Pesan singkat itu seperti petir di siang bolong. Tanganku gemetar hebat hingga amplop cokelat di pangkuanku nyaris terjatuh. Bagaimana Noel tahu? Apakah dia memasang kamera tersembunyi? Atau mungkin dia sudah lama mengawasi setiap gerak-gerikku?
Aku menatap sekeliling toko yang sunyi. Rak-rak kayu yang biasanya terasa seperti teman akrab, kini seolah berubah menjadi saksi bisu yang mencurigai gerak-gerikku. Bulu kudukku berdiri. Namun, alih-alih merasa terintimidasi, rasa takut itu perlahan menguap, digantikan oleh kewaspadaan yang tajam.
Aku segera melipat dokumen dari mendiang Arturo dan menyembunyikannya di balik tumpukan kain sarung di laci paling bawah—tempat yang bahkan tidak akan terpikirkan oleh siapa pun. Aku membalas pesan Noel dengan tangan yang seolah digerakkan oleh otot-otot yang sudah mati rasa.

“Ya, Nak. Ibu mengerti. Hati-hati di jalan.”
Aku meletakkan ponsel, lalu menghela napas panjang. Tidak ada waktu untuk gemetar. Hari Sabtu adalah hari penentuan.
Bagian 2 — Sandiwara yang Sempurna
Sabtu pagi, udara terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Aku tidak membukakan pintu dengan senyum lebar seperti biasa. Aku telah menyiapkan panggungku sendiri. Aku mengenakan daster tua yang sedikit longgar, membiarkan rambut putihku terurai berantakan, dan membiarkan bedak di wajahku tidak rata.
Saat Noel dan Mylene datang, mereka langsung masuk dengan wajah yang dibuat-buat khawatir.
“Ibu! Kenapa tidak mengunci pintu? Bagaimana kalau ada orang jahat?” Mylene segera memelukku, pelukan yang terasa seperti lilitan ular.
“Ibu… maafkan kami baru bisa menjenguk. Iya kemarin habis pemeriksaan, biayanya mahal sekali,” tambah Noel sambil menatapku dengan mata yang ia buat sendu.
Aku hanya tersenyum hambar, bertindak seolah-olah aku memang mulai pikun. “Oh, iya? Iya sudah sehat? Kasihan cucuku…”
Mylene menatap Noel, sebuah kode rahasia terlintas di antara mereka. Aku tahu apa artinya. Mereka mengira aku benar-benar sudah lupa tentang percakapan telepon itu.
“Bu,” Noel memulai sambil mengeluarkan map tebal dari tas kerjanya. “Mengingat kejadian kemarin—waktu Ibu menelepon dan bilang Ibu merasa pusing serta hampir tertipu di pasar—kami sangat khawatir. Kami ingin Ibu tenang di masa tua. Ini ada dokumen, semacam surat kuasa supaya kami bisa mengurus keuangan dan aset Ibu. Jadi, Ibu bisa istirahat tanpa memikirkan toko atau tagihan lagi.”
Aku mengambil map itu, berpura-pura membacanya dengan lambat. “Toko ini… ini peninggalan Ayahmu, Noel.”
“Kami tahu, Bu,” potong Mylene dengan nada lembut yang dipaksakan. “Justru karena itu. Kami ingin merenovasi rumah ini agar lebih layak untuk Ibu di masa tua. Tapi kalau masih atas nama Ibu, prosedurnya rumit sekali.”
Aku menatap mereka. Mereka tidak tahu bahwa rekaman suara mereka sudah kusimpan di cloud dan di ponsel cadangan yang kini tersambung ke perangkat Nessa.
“Baiklah,” kataku dengan suara lirih. “Jika memang itu yang terbaik untuk kalian.”
Wajah Noel dan Mylene seketika cerah. Mereka sudah menyiapkan pena di atas meja.
“Cukup tanda tangan di sini, di sini, dan di sini,” instruksi Noel.
Saat aku memegang pena, aku menatap mereka dalam-dalam. “Noel, apakah kamu ingat apa yang dikatakan Ayahmu sebelum dia pergi?”
Noel tertegun sejenak. “Bu, jangan mulai bahas masa lalu. Kita fokus ke masa depan.”
“Dia bilang,” suaraku menjadi dingin dan tegas, membuat keduanya tersentak, “bahwa rumah ini adalah harga dari kesetiaan. Dan kalian baru saja meludahi kesetiaan itu.”
“Apa maksud Ibu?” Mylene mulai gelisah.
“Aku tahu semuanya, Noel. Aku dengar tertawa kalian. Aku dengar rencana kalian mengirimku ke panti wreda dan menjual rumah ini,” kataku sambil meletakkan pena itu.
Suasana berubah mencekam. Noel pucat pasi. Mylene berdiri, topengnya retak sepenuhnya. “Jadi kamu pura-pura pikun selama ini?!” teriak Mylene.
“Tidak,” jawabku tenang. “Aku hanya sedang melihat sampai sejauh mana kalian bisa jatuh menjadi manusia.”
Bagian 3 — Warisan yang Tak Terduga
Aku berdiri, melangkah menuju lemari dan mengambil kembali amplop cokelat dari mendiang Arturo.
“Kalian ingin rumah ini? Kalian ingin tanah ini?” Aku melempar amplop itu ke meja. “Kalian tidak akan pernah mendapatkannya.”
Noel membuka dokumen itu dengan tangan gemetar. Matanya membelalak. Itu bukan hanya sertifikat biasa. Itu adalah Surat Perjanjian Hibah Bersyarat.
Dalam dokumen itu tertulis dengan jelas: Jika pemilik rumah (Cora) menyadari adanya tindakan penipuan, manipulasi, atau upaya pengasingan paksa oleh ahli waris, maka seluruh hak atas properti ini secara otomatis jatuh sepenuhnya kepada yayasan sosial yang telah ditunjuk oleh almarhum Arturo, dan anak-anak tidak berhak menerima sepeser pun hasil penjualannya.
Arturo, suamiku, adalah pria yang teliti. Dia mengenal sifat putra kami jauh lebih baik daripada aku. Dia sudah menyiapkan “bom waktu” ini belasan tahun lalu.
“Kalian bukan lagi ahli waris rumah ini,” ucapku dingin. “Dan jika kalian berani melangkah satu kaki lagi ke dalam rumah ini, aku sudah punya bukti rekaman percakapan kalian yang akan kuberikan pada pengacara yayasan.”
Mylene menjerit frustrasi, mencoba merampas dokumen itu, tapi aku sudah lebih cepat memasukkannya kembali ke dalam tas.
“Keluar,” kataku singkat.
“Ibu! Ini keterlaluan! Ibu tega melakukan ini pada anak sendiri?” Noel berteriak, wajahnya merah padam karena amarah yang sesungguhnya.
“Kalian yang tega padaku terlebih dulu, Noel. Aku mengirimkan uang pensiunku bukan untuk kalian foya-foya di restoran, tapi karena aku menyayangi cucuku. Namun ternyata, kalian tidak lebih dari sekadar benalu.”
Setelah mereka pergi dengan wajah penuh dendam dan rasa malu yang tertahan, aku terduduk di kursi kayu itu.
Rumah ini terasa jauh lebih sunyi. Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa sendirian. Aku merasa lega.
Aku menelepon Nessa.
“Nessa, Nak…”
“Ya, Bu? Ada apa? Suara Ibu terdengar berbeda.”
“Ibu baik-baik saja. Lebih dari baik. Bisakah kamu pulang besok? Ada sesuatu yang perlu kita diskusikan mengenai rumah ini dan masa depan kita.”
Di luar, matahari mulai terbenam. Cahaya jingga menyinari toko kelontong kecilku. Aku mematikan lampu toko dan menguncinya dengan mantap. Aku tidak akan lagi menjual barang untuk membiayai keserakahan orang lain.
Aku baru saja kehilangan seorang putra, tetapi aku telah menemukan kembali diriku sendiri.
Malam itu, aku duduk di teras, memandang bintang-bintang, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku bisa bernapas lega. Rumah ini tetap milikku. Suaraku tidak akan pernah dibungkam lagi. Dan yang terpenting, aku akhirnya mengerti bahwa menjadi seorang ibu tidak berarti harus membiarkan diri sendiri dihancurkan oleh mereka yang seharusnya menyayangiku.
Pelajaran terbesar yang kuterima di usia enam puluh enam tahun ini bukanlah tentang bagaimana cara bertahan hidup, melainkan tentang kapan harus berhenti memberi dan kapan harus mulai melindungi diri sendiri.
Dan aku siap untuk babak selanjutnya.
Apakah menurutmu keputusan untuk memutus hubungan sepenuhnya dengan Noel adalah langkah yang terlalu keras, atau memang sudah seharusnya dilakukan demi kebaikan Ibu Cora?
