Tiga bulan setelah melahirkan anak kembar, Rina bahkan hampir tidak mengenali dirinya sendiri saat bercermin. Lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas, rambutnya sering diikat seadanya, dan tubuh yang dulu ramping kini dipenuhi perubahan yang tidak pernah ia bayangkan. Namun, setiap kali mendengar suara tangis Aluna dan Arka dari kamar bayi, semua rasa lelah itu seakan hilang.
Malam itu seharusnya menjadi malam bahagia. Gary, suaminya selama lima tahun terakhir, baru saja dipromosikan menjadi wakil presiden Apex Global, salah satu perusahaan teknologi terbesar di Indonesia. Rina ingin berada di sisinya. Ia ingin melihat pria yang dulu dicintainya menerima penghargaan atas kerja kerasnya.

Sejak pagi, ia sudah berusaha keras mempersiapkan diri. Pengasuh bayi membantu menjaga si kembar, sementara Rina membuka lemari dan mencari gaun yang masih bisa dikenakan. Pilihannya jatuh pada gaun hijau zamrud yang pernah dipakainya dua tahun lalu saat menghadiri gala perusahaan.
Gaun itu kini terasa sempit.
Ia menatap dirinya di depan cermin dan menghela napas panjang.
“Aku terlihat buruk sekali,” bisiknya.
Namun, ibunya yang sedang berkunjung dari Bandung hanya tersenyum lembut.
“Kamu baru melahirkan dua anak sekaligus. Tubuhmu sedang berjuang. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”
Rina mengangguk pelan. Ia tersenyum, meski jauh di dalam hati, ia merindukan perhatian Gary yang belakangan semakin jarang ia rasakan.
Sebelum anak-anak lahir, Gary selalu pulang cepat. Mereka makan malam bersama, menonton film, dan berbicara hingga larut malam. Namun, sejak promosi besar itu mulai dibicarakan enam bulan lalu, semuanya berubah. Gary semakin sibuk, lebih sering tidur di kantor, dan setiap kali Rina mengeluh tentang kelelahan mengurus bayi, jawabannya selalu sama.
“Aku melakukan ini untuk keluarga kita.”
Rina mempercayainya.
Ia tidak pernah tahu bahwa malam itu akan menghancurkan semua yang selama ini diyakininya.
Ballroom hotel mewah di kawasan SCBD dipenuhi lampu kristal dan suara tawa para tamu. Para petinggi perusahaan, investor asing, dan pejabat penting berdiri sambil membawa gelas sampanye.
Begitu memasuki ruangan, Rina langsung melihat Gary.
Pria itu tampak tampan dengan setelan hitam mahal. Di sekelilingnya berdiri beberapa perempuan muda dari divisi pemasaran yang tertawa mendengar leluconnya.
Rina tersenyum dan mendekat.
“Hai, Sayang. Selamat.”
Ia memeluk Gary dan mengecup pipinya.
Namun, respons yang diterimanya membuat dadanya sesak.
Gary langsung menegang. Senyumnya menghilang. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik lengan Rina menuju sudut ruangan yang sepi.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” bisiknya tajam.
Rina terdiam beberapa detik.
“Aku datang untuk mendukungmu.”
Gary memandang tubuh istrinya dengan jijik.
“Kamu bercanda?”
Rina mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
“Lihat dirimu sendiri.”
Kata-kata berikutnya keluar seperti pisau.
“Kamu gemuk. Kamu terlihat seperti lemari dengan gaun itu. Aku punya investor dari Singapura dan Jepang malam ini. Apa yang akan mereka pikirkan melihat istriku seperti ini?”
Air mata mulai memenuhi mata Rina.
“Aku baru melahirkan anak kita.”
“Aku tidak peduli.”
Jawaban itu menghancurkan sesuatu dalam diri Rina.
“Aku sudah bekerja keras untuk mendapatkan posisi ini. Jangan membuatku malu.”
“Aku mempermalukanmu?”
Gary mengangguk dingin.
“Kamu bahkan masih bau susu.”
Kalimat itu membuat Rina kehilangan kemampuan untuk berbicara.
Selama sembilan bulan ia mengandung anak-anak mereka. Selama tiga bulan terakhir, ia terbangun setiap dua jam untuk menyusui. Ia menahan sakit, kelelahan, dan kesepian sendirian di rumah.
Dan pria yang berjanji mencintainya justru merasa malu karena tubuhnya berubah.
“Pulanglah,” kata Gary sambil menunjuk pintu. “Jangan mendekati panggung.”
Rina menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak menangis keras di tengah ballroom.
Namun, tepat ketika ia hendak berbalik, lampu ruangan mendadak padam.
Semua orang terdiam.
Sebuah sorotan cahaya jatuh ke panggung utama.
Pembawa acara berdiri sambil tersenyum.
“Malam ini, ada seseorang yang selama bertahun-tahun memilih berada di balik layar. Sosok yang membangun Apex Global dari nol bersama para pendiri perusahaan.”
Para tamu mulai berbisik.
Bahkan Gary terlihat bingung.
“Mohon sambut pemilik utama Apex Global, Ibu Rina Echaverri.”
Suasana ballroom mendadak sunyi.
Gary membeku.
Ia memandang istrinya, lalu panggung, lalu kembali menatap wajah Rina.
“Rina…?”
Rina sendiri berdiri tanpa bergerak selama beberapa detik.
Selama bertahun-tahun, ia menyembunyikan identitas itu.
Tidak banyak orang tahu bahwa ayahnya, Fernando Echaverri, adalah salah satu pengusaha Indonesia yang paling berpengaruh. Ketika meninggal dua tahun lalu akibat serangan jantung, seluruh saham mayoritas Apex Global diwariskan kepada Rina.
Namun, ia tidak pernah tertarik menjadi pusat perhatian. Ia mempercayakan operasional perusahaan kepada dewan direksi dan memilih hidup sederhana bersama Gary.
Bahkan Gary tidak pernah benar-benar peduli pada urusan bisnis keluarga istrinya.
Dulu, saat mereka bertemu di kampus, Gary sering berkata bahwa ia mencintai Rina apa adanya.
Rina mempercayai semua itu.
Dengan langkah perlahan, ia menghapus air matanya, memperbaiki gaunnya, lalu berjalan menuju panggung.
Tepuk tangan mulai memenuhi ruangan.
Gary masih terpaku.
Direktur utama perusahaan, Pak Surya, menyambut Rina dengan hormat dan menyerahkan mikrofon kepadanya.
“Selamat malam.”
Suara Rina terdengar tenang.
“Saya tahu banyak dari Anda bertanya-tanya mengapa saya jarang muncul.”
Para tamu mendengarkan dengan saksama.
“Ayah saya mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang paling bertanggung jawab terhadap orang-orang di sekitarnya.”
Gary mulai berkeringat.
Rina memandang seluruh ruangan sebelum tatapannya berhenti tepat pada suaminya.
“Malam ini, saya ingin berbicara tentang pengorbanan.”
Tidak ada seorang pun yang bergerak.
“Tiga bulan lalu, saya melahirkan anak kembar. Seperti jutaan ibu lainnya, tubuh saya berubah. Saya kehilangan waktu tidur, kehilangan tenaga, dan terkadang kehilangan rasa percaya diri.”
Beberapa perempuan di ruangan itu mulai mengangguk pelan.
“Tetapi malam ini, sebelum saya naik ke panggung ini, seseorang mengatakan bahwa tubuh saya memalukan.”
Suasana langsung tegang.
Gary menundukkan kepala.
“Seseorang mengatakan bahwa saya terlalu gemuk untuk berdiri di sisinya. Bahwa saya mempermalukannya di depan para petinggi perusahaan.”
Bisik-bisik mulai terdengar di antara para tamu.
Wajah Gary berubah pucat.
Rina menarik napas panjang.
“Bertahun-tahun saya percaya bahwa cinta berarti menerima satu sama lain dalam keadaan apa pun. Namun malam ini saya belajar bahwa kesuksesan tanpa rasa hormat hanyalah kesombongan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Surya menatap Gary dengan ekspresi tidak percaya.
Salah satu investor asing yang duduk di barisan depan berbisik kepada rekannya.
Rina melanjutkan.
“Saya tidak mengatakan ini untuk mempermalukan siapa pun. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa setiap pencapaian besar selalu berdiri di atas pengorbanan orang lain.”
Tepuk tangan mulai terdengar.
Semakin lama semakin keras.
Gary berdiri sendirian di sudut ballroom, merasa semua mata tertuju kepadanya.
Setelah pidato selesai, para direktur dan investor langsung mengerumuni Rina. Mereka memberi selamat, berbicara tentang proyek baru, dan memuji visinya.
Gary mencoba mendekat.
“Rina, dengarkan aku…”
Namun, Rina berjalan melewatinya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Gary merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: ketakutan.
Malam itu, ketika pesta usai, Gary pulang lebih dulu.
Ia duduk sendirian di ruang tamu rumah mereka yang megah. Untuk pertama kalinya, ia memperhatikan botol susu di meja, mainan bayi di lantai, dan foto keluarga yang tergantung di dinding.
Ia teringat bagaimana Rina menangis diam-diam saat menyusui tengah malam sementara dirinya sibuk mengejar promosi.
Ia teringat semua komentar kasar yang pernah diucapkannya selama beberapa bulan terakhir.
Dan ia mulai menyadari bahwa yang berubah bukanlah tubuh Rina.
Melainkan dirinya sendiri.
Pukul satu dini hari, pintu rumah terbuka.
Rina masuk dengan langkah pelan.
Gary berdiri.
“Aku minta maaf.”
Rina tidak menjawab.
“Aku benar-benar minta maaf.”
Perempuan itu memandangnya lama.
“Apakah kamu meminta maaf karena menyakitiku?”
Gary mengangguk cepat.
“Atau karena baru tahu siapa aku sebenarnya?”
Pertanyaan itu membuat Gary membisu.
Beberapa detik yang hening terasa seperti hukuman.
Karena jauh di dalam hati, Gary tahu jawabannya.
Rina tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak lagi hangat.
“Aku dulu percaya bahwa kamu mencintaiku bahkan ketika aku bukan siapa-siapa.”
Air mata mulai menggenang di mata Gary.
“Ternyata aku salah.”
Seminggu kemudian, dewan direksi mengadakan rapat besar.
Promosi Gary ditunda tanpa batas waktu sambil menunggu evaluasi kepemimpinan dan etika profesionalnya. Berita tentang insiden malam itu menyebar cepat di internal perusahaan.
Banyak karyawan perempuan mulai berbagi cerita tentang bagaimana mereka pernah diperlakukan tidak adil setelah melahirkan.
Tanpa disangka, pidato Rina memicu perubahan besar.
Apex Global meluncurkan kebijakan baru: cuti melahirkan yang lebih panjang, fasilitas penitipan anak di kantor, serta program pendampingan bagi ibu baru.
Sementara itu, Gary semakin jarang berbicara.
Ia mencoba memperbaiki hubungannya dengan Rina, membantu mengurus anak-anak, dan pulang lebih awal. Namun, beberapa luka tidak bisa sembuh hanya dengan permintaan maaf.
Enam bulan kemudian, Rina mengajukan gugatan cerai.
Bukan karena ia membenci Gary.
Melainkan karena ia akhirnya memahami sesuatu yang penting.
Cinta tidak pernah seharusnya membuat seseorang merasa malu atas tubuh yang telah menciptakan kehidupan.
Pada hari sidang terakhir, Gary berdiri di luar pengadilan sambil memandangi Rina yang menggendong Aluna, sementara Arka berada di pelukan ibunya.
“Aku kehilangan semuanya,” katanya lirih.
Rina menatap mantan suaminya dengan tenang.
“Tidak.”
Gary mengangkat kepalanya.
“Kamu tidak kehilangan semuanya malam ketika aku naik ke panggung itu.”
Rina tersenyum tipis.
“Kamu kehilangan semuanya saat memilih kesombongan daripada rasa hormat.”
Lalu ia berbalik dan pergi.
Gary tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan perempuan yang dulu dianggapnya biasa.
Baru saat itulah ia menyadari bahwa hal paling berharga dalam hidupnya bukanlah jabatan, pesta mewah, atau pujian para petinggi.
Melainkan perempuan yang pernah berdiri di sampingnya dengan gaun hijau sederhana, tubuh yang berubah setelah melahirkan, dan cinta yang tulus.
Dan ketika ia menyadarinya, semuanya sudah terlambat.
