Aku masih berdiri membeku di ambang pintu, menggenggam kotak cheesecake yang kubeli untuk Mia. Otakku menolak mempercayai apa yang kulihat. Istriku, yang sedang hamil delapan bulan dan seharusnya beristirahat total, justru merangkak di lantai marmer sambil menggosok noda jus yang bahkan tidak seharusnya ia sentuh.
Lalu, di mana para pembantu?
Suara tawa dari ruang makan membuat darahku mendidih. Aku melangkah pelan dan melihat pemandangan yang membuat rahangku mengeras.

Lima orang pembantu duduk santai di meja makan, menikmati makanan mahal yang biasanya disiapkan khusus untuk Mia. Di ujung meja, Manang Tess tertawa paling keras sambil memegang segelas jus.
“Dasar perempuan kampung,” katanya sambil terkekeh. “Baru jadi istri bos beberapa tahun, sudah merasa seperti ratu.”
Yang lain ikut tertawa.
“Aku tadi sengaja menjatuhkan jusnya,” sahut salah satu pembantu. “Lumayan, biar dia bergerak sedikit. Tiap hari cuma rebahan.”
“Pak Adrian juga terlalu memanjakan istrinya,” tambah yang lain. “Kalau bukan karena hamil anak bos, mana mungkin dia tinggal di rumah sebesar ini?”
Aku mengepalkan tangan begitu kuat hingga buku-buku jariku memutih.
Di ruang tamu, Mia masih berusaha membersihkan lantai. Wajahnya pucat. Keringat membasahi pelipisnya. Sesekali ia memegangi perutnya sambil menarik napas.
“Aku… aku sudah bilang badanku sakit,” katanya lirih kepada para pembantu yang bahkan tak menoleh. “Tolong bantu aku sedikit.”
“Jangan manja, Bu,” jawab Manang Tess tanpa rasa bersalah. “Dulu saya hamil sambil mencuci baju dan memasak. Masa membersihkan sedikit saja tidak bisa?”
Aku tak sanggup mendengarnya lebih lama.
“Jadi, begini cara kalian merawat istriku?”
Seketika seluruh ruangan menjadi sunyi.
Lima pasang mata membelalak ke arahku. Wajah mereka seketika pucat. Gelas di tangan Manang Tess terjatuh dan pecah di lantai.
“P-Pak Adrian?” gumamnya.
Mia menoleh dengan mata membesar. Begitu melihatku, bibirnya bergetar. Bukannya tersenyum karena kejutan yang sudah kurencanakan, ia justru tampak seperti seseorang yang baru melihat pertolongan datang setelah tenggelam terlalu lama.
“Adrian…”
Aku berjalan melewati para pembantu tanpa memedulikan mereka. Aku berlutut di samping Mia dan membantu istriku berdiri.
“Kenapa kamu membersihkan lantai?” tanyaku pelan, berusaha menahan amarah.
Mia menggeleng cepat.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membantu…”
“Jangan bohong padaku.”
Mata Mia berkaca-kaca. Ia menatap Manang Tess sejenak, lalu menunduk.
“Aku tidak ingin membuat masalah.”
Aku menoleh ke arah para pembantu.
“Semua ke ruang tamu. Sekarang.”
Tak seorang pun berani membantah.
Setelah memastikan Mia duduk dengan nyaman di sofa, aku memanggil dokter pribadi untuk memeriksanya. Sementara menunggu, lima pembantu dan Manang Tess berdiri berjajar di depanku dengan kepala tertunduk.
“Aku memberi kalian gaji tinggi. Bonus. Fasilitas. Bahkan aku menganggap kalian seperti keluarga. Tapi ternyata kalian memperlakukan istriku seperti pembantu?”
“Pak, ini hanya salah paham,” kata Manang Tess buru-buru. “Nyonya sendiri yang ingin membantu pekerjaan rumah.”
Aku menatap Mia.
“Benarkah?”
Istriku menggigit bibir bawahnya. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat ketakutan di matanya.
“Awalnya memang aku ingin membantu sedikit,” katanya pelan. “Tapi sejak kamu pergi ke Jepang, mereka bilang aku terlalu dimanjakan. Mereka mulai menyuruhku melakukan hal-hal kecil. Lama-lama… semuanya.”
“Apa maksudmu semuanya?”
Mia terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
“Aku mencuci piring, membersihkan kamar, melipat pakaian, bahkan menyiapkan sarapan mereka. Kalau aku menolak, mereka bilang aku hanya perempuan miskin yang beruntung dinikahi CEO.”
Dadaku terasa sesak.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
Air mata Mia jatuh.
“Karena mereka bilang kamu tidak akan percaya padaku.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Manang Tess buru-buru berlutut.
“Pak Adrian, tolong dengarkan penjelasan saya. Kami hanya bercanda. Kami tidak pernah bermaksud jahat.”
Aku tertawa kecil, tetapi tanpa sedikit pun rasa lucu.
“Bercanda?”
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka rekaman CCTV rumah yang bisa kuakses kapan saja. Saat berada di Jepang, aku terlalu sibuk untuk memeriksanya. Namun sekarang, firasat buruk memaksaku melihat rekaman tiga hari terakhir.
Video pertama memperlihatkan Mia membawa keranjang cucian besar sambil menahan sakit di punggung.
Video kedua menunjukkan salah satu pembantu sengaja menumpahkan makanan dan menyuruh Mia membersihkannya.
Video ketiga adalah yang paling menyakitkan. Mia duduk sendirian di dapur, menangis pelan sambil memegang perutnya, sementara para pembantu makan siang dan mengobrol beberapa meter darinya.
Tak ada lagi yang bisa mereka bantah.
“Mulai detik ini,” kataku dingin, “kalian semua dipecat.”
Tangisan dan permohonan langsung memenuhi ruangan.
“Pak, tolong beri kami kesempatan!”
“Kami punya keluarga!”
“Maafkan kami!”
Namun aku sudah terlalu marah untuk mendengarkan.
Dokter datang tak lama kemudian. Setelah memeriksa Mia, wajahnya berubah serius.
“Tekanan darahnya tinggi dan kondisinya sangat lelah. Kalau terus seperti ini, kehamilannya bisa berisiko.”
Kata-kata itu menghantamku lebih keras daripada apa pun.
Malam itu juga, aku memindahkan Mia ke rumah sakit terbaik di Jakarta untuk observasi. Aku duduk di samping tempat tidurnya sepanjang malam, menggenggam tangannya.
“Aku gagal melindungimu,” bisikku.
Mia tersenyum lemah.
“Kamu tidak gagal. Kamu hanya terlalu percaya pada orang lain.”
Aku memejamkan mata. Selama ini aku mengira uang bisa membeli kesetiaan dan kebaikan. Ternyata aku salah.
Keesokan paginya, saat aku sedang berbicara dengan dokter di lorong rumah sakit, seseorang memanggil namaku.
“Pak Adrian.”
Aku menoleh dan melihat Sari, salah satu pembantu termuda yang kemarin ikut dipecat. Matanya bengkak karena menangis.
“Ada apa?” tanyaku dingin.
“Ada sesuatu yang harus Bapak tahu.”
Aku hampir menyuruhnya pergi, tetapi ekspresinya membuatku berhenti.
“Manang Tess bukan dalang utamanya.”
Aku mengernyit.
“Maksudmu?”
Sari menarik napas panjang.
“Semua ini dimulai sejak ibu Bapak datang dua bulan lalu.”
Aku membeku.
Ibuku tinggal di Surabaya dan jarang mengunjungi rumah kami. Hubungan beliau dengan Mia memang tidak terlalu dekat, tetapi aku tak pernah mengira ada masalah besar.
“Ibu Bapak bilang bahwa Mia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ini. Beliau mengatakan bahwa perempuan dari keluarga miskin hanya mengejar harta.”
Aku menatap Sari tanpa berkedip.
“Manang Tess hanya menjalankan perintah. Kami semua takut kehilangan pekerjaan.”
Dunia seolah berhenti berputar.
Tanpa membuang waktu, aku langsung menghubungi ibuku. Awalnya beliau menyangkal, tetapi setelah kutunjukkan rekaman CCTV dan kesaksian Sari, akhirnya ia terdiam.
“Kamu tidak mengerti, Adrian,” katanya dengan suara bergetar. “Ibu hanya ingin melindungimu.”
“Melindungiku dengan menyiksa istriku yang sedang hamil?”
“Dia tidak cocok untukmu!”
“Aku yang memilihnya.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menutup telepon sebelum ibuku selesai berbicara.
Selama beberapa hari berikutnya, aku memikirkan semuanya. Tentang ambisi, status sosial, dan bagaimana orang-orang yang paling dekat denganku justru menjadi ancaman terbesar bagi kebahagiaanku.
Seminggu kemudian, Mia melahirkan lebih cepat dari perkiraan.
Aku berdiri di ruang bersalin dengan tangan gemetar saat mendengar tangisan pertama anak kami. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
“Selamat, Pak,” kata dokter sambil tersenyum. “Seorang bayi perempuan yang sehat.”
Aku mendekati Mia yang kelelahan dan mencium keningnya.
“Terima kasih.”
Mia memandang bayi kecil di pelukannya dan tersenyum.
“Aku ingin memberinya nama Harumi.”
“Kenapa?”
“Karena dia lahir setelah badai terbesar dalam hidup kita.”
Aku mengangguk sambil menahan tangis.
Beberapa bulan berlalu. Aku menjual mansion besar itu dan pindah ke rumah yang lebih sederhana di pinggiran Jakarta. Banyak orang menganggap keputusanku aneh. Seorang CEO sepertiku seharusnya tinggal di tempat mewah dengan puluhan pelayan.
Tetapi aku sudah belajar sesuatu yang berharga.
Rumah yang dipenuhi orang belum tentu menghadirkan kehangatan. Sebaliknya, rumah kecil yang dipenuhi cinta bisa terasa jauh lebih luas.
Suatu sore, saat aku sedang menggendong Harumi di teras, Mia duduk di sampingku sambil menikmati teh hangat.
“Menyesal?” tanyanya tiba-tiba.
“Menyesal tentang apa?”
“Karena meninggalkan semua kemewahan.”
Aku tersenyum sambil menatap putri kami yang tertidur.
“Dulu aku pikir kesuksesan adalah tentang memiliki rumah terbesar, mobil termahal, dan perusahaan paling hebat. Tapi ternyata aku salah.”
Mia menatapku penasaran.
“Lalu?”
Aku menggenggam tangannya.
“Kesuksesan adalah pulang ke rumah dan menemukan orang-orang yang benar-benar mencintaimu.”
Mia tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mengejar dunia, aku akhirnya merasa menjadi orang paling kaya di muka bumi.
