadi dua.

“Aku tidak jadi menjual rumah ini.”

Perwakilan perusahaan terkejut.

“Nilainya sangat besar, Pak.”

“Ada yang lebih berharga daripada uang.”

Beberapa bulan kemudian, rumah tua itu direnovasi tanpa mengubah bentuk aslinya.

Mateo mengubahnya menjadi dapur umum dan tempat makan gratis bagi anak-anak yatim serta para lansia yang hidup sendiri.

Di ruang makan utama, meja kayu tua tetap dipertahankan.

Di atasnya hanya ada sebuah bingkai kecil bertuliskan,

“Tak ada makanan yang lebih mengenyangkan daripada makan bersama orang yang kita cintai.”

Setiap hari Minggu, Mateo turun langsung memasak adobo dengan resep ibunya.

Anehnya, ia tidak pernah berhasil membuat rasanya benar-benar sama.

Selalu ada sesuatu yang kurang.

Hingga suatu sore, seorang anak kecil berkata sambil tersenyum,

“Masakannya enak sekali. Rasanya seperti dimasakkan ibu.”

Mateo menoleh perlahan.

Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia tidak lagi menangis.

Ia hanya tersenyum.

Saat menatap kursi kosong di ujung meja, ia merasa seolah seseorang sedang duduk di sana, memandangnya dengan senyum yang begitu dikenalnya.

Dan di saat itu juga ia akhirnya memahami satu hal yang selama ini terlambat ia sadari.

Penyesalan memang tidak pernah bisa mengubah masa lalu, tetapi kasih sayang yang diteruskan kepada orang lain mampu membuat cinta seseorang tetap hidup, bahkan setelah orang itu telah lama pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang