Setelah pesta akhir tahun perusahaan selesai, suamiku bilang dia hanya akan mengantar sebentar seorang anak magang ke kondominiumnya.

Mara meletakkan dokumen itu tepat di depan Miguel tanpa sedikit pun mengangkat suaranya.

“Tanda tangani. Setelah itu, kursi ini juga akan kuberikan kepadanya.”

Ruangan mendadak sunyi. Tidak ada yang berani bergerak. Bahkan suara pendingin ruangan terasa lebih nyaring daripada napas orang-orang yang berdiri mengelilingi mereka.

Miguel memandang dokumen itu sekilas sebelum mendorongnya kembali.

“Kamu mempermalukanku di depan semua orang.”

Mara menatapnya tenang.

“Bukan aku yang mempermalukanmu.”

Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya sejak perusahaan itu berdiri, para karyawan melihat pasangan yang selama ini dianggap sebagai fondasi perusahaan berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Bianca menggenggam map di dadanya. Air matanya kembali mengalir.

“Pak Miguel… mungkin saya yang sebaiknya keluar.”

Miguel langsung menggeleng.

“Kamu tidak perlu pergi.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat semua orang memahami siapa yang sedang dipilihnya.

Mara mengangguk pelan.

“Terima kasih.”

Miguel mengernyit.

“Untuk apa?”

“Karena akhirnya kamu memilih dengan jelas.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Mara mengambil laptopnya, beberapa dokumen penting, lalu berjalan menuju ruang rapat terbesar di kantor. Ia menghubungi kepala divisi keuangan, kepala HR, dan penasihat hukum perusahaan.

Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, semua orang yang memegang posisi strategis sudah duduk di dalam ruangan.

Tidak ada yang mengerti mengapa rapat darurat diadakan pagi-pagi sekali.

Mara berdiri di depan layar presentasi.

“Ada beberapa hal yang selama ini tidak pernah saya ceritakan kepada kalian.”

Ia menampilkan laporan keuangan sejak tujuh tahun terakhir.

Grafik demi grafik muncul di layar.

Semua klien terbesar perusahaan.

Semua investor utama.

Semua kontrak jangka panjang.

Di setiap halaman, satu nama terus muncul sebagai penanggung jawab utama.

Mara Reyes-Santos.

Ruangan mulai dipenuhi bisik-bisik.

Banyak karyawan baru selalu mengira Miguel adalah orang yang membangun perusahaan seorang diri.

Padahal selama ini Mara sengaja berada di belakang layar.

Dialah yang menyusun strategi bisnis.

Dialah yang menegosiasikan kontrak.

Dialah yang mempertahankan perusahaan saat pandemi hampir membuat semuanya bangkrut.

Miguel baru masuk beberapa menit kemudian.

Wajahnya berubah ketika melihat seluruh direksi sudah berkumpul.

“Apa ini?”

Mara menoleh.

“Rapat evaluasi.”

Miguel tertawa pendek.

“Tanpa persetujuanku?”

“Kamu memang CEO.”

Mara mengangguk.

“Tapi aku masih pemegang saham terbesar.”

Ruangan kembali sunyi.

Miguel langsung menatap penasihat hukum perusahaan.

Pria paruh baya itu membuka map yang sudah disiapkan.

“Pak Miguel, sesuai akta perubahan terakhir, Ibu Mara memiliki lima puluh satu persen saham karena penyertaan modal tambahan tiga tahun lalu.”

Miguel membeku.

“Itu tidak mungkin.”

“Itu mungkin,” jawab Mara pelan. “Waktu perusahaan hampir bangkrut, kamu sedang mengejar ekspansi. Aku menjual apartemen warisan ibuku untuk menyelamatkan perusahaan. Kamu menandatangani semua dokumennya tanpa membacanya.”

Miguel tidak mampu berkata apa-apa.

Ia memang mengingat hari itu.

Ia hanya tidak pernah benar-benar memperhatikan apa yang ditandatanganinya.

Mara menggeser map lain.

“Mulai hari ini, saya mengaktifkan hak suara mayoritas untuk melakukan audit internal.”

Beberapa wajah langsung berubah tegang.

Termasuk Bianca.

Awalnya audit itu hanya dimaksudkan untuk memisahkan urusan pribadi dari perusahaan.

Namun tiga hari kemudian, hasil yang muncul justru jauh lebih mengejutkan.

Tim auditor menemukan pengeluaran perusahaan yang digunakan untuk membayar apartemen, hadiah mewah, perjalanan pribadi, hingga kartu kredit atas nama Bianca.

