Suami Meninggalkanku Tanpa Uang, Namun Saat Aku Pingsan di Dalam Bus

Kehidupan setelah hari itu berubah drastis. Setelah pemeriksaan di rumah sakit milik Alexander, dokter mengonfirmasi bahwa bayi kembar tigaku dalam kondisi baik, meskipun tubuhku sangat lemah karena malnutrisi dan stres hebat. Alexander tidak membiarkanku kembali ke apartemen sewaan yang sempit itu. Dia menempatkanku di sebuah penthouse yang mewah di pusat kota, dengan penjagaan keamanan yang ketat.

“Ini bukan hadiah, Liana,” ucapnya suatu malam saat dia berkunjung untuk memastikan kesehatanku. “Ini investasi. Aku ingin memastikan generasi masa depanku—atau siapapun yang berada di bawah perlindunganku—hidup dengan layak.”

Aku tahu dia berbohong tentang “investasi”. Dia memiliki kebaikan yang tersembunyi di balik tatapan dinginnya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Ancaman yang Datang Kembali

Tiga bulan berlalu. Perutku mulai membuncit, dan aku mulai bisa bernapas sedikit lebih lega. Namun, Dante, pria yang menghancurkan hidupku, entah bagaimana berhasil melacak keberadaanku. Mungkin melalui jejak digital atau orang-orang yang mengenalku di lingkungan lama.

Suatu sore, saat Alexander sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis, Dante muncul di lobi apartemen. Dia tidak lagi tampak seperti pria yang pergi meninggalkanku dengan uang receh. Dia berpakaian rapi, namun matanya memancarkan keserakahan yang sama.

“Liana! Akhirnya aku menemukanmu!” teriaknya saat penjaga keamanan gedung mengizinkannya masuk—kesalahan fatal yang akan mereka sesali nanti.

“Pergi, Dante! Jangan mendekat!” aku memekik, memeluk perutku yang membuncit.

“Jangan berlagak suci. Aku tahu kau hidup dengan miliarder itu,” Dante mencibir, berjalan mendekat. “Dan aku tahu kau mengandung anak-anakku. Tahukah kau? Wanita yang bersamaku sekarang—putri seorang pengusaha kaya—tidak bisa memberiku anak. Dan anak-anakmu… mereka adalah aset. Jika aku mengambil mereka darimu, aku akan mendapatkan tunjangan besar dari keluarga wanita itu.”

Dunia seakan runtuh. Dia tidak datang untuk meminta maaf, dia datang untuk menjadikan anak-anakku sebagai barang dagangan.

“Mereka bukan barang, Dante! Mereka manusia!” jeritku.

Dante mencengkeram lenganku. “Aku ayah mereka. Secara hukum, aku punya hak!”

Saat itu, pintu utama apartemen terbuka lebar dengan dentuman keras. Alexander masuk, dikawal oleh empat pria berbadan kekar. Suhu ruangan seolah anjlok sepuluh derajat. Tanpa sepatah kata pun, salah satu pengawal Alexander menarik Dante dari lenganku dan membantingnya ke lantai dengan kekuatan yang membuat lantai marmer itu seolah bergetar.

“Sentuh dia lagi,” suara Alexander terdengar rendah, namun mematikan, “dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari lagi, Dante.”

Dante gemetar ketakutan, wajahnya sepucat kertas. “A-Anda… Tuan Vance…”

Alexander berjalan mendekatiku, berdiri di depanku seperti tembok perlindungan. “Liana adalah tanggung jawabku. Anak-anak ini adalah masa depanku. Jika kau berani melangkah satu senti pun mendekati mereka, aku akan menghapus namamu dari catatan sipil negara ini. Sekarang, enyahlah sebelum aku kehilangan kesabaranku.”

Dante lari terbirit-birit, meninggalkan harga dirinya di lantai. Aku jatuh terduduk, menangis sejadi-jadinya. Alexander berlutut di depanku, memegang wajahku dengan lembut.

“Tenanglah, Liana. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil mereka darimu. Bahkan takdir sekalipun.”

Kehidupan dalam Bayang-Bayang Sang Penguasa

Setelah insiden itu, Alexander tidak lagi membiarkanku sendirian. Dia meningkatkan keamanan hingga ke tingkat yang tidak masuk akal. Setiap kali aku ingin pergi ke taman atau sekadar menghirup udara segar, setidaknya ada dua pengawal yang mengikutiku dari jarak beberapa meter.

Namun, di balik semua perlindungan itu, aku mulai melihat sisi lain dari Alexander Vance. Dia bukan sekadar pria yang menakutkan. Di malam hari, ketika dia lelah dengan urusan bisnisnya, dia sering datang ke penthouse. Dia tidak memintaku melakukan apa pun. Dia hanya duduk di dekatku, kadang-kadang meletakkan telinganya di perutku untuk mendengarkan tendangan bayi-bayi itu.

“Apa yang kau dengar?” tanyaku suatu malam, saat keheningan menyelimuti ruangan.

Alexander tersenyum tipis—senyum yang jarang dia tunjukkan pada dunia. “Kehidupan. Sesuatu yang selama ini aku beli dengan uang, tapi tidak pernah bisa aku rasakan dengan cara yang tulus.”

Aku mulai menyadari bahwa Alexander kesepian. Di balik puncak kekuasaannya, dia adalah pria yang kehilangan keluarganya di usia muda. Dia melihatku dan anak-anakku sebagai secercah kehangatan yang selama ini dia cari.

“Kenapa kau membantuku, Alex?” tanyaku memberanikan diri.

Dia terdiam lama, menatap keluar jendela kaca besar yang memperlihatkan lampu-lampu kota. “Karena hari itu, di bus, aku melihat sesuatu di matamu. Kau tidak memikirkan dirimu sendiri saat kau sekarat. Kau memikirkan anak-anakmu. Itu adalah bentuk cinta yang tidak bisa kubeli dengan miliaran dolar.”

Badai yang Sesungguhnya

Namun, musuh Alexander tidak hanya Dante. Di dunia bisnis yang kejam, banyak orang menginginkan kejatuhannya. Ketika mereka tahu bahwa Alexander memiliki kelemahan—yaitu aku dan anak-anakku—mereka mulai bertindak.

Suatu hari, aku menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal.

“Liana, jika kau ingin anak-anakmu selamat, datanglah ke dermaga tua di utara jam dua belas malam. Jangan bawa Alexander, atau mereka akan mati.”

Itu adalah suara Dante, namun dia terdengar seperti pion yang sedang dikendalikan oleh seseorang yang lebih besar. Ketakutan menyergapku. Aku tahu ini jebakan, tapi sebagai seorang ibu, naluriku melampaui logika. Tanpa sepengetahuan pengawalku, aku menyelinap keluar saat mereka sedang melakukan pergantian sif.

Dermaga itu gelap dan berbau amis. Angin malam menusuk tulang.

“Aku di sini, Dante!” teriakku.

Tiba-tiba, lampu sorot menyala, menyilaukan mataku. Dante berdiri di sana, dikelilingi oleh pria-pria bersenjata yang terlihat seperti tentara bayaran.

“Kau bodoh, Liana. Kau benar-benar datang,” Dante tertawa sinis.

“Lepaskan aku! Aku di sini, jangan sakiti anak-anakku!”

“Kami tidak menginginkanmu, Liana. Kami menginginkan pengaruh Alexander Vance. Dan kau adalah satu-satunya cara untuk membawanya ke sini,” sebuah suara berat terdengar dari balik bayangan. Seorang pria tua, musuh bisnis lama Alexander, melangkah keluar.

Tiba-tiba, suara helikopter memecah keheningan malam. Bukan satu, tapi tiga helikopter militer muncul dari atas, menyinari dermaga dengan lampu sorot yang sangat terang. Alexander keluar dari helikopter pertama dengan raut wajah yang lebih mengerikan dari apa pun yang pernah kulihat. Dia tampak seperti dewa perang yang siap menghancurkan siapa pun.

“Lepaskan dia,” suara Alexander menggelegar melalui pengeras suara helikopter.

Musuh Alexander menodongkan senjata ke arahku. “Mundur, Vance! Atau wanita ini dan calon pewarismu akan tamat!”

Alexander tidak ragu. Dia melompat dari helikopter yang terbang rendah—sebuah tindakan gila yang membuat jantungku berhenti berdetak. Dia mendarat dengan tangkas dan langsung melepaskan tembakan presisi yang melumpuhkan para penjahat. Dalam hitungan detik, kekacauan terjadi.

Aku berlari ke arah Alexander, namun seorang anak buah Dante menarik rambutku dan menodongkan pisau ke leherku.

“Alex!” jeritku.

Alexander tidak menembak. Dia melempar senjatanya dan berjalan mendekat dengan tangan terbuka. “Ambil aku. Lepaskan dia. Dia tidak tahu apa-apa tentang urusan kita.”

“Alex, jangan!” teriakku.

Pria itu mendorongku hingga aku jatuh ke tanah. Alexander langsung menerjangnya dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Dia menghajar pria itu dengan amarah yang luar biasa, melindungi tubuhku dari arah belakang.

Awal yang Baru

Beberapa minggu setelah insiden di dermaga, situasi mulai mereda. Musuh-musuh Alexander telah ditangani secara hukum—atau dengan cara Alexander sendiri yang tidak ingin aku ketahui detailnya. Dante menghilang, dan aku mendengar rumor dia mendekam di penjara luar negeri akibat kejahatan lain yang terungkap.

Aku akhirnya melahirkan bayi kembar tigaku di rumah sakit Alexander. Tiga bayi laki-laki yang sehat dan kuat. Alexander berada di sampingku sepanjang proses persalinan, memegang tanganku lebih erat daripada siapa pun.

Saat aku sudah kembali ke penthouse, Alexander duduk di tepi tempat tidur, menatap ketiga bayi yang tertidur di ranjang bayi emas.

“Mereka luar biasa, Liana,” ucapnya lembut.

“Terima kasih, Alex. Untuk semuanya. Tanpamu, aku mungkin tidak akan ada di sini hari ini,” kataku dengan tulus.

Dia menatapku, tatapannya kini lembut, penuh dengan kasih sayang yang tidak lagi dia sembunyikan. “Aku yang harus berterima kasih. Kau memberiku alasan untuk kembali pulang setiap hari. Kau memberiku keluarga, sesuatu yang sudah lama kukubur dalam-dalam.”

Dia mengambil tanganku, dan kali ini, dia meletakkan cincin berlian yang tidak mencolok namun sangat elegan.

“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa hidup akan selalu mudah,” ujarnya serius. “Masih banyak orang yang menginginkan apa yang aku miliki. Tapi aku berjanji, selama napas masih dikandung badan, tidak ada satu orang pun di bumi ini yang bisa menyakiti kalian. Maukah kau… memulai hidup yang sebenarnya bersamaku? Bukan sebagai orang yang aku lindungi, tapi sebagai pasangan hidupku?”

Aku menatapnya—pria yang dulunya menakutkan, pria yang kini menjadi pelindung, pria yang telah mencintaiku dengan cara yang paling tulus. Aku tersenyum, air mata haru jatuh di pipiku.

“Ya, Alex. Aku mau.”

Di luar, matahari mulai terbit, menyinari kota dengan cahaya emas. Aku tidak lagi merasa takut. Aku bukan lagi wanita yang ditinggalkan tanpa uang di bus umum. Aku adalah Liana, ibu dari tiga anak yang luar biasa, dan istri dari pria yang memiliki dunia, namun memilih untuk menundukkan hatinya hanya untukku.

Kehidupan baru kami baru saja dimulai, dan kali ini, kami akan menuliskannya bersama—tangan dalam tangan, menghadapi dunia yang mungkin kejam, namun tidak akan pernah bisa memisahkan kami lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang