Aku menatap Bea tanpa berkedip.
“Apa maksudmu Miguel menang?”
Senyumnya perlahan memudar. Mungkin baru kali itu ia melihatku tidak menunduk atau mengalah.
“Maksudku… ya, dia menang taruhan.”

“Taruhan apa?”
Bea tampak ragu. Ia melirik ke kanan dan kiri memastikan tidak ada pelanggan lain yang memperhatikan kami.
“Lupakan saja.”
“Tidak. Jelaskan.”
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menghela napas.
“Waktu pengumuman masuk Universitas Indonesia keluar, Miguel bilang kamu pasti akan ikut ke mana pun dia pergi. Aku bilang belum tentu. Dia yakin kalau apa pun yang dia lakukan, kamu akan selalu memaafkan dia.”
Dadaku terasa sesak.
“Jadi… semua ini cuma permainan?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Bea menggigit bibir.
“Dia bilang kalau dia sengaja ingin melihat batas kesabaranmu.”
Aku tidak lagi mendengar suara blender, musik di dalam toko, atau pelanggan yang sedang mengantre.
Yang kudengar hanya detak jantungku sendiri.
“Kalau aku tetap bertahan?”
Bea menjawab pelan.
“Dia bilang berarti kamu benar-benar mencintainya.”
“Kalau aku pergi?”
“Dia bilang kamu pasti akan kembali juga.”
Aku tersenyum.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena untuk pertama kalinya aku sadar, selama ini aku bahkan bukan seorang pacar.
Aku hanya seseorang yang dianggap tidak akan pernah pergi.
Hari itu aku menyelesaikan jam kerjaku tanpa banyak bicara.
Malamnya Miguel datang mengirim pesan.
“Kok dari tadi nggak balas?”
Aku membaca pesannya tanpa membuka ruang obrolan.
Beberapa menit kemudian.
“Masih marah?”
Lalu.
“Aku lagi di bawah apartemen.”
Aku mematikan ponsel.
Untuk pertama kalinya sejak kami berpacaran hampir tiga tahun, aku membiarkannya menunggu.
Esok paginya Mama meletakkan secangkir teh hangat di depanku.
“Mau cerita?”
Aku mengangguk pelan.
Selama hampir satu jam aku menceritakan semuanya.
Tentang makan malam.
Tentang restoran.
Tentang video.
Tentang taruhan.
Mama tidak memotong sedikit pun.
Setelah aku selesai, beliau hanya berkata pelan.
“Kamu tahu kenapa Mama tidak pernah melarang kamu pacaran dengan Miguel?”
Aku menggeleng.
“Karena Mama percaya setiap orang harus belajar membedakan mana cinta dan mana kebiasaan.”
Aku diam.
“Kamu bukan kehilangan orang yang mencintaimu.”
Beliau menggenggam tanganku.
“Kamu hanya kehilangan kebiasaan mengejar seseorang.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Hari berikutnya aku mengirim formulir pendaftaran untuk sebuah program diploma di Bandung yang selama ini selalu kutunda karena hanya fokus mengejar Miguel.
Aku juga mulai belajar lagi untuk ujian masuk tahun berikutnya.
Hidupku perlahan memiliki tujuan selain dirinya.
Namun Miguel tidak tinggal diam.
Ia mulai sering datang ke tempat kerjaku.
Kadang membawa kopi.
Kadang membawa roti.
Kadang hanya berdiri di depan toko sampai aku selesai bekerja.
“Lara.”
Aku tetap berjalan.
“Aku cuma mau ngobrol.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
“Kamu berubah.”
Aku menoleh sebentar.
“Bukan. Aku cuma berhenti mengejarmu.”
Wajahnya terlihat bingung.
Seolah kalimat itu tidak pernah ada dalam bayangannya.
Beberapa hari kemudian Bea tiba-tiba menghubungiku.
“Aku mau ketemu.”
Kami bertemu di sebuah kafe kecil.
Bea terlihat jauh berbeda.
Tidak lagi penuh percaya diri.
Matanya sembab.
“Aku minta maaf.”
Aku menunggu.
“Ternyata aku salah.”
“Salah apa?”
“Aku kira Miguel benar-benar menyukaiku.”
Aku tidak terkejut.
Ia tertawa pahit.
“Dia memang sering mengajakku belajar, mengantarku pulang, membelikan makan, bahkan bilang aku berbeda dari perempuan lain.”
“Lalu?”
“Minggu lalu aku menyatakan perasaan.”
Aku bisa menebak akhirnya.
“Apa jawabannya?”
Bea menatap cangkir kopinya.
“Dia bilang dia cuma menganggapku teman yang pintar.”
Aku tidak mengatakan apa pun.
“Lalu dia bilang perempuan yang benar-benar dia cintai adalah kamu.”
Aku menghela napas pelan.
“Kalau begitu kenapa dia memperlakukan aku seperti itu?”
Bea menggeleng.
“Aku juga tidak mengerti.”
Beberapa hari setelah pertemuan itu, jawabannya datang sendiri.
Malam itu Miguel meminta bertemu di taman apartemen.
Aku datang hanya karena ingin menutup semuanya dengan jelas.
Ia duduk sendirian di bangku.
Begitu melihatku, ia langsung berdiri.
“Aku salah.”
Aku tetap diam.
“Aku pikir hubungan kita sudah terlalu aman.”
Aku menatapnya.
“Maksudmu?”
“Aku pikir kamu nggak akan pernah ninggalin aku.”
Ia tertawa kecil, tetapi terdengar getir.
“Makanya aku terlalu nyaman.”
“Terlalu nyaman sampai lupa menghormatiku?”
Miguel menunduk.
“Aku cuma bercanda.”
“Canda?”
“Sumpah, aku nggak pernah selingkuh.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
Ia tampak lega.
Tetapi aku melanjutkan.
“Yang kamu khianati bukan kesetiaanku.”
“Apa?”
“Rasa hormatku.”
Ia membeku.
“Kamu tidak perlu tidur dengan orang lain untuk menghancurkan sebuah hubungan.”
Aku menarik napas panjang.
“Cukup membuat pasanganmu merasa sendirian.”
Miguel memejamkan mata.
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
“Aku akan berubah.”
“Mungkin juga.”
“Lalu kenapa?”
Aku menatap langit malam.
“Karena aku tidak ingin menjadi tempatmu belajar menghargai orang.”
Ia menunduk lebih dalam.
Untuk pertama kalinya aku melihat Miguel tidak punya jawaban.
Kami berpisah malam itu.
Tanpa teriakan.
Tanpa tangisan.
Tanpa drama.
Hanya dua orang yang akhirnya sadar bahwa cinta saja tidak cukup.
Beberapa bulan kemudian aku pindah ke Bandung.
Aku tinggal di kos sederhana.
Pagi kuliah.
Sore bekerja paruh waktu.
Malam belajar.
Hidup memang lebih melelahkan.
Tetapi setiap malam aku tidur tanpa menangis.
Suatu hari aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.
“Lara, selamat ya. Aku dengar IP semester pertamamu bagus.”
Aku tahu itu Miguel.
Aku tidak membalas.
Sebulan kemudian aku diterima menjadi asisten dosen.
Mama menangis bahagia saat mendengarnya.
Beliau berkata,
“Lihat? Ternyata langkah yang paling berat justru membawamu ke tempat yang paling baik.”
Setahun berlalu.
Aku akhirnya lulus seleksi masuk Universitas Indonesia untuk program yang sejak dulu kuimpikan.
Ironisnya, saat aku benar-benar menjadi mahasiswi di sana, Miguel justru sudah lulus lebih dulu.
Hari pertama orientasi kampus, aku melihat seseorang berdiri di depan perpustakaan.
Miguel.
Ia tampak lebih dewasa.
Kami saling menatap beberapa detik.
Ia berjalan mendekat.
“Hai.”
“Hai.”
“Kamu berhasil.”
“Iya.”
Ia tersenyum.
“Aku selalu tahu kamu mampu.”
Aku ikut tersenyum.
“Dulu aku sendiri tidak tahu.”
Kami mengobrol sebentar.
Tidak canggung.
Tetapi juga tidak ada lagi rasa yang dulu membuatku rela mengorbankan segalanya.
Sebelum pergi, Miguel berkata pelan.
“Aku menyesal.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
“Kamu bisa maafin aku?”
Aku menatapnya cukup lama.
“Luka itu sudah sembuh.”
Wajahnya sedikit berbinar.
“Tapi bekasnya tetap ada.”
Ia mengangguk pelan.
“Aku mengerti.”
Lalu ia pergi.
Aku tidak memanggil namanya.
Aku juga tidak menoleh ke belakang.
Beberapa langkah kemudian ponselku berdering.
Mama menelepon.
“Gimana hari pertamamu?”
Aku tersenyum sambil berjalan memasuki gerbang fakultas.
“Menyenangkan.”
“Ketemu Miguel?”
“Iya.”
“Gimana?”
Aku melihat deretan mahasiswa baru yang berjalan sambil tertawa, masing-masing membawa impian mereka sendiri.
“Akhirnya aku sadar, Ma.”
“Sadar apa?”
“Ternyata selama ini yang terus kukejar bukan Miguel.”
“Lalu?”
“Versi diriku yang selalu merasa tidak cukup.”
Mama terdiam beberapa saat.
“Lalu sekarang?”
Aku tersenyum lebih lebar.
“Sekarang aku sudah berhasil menyusul mimpiku.”
Bukan menyusul seseorang.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, langkahku terasa ringan karena aku berjalan menuju masa depanku sendiri, bukan lagi berlari mengejar orang yang bahkan tidak pernah benar-benar menungguku.
