TOPENG DI DALAM KODE: SANDIWARA SEORANG ISTRI YANG KEHILANGAN JATI DIRI

Setiap kali aku membuka mata, rasanya seperti memasuki ruangan yang sama sekali tidak memiliki cahaya. Dunia tetap ada, tetapi wajah-wajah di dalamnya menghilang. Saat Elena menyambutku dengan senyum hangat setiap pagi, yang kulihat hanyalah permukaan kulit yang rata tanpa mata, tanpa hidung, tanpa bibir. Seolah-olah seseorang menghapus identitasnya dan hanya menyisakan tubuh yang masih bergerak.

Aku mengusap pipinya setiap hari, berharap sentuhan bisa mengembalikan ingatanku. Kulitnya hangat. Napasnya tenang. Semuanya terasa nyata. Namun begitu ia berbalik, bayangan dirinya lenyap begitu saja dari pikiranku. Aku hanya mampu mengenalinya melalui gaun biru yang hampir selalu ia kenakan dan kalung perak sederhana yang menggantung di lehernya.

“Mateo, jangan lupa obatmu.”

Suara itu menjadi jangkar yang membuatku tidak sepenuhnya tenggelam. Dokter mengatakan aku mengalami prosopagnosia berat akibat kecelakaan mobil enam bulan lalu. Aku tidak lagi mampu mengenali wajah manusia. Bahkan wajahku sendiri terasa asing ketika kulihat di cermin.

Kami kini tinggal di sebuah rumah sejuk di kawasan pegunungan, jauh dari keramaian Jakarta. Elena bilang udara yang tenang akan membantuku pulih. Aku ingin mempercayainya. Aku benar-benar ingin.

Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa kujelaskan.

Setiap malam, putriku yang berusia dua belas tahun, Lia, diam-diam masuk ke kamarku setelah Elena tertidur.

“Ayah,” bisiknya sambil menggenggam tanganku, “jangan percaya sama kalung itu. Dia bukan Ibu.”

Aku selalu mengernyit.

“Lia, jangan bicara seperti itu.”

“Aku serius. Ibu yang sekarang berbeda.”

“Kamu sedang marah sama Ibu?”

Lia menggeleng kuat-kuat. Air matanya jatuh.

“Ibu yang asli sudah pergi.”

Esok paginya, semua berubah seolah percakapan itu tidak pernah terjadi. Lia bersikap dingin kepadaku dan menghindari Elena. Sementara Elena tetap sabar, memasak sarapan, mengingatkanku minum obat, bahkan membacakan berita setiap sore karena mataku sering lelah.

Aku mulai merasa bahwa yang berubah bukan Elena.

Melainkan aku.

Suatu malam rasa penasaran mengalahkan logikaku. Saat Elena tertidur pulas, aku melepaskan kalung peraknya dengan hati-hati lalu menyimpannya di laci meja kerja.

Aku ingin melihat reaksinya.

Pagi harinya, Elena bangun seperti biasa. Ia mengenakan gaun biru yang sama, membuat kopi, dan tersenyum kepadaku.

Kalung itu tidak ada di lehernya.

Yang membuat bulu kudukku berdiri adalah kenyataan bahwa ia sama sekali tidak menyadari kehilangan kalung tersebut.

Tidak ada kepanikan.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada usaha mencarinya.

Seolah-olah kalung itu memang tidak pernah ada.

Malam berikutnya aku membuka laci.

Kalung itu menghilang.

Aku yakin seratus persen tidak ada seorang pun yang masuk ke ruang kerjaku.

Jantungku mulai berdegup semakin cepat.

Beberapa hari kemudian aku memasang kamera kecil di ruang kerja dan lorong menuju kamar tidur. Aku tidak memberi tahu siapa pun.

Keesokan paginya aku memutar rekamannya.

Tidak ada seorang pun membuka laci.

Namun tepat pukul 02.17 dini hari, layar kamera tiba-tiba dipenuhi gangguan seperti sinyal rusak selama hampir dua menit.

Setelah gambar kembali normal, laci sudah tertutup.

Kalung itu sudah tidak ada.

Aku mengulang rekaman berkali-kali.

Gangguan itu selalu muncul di detik yang sama.

Malam itu aku tidak tidur.

Tepat pukul dua lewat lima belas menit, aku berpura-pura terlelap.

Dua menit kemudian terdengar suara langkah kaki.

Sangat pelan.

Aku membuka mata sedikit.

Seseorang berdiri di depan pintu kamar.

Gaun biru.

Tubuh Elena.

Namun kepalanya sedikit menunduk sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.

Ia berdiri diam selama hampir satu menit.

Lalu berbalik dan pergi tanpa suara.

Keesokan harinya aku bertanya.

“Tadi malam kamu masuk ke kamar?”

“Tidak.”

“Yakin?”

“Aku tidur semalaman.”

Jawabannya terlalu tenang.

Malam berikutnya aku mengikuti langkah kaki itu.

Perempuan bergaun biru berjalan menuju ruang bawah tanah yang selama ini selalu terkunci.

Aku belum pernah masuk ke sana.

Pintu itu terbuka perlahan.

Aku mengintip dari celah.

Yang kulihat membuat seluruh tubuhku membeku.

Di dalam ruangan itu terdapat puluhan foto keluarga kami.

Semua wajah pada foto telah dicoret dengan tinta hitam.

Kecuali satu.

Wajah Elena.

Aku meraba salah satu foto.

Tiba-tiba kepalaku berdenyut hebat.

Potongan-potongan ingatan yang selama ini hilang mulai muncul.

Rumah sakit.

Suara rem mobil.

Darah.

Lia menangis.

Dan seseorang berteriak memanggil namaku.

Aku terjatuh.

Saat sadar kembali, Elena sudah berdiri di depanku.

“Kenapa masuk ke sini?” tanyanya pelan.

“Apa ini?”

“Itu masa lalu.”

“Apa yang kamu sembunyikan?”

Ia terdiam cukup lama.

“Aku melindungimu.”

Kalimat itu justru membuatku semakin takut.

Keesokan harinya saat Elena pergi berbelanja, Lia menarikku ke gudang belakang.

Ia menyerahkan sebuah flashdisk.

“Ayah harus lihat ini sendirian.”

Aku menyalakan laptop tua yang hampir tidak pernah digunakan.

Di dalam flashdisk hanya ada satu video.

Video dari kamera dashboard mobil kami enam bulan lalu.

Mobil melaju di tengah hujan deras.

Aku sedang menyetir.

Elena duduk di sampingku.

Kami bertengkar.

“Aku tidak sanggup hidup seperti ini lagi, Mateo!” teriak Elena.

“Kamu pikir aku bahagia?”

“Kamu terobsesi sama proyek itu! Bahkan anakmu saja sudah tidak kamu kenal!”

Aku terdiam.

Proyek?

Video berlanjut.

Aku berteriak marah.

Lalu membanting setir.

Lampu truk memenuhi layar.

Rekaman berhenti.

Tanganku gemetar.

Aku sama sekali tidak mengingat pertengkaran itu.

Saat Elena pulang, aku langsung menunjukkan video tersebut.

Ia menangis untuk pertama kalinya sejak kecelakaan.

“Aku tidak pernah ingin kamu melihatnya.”

“Kenapa?”

“Karena kamu menyalahkan dirimu sendiri setiap kali mengingatnya.”

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Elena memejamkan mata.

“Kita bertiga selamat.”

Aku menghela napas lega.

Namun ia melanjutkan dengan suara nyaris tak terdengar.

“Yang tidak selamat adalah diriku.”

Aku membeku.

“Apa maksudmu?”

“Perempuan yang hidup bersamamu sekarang bukan Elena yang dulu.”

Aku mundur selangkah.

“Jangan bercanda.”

“Aku Elena. Tapi bukan Elena yang kamu kenal.”

Aku menggeleng keras.

“Itu tidak masuk akal.”

Ia tersenyum pahit.

“Dulu aku ceria. Aku mudah tertawa. Aku mencintai musik. Setelah kecelakaan, aku kehilangan sebagian besar ingatanku. Operasi berbulan-bulan mengubah wajahku. Aku bahkan harus belajar berjalan lagi.”

Aku terdiam.

“Setiap hari aku melihatmu menatapku seperti orang asing. Bukan karena kau tidak mengenali wajah. Tetapi karena aku memang telah berubah.”

Dadaku terasa sesak.

“Kalung itu…”

“Itu hadiah ulang tahun pertama dari kamu. Setelah operasi, aku tidak sanggup memakainya lagi. Setiap kali melihatnya, aku teringat kehidupan yang sudah hilang.”

“Lalu kenapa kamu tidak mencarinya saat hilang?”

“Aku sengaja berhenti memakainya dua minggu sebelum kamu mengambilnya.”

Aku terdiam lama.

Semua dugaan mengerikan yang kubangun mulai runtuh satu per satu.

“Lalu Lia?”

Elena menghela napas.

“Lia tidak pernah bisa menerima perubahan wajahku. Saat pertama melihatku setelah operasi, dia menjerit dan berkata aku bukan ibunya.”

Air mataku mulai mengalir.

“Aku pikir dia sudah bisa menerima.”

“Dia sedang berusaha.”

Malam itu aku berbicara dengan Lia.

Ia menangis dalam pelukanku.

“Ayah… aku tahu itu Ibu.”

Aku menatapnya bingung.

“Aku cuma berharap suatu hari wajah Ibu kembali seperti dulu.”

“Kenapa bilang dia bukan Ibu?”

“Karena kalau aku mengakuinya… berarti aku harus menerima bahwa wajah Ibu yang lama benar-benar hilang.”

Aku memeluknya erat.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, kami bertiga menangis bersama.

Beberapa minggu kemudian aku memutuskan menghentikan semua obat penenang yang selama ini membuat pikiranku berkabut, tentu di bawah pengawasan dokter. Terapi berjalan perlahan. Aku masih belum bisa mengenali wajah manusia. Kondisi itu mungkin tidak akan pernah sepenuhnya pulih.

Namun aku mulai menemukan cara lain.

Aku mengenali Elena dari caranya tertawa pelan sebelum berbicara.

Dari aroma melati pada rambutnya.

Dari kebiasaan mengetuk meja dua kali sebelum meletakkan secangkir kopi.

Aku mengenali Lia dari langkah kakinya yang selalu terburu-buru.

Dari cara ia memanggilku dengan nada sedikit meninggi saat sedang kesal.

Dari pelukan yang selalu datang tanpa suara.

Suatu sore Elena bertanya, “Kalau suatu hari nanti kamu bisa melihat wajah lagi, apa yang pertama kali ingin kamu lihat?”

Aku menggenggam tangannya.

“Aku tidak tahu apakah aku akan mengenali wajahmu.”

Ia tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

“Tapi aku yakin akan tetap mengenalimu.”

“Bagaimana?”

“Karena ternyata selama ini aku tidak pernah benar-benar mencintai wajahmu.”

Aku merasakan jemarinya bergetar.

“Aku mencintai orang yang selalu kembali menggenggam tanganku setiap kali aku tersesat.”

Kabut sore perlahan turun menyelimuti rumah kami. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, dunia tidak lagi terasa seperti ruangan gelap tanpa cahaya.

Aku akhirnya mengerti bahwa wajah memang bisa berubah, ingatan bisa hilang, dan luka bisa menghapus hampir seluruh bagian dari masa lalu. Namun kasih sayang yang terus memilih bertahan, bahkan ketika tidak lagi dikenali, adalah satu-satunya identitas yang tidak pernah dapat disamarkan oleh siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang