Setiap detik yang berlalu terasa seperti pisau yang menusuk dada Mateo. Tatapannya tidak lepas dari pengacara tua yang berdiri membisu di samping meja kayu jati, sementara pamannya sendiri, Benjamin, duduk dengan wajah angkuh seolah seluruh dunia sudah berada di bawah kendalinya.
Hujan deras mengguyur malam itu. Kilat sesekali menerangi rumah tua peninggalan keluarga Wijaya yang berdiri megah di kawasan Kota Tua Jakarta. Rumah itu menyimpan begitu banyak kenangan bagi Mateo. Di sanalah ia dibesarkan oleh ayahnya, Daniel, seorang pengusaha yang dikenal jujur dan murah hati sebelum tewas dalam kebakaran misterius tujuh tahun lalu.

Sejak kematian Daniel, hidup Mateo berubah menjadi rangkaian kehilangan. Ibunya telah meninggal beberapa tahun sebelumnya karena sakit. Semua aset keluarga perlahan berpindah ke tangan Benjamin yang mengaku hanya menjalankan isi wasiat. Saat itu Mateo masih terlalu kecil untuk memahami hukum.
Kini, di usia delapan belas tahun, ia akhirnya mengetahui kenyataan pahit bahwa ia sedang diusir dari rumah yang seharusnya menjadi milik ayahnya.
“Pergi sekarang juga,” ucap Benjamin dingin. “Rumah ini sudah sah menjadi milikku.”
Mateo menggenggam jaket lusuh peninggalan ayahnya.
“Ayah tidak mungkin meninggalkan semuanya begitu saja.”
Benjamin hanya tersenyum tipis.
“Kamu tidak punya bukti.”
Sebelum suasana semakin panas, suara langkah kaki menggema dari lorong.
Semua kepala menoleh.
Gabriel muncul.
Selama tujuh tahun namanya hanya menjadi bahan bisik-bisik keluarga. Adik kandung Daniel itu menghilang tanpa jejak setelah kebakaran. Ada yang mengatakan ia kabur membawa uang perusahaan. Ada pula yang menyebut ia sudah meninggal.
Tidak seorang pun menyangka pria itu kembali malam ini.
Tatapannya langsung berhenti pada Maya, gadis kecil yang berdiri di samping Mateo sambil memeluk boneka kain yang sudah usang.
Mata mereka bertemu.
Gabriel membeku.
Ada sesuatu pada wajah Maya yang membuat napasnya tertahan.
Susan segera memecah keheningan.
“Itu cuma anak jalanan yang dipungut Mateo.”
Maya melangkah maju.
“Bibi suka sekali mengambil milik orang lain ya?”
Ucapan polos itu membuat wajah Susan memerah.
“Kurang ajar!”
Namun sebelum tamparan mendarat, Gabriel menangkap pergelangan tangan Susan.
“Cukup.”
Nada suaranya rendah, tetapi cukup membuat semua orang terdiam.
Saat itulah sebuah kotak tua terjatuh dari rak.
Dokumen-dokumen berserakan di lantai.
Sebuah surat bersampul merah meluncur hingga berhenti tepat di depan kaki Mateo.
Dengan tangan gemetar ia membukanya.
Tulisan tangan ayahnya masih sangat dikenalnya.
Isi surat itu membuat wajahnya pucat.
Daniel menulis bahwa apabila surat itu ditemukan, berarti dirinya telah gagal mengungkap pengkhianatan yang sedang terjadi di perusahaan keluarga. Ia menuliskan nama seseorang yang diam-diam menjual aset perusahaan, memalsukan laporan keuangan, dan merencanakan kebakaran gudang demi menghilangkan semua bukti.
Nama yang tertulis membuat seluruh ruangan membeku.
Bukan Benjamin.
Melainkan Arman.
Pengacara keluarga yang selama ini mengurus semua dokumen warisan.
Semua orang langsung menoleh kepada pria tua yang sejak tadi berdiri diam.
Arman kehilangan warna wajahnya.
“Itu fitnah.”
Gabriel mengambil surat itu.
“Itu tulisan tangan kakakku.”
Benjamin mulai terlihat gugup.
“Sudah cukup. Surat itu tidak punya kekuatan hukum.”
Gabriel menatap Benjamin dengan tajam.
“Kalau begitu kenapa wajahmu pucat?”
Benjamin tidak menjawab.
Malam itu juga Gabriel membawa Mateo dan Maya keluar dari rumah menuju apartemennya.
Di sanalah akhirnya semua rahasia mulai terbuka.
Ternyata tujuh tahun lalu Gabriel memang tidak menghilang karena mencuri uang perusahaan.
Ia sedang menyelidiki jaringan korupsi yang melibatkan beberapa petinggi perusahaan keluarga. Sebelum berhasil mengumpulkan bukti, seseorang mencoba membunuhnya dengan membuat kecelakaan mobil.
Gabriel selamat, tetapi mengalami cedera berat dan kehilangan sebagian ingatan selama bertahun-tahun.
Baru beberapa bulan terakhir ingatannya perlahan kembali.
Ia sengaja pulang setelah menemukan petunjuk tentang kematian Daniel.
Mateo mengepalkan tangan.
“Kenapa Paman tidak mencari aku?”
Gabriel menunduk.
“Aku bahkan tidak ingat siapa diriku sendiri.”
Air mata Mateo akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya, ia merasa masih memiliki keluarga.
Sementara itu Maya hanya diam mendengarkan.
Sejak kecil ia tinggal di panti asuhan. Mateo menemukannya dua tahun lalu saat sedang menjadi relawan.
Anak itu tidak pernah mengetahui siapa orang tuanya.
Yang ia miliki hanya sebuah kalung kecil berbentuk matahari.
Ketika Gabriel melihat kalung itu, wajahnya kembali berubah.
“Kalung itu…”
Maya mengangguk.
“Sudah kupakai sejak bayi.”
Gabriel berlari menuju kamar dan kembali membawa sebuah kotak kayu.
Di dalamnya terdapat foto seorang perempuan muda memakai kalung yang sama.
“Itu adikku.”
Mateo ikut melihat foto itu.
Perempuan tersebut sangat mirip Maya.
Gabriel menarik napas panjang.
“Dulu adikku menghilang saat hamil. Kami tidak pernah menemukannya lagi.”
Maya mulai menangis.
“Jadi… siapa saya?”
Gabriel memeluk gadis kecil itu.
“Aku belum bisa memastikan. Tapi aku yakin kamu bagian dari keluarga kami.”
Keesokan harinya Gabriel melaporkan semua bukti kepada polisi.
Penyelidikan dibuka kembali.
Arman sempat melarikan diri.
Benjamin mencoba menghancurkan dokumen perusahaan.
Namun penyidik berhasil menyita rekaman server lama yang selama ini tersimpan di pusat data perusahaan.
Dalam rekaman itu terlihat jelas Benjamin bertemu Arman beberapa jam sebelum kebakaran terjadi.
Lebih mengejutkan lagi, ada seseorang yang mematikan sistem pemadam otomatis gudang.
Kasus yang selama tujuh tahun dianggap kecelakaan berubah menjadi perkara pembunuhan berencana.
Benjamin akhirnya ditangkap.
Tetapi saat diperiksa, ia terus mengulang satu kalimat.
“Aku tidak membunuh Daniel.”
Semua orang menganggap itu hanya alasan.
Sampai akhirnya Arman berhasil ditangkap di sebuah vila di Puncak.
Ia menyerahkan semua bukti demi meringankan hukuman.
Pengakuannya membuat semua orang terdiam.
Dalang sebenarnya bukan Benjamin.
Melainkan Susan.
Selama ini Susan menjalin hubungan diam-diam dengan direktur pesaing perusahaan.
Ia memanfaatkan Benjamin yang sangat mencintainya.
Susan meyakinkan suaminya agar mengambil alih seluruh aset keluarga.
Namun Daniel mengetahui rencana itu.
Karena takut rahasianya terbongkar, Susan menyuruh Arman mengatur kebakaran gudang tempat Daniel sedang memeriksa dokumen.
Benjamin hanya mengetahui penggelapan aset.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa istrinya merencanakan pembunuhan.
Saat mendengar pengakuan itu, Benjamin menangis untuk pertama kalinya.
“Aku kehilangan kakakku karena terlalu serakah.”
Susan akhirnya ditangkap di bandara ketika hendak melarikan diri ke luar negeri.
Beberapa bulan kemudian persidangan selesai.
Seluruh aset keluarga dikembalikan kepada ahli waris yang sah.
Mateo resmi menjadi pemilik perusahaan ayahnya.
Namun keputusan pertamanya bukan memperkaya diri.
Ia menjual sebagian besar aset mewah dan menggunakan hasilnya untuk membangun yayasan pendidikan bagi anak-anak yatim.
“Ayah selalu bilang kekayaan bukan diukur dari apa yang kita simpan, tetapi dari kehidupan yang bisa kita ubah,” ucapnya saat peresmian yayasan.
Gabriel berdiri di sampingnya dengan mata berkaca-kaca.
Sementara Maya kini resmi diadopsi olehnya setelah tes DNA membuktikan bahwa gadis kecil itu benar-benar cucu dari adik Gabriel yang telah meninggal bertahun-tahun lalu.
Maya akhirnya menemukan keluarga yang selama ini ia cari.
Beberapa hari setelah semuanya selesai, Mateo kembali ke rumah tua yang dulu menjadi saksi begitu banyak air mata.
Ia memasuki kamar ayahnya yang telah lama kosong.
Saat membersihkan lemari tua, ia menemukan sebuah kotak kecil yang tersembunyi di balik dinding.
Di dalamnya hanya ada sebuah jam tangan rusak dan secarik kertas.
Tulisan ayahnya singkat.
“Jika suatu hari kamu membaca ini, berarti kamu berhasil melewati semuanya. Jangan balas pengkhianatan dengan kebencian. Orang yang jujur mungkin kalah untuk sementara, tetapi tidak akan kalah selamanya.”
Mateo tersenyum sambil menggenggam surat itu.
Ia menatap keluar jendela.
Hujan yang dulu mengiringi malam paling kelam dalam hidupnya kini telah berhenti.
Di halaman rumah, Maya sedang tertawa bersama Gabriel.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu kembali dipenuhi suara keluarga, bukan oleh keserakahan, melainkan oleh harapan yang akhirnya pulang.
