Malam itu, hujan turun di Quiapo. Udara dipenuhi aroma asap lilin, aspal basah, dan bibingka yang baru matang. Marie, mengenakan blus sederhana dan celana jeans lama tetapi bersih, berdiri di luar gereja sambil menggenggam saputangan yang basah.

Hujan turun tanpa henti di kawasan Kota Tua Jakarta malam itu. Trotoar yang basah memantulkan cahaya lampu jalan, sementara aroma sate, kopi, dan tanah yang diguyur hujan bercampur menjadi satu. Di depan sebuah gereja tua di kawasan Glodok, Marie berdiri memeluk tubuhnya sendiri. Blus sederhana yang dikenakannya sudah sedikit lembap, tetapi ia tetap bertahan di sana, menggenggam saputangan lusuh peninggalan ibunya.

Kalung perak yang tergantung di lehernya selalu menjadi pengingat bahwa, entah bagaimana, ia pernah dicintai. Ibunya meninggalkannya di panti asuhan di Jakarta Utara saat usianya baru empat tahun. Tidak ada surat, tidak ada penjelasan, hanya kalung itu dan secarik kertas bertuliskan nama kecilnya.

Sejak keluar dari panti asuhan, Marie menjalani hidup sendirian. Ia bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket kecil di daerah Mangga Besar. Gajinya pas-pasan, cukup untuk membayar kamar kos sempit dan makan seadanya. Hidupnya monoton sampai tujuh bulan lalu, ketika seorang pria bernama Leo masuk ke warung tempat ia biasa makan malam.

Leo berbeda dari laki-laki lain yang pernah dikenalnya. Ia tinggi, rapi, dan selalu berbicara dengan lembut. Entah bagaimana, pria itu selalu tahu apa yang harus dikatakan ketika Marie merasa lelah atau putus asa.

“Aku suka caramu tersenyum meskipun hidup tidak selalu baik padamu,” kata Leo suatu malam.

Kalimat sederhana itu membuat hati Marie bergetar. Untuk pertama kalinya, seseorang melihat dirinya lebih dari sekadar perempuan miskin tanpa keluarga.

Hubungan mereka berkembang cepat. Leo sering menjemput Marie sepulang kerja dengan motor tuanya, mengantarnya pulang ke kos, lalu meninggalkan surat-surat kecil yang diselipkan di bawah pintu. Marie menyimpan semuanya di dalam kotak sepatu.

Sementara itu, di sebuah rumah besar di kawasan Menteng, Luna menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun hitam mahal yang dikenakannya tidak mampu menghilangkan rasa kosong di dadanya.

Sebagai anak bungsu keluarga Wijaya, Luna tumbuh di bawah bayang-bayang kakaknya yang sukses sebagai dokter di Amerika. Apa pun yang dilakukannya selalu dianggap salah oleh orang tuanya. Ketika ia memutuskan menjadi desainer grafis lepas, ayahnya bahkan sempat berkata bahwa Luna telah mempermalukan keluarga.

Kemudian, enam bulan lalu, ia bertemu Leo dalam sebuah pameran seni di Senayan. Pria itu datang terlambat, berdiri cukup lama di depan karya Luna, lalu berkata, “Orang yang melukis seperti ini pasti pernah merasa sangat kesepian.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Luna merasa dipahami.

Leo tidak pernah peduli bahwa keluarganya kaya. Ia tidak pernah meminta apa pun. Justru itulah yang membuat Luna jatuh cinta.

Selama berbulan-bulan, Leo menjalani dua kehidupan yang sama sekali berbeda. Pada siang hari, ia menemani Luna ke galeri seni dan restoran mahal. Pada malam hari, ia duduk bersama Marie di warung pinggir jalan sambil memakan mi rebus.

Anehnya, ia mencintai keduanya dengan cara yang berbeda.

Kepada Marie, ia menemukan ketulusan yang tidak pernah ia miliki. Kepada Luna, ia menemukan penerimaan yang selama ini ia cari.

Namun, rahasia sebesar itu tidak mungkin tersembunyi selamanya.

Semua mulai runtuh pada suatu sore ketika Marie menemukan sebuah undangan pesta pembukaan galeri seni di dalam jaket Leo yang tertinggal di kamarnya.

Nama tamu undangan tertulis jelas: Leo Prasetya dan Luna Wijaya.

Marie memandangi kartu itu lama sekali.

Mungkin hanya rekan kerja, pikirnya.

Tetapi sesuatu di dalam hatinya mengatakan bahwa ada yang salah.

Malam berikutnya, tanpa memberi tahu Leo, Marie datang ke galeri tersebut. Ia mengenakan satu-satunya gaun yang dimilikinya dan berusaha menyembunyikan rasa gugup.

Begitu memasuki ruangan, dunia seolah berhenti.

Di tengah kerumunan tamu, Leo berdiri sambil menggenggam tangan seorang perempuan cantik berambut pendek. Mereka tertawa bersama, tampak begitu dekat.

Marie membeku.

Luna yang melihat seorang perempuan berdiri terpaku di dekat pintu merasa ada sesuatu yang aneh. Tatapan perempuan itu tertuju lurus kepada Leo.

“Siapa dia?” tanya Luna.

Leo menoleh.

Wajahnya langsung pucat.

“Marie…”

Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

Luna mengernyit. “Kamu mengenalnya?”

Marie melangkah mendekat. Tangannya gemetar.

“Aku cuma ingin tahu satu hal,” katanya pelan. “Siapa aku sebenarnya bagimu?”

Ruangan yang semula riuh mendadak terasa sunyi.

Leo membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Luna memandang pria itu bergantian dengan Marie. Perlahan, ia mulai memahami apa yang sedang terjadi.

“Jangan bilang kalau…” suara Luna bergetar.

Marie mengeluarkan sebuah surat kecil dari tasnya. Surat yang ditulis Leo beberapa minggu sebelumnya.

“Aku mencintaimu, Marie. Aku ingin membangun keluarga bersamamu.”

Luna merebut surat itu dan membacanya dengan wajah memucat.

“Jelaskan semuanya sekarang juga.”

Leo menarik napas panjang.

“Aku tidak pernah berniat menyakiti kalian.”

“Kalau begitu, apa yang kamu lakukan?” bentak Luna.

Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenalnya, Leo tampak benar-benar rapuh.

Ia duduk di sebuah kursi dan menundukkan kepala.

“Aku dibesarkan tanpa ayah. Ibuku menikah berkali-kali dan selalu meninggalkanku. Sejak kecil, aku hidup berpindah-pindah. Aku takut sendirian.”

Tidak ada yang berbicara.

“Aku bertemu Marie ketika aku sedang kehilangan pekerjaan. Dia memberiku alasan untuk bertahan. Lalu aku bertemu Luna, dan untuk pertama kalinya aku merasa dihargai.”

“Itu bukan cinta,” kata Marie lirih. “Itu ketakutan.”

Leo menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku tahu.”

Luna berdiri diam. Amarah memenuhi dadanya, tetapi ada kesedihan yang lebih besar daripada kemarahan itu sendiri.

Tanpa sepatah kata pun, ia meninggalkan galeri.

Marie mengikuti beberapa menit kemudian.

Malam itu, hujan turun sangat deras.

Hari-hari setelah kejadian itu menjadi masa paling berat bagi mereka bertiga.

Marie berhenti membalas pesan Leo. Ia menghabiskan waktunya bekerja dan menangis sendirian di kamar kos. Setiap kali melihat surat-surat yang pernah ia simpan, dadanya terasa sesak.

Sementara itu, Luna menutup diri dari siapa pun. Ia membatalkan semua proyek dan menghabiskan waktu di apartemennya.

Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi dua minggu kemudian.

Ayah Luna mengalami serangan jantung ringan dan harus dirawat di rumah sakit.

Di tengah kepanikan keluarganya, Luna menemukan sebuah map tua di ruang kerja ayahnya. Di dalamnya terdapat dokumen adopsi yang tidak pernah ia ketahui.

Nama yang tertulis membuat napasnya tercekat.

Marie Anastasia.

Tanggal lahir.

Nama panti asuhan.

Semuanya cocok.

Dengan tangan gemetar, Luna membaca surat yang terselip di dalam map itu.

Dua puluh lima tahun lalu, orang tua Luna pernah mengadopsi seorang bayi perempuan secara diam-diam. Namun, karena tekanan dari keluarga besar yang menolak kehadiran anak angkat, bayi itu akhirnya dikirim ke panti asuhan beberapa bulan kemudian.

Bayi itu adalah Marie.

Luna tidak bisa memercayainya.

Selama bertahun-tahun, keluarganya telah menyembunyikan keberadaan seorang kakak perempuan.

Keesokan harinya, Luna mendatangi kos Marie.

Marie terkejut melihat perempuan itu berdiri di depan pintunya sambil membawa map tua.

“Aku tahu ini terdengar gila,” kata Luna dengan mata berkaca-kaca. “Tapi kurasa… kita keluarga.”

Marie tertawa kecil, mengira Luna sedang bercanda.

Namun, ketika melihat dokumen-dokumen itu, wajahnya perlahan berubah.

Mereka duduk berjam-jam dalam diam.

“Jadi, aku pernah punya keluarga?” bisik Marie.

Luna mengangguk sambil menangis.

“Dan keluarga itu membuangku.”

Kalimat itu menusuk seperti pisau.

Luna tidak membela siapa pun. Ia hanya menggenggam tangan Marie.

“Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi kalau kamu mau, kita bisa mulai dari sekarang.”

Marie menatap perempuan yang beberapa minggu lalu ia anggap sebagai musuh.

Aneh rasanya memikirkan bahwa takdir mempertemukan mereka melalui pengkhianatan yang sama.

Beberapa hari kemudian, ayah Luna meminta bertemu dengan Marie di rumah sakit.

Pria tua itu tampak jauh lebih lemah dibandingkan sosok yang selama ini ditakuti Luna.

“Aku pengecut,” katanya pelan. “Aku membiarkan orang lain menentukan hidup anak-anak perempuanku.”

Marie tidak tahu harus marah atau menangis.

“Aku tumbuh tanpa siapa pun.”

“Aku tahu.”

“Tidak, Anda tidak tahu.”

Ruangan kembali sunyi.

Setelah beberapa saat, Marie melepaskan kalung perak dari lehernya.

“Aku menghabiskan hidup mencari alasan kenapa aku ditinggalkan.”

Ayah Luna menunduk.

“Tapi sekarang aku sadar, jawaban itu tidak akan mengubah masa kecilku.”

Ia menggenggam kembali kalung itu.

“Yang bisa aku pilih adalah bagaimana aku menjalani hidup setelah ini.”

Sebulan berlalu.

Leo mencoba menemui Marie berkali-kali, tetapi selalu ditolak. Ia juga mengirim pesan kepada Luna, meminta maaf atas semuanya.

Suatu sore, mereka bertiga akhirnya bertemu secara tidak sengaja di sebuah acara amal yang diselenggarakan Luna untuk anak-anak panti asuhan.

Leo tampak lebih kurus.

“Aku dengar kalian sekarang bersaudara,” katanya pelan.

Luna tersenyum tipis.

“Kadang hidup memang aneh.”

Leo menatap Marie.

“Aku benar-benar minta maaf.”

Marie memandangi pria yang pernah menjadi pusat dunianya.

Dulu, ia berpikir Leo adalah jawaban atas semua doanya. Ia percaya bahwa kebahagiaan hanya bisa datang melalui cinta dari orang lain.

Namun kini, ia mengerti sesuatu yang berbeda.

“Aku memaafkanmu,” katanya tenang. “Tapi bukan karena apa yang kamu lakukan bisa dibenarkan.”

Leo menunduk.

“Lalu kenapa?”

Marie tersenyum kecil.

“Karena aku lelah membawa luka yang bukan salahku.”

Mata Leo memerah.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kehilangan dua perempuan itu bukanlah hukuman, melainkan konsekuensi dari ketakutannya sendiri.

Malam itu, setelah acara selesai, Marie dan Luna duduk di tangga panti asuhan sambil memandangi langit Jakarta yang mulai cerah.

“Aneh ya,” kata Luna. “Kita dipertemukan oleh orang yang sama-sama menyakiti kita.”

Marie tertawa pelan.

“Kadang hidup mengambil sesuatu untuk mengembalikan hal yang lebih besar.”

Luna memandang kalung perak di leher kakaknya.

“Apa kamu masih percaya bahwa Tuhan mendengar doa?”

Marie terdiam beberapa saat.

Dulu, ia berdoa agar menemukan seorang pria yang bisa menjadi keluarganya.

Ternyata, jawaban yang datang bukanlah cinta seperti yang ia bayangkan.

Jawaban itu adalah seorang saudara perempuan yang bahkan tidak pernah ia tahu keberadaannya.

Marie mengangkat wajahnya ke langit malam dan tersenyum.

“Ya,” jawabnya pelan. “Hanya saja, kadang jawaban Tuhan datang dalam bentuk yang sama sekali tidak kita duga.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang