Victor merasa dunia seolah runtuh tepat di bawah kakinya.

Victor merasa dunia seolah runtuh tepat di bawah kakinya. Rumah di Northcrest Village? Itu adalah properti mewah yang mereka beli bersama—rumah yang ia pikir telah ia kuasai sepenuhnya setelah Mariel pergi dua tahun lalu. Bagaimana mungkin wanita yang dulu tampak “kalah” dan pergi dengan tangan kosong kini bisa merebut kembali aset yang bahkan ia gunakan sebagai agunan untuk modal usaha Samantha yang sedang terseok-seok?

“Apa maksudmu?” suara Victor parau, hampir seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan. “Northcrest milikku. Itu atas namaku!”

Mariel menoleh perlahan, meletakkan pulpen mahalnya dengan anggun. Ia tidak menatap Victor dengan amarah, melainkan dengan tatapan kasihan yang justru jauh lebih menyakitkan bagi pria yang egonya sedang hancur lebur itu.

“Victor,” suara Mariel tenang, namun mematikan. “Kamu terlalu sibuk memamerkan istri barumu sampai lupa membaca detail perjanjian pembatalan pernikahan kita. Kamu ingat klausul ‘investasi bersama’ yang kamu paksa aku tanda tangani saat kita masih bersama? Kamu pikir itu melindungimu, tapi kamu lupa satu detail kecil: semua properti yang dibeli dengan dana perusahaan pribadiku selama masa pernikahan dihitung sebagai aset pemegang saham mayoritas.”

Adrian menambahkan dengan senyum dingin, “Dan selama dua tahun terakhir, karena kamu tidak pernah membayar pajak properti dan gagal melunasi tagihan pemeliharaan secara berkala, pengadilan telah melakukan sita eksekusi karena pelanggaran kontrak investasi. Kami baru saja membeli hak pengelolaan dari bank minggu lalu.”

Samantha, yang sedari tadi berdiri dengan gaun desainer seharga puluhan juta, kini tampak pucat pasi. “Tapi… kami tinggal di sana! Kamu tidak bisa mengusir kami!”

Mariel tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting kristal di ruangan yang tiba-tiba sunyi itu. “Kalian tidak diusir, Samantha. Kalian hanya perlu pindah. Lagipula, perusahaan Victor sudah berada di ambang kebangkrutan, bukan? Aku mendengar kabar burung bahwa proyek pembangunan yang dia kerjakan sedang diselidiki karena penggunaan material ilegal.”

Victor ternganga. “Bagaimana kau bisa tahu itu?”

“Karena perusahaan kontraktor yang menyediakan material untuk proyekmu adalah anak perusahaan dari grup yang aku pimpin sekarang,” sahut Mariel santai. Ia mengambil tasnya, bersiap untuk pergi. “Selamat menikmati sisa malam ini, Victor. Kamu benar, hidupku memang jauh lebih baik sekarang. Jauh lebih baik karena tidak lagi harus menanggung beban pria yang tidak tahu cara menghargai apa yang ia miliki.”

Namun, di tengah langkah Mariel menuju pintu keluar, sebuah suara berat menghentikannya. Itu bukan suara Victor, melainkan suara dari sistem suara ruangan yang tiba-tiba bergema.

“Mariel, tunggu sebentar.”

Seorang pria tua, pemilik perusahaan besar yang mengadakan acara tersebut, berjalan mendekat. Semua mata tertuju pada mereka. Pria itu adalah pemilik konglomerasi raksasa yang tidak pernah muncul ke publik.

“Victor memang pantas mendapatkan ini, tapi ada sesuatu yang lebih besar yang harus diumumkan malam ini,” ucap sang pemilik perusahaan sambil menatap Victor yang sudah gemetar. “Victor, kamu tidak hanya akan kehilangan rumah itu. Malam ini, kami resmi mengajukan tuntutan hukum atas penggelapan dana perusahaan yang dilakukan oleh Samantha—istrimu saat ini—yang ternyata adalah mantan karyawan yang dipecat tidak hormat dari perusahaan ini lima tahun lalu karena mencuri data rahasia.”

Seluruh ruangan gempar. Samantha jatuh terduduk, gaun mahalnya tampak kotor karena ia kehilangan keseimbangan. Victor menatap Samantha dengan horor. “Apa… apa yang dia katakan, Samantha?”

Samantha menangis histeris, namun tidak ada yang simpati. Mariel hanya berdiri terpaku. Ia sudah membalas dendam dengan caranya sendiri, namun ia tidak menyangka bahwa takdir akan menghancurkan mereka dengan cara yang jauh lebih brutal.

Mariel berjalan mendekati Victor yang kini tampak jauh lebih tua sepuluh tahun. Ia membungkuk sedikit, berbisik di telinga pria yang dulu sangat ia cintai itu:

“Satu hal yang tidak pernah kamu pelajari, Victor. Kamu selalu mencari wanita yang bisa kamu kendalikan. Tapi kamu lupa, bahwa api yang kamu gunakan untuk membakar orang lain, suatu saat akan memakan tanganmu sendiri.”

Mariel berbalik dan berjalan keluar dari gedung megah itu. Di luar, udara malam terasa begitu segar. Ia masuk ke dalam mobil sport miliknya yang diparkir di depan lobi. Adrian menyusul dan duduk di kursi pengemudi.

“Selesai?” tanya Adrian.

Mariel menatap gedung itu dari balik kaca mobil. “Selesai. Bukan hanya balas dendam, Adrian. Ini adalah pembersihan.”

Namun, saat mobil mulai bergerak menjauh, ponsel Mariel berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Isi pesannya hanya satu kalimat pendek yang membuat jantung Mariel berhenti sejenak:

“Permainan baru saja dimulai, Mariel. Kamu pikir kamu yang mengendalikan semuanya? Aku sudah menunggu momen ini selama dua tahun.”

Mariel memucat. Ia menoleh ke belakang, melihat ke arah gedung yang mulai menjauh. Di lantai atas, tepat di balkon kantor direksi yang gelap, sesosok bayangan pria berdiri menatap mobilnya dengan tatapan tajam.

Itu bukan Victor. Itu adalah seseorang yang tidak seharusnya ada di kota ini. Seseorang yang memegang kunci dari semua rahasia kekayaan Mariel yang baru saja ia bangun. Ternyata, kesuksesan Mariel selama dua tahun ini bukanlah hasil kerja kerasnya semata, melainkan bagian dari skema besar seseorang yang jauh lebih berbahaya daripada Victor.

Mariel menutup ponselnya, napasnya tidak beraturan. Ia menyadari satu hal yang paling mengerikan: ia tidak pernah benar-benar bebas. Ia hanya berpindah dari satu sangkar ke sangkar yang lebih besar. Dan sangkar ini… sudah terkunci rapat dari luar.

Kini, bukan lagi tentang Victor. Kini, adalah tentang bertahan hidup dari musuh yang bahkan tidak ia sadari keberadaannya. Di tengah gemerlap lampu kota, Mariel menyadari bahwa akhir dari balas dendamnya hanyalah awal dari mimpi buruk yang sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang