Namun, kelegaan yang kami rasakan malam itu hanyalah sebuah fatamorgana. Sebuah ilusi manis sebelum kebenaran yang sesungguhnya menghantam kami tanpa ampun.
Tepat tiga hari setelah pernikahan Carla, sebuah paket misterius tiba di depan pintu rumahku. Paket itu dibungkus dengan kertas beludru hitam pekat, diikat dengan pita sutra merah darah. Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah kartu kecil berwarna emas dengan tulisan tangan yang sangat rapi: “Terima kasih atas pertunjukan yang luar biasa. Giliranku sekarang.”

Jantungku berdegup kencang. Aku segera menelepon Mia, dan betapa terkejutnya aku ketika Mia berteriak di seberang telepon, mengatakan bahwa dia juga menerima paket yang sama persis.
Kami memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe terpencil di sudut kota. Dengan tangan gemetar, kami membuka paket tersebut bersama-sama. Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk berwarna perak dan selembar foto lama yang buram. Foto itu memperlihatkan seorang pria paruh baya yang tampak samar, sedang berdiri di depan sebuah gedung tua yang terbakar. Di sudut foto, ada cap tanggal: 12 September 2011.
“Apa ini?” bisik Mia, wajahnya pucat pasi. “Siapa pria ini?”
Aku menggelengkan kepala, lalu menancapkan flashdisk tersebut ke laptopku. Sebuah file video tunggal muncul dengan judul “The Regalado’s Last Dance”. Saat video itu diputar, napas kami seolah berhenti.
Video itu bukan rekaman malam pernikahan Carla, melainkan sebuah rekaman interogasi polisi rahasia dari lima belas tahun yang lalu. Di dalam ruangan pengap itu, duduk seorang wanita muda yang menangis histeris. Meskipun wajahnya jauh lebih muda dan tanpa riasan tebal, kami mengenali matanya. Itu adalah Nyonya Regalado.
Namun, kejutan sesungguhnya bukan di situ. Di sampingnya, berdiri seorang pengacara muda yang dengan dingin menyerahkan dokumen palsu kepada polisi untuk membebaskan Nyonya Regalado dari tuduhan pembakaran berencana—kebakaran yang menewaskan pemilik gedung tua tersebut. Pengacara muda di video itu, yang mengkhianati hukum demi uang suap, adalah ayah kandungku sendiri. Andai itu belum cukup membuatku hancur, pria paruh baya yang tewas dalam kebakaran itu—pria di foto buram tersebut—adalah kakek kandung Mia.
Kami berdua membeku. Dunia seolah runtuh di bawah kaki kami. Wanita yang kami tertawakan, wanita yang kami pikir telah kami beri “pelajaran kecil” tentang kerendahan hati, sebenarnya adalah sosok yang terikat dalam benang takdir kelam keluarga kami.
Sebelum kami sempat mencerna informasi mengerikan ini, ponselku bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal memanggil.
“Bagaimana? Apakah kalian menyukai ‘kejutan’ dariku?” Suara di seberang telepon itu terdengar sangat tenang, sangat anggun, dan sangat dingin. Itu adalah suara Nyonya Regalado.
“Kau… apa maksud semua ini?!” teriakku, menahan tangis.
Nyonya Regalado tertawa kecil, suara tawa yang sama dengan yang dia tunjukkan saat gelas koktailnya tumpah di pesta pernikahan. “Kalian mengira kalian sangat cerdas, bukan? Membuat slideshow konyol untuk mempermalukanku? Merasa puas karena berhasil menjatuhkan harga diriku?”
Dia menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang berubah menjadi sangat tajam. “Aku sengaja berakting menjadi wanita sombong yang menyebalkan di pernikahan Carla. Aku memancing kalian. Aku tahu jika aku bertingkah keterlaluan, anak-anak muda yang merasa menjadi pahlawan keadilan seperti kalian pasti akan melakukan sesuatu untuk ‘membalas’ dendam.”
“Kenapa kau melakukan ini?” suara Mia bergetar hebat, air mata mulai mengalir di pipinya.
“Karena itu adalah satu-satunya cara untuk mengumpulkan kalian berdua di satu tempat tanpa kecurigaan,” jawab Nyonya Regalado. “Aku ingin kalian tahu siapa diri kalian sebenarnya sebelum aku menyelesaikan apa yang tertunda lima belas tahun lalu. Ayahmu, adalah orang yang menjebakku, memaksaku menandatangani dokumen itu, sementara kakekmu, Mia… dia bukan korban tak bersalah. Dia adalah orang yang membakar seluruh hidupku terlebih dahulu.”
“Kau bohong!” teriak Mia.
“Datanglah ke gudang tua di dermaga barat sekarang juga. Carla ada bersamaku. Jika kalian tidak datang dalam waktu tiga puluh menit, pernikahan bahagianya akan berubah menjadi pemakaman yang megah.”
Klik. Telepon ditutup.
Kami tidak punya pilihan. Dengan kepanikan yang membakar dada, kami memacu mobil menuju dermaga barat. Hujan mulai turun deras, membasahi kaca depan mobil seolah merefleksikan kekacauan di dalam pikiran kami. Wanita yang kami sangka hanyalah seorang sosialita sombong yang haus perhatian, ternyata adalah seorang dalang kriminal yang manipulatif dan penuh dendam.
Ketika kami tiba di gudang tua yang runtuh itu, suasananya sangat sunyi. Pintu besar gudang terbuka sedikit, memperlihatkan kegelapan di dalamnya. Kami melangkah masuk dengan sangat hati-hati. bau bensin menyengat langsung menusuk hidung kami.
Di tengah ruangan, di bawah sorotan lampu gantung tunggal yang remang-remang, Carla terikat di sebuah kursi kayu, mulutnya disumpal kain. Matanya melebar penuh ketakutan saat melihat kami. Di sampingnya, berdiri Nyonya Regalado, memegang sebuah pemantik api perak yang apinya menari-nari kecil.
“Tepat waktu,” kata Nyonya Regalado sambil tersenyum sinis. “Sama seperti saat kalian menayangkan slideshow itu.”
“Lepaskan Carla! Dia tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kita!” teriakku sambil melangkah maju, namun berhenti ketika Nyonya Regalado mendekatkan pemantik api ke arah genangan bensin di lantai.
“Dia memang tidak tahu apa-apa. Tapi dia adalah umpan terbaik untuk membawa kalian ke sini,” kata Nyonya Regalado. “Malam ini, lingkaran setan ini akan berakhir. Keadilan yang tertunda akan ditegakkan dengan api.”
Mia berlutut, menangis tersedu-sedu. “Tolong… hentikan. Jika ini tentang masa lalu, hukum kami, jangan Carla.”
Nyonya Regalado menatap Mia dengan tatapan yang sulit diartikan. Kesombongan yang biasa dia tunjukkan kini lenyap, digantikan oleh kesedihan mendalam yang mengerikan. “Menertawakan diri sendiri, kataku malam itu, bukan? Ya, aku menertawakan betapa bodohnya aku karena mempercayai ayahmu dulu. Dan sekarang, giliran kalian yang harus membayar.”
Dia mengangkat pemantik api itu tinggi-tinggi, siap menjatuhkannya ke lantai yang dipenuhi bensin. Aku memejamkan mata, bersiap menghadapi ledakan yang akan mengakhiri hidup kami.
DOR!
Suara tembakan menggema di dalam gudang. Pemantik api di tangan Nyonya Regalado terlepas dan jatuh ke lantai beton yang kering—ternyata genangan di dekatnya bukanlah bensin, melainkan hanya air berwarna gelap. Bau bensin yang kami cium ternyata berasal dari botol parfum murahan yang disemprotkan di sekitar ruangan.
Nyonya Regalado memegangi lengannya yang tertembak, melangkah mundur dengan wajah terkejut. Dari balik kegelapan gudang, beberapa agen polisi bersenjata lengkap masuk, dipimpin oleh seorang pria paruh baya yang sangat aku kenal.
Ayahku.
“Angkat tangan, Elena Regalado. Permainanmu berakhir,” kata ayahku dengan suara dingin dan tegas.
Polisi segera meringkus Nyonya Regalado yang terluka, sementara aku dan Mia berlari untuk melepaskan ikatan Carla. Carla menangis di pelukan kami, gemetar hebat namun selamat.
Aku menatap ayahku dengan pandangan penuh tuntutan dan kekecewaan. “Ayah… video itu… apakah itu semua benar? Ayah menjebaknya?”
Ayahku menghela napas panjang, menatapku dengan mata yang penuh rasa bersalah. “Itu masa lalu yang kelam, Nak. Ayah terpaksa melakukannya untuk melindungi keluarga kita. Tapi sekarang, dia adalah buronan yang berbahaya. Dia merencanakan ini semua untuk menjatuhkan kita.”
Nyonya Regalado, yang kini tangannya diborgol, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sangat keras hingga menggema di seluruh dinding gudang. Semua orang, termasuk polisi dan ayahku, menatapnya dengan heran.
“Kalian pikir kalian menang?” kata Nyonya Regalado sambil menatap kami satu per satu dengan tatapan penuh kemenangan yang gila. “Kalian pikir ini adalah akhir dari rencanaku?”
Dia menatap langsung ke arahku dan Mia. “Slideshow di pernikahan Carla… kalian ingat siapa yang membantuku menyalin file-file foto ke laptop panitia?”
Jantungku berdegup kencang. “Apa maksudmu?”
“Aku tidak pernah berniat membakar kalian di sini. Ini semua hanyalah pengalih perhatian,” bisik Nyonya Regalado dengan senyuman yang paling mengerikan yang pernah kulihat. “Saat kita semua berada di sini… seluruh file interogasi asli, bukti korupsi ayahmu, dan bukti pembunuhan yang dilakukan oleh kakek Mia… sedang disiarkan secara langsung di seluruh stasiun televisi nasional dan platform media sosial. Akun yang menyiarkannya? Akun resmi pernikahan Carla yang terhubung dengan ribuan tamu dan kolega bisnis kalian.”
Ayahku langsung memeriksa ponselnya. Wajahnya seketika berubah menjadi seputih kertas. Ponselnya berdering tanpa henti dari ratusan panggilan yang masuk. Dia jatuh terduduk di lantai, menyadari bahwa karier, reputasi, dan hidupnya telah hancur total dalam hitungan detik.
Nyonya Regalado mendekatkan wajahnya ke arah kami saat polisi menyeretnya keluar. “Aku memang kehilangan kebebasanku malam ini,” bisiknya pelan, hampir seperti bisikan seorang sahabat yang penuh kasih. “Tapi kesombongan kalian… kebanggaan keluarga kalian… telah hancur berkeping-keping. Selamat menikmati sisa hidup kalian dalam kehinaan.”
Gudang itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara sirine polisi di kejauhan dan deru hujan yang semakin deras. Kami berdiri di sana, menyadari sebuah kenyataan yang pahit: dalam permainan balas dendam ini, tidak ada yang menang. “Balas dendam” kecil yang kami mulai dengan penuh tawa di malam pernikahan, telah kembali kepada kami dengan cara yang paling menghancurkan, merubuhkan seluruh dunia yang kami tahu tanpa menyisakan apa pun selain abu kebenaran.