Semua menggunakan anggaran pemasaran.

Jumlahnya mencapai miliaran rupiah.

Miguel berusaha membela diri.

“Itu hanya biaya representasi.”

Namun bukti transfer, rekaman CCTV, dan laporan perjalanan menunjukkan hal yang berbeda.

Bianca akhirnya dipanggil.

Perempuan muda itu datang dengan wajah pucat.

Untuk pertama kalinya, ia tidak memakai riasan mencolok.

Ia menangis begitu duduk.

“Saya tidak pernah meminta semua itu.”

“Lalu kenapa kamu menerimanya?” tanya Mara.

Bianca menunduk lama.

“Saya pikir… Pak Miguel benar-benar akan menceraikan Ibu.”

Miguel langsung memotong.

“Diam.”

Namun Bianca justru semakin keras menangis.

“Pak Miguel yang bilang perusahaan ini nanti akan jadi milik kami. Katanya Ibu tidak akan pernah berani pergi karena terlalu mencintai perusahaan.”

Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali sunyi.

Miguel menutup mata.

Ia sadar semuanya sudah terlambat.

Beberapa minggu kemudian, dewan komisaris mengadakan rapat luar biasa.

Dengan suara mayoritas, Miguel dicopot dari jabatannya sebagai CEO sampai proses investigasi selesai.

Ia keluar dari ruang rapat sendirian.

Tidak ada lagi tepuk tangan.

Tidak ada lagi orang yang berebut membukakan pintu.

Bahkan Bianca sudah mengundurkan diri sehari sebelumnya.

Sebelum pergi, gadis itu menemui Mara.

“Saya minta maaf.”

Mara hanya memandangnya.

“Kalau waktu bisa diulang, saya tidak akan mendekati suami Ibu.”

Mara tersenyum tipis.

“Bukan kamu yang menghancurkan rumah tanggaku.”

“Lalu siapa?”

“Orang yang berjanji akan menjaganya.”

Bianca menangis lebih keras.

Ia pergi tanpa membawa apa pun selain tas kecil yang dulu sering diletakkannya di kursi depan mobil Miguel.

Enam bulan kemudian, proses perceraian mereka selesai.

Mara tidak mengambil semua yang secara hukum bisa menjadi haknya.

Ia hanya mengambil bagian yang memang ia bangun sendiri.

Sisanya ia tinggalkan.

Banyak orang menganggapnya bodoh.

Namun Mara tahu satu hal.

Membalas dendam dengan merampas segalanya tidak akan membuat hatinya sembuh.

Yang ia butuhkan hanyalah kebebasan.

Setahun berlalu.

Perusahaan justru berkembang lebih pesat di bawah kepemimpinannya.

Budaya kerja berubah.

Tidak ada lagi perlakuan istimewa.

Tidak ada lagi hubungan yang melampaui batas profesional.

Pada pesta akhir tahun berikutnya, suasana tetap meriah.

Para karyawan tertawa dan saling berfoto.

Seseorang bertanya kepada Mara sambil bercanda.

“Bu, kalau ada anak magang cantik lagi, apa Ibu khawatir?”

Mara tersenyum.

“Saya tidak pernah khawatir pada perempuan lain.”

“Lalu pada siapa?”

“Pada orang yang memilih mengkhianati kepercayaan.”

Malam itu, saat semua tamu mulai pulang, Mara berjalan melewati parkiran basement.

Ia melihat SUV hitam yang dulu pernah ia beli bersama Miguel.

Mobil itu kini sudah berganti pemilik.

Ia hanya tersenyum, lalu masuk ke mobil barunya.

Di jok penumpang depan tidak ada parfum asing, tidak ada jepit rambut, tidak ada bekas lipstik.

Hanya sebuah map berisi kontrak kerja sama dengan investor baru dan secangkir kopi yang masih hangat.

Saat mobil melaju meninggalkan gedung, Mara menyadari sesuatu.

Yang paling menyakitkan dari sebuah pengkhianatan bukanlah ketika seseorang memilih orang lain.

Melainkan ketika kita terus memilih bertahan pada seseorang yang sudah lama berhenti memilih kita.

Dan sejak malam ketika ia duduk di kursi belakang sambil melihat perempuan lain merasa seolah kursi depan adalah miliknya, Mara sebenarnya sudah tahu bahwa yang harus ia selamatkan bukan lagi pernikahannya, melainkan harga dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang