Suasana di dalam ruang tamu megah itu seketika membeku. Kata “pengkhianatan” seolah menjadi racun yang tidak kasat mata, menyebar cepat dan mencekik udara di sekitar mereka.

Adrian, yang beberapa menit lalu berdiri dengan keangkuhan mutlak, kini melangkah maju. Rahangnya mengeras, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.
— “Ini tidak masuk akal! Rafael hanyalah seorang dokter idealis yang menghabiskan waktunya di rumah sakit dan daerah terpencil. Dari mana dia punya uang dua juta dolar? Dokumen ini pasti palsu!”
Pengacara Ernesto Valdez tidak berkedip. Dengan ketenangan seorang profesional yang telah menghadapi ratusan gertakan, ia memakai kacamata bacanya dan membuka segel merah pada map tersebut.
— “Dana ini berasal dari paten internasional atas formula obat badai sitokin yang Rafael kembangkan bersama lembaga riset di Swiss, Tuan Adrian. Hak royaltinya dialihkan ke rekening luar negeri yang tidak tersentuh oleh korporasi keluarga Villareal. Dan mengenai keaslian dokumen ini…” Ernesto menatap Adrian dengan pandangan menusuk, “…sidik jari dan tanda tangan medis Dr. Rafael telah diverifikasi secara hukum sebelum saya datang ke sini.”
Doña Consuelo melangkah mundur, tangannya yang gemetar meraba sandaran sofa marmer untuk menopang tubuhnya. Mutiara di lehernya tampak mencekik.
— “Surat… surat apa yang kau maksud, Pengacara Valdez? Apa yang ditulis anakku?” tanya wanita tua itu, suaranya tidak lagi melengking, melainkan rapuh oleh ketakutan yang tiba-tiba menyeruak.
Ernesto tidak langsung menjawab. Ia menatap Amihan dengan tatapan penuh rasa hormat yang mendalam. Ia menyerahkan sebuah amplop putih bersih yang ada di dalam map kepada Amihan.
— “Ini adalah surat pribadi untuk Anda, Ny. Amihan. Namun, Dr. Rafael meminta saya untuk membacakan salinan pernyataan hukumnya di depan ibu dan kakaknya. Karena ini menyangkut alasan mengapa ia tahu hidupnya dalam bahaya sebelum kecelakaan itu terjadi.”
Amihan menerima amplop itu. Tangannya gemetar hebat. Sentuhan kertas itu terasa seperti genggaman tangan Rafael yang hangat—satu-satunya hal yang melindunginya di dunia yang dingin ini.
Ernesto berdeham, lalu mulai membaca dengan suara yang bergaung di langit-langit tinggi ruangan tersebut:
“Untuk Ibuku yang terhormat, dan kakakku Adrian,
Jika surat ini dibacakan, artinya kecurigaanku terbukti dan aku tidak lagi berada di dunia ini untuk melindungi Amihan. Kalian selalu menganggap Amihan sebagai parasit yang mengincar harta Villareal, tanpa pernah tahu bahwa dialah satu-satunya alasan mengapa nama keluarga kita belum hancur di mata hukum.
Tiga bulan lalu, aku menemukan bahwa divisi farmasi Villareal Group yang dipimpin oleh Adrian telah memalsukan laporan uji klinis obat antibiotik massal yang didistribusikan ke wilayah utara, termasuk Baguio. Obat itu cacat produksi, namun Adrian menutupinya demi menyelamatkan saham perusahaan. Ketika aku mengonfrontasinya, ia mengancam akan menghancurkan hidupku dan Amihan jika aku melapor ke otoritas medis.”
— “BOHONG!” Adrian berteriak, wajahnya merah padam. Ia maju dan mencoba merebut kertas dari tangan Ernesto, namun sang pengacara dengan sigap menariknya kembali. “Rafael sudah gila! Dia mencoba memfitnahku!”
— “Diam, Adrian!” Suara Doña Consuelo memotong, terdengar parau dan ngeri. Matanya tertuju pada putranya dengan tatapan tidak percaya. “Biarkan dia menyelesaikannya…”
Ernesto melanjutkan membaca, suaranya semakin berat:
“Aku pergi ke Baguio bukan hanya untuk misi medis, tetapi untuk mengumpulkan bukti korban jiwa akibat obat tersebut. Seseorang telah membuntuti mobilku sejak aku meninggalkan Manila. Jika terjadi sesuatu padaku di jalan raya menuju Baguio… itu bukanlah kecelakaan. Itu adalah pembunuhan berencana untuk membungkamku.
Semua bukti asli telah aku simpan di dalam deposit box terenkripsi yang kuncinya kini berada di tangan istriku, Amihan. Dua juta dolar ini adalah haknya untuk memulai hidup baru, jauh dari racun keluarga Villareal. Jika kalian menyentuhnya atau menyakitinya sedikit saja, pengacaraku memegang perintah untuk langsung mengirimkan semua bukti ke biro investigasi federal.”
Keheningan yang mencekam kembali runtuh. Kali ini, kebenaran itu menghantam seperti godam besar.
Amihan menatap Adrian. Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh kilatan rasa sakit dan kemarahan yang begitu pekat. Pria di hadapannya ini—kakak kandung suaminya—adalah alasan mengapa Rafael tidak pernah pulang malam itu. Mengapa Rafael terlempar ke dalam jurang terdalam di rute pegunungan Baguio.
— “Kau…” suara Amihan berbisik, namun terdengar sangat mengerikan di dalam ruangan yang sunyi itu. “Kau membunuhnya…”
— “Aku tidak melakukannya!” Adrian melangkah mundur, keringat dingin membanjiri dahinya. “Rem mobilnya blong! Itu yang dikatakan polisi! Amihan, jangan dengarkan surat dari orang mati yang paranoid!”
— “Polisi yang kau suap, Adrian?” tanya Ernesto dengan nada dingin yang mematikan. “Saya menyarankan Anda untuk menghemat kata-kata Anda untuk persidangan. Dokumen penyelidikan independen yang diajukan Dr. Rafael sebelum kematiannya sudah mulai diproses.”
Doña Consuelo terduduk di sofa, wajahnya yang penuh riasan kini tampak pucat pasi seperti mayat. Ia menatap Amihan, wanita yang baru saja diusirnya dengan hinaan, wanita yang dituduhnya sebagai pemburu harta. Ternyata, putra bungsunya yang berharga tewas di tangan putra sulungnya sendiri, dan seluruh kekayaan yang ia banggakan dibangun di atas darah orang-orang tidak bersalah.
— “Amihan…” Doña Consuelo berbisik, bibirnya bergetar, mencoba meraih ujung gaun pudar Amihan. “Amihan, tolong… kita bisa bicarakan ini… kita keluarga…”
Amihan melangkah mundur, menghindari sentuhan tangan wanita tua itu. Ia memeluk koper tuanya yang usang, namun kini kepalanya tegak lurus. Hati yang tadinya penuh kehancuran kini dipenuhi oleh satu tujuan yang membakar jiwa: Keadilan untuk Rafael.
Ia menatap ibu mertua dan kakak iparnya untuk terakhir kali dengan pandangan muak.
— “Uang sepuluh juta peso yang kau tawarkan tadi, Adrian?” Amihan berbicara dengan nada yang begitu tenang namun tajam. “Simpan saja uang itu. Kau akan membutuhkannya untuk membayar pengacara terbaik di negeri ini. Karena aku tidak akan berhenti sampai kau mengenakan pakaian oranye di balik jeruji besi.”
Amihan berbalik. Ia tidak lagi mengepit foto Rafael dengan rasa takut; ia mendekapnya di dada dengan bangga. Ia berjalan melewati pintu kayu besar kediaman Villareal yang terbuka lebar.
Matahari sore Manila menyambutnya dengan cahaya yang hangat. Di belakangnya, pengacara Ernesto Valdez mengikuti, siap mengawalnya menuju babak baru. Amihan tidak lagi berjalan sebagai menantu yang tertindas dan terusir. Ia berjalan sebagai pemegang kebenaran yang akan meruntuhkan seluruh dinasti Villareal.
