Berikut adalah kelanjutan dari kisah tersebut.
Cincin itu. Benda kecil yang seharusnya menjadi simbol komitmen kami, kini tergantung di leher Camille, berkilauan di bawah lampu interior mobil yang remang-remang. Kalung perak itu tampak kontras dengan kulit lehernya yang mulus, seolah sengaja dipamerkan kepadaku untuk memastikan bahwa aku benar-benar melihatnya.
Duniaku berhenti berputar sejenak. Suara bising di luar, klakson kendaraan di jalanan Caloocan, dan detak jantungku sendiri seolah melambat, tersinkronisasi dengan rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuhku.
“Cincin itu…” suaraku hampir tidak terdengar, tercekat di tenggorokan.

Marco segera membelokkan pandangannya ke depan, tangannya yang mencengkeram kemudi tampak mengencang. “Jangan mulai lagi, Mara. Itu hanya… jaminan. Camille meminjamnya untuk acara wisuda. Dia ingin terlihat lebih dewasa di depan teman-temannya. Jangan berlebihan.”
Camille tertawa kecil, suara yang biasanya terdengar manis, kini terasa seperti goresan kuku di atas papan tulis bagiku. “Kak Mara jangan marah ya? Kak Marco memang sangat perhatian. Dia bilang, daripada cincin ini disimpan di kotak berdebu di rumah Kakak, lebih baik aku yang memakainya untuk keberuntungan.”
Aku menatap Marco. Pria yang selama tiga tahun ini aku anggap sebagai pelabuhan terakhirku, pria yang aku bela di depan siapa pun yang berani meragukan niat baiknya, kini tidak berani menatap mataku. Matanya fokus ke jalanan, menghindari konfrontasi.
“Jaminan?” tanyaku dingin. “Sejak kapan sebuah cincin pertunangan menjadi ‘jaminan’ bagi seseorang yang bukan tunanganku?”
Marco menghela napas panjang, sebuah gestur yang sering ia gunakan untuk menunjukkan bahwa dia lelah dengan “drama” yang aku buat. “Mara, bisakah kau tidak membuat keributan di ruang publik? Kita akan membicarakan ini di rumah nanti. Sekarang, masuklah. Kita akan mengantar Camille pulang dulu.”
“Tidak,” jawabku singkat.
“Apa?” Marco menoleh, kali ini dengan tatapan tajam.
“Aku bilang tidak. Aku tidak akan ikut kalian. Dan lebih penting lagi,” aku meraih pegangan pintu dan membukanya, “cincin itu, Marco. Ambil kembali. Sekarang.”
Camille tersentak, tangannya refleks menutupi kalung itu. “Kak Mara, ini milik Kak Marco! Dia yang memberikannya padaku!”
Aku menatap Camille dengan tatapan yang membuat gadis itu terdiam. “Dia memberikannya padamu karena dia tidak lagi menghargai makna benda itu. Dan kamu,” aku beralih menatap Marco yang mulai terlihat gelisah, “kamu memberikannya padamu karena kamu memang ingin orang lain melihat bahwa tunanganmu tidak lagi penting bagimu.”
Aku turun dari mobil, membanting pintu dengan suara yang cukup keras hingga mengundang perhatian beberapa pejalan kaki di trotoar. Aku tidak peduli. Untuk pertama kalinya, rasa malu yang selama ini aku rasakan karena kemiskinan Papa, karena bau obat-obatan, dan karena beban yang kupikul, hilang sepenuhnya. Rasa malu itu kini berpindah ke mereka.
“Mara! Kembali ke sini!” teriak Marco dari dalam mobil.
Aku tidak menoleh. Aku berjalan menjauh, membiarkan mereka di sana dengan kebohongan mereka sendiri. Langkahku mantap. Setiap langkah yang kubuat di atas trotoar yang tidak rata ini terasa seperti pembebasan.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar Papa. Dia masih terjaga, menatap langit-langit kamar dengan mata yang kosong namun penuh harapan. Saat aku masuk, dia berusaha duduk.
“Mara? Kamu kembali cepat?”
Aku mendekat, duduk di sisi tempat tidurnya, dan menggenggam tangannya yang kasar—tangan yang pernah bekerja keras membanting tulang untuk menyekolahkanku.
“Papa,” kataku dengan suara yang jauh lebih stabil daripada sebelumnya. “Kita tidak akan menunggu tiga hari. Besok pagi, kita akan berangkat ke Cebu.”
Papa tampak terkejut. “Tapi… bagaimana dengan Marco? Bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Marco bukan lagi bagian dari rencana kita, Pa. Dan pekerjaan… aku akan mencari yang baru di sana. Aku sudah mengumpulkan cukup uang tabungan, dan aku tahu seorang teman lama yang bisa membantu kita memulai di sana.”
Malam itu, aku mulai mengepak barang-barang. Aku melihat gaun pernikahan yang tergantung di lemari—gaun yang kupilih dengan air mata, gaun yang kubeli dengan menyisihkan uang makan selama berbulan-bulan. Aku tidak membawanya. Aku melipatnya rapi dan meletakkannya di atas tempat tidur, lalu di atasnya, aku meletakkan surat singkat.
Tidak ada kemarahan dalam surat itu. Hanya pernyataan bahwa aku sudah pergi, dan bahwa dia bebas untuk memberikan cincinnya kepada siapa pun yang dia mau.
Keesokan paginya, matahari terbit dengan cahaya yang berbeda. Lebih terang, lebih tajam. Saat aku membantu Papa masuk ke dalam taksi yang sudah kupesan, aku melihat mobil Marco terparkir di ujung jalan. Dia berdiri di sana, menunggu. Mungkin dia pikir aku hanya perlu ditenangkan.
Saat dia melihat kami—aku yang mendorong kursi roda Papa dengan kepala tegak—wajahnya memucat. Dia berjalan cepat ke arah kami.
“Mara! Apa yang kau lakukan? Kamu gila? Kamu tidak bisa meninggalkan semuanya begitu saja!”
Aku berhenti. Aku menatapnya, benar-benar menatapnya untuk terakhir kalinya. Aku tidak melihat pria yang aku cintai. Aku melihat seseorang yang rapuh, seseorang yang haus akan validasi orang lain, dan seseorang yang terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan hidup yang tidak selalu indah.
“Aku tidak meninggalkan semuanya, Marco,” kataku tenang. “Aku hanya meninggalkan apa yang sudah tidak ada gunanya bagiku.”
“Tapi kita punya rencana! Pernikahan kita bulan depan!”
“Tidak ada pernikahan,” potongku. “Bukan karena aku takut akan beban, tapi karena aku terlalu berharga untuk menjadi beban di matamu.”
Dia terdiam, mulutnya terbuka sedikit, kehabisan kata-kata. Dia terbiasa dengan aku yang selalu mengalah, aku yang selalu meminta maaf jika ada kesalahan, dan aku yang selalu memohon agar dia tetap di sampingku. Dia tidak siap dengan aku yang memilih untuk pergi.
Camille muncul dari balik mobil, wajahnya tampak panik. “Kak Mara, jangan lakukan ini! Kak Marco nanti sedih!”
Aku tersenyum tipis pada Camille. “Jangan khawatir, Camille. Sekarang, kamu bisa memiliki perhatiannya sepenuhnya. Kamu bisa membantunya membawakan tasnya, mengurus makanannya, dan menutup hidungmu jika kamu merasa dia terlalu lelah bekerja untukmu.”
Aku mendorong kursi roda Papa ke arah taksi. Pengemudi taksi, seorang pria tua yang ramah, membantuku mengangkat Papa.
“Sudah siap, Nak?” tanya supir itu.
“Ya, Pak. Ayo jalan,” jawabku.
Saat mobil melaju, aku melihat dari kaca spion. Marco masih berdiri di sana, terdiam di tengah jalan. Camille berusaha menarik lengannya, tapi Marco tidak bergerak. Dia menatap kepergian kami, mungkin untuk pertama kalinya menyadari apa yang sebenarnya baru saja dia lepaskan.
Di sampingku, Papa menggenggam tanganku. “Kamu yakin, Nak?”
Aku memandang ke depan, ke jalan panjang yang akan membawa kami menuju awal yang baru. Di Cebu, mungkin tantangannya akan lebih berat, pekerjaan akan lebih keras, dan pengobatan Papa akan memakan biaya yang tidak sedikit. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa takut.
“Aku tidak pernah seyakin ini, Pa,” bisikku.
Mobil itu melaju meninggalkan Caloocan, meninggalkan kenangan tentang pria yang memintaku untuk melupakan masa lalu, dan menuju masa depan yang—meskipun sulit—akan menjadi milik kami sendiri. Aku tidak butuh pernikahan yang dibangun di atas rasa jijik dan kepura-puraan. Aku butuh keberanian untuk mengakui bahwa diriku, dan keluargaku, layak mendapatkan jauh lebih dari itu.
Dan saat itulah, di tengah debu jalanan yang terbang tertiup angin, aku tahu. Aku tidak butuh Marco. Aku sudah memiliki diriku sendiri, dan itu sudah lebih dari cukup.
