Aku hanya naik ke lantai atas untuk menyelimuti putriku yang sedang hamil.

Malam itu, Rina tidak pernah menyangka bahwa kunjungannya ke rumah mewah keluarga Ardi akan mengubah hidup semua orang yang berada di dalamnya.

Ia datang hanya untuk memastikan putrinya, Maya, yang sedang hamil tujuh bulan, benar-benar baik-baik saja. Sejak menikah setahun lalu dengan Ardi Prasetyo, pewaris salah satu perusahaan properti terbesar di Jakarta, Maya semakin jarang pulang. Setiap kali ditelepon, jawabannya selalu sama.

“Aku baik, Bu. Cuma sibuk.”

Kalimat itu terdengar meyakinkan, tetapi naluri seorang ibu selalu berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Sepanjang makan malam, Rina memperhatikan banyak hal yang tidak disadari orang lain. Maya hampir tidak menyentuh makanannya. Setiap kali Ardi menyentuh lengannya, bahunya menegang sesaat. Ibu mertuanya, Ratih, terus mengoreksi cara Maya duduk, cara ia memegang sendok, bahkan cara ia tersenyum di depan tamu.

“Kamu sekarang membawa nama keluarga Prasetyo,” ucap Ratih sambil tersenyum tipis. “Belajarlah menjadi istri yang pantas.”

Tidak ada yang membela Maya.

Ardi hanya tertawa kecil seolah ucapan ibunya adalah candaan biasa.

Menjelang pukul sepuluh malam, Maya meminta izin beristirahat karena merasa pusing. Rina menunggu beberapa saat sebelum menyusul ke kamar tamu tempat putrinya berbaring.

Saat hendak merapikan selimut yang melorot, ia melihat memar kebiruan memenuhi paha dan betis Maya.

Dunia seolah berhenti berputar.

“Maya…”

Putrinya langsung menarik selimut sambil menangis.

“Jangan, Bu… tolong jangan tanya.”

Rina menggenggam kedua tangan Maya.

“Siapa yang melakukan ini?”

Maya menggigit bibir hingga berdarah.

“Aku jatuh.”

“Kamu berbohong.”

Tangis Maya pecah.

“Aku tidak boleh bilang apa-apa. Kalau aku bicara, mereka akan mengambil bayiku.”

Kalimat itu membuat darah Rina terasa membeku.

“Maksudmu siapa?”

“Semua orang di rumah ini.”

Maya akhirnya membuka semuanya.

Sejak usia kandungannya memasuki lima bulan, Ratih mulai mengatur seluruh hidupnya. Ponselnya diperiksa setiap hari. Ia tidak diizinkan bertemu teman tanpa izin. Semua uang pribadinya dipegang keluarga suaminya.

Ardi berubah menjadi orang asing.

Ia mulai mendorong, mencengkeram, bahkan mengurung Maya setiap kali terjadi pertengkaran. Ratih selalu mengatakan bahwa semua itu demi menjaga nama baik keluarga.

“Kamu hanya perlu diam sampai bayi lahir.”

Rina memeluk putrinya erat.

“Mulai malam ini, kamu ikut Ibu pulang.”

Maya menggeleng panik.

“Mereka tidak akan membiarkan aku pergi.”

Belum sempat Rina menjawab, terdengar suara langkah kaki mendekati kamar.

Ardi berdiri di depan pintu.

Wajahnya masih tenang.

“Ibu belum tidur?”

Rina berdiri di depan Maya.

“Kami akan pulang malam ini.”

Ardi tersenyum.

“Sayangnya Maya belum boleh bepergian.”

“Siapa yang melarang?”

“Keluarga.”

Untuk pertama kalinya, Rina melihat topeng ramah Ardi runtuh.

Tatapannya dingin.

Penuh ancaman.

“Aku suaminya.”

Rina menatap lurus ke matanya.

“Dan aku ibunya.”

Suasana menjadi hening.

Ardi akhirnya pergi sambil berkata pelan, “Besok kita bicarakan.”

Begitu pintu tertutup, Rina mengeluarkan ponselnya.

Namun bukan polisi yang pertama kali ia hubungi.

Melainkan seorang mantan rekan kerja di Kejaksaan Tinggi.

Selama lebih dari dua puluh tahun, Rina pernah menjadi auditor investigasi yang membantu jaksa mengusut tindak pidana pencucian uang.

Ia memang sudah pensiun.

Tetapi banyak orang masih berutang budi kepadanya.

“Kamu masih ingat keluarga Prasetyo?” tanyanya singkat.

Di seberang telepon terdengar keheningan.

“Lupakan mereka, Rin.”

“Kenapa?”

“Karena penyelidikan terhadap perusahaan mereka selalu berhenti di tengah jalan.”

Rina semakin yakin.

Masalah ini jauh lebih besar daripada kekerasan dalam rumah tangga.

Malam itu juga ia meminta Maya mengirim semua rekaman yang diam-diam disimpannya.

Ternyata selama berbulan-bulan Maya menyembunyikan sebuah flash disk di dalam boneka bayi yang baru dibelinya.

Isinya membuat Rina sulit bernapas.

Video CCTV.

Rekaman suara.

Foto dokumen.

Transaksi perusahaan.

Percakapan Ratih yang memerintahkan pegawai memalsukan laporan keuangan.

Video Ardi memukul Maya.

Serta rekaman Richard Prasetyo yang membahas suap kepada beberapa pejabat.

Maya menangis.

“Aku mengumpulkannya karena suatu hari nanti mungkin aku tidak selamat.”

Rina memeluk putrinya sambil berjanji.

“Kamu akan selamat.”

Pukul lima pagi, sebelum keluarga itu bangun, Rina dan Maya mencoba meninggalkan rumah.

Namun gerbang utama telah dikunci.

Beberapa satpam berdiri menghalangi.

“Ibu Ratih melarang Nyonya Maya keluar.”

Rina menatap mereka tanpa rasa takut.

“Lima menit lagi kalian akan menyesal.”

Mereka tertawa.

Tepat lima menit kemudian, suara sirene memenuhi halaman rumah.

Belasan kendaraan polisi memasuki kompleks.

Disusul mobil Kejaksaan.

Dan beberapa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi.

Ratih keluar dengan wajah marah.

“Apa artinya ini?”

Seorang penyidik memperlihatkan surat perintah penggeledahan.

“Kami memiliki cukup bukti untuk melakukan penyelidikan.”

Ardi berusaha merebut flash disk dari tangan Rina.

Namun seorang detektif langsung memborgolnya.

Richard berteriak mengancam akan memecat semua orang.

Tak seorang pun bergerak.

Karena kali ini surat perintah berasal langsung dari penyidik gabungan.

Selama enam jam rumah itu digeledah.

Brankas rahasia ditemukan di balik rak buku.

Puluhan dokumen keuangan disita.

Beberapa telepon genggam diamankan.

Sore harinya, berita penangkapan keluarga Prasetyo memenuhi seluruh media nasional.

Saham perusahaan mereka langsung anjlok.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Saat pemeriksaan berlangsung, salah satu direktur perusahaan memutuskan menjadi saksi pelaku yang bekerja sama.

Ia mengungkap bahwa selama ini semua transaksi ilegal selalu menggunakan identitas perusahaan fiktif.

Pemilik resminya bukan Richard.

Bukan pula Ardi.

Melainkan Ratih.

Perempuan yang selama ini dikenal sebagai ibu rumah tangga ternyata adalah otak seluruh jaringan pencucian uang.

Richard hanya menjadi wajah perusahaan.

Ardi bertugas mengintimidasi siapa pun yang mengetahui rahasia keluarga.

Termasuk istrinya sendiri.

Beberapa bulan kemudian persidangan dimulai.

Maya akhirnya berani memberikan kesaksian.

Suaranya sempat bergetar.

Namun ia tidak lagi menundukkan kepala.

“Aku selalu berpikir bertahan adalah bentuk cinta,” katanya di ruang sidang. “Ternyata bertahan di tempat yang salah hanya memberi kesempatan kepada pelaku untuk terus menyakiti kita.”

Seluruh ruang sidang terdiam.

Hakim menjatuhkan hukuman berat kepada Ratih, Richard, dan Ardi atas tindak pidana korupsi, pencucian uang, pemalsuan dokumen, serta kekerasan dalam rumah tangga.

Beberapa bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, Maya melahirkan seorang bayi perempuan dengan selamat.

Di ruang bersalin, Rina menggendong cucunya sambil tersenyum.

“Namanya siapa?” tanya perawat.

Maya memandang ibunya.

“Laras.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin hidupnya penuh ketenangan. Tidak seperti hidupku dulu.”

Rina menatap wajah cucunya yang masih terlelap.

Ia sadar, keberanian tidak selalu berarti melawan dengan suara paling keras.

Kadang keberanian adalah keputusan seorang ibu untuk tidak memalingkan wajah ketika melihat luka anaknya.

Karena satu selimut yang tersingkap pada malam itu bukan hanya memperlihatkan memar di tubuh Maya, tetapi juga membuka kedok sebuah keluarga yang selama bertahun-tahun menyembunyikan kejahatan di balik kemewahan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang